Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Tersangka


__ADS_3

Nisa datang ke rumah sakit dengan napasnya yang memburu, ia berdiri di depan meja pendaftaran bertanya tentang keberadaan suaminya.


"Dokter Hendra di ruangannya, Bu, tapi sepertinya sedang banyak pasien. Ibu bisa menunggu sampai jam istirahat nanti."


Nisa menggeram, tangan kanannya yang berada di atas meja terkepal erat hingga urat-uratnya terlihat menonjol. Tanpa menyahut Nisa langsung berbalik dan berjalan tergesa menuju ruangan Hendra.


Ia menyerobot antrian, berbagai umpatan dan kata-kata kasar terlontar dari para pasien yang sedang menunggu giliran.


Brak!


Hendra yang sedang membuat resep terlonjak, begitu pula dengan sang asisten yang membantu juga pasien mereka. Mereka termangu melihat sosok Nisa yang berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam.


Wanita itu berjalan, Hendra menyerahkan resep seraya memintanya untuk segera keluar. Ia juga meminta sang asisten untuk menahan para pasien yang mengantri sementara waktu.


"Sayang, ada apa? Kamu kelihatan marah kayak gitu?" tanya Hendra sembari berjalan mendekati istrinya.


"Jangan sentuh!" sengit Nisa sambil menepis tangan Hendra yang hendak menyentuhnya.


Hendra mengernyit bingung, berpikir ada masalah apa lagi yang menyebabkan istrinya marah besar seperti sekarang ini. Alamat dia pasti akan pergi jika Hendra telah melakukan kesalahan yang tak ia sadari.


"Apa kamu yang membuat video itu? Kenapa kamu selalu melakukan tindakan ceroboh, Mas? Kamu sadar gak, sih? Ada banyak orang yang terdampak karena meluasnya berita itu? Kamu mikir gak, sih? Bantu teman juga gak segitunya, Mas. Kamu harus bisa milih mana yang baik untuk dilakukan mana yang nggak. Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu itu, Mas. Aku nggak ngerti," cecar Nisa tanpa memberi Hendra waktu untuk menyahut.


Ia menggelengkan kepalanya tak percaya, ternyata laki-laki yang dia nikahi teramat bodoh dan mudah sekali dimanfaatkan. Sementara laki-laki itu, termangu dengan mulut terbuka lebar. Matanya berkedip-kedip bingung, memikirkan apa yang sedang dibicarakan Nisa.


"Aku nggak ngerti, Nis. Kamu lagi ngomongin apa? Mas bener-bener nggak ngerti," ucap Hendra. Raut wajahnya terlihat bingung, tidak mengerti yang sedang dibicarakan istrinya itu.


"Kamu jangan pura-pura nggak tahu, Mas. Video itu udah tersebar ke seluruh Indonesia. Semua orang udah melihatnya, dan kalo bukan kamu yang buat, siapa lagi?" sentak Nisa sembari menuding wajah Hendra dengan geram.

__ADS_1


Seumur-umur menjadi istri dari dokter itu, baru kali ini Nisa tidak dapat menahan diri untuk tidak meluapkan emosi. Ia bahkan sudah mengemasi barang-barang penting yang akan dibawanya dari rumah jika terbukti Hendra terlibat dengan penyebaran video tersebut.


"Video? Video apa, Nisa? Mas nggak ngerti. Sumpah demi Tuhan, Mas nggak ngerti apa yang kamu omongin. Bisa jelasin dulu duduk perkaranya?" pinta Hendra yang benar-benar terlihat bingung dengan apa yang dituduhkan Nisa padanya.


Wanita itu bergeming, menelisik manik Hendra mencari kebenaran. Laki-laki itu tampak jujur, apakah bukan dia pelakunya?


"Kamu yakin kamu nggak tahu berita yang lagi viral hari ini?" tekan Nisa dengan mata memicing tajam.


Hendra menggeleng seraya menyahut, "Mas dari pagi duduk di sini. Nggak ke mana-mana. Pasien hari ini lebih banyak dari kemarin, Mas nggak sempet lihat ponsel ataupun televisi."


Wajah Hendra memelas, ia belum terpikir soal Zafran. Ia pikir video ... ah, sudahlah. Hendra bahkan tak ingin memikirkannya. Ia memperhatikan Nisa yang merogoh tas mencari-cari sesuatu. Benda pipih itu pun ia dapatkan, sang istri tampak sibuk mencari sesuatu dengan benda itu.


