Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Gadis Kecil Itu


__ADS_3

"Mamah! Papah!"


Rayan berteriak dari tempatnya bermain ketika melihat sosok Seira dan Fatih berada di luar ruangan. Seira melambaikan tangan seraya duduk di samping Biya. Jago duduk sendiri mengawasi dengan waspada.


Kejadian di mana dulu Zafran menguntit mereka, menjadi sesuatu yang harus dia ingat selalu agar tidak terulang lagi.


Di dalam sana, Rayan dan Rani bermain dengan anak sebaya mereka. Tawa dan keceriaan mereka menjadi penghangat untuk hati para orang tua. Jago bahkan tersenyum samar memperhatikan putri kecilnya yang begitu aktif dalam bermain.


Mereka yang tengah merajut kebahagiaan di dalam sana, berbanding terbalik dengan gadis kecil lusuh di luar gedung raksasa tersebut. Ia tengah menenteng sebuah plastik yang lebih besar dari tubuhnya, di tangan kanannya sebuah tongkat kayu ia gunakan untuk mengambil botol-botol bekas minuman dari tempat-tempat sampah.


Meminta-minta? Gadis itu sama sekali tidak menyukainya. Dia lebih suka bekerja untuk mendapatkan uang daripada menadah meminta pada orang-orang yang berlalu-lalang.


"Bentar lagi udah mau sore, aku harus cepat," katanya berjalan tergesa menyusuri trotoar.


Gadis kecil itu membawa botol-botol yang dia kumpulkan kepada pengepul untuk ditukar dengan rupiah. Usianya memang masih sangat kecil, tapi kerasnya hidup yang harus dia jalani membuatnya tidak bisa berleha-leha dan bermanja-manja di dalam rumah. Dia sama seperti anak-anak lainnya, ingin jajan dan membeli makanan.


Namun, dia tidak pernah meminta pada ibunya, sangat mengerti keadaan orang tua yang sedang kesulitan ekonomi.


"Alhamdulillah, uangnya banyak."


Gadis kecil itu memasukkan uang hasil penukarannya ke dalam kantong. Berjingkrak dengan riang meninggalkan tempat bertumpuknya barang-barang bekas.


Tiba di pinggir jalan, ia terus menyusuri trotoar untuk kembali ke rumah. Akan tetapi, langkah kecilnya harus berhenti dikala melihat beberapa anak keluar dari mal sambil menenteng boneka kesayangan mereka.


"Nai juga pernah punya boneka kayak gitu, tapi sekarang nggak punya." Ia bermonolog dengan sedih.


Terpaku di tempatnya menyaksikan wajah-wajah riang gembira anak-anak seusianya.


"Nai juga pengen maen di sana, tapi kata Ibu nggak ada uang." Ia duduk memeluk lutut, terus memperhatikan mereka yang tengah asik berbincang sambil digandeng sang mamah.


"Ayah, kapan Ayah pulang? Nai kangen sama Ayah," lirihnya teringat pada Zafran yang entah di mana keberadaannya. Kata Lita, ayahnya sedang bekerja di luar kota supaya dapet uang yang banyak. Untuk itulah, Naina tak pernah bertanya lagi soal Zafran.


Memendam rindu di hati, rindu sosok Zafran yang selalu memeluknya. Terlepas siapa ayah Naina, yang gadis kecil itu tahu Zafran adalah ayahnya. Sama halnya Rayan, hanya tahu Fatih-lah ayahnya.


Sosoknya menarik perhatian Rayan yang baru saja keluar dari mal, rasa iba terus saja menghampiri hatinya melihat sosok kecil menyedihkan yang memeluk lutut di pinggir jalan.


"Mamah, Rayan mau beli makanan sama minuman, boleh? Mainan juga, boleh?" tanyanya pada Seira.


Tak biasanya bocah kecil itu meminta. Seira mengernyit, ia menatap Fatih meminta persetujuan darinya.

__ADS_1


"Ya udah, nggak apa-apa, tapi Rayan sama Pak Dirman sama Aunty, ya. Karena Mamah nggak boleh kecapean. Nggak apa-apa, 'kan?" jawab Fatih setelah melihat kondisi Seira yang tampak lelah.


Rayan mengangguk, tanpa diperintah Rani segera menggandeng tangannya. Baru beberapa jam saling mengenal, kedua anak itu telah menjadi akrab.


"Ayo, Kak. Rani yang temenin," katanya tanpa rasa malu-malu.


