
Semalaman suntuk Zafran memikirkan perkataan Hendra, hal yang tak pernah ia duga untuk seumur hidupnya juga. Rasa frustasi yang menyerangnya karena masalah Naina dan Lita ditambah Ibu yang mengalami stroke, membuatnya hilang akal dan hampir lepas kendali.
Jika bukan karena Hendra yang menahannya, mungkin saat ini dia sudah terkapar di ruang IGD. Menambah deretan angka yang harus dibayarnya.
Ingatan kejadian semalam melintas dalam benak, terbersit rasa sesal yang tak berujung jika kebodohan yang semalam dia lakukan. Beruntung, semua itu tidak terjadi hingga dia masih bisa berdiri di tempat itu saat ini. Menatap sebuah bangunan tinggi besar lagi megah, bak istana raja-raja.
"Zafran, apa-apaan kamu! Bunuh diri itu dosa besar, selamanya kamu nggak akan dapat ampunan. Mending kamu ambil wudhu dan tunaikan shalat. Tobat, Zafran. Mungkin selama ini kamu jauh dari Tuhan. Jangan bertindak bodoh!" ucap Hendra di malam itu, dia terkejut begitu masuk ke ruangannya melihat Zafran sedang memegang gunting dan mengarahkannya pada leher.
Hendra cepat-cepat merebut benda tajam itu dari tangan Zafran dan membuangnya sembarangan.
"Lepasin aku! Biarin aku mati aja. Hidup aku udah nggak berguna lagi, Hen!" Zafran memberontak.
"Percuma aku hidup, udah nggak berguna lagi. Semuanya udah hancur, nggak ada lagi harapan buat aku bertahan hidup di dunia ini. Hartaku habis, istriku seorang penipu, anak itu juga bukan anak aku. Hidupku benar-benar hancur," jerit Zafran meratapi nasib dirinya.
Plak!
Satu tamparan mendarat cukup keras di wajahnya. Berharap akan menyadarkan Zafran dari kebodohannya.
"Tuhan nggak suka orang yang putus asa. Dia lebih suka orang yang datang ke rumahnya untuk memohon ampunan. Bodoh! Kamu pikir bunuh diri akan menyelesaikan masalah? Nggak, Zafran. Justru itu akan membuat masalah semakin runyam. Berhenti bertindak bodoh, dan datangi Tuhan kamu. Dia menunggu kamu buat tobat," bentak Hendra sembari mengguncang tubuh Zafran yang ambruk di lantai.
Laki-laki itu menangis pilu, sadar bahwa sejak dia mengenal Lita jarak dengan Tuhannya semakin menjauh. Berbeda dengan Seira, yang selalu mengingatkan dirinya seperti sebuah alarm yang tak membiarkan tuannya lalai dalam buai alam mimpi.
Di sanalah dia, di sebuah bangunan kecil yang disediakan pihak rumah sakit untuk mereka yang ingin bermesraan dengan sang pemilik kehidupan. Zafran menjatuhkan kepala di atas sajadah, menangis tersedu-sedu melepaskan semua beban yang dirasa berat menimpa pundaknya.
__ADS_1
Tangannya meremas kain itu, menggenggam bara dosa yang terasa panas hingga membuat hatinya bergolak. Dalam sujud, bahu hingga punggungnya berguncang hebat. Meratap pada sang Kuasa agar bermurah hati padanya memberi sedikit ketenangan untuk hatinya.
"Ya Allah, ampuni aku, Gusti! Aku berdosa, sangat-sangat berdosa. Ampuni aku, ya Allah." Zafran meratap.
Bayangan Seira menangis melintas dalam benak, terlalu banyak dosa yang telah dia lakukan pada mantan istrinya. Semakin kuat isak tangisnya kala mengingat semua dosa terhadap wanita itu.
"Sei, maafin aku. Ini hukuman buat aku karena udah nyia-nyiain kamu, udah usir kamu dan talak kamu tanpa sebab. Aku juga nggak kasih kamu apa-apa, kalo Tuhan berbaik hati, aku pengen ketemu sama kamu dan minta ampun. Ya Allah, ampuni segala dosaku. Maafkan semua khilafku. Aku berdosa, ya Allah."
Zafran meratap malam itu, merendahkan dirinya di hadapan Tuhan Sang Pemilik Segalanya. Di luar, Hendra mendengar ratapan pilu sahabatnya. Sungguh tak tega hati menyaksikan penderitaan yang dialami laki-laki itu.
