Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Menuntaskan Rasa Penasaran


__ADS_3

"Gimana? Kalian udah dapet info ke mana mereka pindah?"


Seseorang bertanya pada sekelompok orang yang berbaris di depannya. Salah satu dari mereka maju ke hadapan untuk melapor.


"Udah, Bos. Kami juga udah mastiin bahwa itu emang mereka."


Ia tersenyum puas dan berucap, "Bagus! Saya suka kinerja kalian. Kembali dan tunggu perintah selanjutnya dari saya."


Mereka mengangguk kompak, lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat tersebut. Sepermergian mereka, ia duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh melati hangat yang disuguhkan asistennya. Duduk sambil menumpuk kaki menyusun rencana-rencana yang akan dia lakukan untuk ke depannya.


Diliriknya benda pipih di atas meja, diambilnya dengan perlahan. Jarinya yang lentik lagi halus menggulir layar benda tersebut mencari sebuah nama untuk segera dihubungi. Ia berdehem sebelum menempelkannya pada telinga.


"Mmm ... kamu awasi rumah itu, laporkan sama saya apa aja yang terjadi di sana. Jangan lengah! Setiap detik sangat berharga," titahnya seraya menutup langsung sambungan tanpa mendengar jawaban.


Bibirnya yang tipis mengurai senyum licik, jahat dan penuh muslihat. Dendam berkobar dari pancaran kedua matanya.


"Kita liat aja! Apa kamu masih bahagia? Aku nggak akan biarin kamu bahagia. Kamu dan keluargamu juga harus menderita."


Geram, itulah yang terjadi padanya. Diremasnya cangkir di tangan hingga air di dalam bergoyang. Hati telah dipenuhi dendam, apapun yang dilakukan pastilah mengundang bahaya dan merugikan semua pihak. Tak hanya dirinya sendiri.


*****


Sementara di tempat lain, seorang laki-laki dewasa duduk di dalam mobil sendirian. Dari balik kemudi pandangannya tak lepas pada sebuah toko kue yang ramai pengunjung.


Setelah merasai kue sore itu, Zafran yang penasaran hampir setiap hari mengawasi toko yang baru buka. Tertera sebuah nama di atasnya, 'Arrayan Cake'. Ia mengeja dengan hati-hati setiap huruf yang tertulis pada banner di depan toko tersebut.


"Udah tiga hari aku di sini, tapi nggak pernah lihat yang punya toko itu. Apa aku datengin aja dan tanya siapa yang punya?" Zafran bermonolog dalam kesendirian.


Jemarinya meremas kemudi sedikit kuat. Berpikir dan menimbang perlukah turun dan bertanya langsung.


"Yah, daripada aku mati penasaran mending turun aja. Mudah-mudahan aja tebakanku benar, rasa kuenya emang mirip banget sama buatan Sei."


Ia bercermin pada spion, menilai penampilannya sendiri. Membuka pintu mobil dan keluar dengan hati-hati. Sekali lagi memindai apa yang melekat pada tubuhnya sebelum melangkah. Selayaknya orang yang sedang jatuh cinta akan bertemu dengan sang pujaan hati.

__ADS_1


Zafran menyebrang, ikut mengantri bersama beberapa pembeli yang masih berbaris di depan toko. Menunggu sampai tak tersisa satu pun.


"Iya, Pak. Mau pesan apa?" tanya si penjaga dengan ramah.


Zafran diam beberapa saat, ada ragu yang menelusup dalam hatinya. Entahlah.


"Bisa saya ketemu sama yang punya toko ini?" tanyanya menahan getar di lidah. Gugup, yah, Zafran tiba-tiba gugup.


"Bisa, Pak. Silahkan duduk! Saya panggil dulu," jawab si penjaga dengan ramah.


Tangannya menunjuk sebuah kursi dengan sopan. Di dalam toko juga tersedia meja-meja bundar yang dikelilingi empat kursi. Duduk bersama orang-orang tersayang sambil menikmati secangkir teh hangat dan ditemani kue-kue lezat, memang sangat mengasyikan.


Hilir-mudik manusia dan kendaraan menjadi pemandangan tatkala menatap pada jendela kaca. Zafran mengangguk, segera saja duduk untuk menunggu.


"Ini tehnya, Pak. Silahkan dicicipi sambil menunggu," katanya lagi menaruh sepiring kecil kue lengkap dengan teh hangatnya.


"Sei?" Zafran bergumam saat mengenali bau khas dari aroma teh tersebut.


Sama persis seperti yang selalu dibuat Seira, teh dengan bau melati yang tidak menyengat, tapi asik untuk dinikmati. Menenangkan dan membuat rileks pikiran. Disesapnya teh tersebut, tertegun Zafran saat mendapatkan kembali rasa yang memanjakan lidahnya itu. Seolah-olah menemukan sesuatu yang telah lama hilang.


