Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Malam Kembali Memanas


__ADS_3

"Sudah, Bu. Jangan maksa Sei buat ikut kita ke Jakarta dulu. Seperti yang aku ceritain sama Ibu, dia mungkin sedikit trauma sama kota itu karena mantan suaminya ada di sana. Jadi, biarin dia nentuin hatinya dulu, biar tenang dulu."


Fatih menjadi penengah untuk keinginan Ibu dan penolakan Seira. Wanita beranak satu itu memang tidak mengatakan apapun saat Ibu memintanya ikut ke Jakarta, tapi melihat dari riak di wajahnya yang menegang Fatih amat mengerti.


Ibu menghela napas, mencoba mengenyampingkan egonya untuk mengajak Seira bersama. Betapa ia mengerti, selain cerita dari Fatih, ia juga diyakinkan Mang Udin sebagai saksi hidup awal mula penderitaan Seira.


Ibu mengusap tangan Seira, wanita itu terus tertunduk menyembunyikan kesedihan serta kecemasannya. Sentuhan lembut lagi hangat, sudah lama tak ia rasakan. Selama menikah dengan Zafran, ibu mertua tak pernah memberikan sentuhan itu.


"Nggak apa-apa, Ibu ngerti, kok. Ibu juga nggak akan maksa kamu buat ikut, tapi nggak apa-apa, kan, kalo Ibu berharap suatu hari nanti kamu bisa lupain masa lalu kamu dan ikut Fatih ke Jakarta. Tinggal sama-sama di sana, Bi Sari juga boleh ikut. Dia nggak mungkin dipisahin sama Rayan," ucap Ibu dengan kelemahlembutannya.


Perlahan hati Seira yang dilanda kecemasan, menghangat setelah Ibu mengakhiri kata-katanya. Betul apa yang diucapkan Ibu, dia harus melupakan masa lalu dan menguburnya. Tak perlu takut berhadapan dengan mereka, tapi ia belum siap untuk itu semua.


"Iya, Bu. Insya Allah, kalo hati aku udah siap, aku akan ikut Mas Fatih ke Jakarta. Buat sekarang, aku di sini aja dulu sampe Rayan sedikit besar," jawab Seira memberi harapan pada hati tua Ibu.


"Makasih, ya." Ibu tersenyum. Memeluk sang menantu dengan penuh cinta, penderitaan yang dialami Seira harus berbalas kebahagiaan, dan dia ingin Fatih-lah yang memberikan itu semua.


"Pa Pa Pah!"


Suara Rayan mengalihkan perhatian mereka semua, bayi itu datang membawa mainan berjalan tertatih mendekati Fatih.


"Maa syaa Allah! Anak Papah, ada apa?"


Fatih mengangkat tubuh kecilnya, menciumi pipinya dengan gemas. Rayan menunjukkan mainan itu sambil terus berceloteh tak jelas.


"Oh, kamu mau main sama Papah? Ayo!" Fatih membawa Rayan duduk di lantai. Terlihat akrab padahal baru satu hari itu mereka bertemu.


Mungkin Rayan mengenali sosoknya, lisan itulah yang mengumandangkan adzan serta iqamah di telinganya pada saat dilahirkan dulu. Seira tersenyum, perlahan kebahagiaan mulai mengisi hati.


Ibu pun turut gembira, melihat sulungnya menemukan cinta dari wanita luar biasa. Tak mudah menjadi Seira, diusir tanpa membawa apapun selain apa yang melekat di tubuh dan tentunya janin sebenar-benarnya harta. Merugilah Zafran karena melepaskan sebuah berlian berharga demi sebutir kerikil di jalanan.


Bahkan gadis remaja itu diterima Rayan dengan baik, ketiganya bermain bersama di bawah tatapan tiga wanita berbeda usia itu.


"Oya, Nak. Kamu tinggal di sini?" tanya Ibu mertuanya.


Seira mengalihkan perhatian pada Ibu.


"Iya, Bu. Sebenarnya ada rumah Bibi di desa, tapi jauh. Kasian Bibi sama Rayan kalo harus bolak-balik ke sini," jawabnya.

__ADS_1


Ibu manggut-manggut mengerti, ia berencana menginap malam itu. Keesokan harinya barulah kembali ke Jakarta meskipun tanpa Fatih.


"Ibu mau menginap di sini, apa boleh?" Ibu bertanya ragu.


Seira mengulas senyum seraya menjawab, "Boleh, Bu. Udah Sei siapkan kamarnya. Kalo Ibu mau istirahat sekarang, Sei antar."


Ibu mengangguk dan berpamitan pada Bi Sari, keduanya meninggalkan ruangan depan setelah Seira berpamitan pada Fatih. Menapaki anak tangga menuju lantai dua toko yang disulap menjadi tempat tinggal.