Semua itu karena apa yang telah dia lakukan pada masa dahulu. Sekarang, dia harus rela mengetam hasil dari apa yang dituainya.
Oh, takdir. Semua itu rahasia sang Ilahi, tak satu pun manusia yang dapat mengetahui apa yang akan dia temui di masa hadapan. Syukuri semua yang telah dimiliki sebelum semua pergi dan penyesalan hinggap memenuhi hati.
Hendra melangkah masuk, menunaikan shalat dua rakaat sebelum berbicara dengan laki-laki yang masih menangis dalam sujudnya itu. Laki-laki yang telah putus asa pada takdir yang menimpanya, tak mampu berbuat banyak untuk memperbaiki semua.
"Kamu mau tahu satu rahasia? Rahasia yang seharusnya aku simpan untuk seumur hidup bahkan sampai aku mati, tapi aku pikir kamu berhak tahu semuanya." Kalimat itu meluncur lirih dari lisan sang dokter muda.
Zafran membeku, laju tangisnya terjeda, teringin tahu rahasia yang dimaksud sahabatnya.
"Apa? Rahasia apa?" tanyanya gemetar.
Jantung Zafran berdegup tak karuan, sungguh ia menunggu sambil berharap rahasia yang dikatakan Hendra adalah kabar baik yang sedikit memberinya harapan.
__ADS_1
"Kamu punya anak, Zafran. Dia sehat dan tumbuh dengan baik."
Zafran berpaling cepat, matanya yang sembab mendelik tak percaya. Berputar menghujam manik milik dokter muda itu.
"Aku nggak percaya. Mungkin bukan Sei yang mandul, tapi aku. Buktinya sampai hampir lima tahun pernikahan aku bersama Lita, dia tidak hamil juga. Ditambah Naina bukan anak aku, bukan benih aku. Siapa yang mau aku percaya? Nggak ada," jawab Zafran terlanjur putus asa dan dia menerima takdirnya sebagai laki-laki mandul.
Meski bibirnya berkata demikian, tapi lain lagi di hatinya. Pikirannya terus mengawang pada anak Seira yang dilihatnya di restoran. Tertegun Zafran ketika wajah lugu nan tampan itu tersenyum saat bermain di mal siang tadi.
Jangan-jangan ... nggak mungkin!
Hendra menghela napas panjang melihat kebodohan Zafran yang selalu tampak jelas di wajah saat berpikir keras. Matanya membelalak lebar saat mendongak pada Hendra. Dokter muda itu mengangguk mengerti pertanyaan Zafran yang tertuang lewat sorot matanya.
"Hari di mana kamu usir Sei, dia baru saja memeriksakan dirinya di sini. Lalu, dinyatakan hamil oleh dokter kandungan. Aku melihat sendiri rekam medisnya, tapi karena kamu mengusir dia tanpa memberi kesempatan untuk bicara dan juga menjatuhkan talak begitu saja, Seira nggak kamu sampai kamu tahu tentang kehamilannya."
Hendra tersenyum mencibir, dia lanjut berkata, "Kamu bodoh, Zafran. Padahal kamu tahu seperti apa Lita itu, tapi tetap saja kamu nikahin dia dan talak Seira. Sekarang, semuanya sudah terungkap, buat rujuk pun kamu udah nggak bisa. Kamu juga udah nggak berhak atas anak itu karena kamu nggak pernah nafkahin mereka."
Jatuh air mata Zafran tanpa komando, kini dia benar-benar menyesal. Jiwa dan raganya terkungkung dalam rasa sesal yang abadi. Ia menangis histeris, menjatuhkan kepalanya lagi pada lantai mushola.
"Jadi, anak itu anak aku. Ya Allah, ampun, Gusti! Ampuni aku, ya Allah. Aku menyesal!" ucap Zafran melangit.
"Apa? Kamu udah ketemu mereka?" Zafran mengangguk, mungkin hanya Hendra sendiri yang belum tahu kepulangan Seira.
Ia menyusut air mata sambil menatap sebuah rumah yang dibelinya untuk Lita dan dijual pada Fatih, suami Seira. Berharap dapat melihat Rayan, atau bahkan diizinkan untuk memeluknya.
__ADS_1
Nyatanya, setelah hampir tiga jam berdiri di sana, tak satu pun penghuni rumah mewah itu terlihat keluar. Bangunan itu tampak sepi, seperti baru saja ditinggal penghuninya.
"Anakku! Rayan, anakku!"