Jantungnya berdebar-debar tak karuan bahkan telapak tangan terasa lembab karena gugup akan bertemu dengan sang mantan istri yang selama ini dicarinya. Lupa sudah pada Lita dan anaknya, dalam pikiran tersusun kata-kata apa saja yang akan ia ucapkan ketika bertemu dengannya.


Bunyi ketukan sepatu pada lantai semakin membuat jantung Zafran bertalu-talu. Ia berdehem menetralkan sikapnya dan mengusir gugup yang menguasai hati. Sungguh tak dinyana setelah hampir satu tahun mencari mereka akan berjumpa di tempat ini. Dia berdiri sambil membenarkan pakaian yang dikenakan, menyambut kedatangan orang yang ditunggunya.


Namun, semua harapan dan rasa bahagia itu menguap begitu saja, terbang bersama datangnya seseorang yang muncul dari balik tembok.


"Di sana, Pak. Beliau mau ketemu sama Bapak langsung," ucap penjaga tersebut sambil menunjuk Zafran yang tertegun di kursinya.


Laki-laki itu tersenyum seraya membawa langkahnya mendekati Zafran. Sedang yang di sana, berpaling membuang rasa kecewa yang segera saja hinggap di hatinya.


"Selamat siang! Maaf, dengan Bapak siapa?" tanya pemilik toko tersebut dengan ramah.


Ia mengulurkan tangannya pada Zafran, sangat sopan dan ramah. Laki-laki itu berpaling, melirik tangan mulus di depannya sebelum menjabat.

__ADS_1


"Saya Fran, apa Anda yang punya toko ini?" tanya Zafran memastikan. Sengaja menyamarkan namanya untuk menutupi rasa malu.


Tautan tangan mereka terlepas, pemilik toko tersebut mempersilahkan Zafran untuk duduk sebelum berbincang.


"Iya, saya yang punya toko ini. Nama saya Rayan, itulah kenapa saya namai toko ini Arrayan. Ya, ngambil dari nama saya," jawab sang pemilik menjelaskan tanpa diminta.


Zafran manggut-manggut, wajahnya terlihat bodoh sekarang. Dalam hati mengumpat kesal, sudah pasti nama toko adalah nama pemiliknya.


"Jadi, ada yang mau Bapak bicarakan? Atau bertanya-tanya dulu, langsung pesan juga boleh," tanya Rayan sambil tersenyum ramah pada Zafran.


Bukannya menjawab, Zahran justru termangu. Ia tidak punya rencana B. Berpikir dan berpikir, apa yang harus dia bahas dengan pemilik itu.


"Ah, begini. Minggu besok anak saya mau ulang tahun, bisa nggak saya pesan kue dari sini dengan bungkus yang cantik sebagai oleh-oleh buat tamu?" tanya Zafran lugas sesaat dia teringat pada percakapan Lita dan ibunya.


"Oh, masalah itu. Bisa, Pak. Sangat bisa. Bapak cukup catat aja berapa bungkus yang diperlukan, tanggal berapa dan jangan lupa waktu pengirimannya juga. Biar kami siapkan semua sebelum waktunya," jawab sang pemilik.


Zafran mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Meski kecewa, setidaknya dia tidak malu karena ada alasan lain datang ke sana.


"Nin, lembar catatan!" pinta Rayan pada si penjaga tadi.


Gadis itu mengangguk dan menghampiri dengan sebuah buku catatan di tangan juga bolpoin.


"Catat di sini aja, Pak. Jangan lupa tinggalkan nomor telepon yang bisa kami hubungi," ucap Rayan sembari menyerahkan buku tersebut kepada Zafran.


Tanpa berdiskusi dengan istri dan ibunya, Zafran memutuskan semua. Ia membuat kesepakatan dengan pemilik toko, membayar uang muka sebelum keluar.


Tak dinyana, di tempat lain sebuah mobil putih juga mengawasi toko tersebut. Tak hanya itu, sepasang mata pun berhari-hari terpasang tak jauh dari toko.


"Bos?"


"Zafran?"


Di antara mereka Lita dan Ibu juga menyaksikan secara langsung Zafran yang keluar toko diantar pemilik tadi.

__ADS_1


"Mas Zafran? Ngapain dia keluar dari toko itu, Bu?" tanya Lita. Ribuan tanya menumpuk dalam pikiran.


"Nggak tahu, sebaiknya kita pulang dan tunggu di rumah." Ibu sedikit curiga, lidah tuanya pun merasakan hal yang sama. Rasa yang hilang kini seolah-olah kembali mencarinya.


__ADS_2