"Sekalian aja Rani juga beli, ya. Nanti Aunty yang bayar," ucap Seira.


Gadis kecil itu mengangguk pelan, mengulum senyum dengan kedua pipi yang merona.


"Makasih, Tante." Manis sekali, gadis itu benar-benar manis. Siapa saja yang melihat pasti akan langsung menyukainya.


Fatih memberikan sebuah kartu pada Biya, seraya berpamitan untuk lebih dulu ke dalam mobil dan menunggu mereka di sana. Di dalam sana, Rani dan Rayan berdiri di dalam troli didorong Biya menyusuri area makanan.


Entah apa yang dilakukan anak itu, begitu banyak makanan dan minuman yang diambilnya. Biya menggelengkan kepala, semua itu tak pernah dibeli Rayan.


"Udah, Aunty."


Biya mendorong troli menuju kasir.


"Yang ini dipisah, Tante. Yang itu buat Rani," ucap Rayan mengatur.


"Sekarang ke toko mainan!" seru Rayan dengan semangat.


Tak ada capeknya, kedua anak itu memilih dan memilah mainan apa saja yang ingin mereka beli. Pilihan Rayan jatuh pada sebuah boneka beruang besar. Biya mengernyit.


"Sayang, ini buat apa? Bukannya Rayan laki-laki?" Biya mengingatkan.


"Ini bukan buat Rayan, Aunty, tapi buat anak kecil yang di sana. Rayan pengen kasih dia hadiah," jawabnya sambil menunjuk pinggir jalan di mana Naina masih duduk termenung.


Seketika Biya mengerti, lekas membayar itu semua dan segera pergi meninggalkan mal.


"Nanti, Pak Dirman anter aja dia pulang. Biar Rayan sama Aunty sama Papah," ucapnya kembali mengatur.


Jago mengangguk, tak akan mungkin dia menolak keinginan sang bocah yang sedang belajar berbagi kebahagiaan dengan orang lain.


"Hai, ini buat kamu." Rayan berdiri di hadapan Naina sambil memberikan boneka beruang itu.


Gadis kecil itu mendongak, terkejut itulah yang terlihat dari reaksinya.

__ADS_1


"Buat Nai?"


Rayan mengangguk. Jago yang melihat si anak langsung mengenali yang dia adalah anak Zafran.


"Makasih."


Naina menerima pemberian Rayan dengan senang hati. Ia langsung mendekap boneka itu dengan erat.


Biya menarik tangan Rayan untuk segera pergi dari tempat itu karena Seira telah memanggilnya. Jago berjongkok di hadapan Naina, bertanya di mana rumahnya sekarang?


Laki-laki bertubuh besar itulah yang akan mengantar Naina pulang bersama anaknya, Rani.


"Rumahku nggak jauh dari sini, Om."


"Om antar, ya. Orang tua kamu ada?"


"Ayah nggak ada, Ibu pasti belum pulang, Nenek sakit."


Jago tercenung mendengar jawabannya. Nenek sakit? Itu artinya Ibu Zafran.


"Ya udah nggak apa-apa. Ini semua buat kamu, ya. Dari anak yang tadi," ucap Jago sembari menunjuk ke arah Rayan pergi.


Jago membawa Naina masuk ke dalam mobil, dia akan mengantar anak itu sekalian melihat keadaan Ibu yang kata Naina sakit. Sepanjang perjalanan, Naina hanya diam tak banyak bicara. Memeluk boneka pemberian Rayan penuh syukur.


Hanya ada suara Rani saja memenuhi ruang di dalam mobil. Apa saja dia ceritakan untuk mengusir bosan.


"Masuk ke sini?" tanya Jago.


"Iya, Om."


Rasa tak percaya pada kenyataan bahwa orang yang dulu hidup di lingkungan mewah, kini harus tinggal di tempat sederhana itu.


"Rumah Kakak yang mana?" Rani bertanya antusias.


"Rumahku di dalam, nggak bisa masuk mobil," jawab Naina.


Mereka menyusuri sebuah gang sempit untuk tiba di rumah Naina. Jago termangu, hampir-hampir semua barang bawaannya jatuh. Dia mengedipkan mata, menatap bangunan yang sebenarnya tak layak huni itu.


Baru beberapa langkah keluar di ujung gang, sebuah teriakan seorang wanita memenuhi telinga mereka.

__ADS_1


__ADS_2