"Nak, Ibu titip Fatih, ya. Jangan cemburu kalo Biya bersikap manja sama dia, maklum Biya kehilangan ayahnya sejak seusia Rayan. Jadi, suka manja sama Fatih karena dia nganggep Fatih bukan sekadar kakaknya saja, tapi juga ayahnya. Mudah-mudahan aja dia ngerti kalo sekarang Fatih udah ada kamu," ucap Ibu mewanti-wanti.


Seira bisa maklum untuk hal itu, lagipula Biya adalah adik kandung Fatih. Wajar saja seorang adik bersikap manja pada kakaknya. Akan tetapi, sepanjang mereka bersama tadi Biya terlihat menjaga sikap di hadapannya meskipun sedikit riak sedih sempat memancar dari mata.


Namun, semua itu hilang dan berganti senyum, ketika mereka bermain bersama dengan Rayan.


"Iya, Bu. Insya Allah ... maaf, ya, Bu. Sei belum bisa beli rumah, jadi Ibu harus tinggal sempit-sempitan di sini," ucapnya tak enak hati.


"Ngapain mikirin beli rumah, Fatih udah nyiapin rumah buat kalian kalo nanti kalian ke Jakarta. Dia beli rumah itu khusus buat kalian," jawab Ibu.


Seira menegang, sebegitu pentingkah dirinya sehingga semua sudah dipersiapkan Fatih jauh sebelum mereka menikah. Ia terharu, tak terasa air mata jatuh.


"Eh, kok, malah nangis?" Ibu menyeka pipinya.


"Nggak apa-apa, Bu. Sei cuma terharu aja, Mas Fatih baik banget sama Sei. Ibu juga baik banget, makasih udah nerima Sei jadi bagian anggota keluarga Ibu," ucapnya tulus.


Ibu memeluk tubuhnya, mengusap-usap punggung Seira penuh perhatian.


"Nggak usah sungkan begitu, sekarang kamu juga anak Ibu. Bukan orang lain," sahutnya menambah rasa hangat pada hati Seira.


*****


"Mas, aku mau ngomong sama kamu," ujar Seira pada malam pertama pernikahan mereka.


Ia duduk di tepi ranjang usai menidurkan Rayan. Menunggu Fatih datang dari membersihkan dirinya. Laki-laki itu berjalan masuk dan tersenyum melihat Seira. Lagi-lagi hal itu menciptakan semu merah di kedua pipinya.


"Apa? Ngomong aja," katanya seraya duduk di samping wanita itu.


Tak tahu saja, keduanya tengah menahan debaran jantung yang bertalu-talu. Laksana sepasang pengantin bujang dan gadis, Seira menunduk malu-malu.

__ADS_1


"Mmm ... boleh Mas peluk kamu?"


Kenapa meminta izin? Seira mengumpat dalam hati. Tentu saja ia malu menjawabnya, tapi tak urung jua kepalanya mengangguk. Dengan lembut Fatih memeluk tubuh Seira, mencium tengkuknya penuh perasaan.


"Mau ngomong apa?" bisiknya di telinga. Suaranya terdengar parau menahan gejolak hasrat yang menggebu.


Seira menggigit bibir menerima perlakuan lain dari seorang Fatih. Gelenyar rasa yang tak pernah ia rasakan lagi sejak perceraiannya dengan Zafran, kini kembali hadir dan memberontak.


"Masalah Rayan, Mas."


"Kenapa sama Rayan?" Fatih menyesap kulit lehernya membuat Seira berdesis tanpa sadar.


"I-itu ... Rayan, kan, masih kecil apa nggak masalah buat kamu klo kita jaga dulu. Jangan salah faham dulu, bukan karena aku nggak mau punya anak sama kamu, tapi ...."


"Aw!"


Belum selesai Seira menuangkan kalimat, Fatih membaringkannya seraya menindih tubuh sintal itu.


Pandang mereka bertemu untuk waktu yang lama, wajah Fatih memerah menahan hasrat yang bergolak.


"Semua itu nggak masalah, lagian Rayan emang masih sangat kecil. Aku nggak mau kamu kewalahan ngurus dua bayi. Kita besarin Rayan dulu, baru setelah itu kamu bisa hamil lagi," ucap Fatih seraya memagut bibir yang telah lama mengelana di alam hayalnya.


"Tunggu!"


Fatih melepas pagutan tiba-tiba, setengah pakaian Seira telah terlepas dari tubuhnya.


"Kenapa, Mas?" Seira bertanya dengan napas memburu.


"Kamu pakai KB apa?"


"Aku minum pil, Mas."


"Oh, baiklah."


Pertempuran dilanjutkan, ranjang yang selama satu tahun itu sepi kini berderit kepanasan. Hawa dingin dari AC pun tak lagi terasa oleh mereka, berpeluh-peluh tubuh hingga basah semuanya. Malam yang panas, halaalan thoyyiban.


*****

__ADS_1


Hallo, semuanya. Terima kasih selalu mengikuti kisah Seira. Selamat membaca dan semoga suka.


__ADS_2