"Ini, coba kamu lihat sendiri!" Nisa menyodorkan ponselnya pada Hendra. Lalu, berpaling sembari menghela napas panjang dan membuangnya pelan-pelan. Mengurangi emosi yang membuatnya lelah secara fisik dan batin.


Hendra mengernyit saat menerima benda itu, melihat wajah masam sang istri hatinya mencelos nyeri. Bola mata Hendra membeliak tatkala melihat sosok Zafran yang menangis sambil memohon.


"Mas nggak tahu soal ini, Nisa. Sumpah demi Tuhan, Mas nggak tahu. Kemarin emang Mas lihat dia di ruangannya, tapi nggak ngelakuin apa-apa. Sumpah, sayang, percaya sama Mas. Itu bukan Mas," ucap Hendra bersungguh-sungguh.


Ia memegangi tangan Nisa dan meremasnya lembut untuk meyakinkan apa yang dikatakannya adalah benar. Nisa mendengus, masih berpikir jika Hendra sedang berkilah tak mau mengakui perbuatannya karena tak ingin berpisah dengan Nisa.


Melihat kerasnya sikap Nisa, Hendra tidak menyerah. Ia mendekat, dan Nisa tidak menolak.


"Percaya sama Mas, kali ini bukan Mas yang melakukannya. Mungkin ada pihak lain yang membantu Zafran. Kamu jangan marah kayak gini sama Mas, Nisa," pinta Hendra dengan lembut.


Perlahan dia memeluk wanitanya, mengecup pelipis itu dengan lembut. Berdesir darah Nisa, ia tak menampik hatinya suka setiap kali Hendra bersikap lembut padanya.


"Jangan kayak gini, Mas nggak mau ada masalah di rumah tangga kita, sayang. Mas akan buktikan kalo bukan Mas pelaku penyebar video itu," ucap Hendra yakin.

__ADS_1


Nisa membuka matanya yang sempat terpejam, mungkin kali ini dia harus percaya pada suaminya itu.


"Kalo bukan Mas pelakunya? Menurut Mas sendiri siapa?" tanya Nisa masih terdengar ketus.


Hendra teringat pada suster yang ia jumpai di ruangan Zafran sore tadi. Suster yang sama yang mengantar Zafran pergi ke taman menemui anaknya. Dalam pikiran Hendra, pastilah wanita itu yang telah membuat video tersebut karena Zafran tidak memiliki ponsel.


"Kayaknya Mas tahu siapa orangnya? Kamu mau ikut Mas? Kita temui dia," ucap Hendra dengan yakin.


Nisa mengangguk, mungkin dia memang harus mempercayai suaminya itu. Hendra menggandeng tangan Nisa keluar dari ruangan, membisikkan sesuatu pada sang asisten dan terus melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan.


"Emangnya siapa yang Mas curigai?" tanya Nisa sembari berjalan menuju ruangan yang berada di dekat ruang isolasi.


"Kalo nggak salah menduga, Mas curiga sama suster yang merawat Zafran, tapi kita nggak tahu sebelum kita tanya dia. Siapa tahu ada pihak lain atau mungkin Zafran sendiri yang melakukannya. Kita nggak tahu, 'kan?" jawab Hendra yang dibenarkan Nisa.


Sedikit rasa bersalah terbersit di hati Nisa, dia sudah mencurigai suaminya. Siapa yang tidak curiga? Sudah beberapa kali laki-laki itu melakukan tindakan bodoh hanya untuk membantu temannya yang tak berguna itu. Siapapun pasti akan curiga.


Nisa menghela napas, mengurai rasa bersalah yang perlahan hadir. Ia balas mengeratkan genggaman dan tersenyum samar tatkala pandangan jatuh pada wajah suaminya.


Hendra menuju satu ruangan, membukanya dengan cepat hingga menyentak beberapa petugas jaga di dalam sana. Mata Hendra menatap satu per satu mereka yang ada di sana, mencari-cari sosok suster yang merawat Zafran.


"Di mana Kia?" tanyanya pada semua orang.


Mereka saling menoleh satu sama lain, pertanyaan Hendra sudah pasti berkaitan dengan video yang viral di media sosial.


"Suster Kia sedang libur, Dokter. Apa ini berkaitan dengan video pasien yang ditangani Suster Kia, Dokter?" tanya salah seorang di antara mereka.


"Benar." Hendra menjawab gusar.

__ADS_1


"Tapi ...."


__ADS_2