
"Aunty!" teriak Rayan menyambut kedatangan Biya beserta Ibu dan Bi Sari.
"Ah, gantengnya Aunty!" Biya berlari sambil membentang tangan.
Keduanya berpelukan seperti sudah terpisah sangat lama sekali, padahal baru tiga hari dan masih berada di kota yang sama. Saling mencolek hidung pun mereka lakukan, menepuk tangan satu sama lain, setelahnya tertawa garing.
Melihat keduanya, tak ada yang tidak tersenyum, termasuk Jago dan anak perempuannya yang sedari tadi menarik-narik tangan sang ayah. Fatih dan Seira bersalaman pada kedua wanita tua yang turut datang ke restoran. Mereka tak akan menginap, dan akan langsung kembali ke rumah setelah puas bermain dengan Rayan.
"Kenapa lama sekali? Rayan udah nggak sabar pengen main," ucap Rayan sembari mengerucutkan bibirnya.
Biya membungkuk, menggamit hidung Rayan dengan gemas sambil terkekeh.
"Di jalanan macet, sayang. Panjaaaaaang kayak ular," jawab Biya sembari membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Rayan manggut-manggut, mereka memasuki restoran bersama. Namun, langkah semua orang terhenti disaat suara melengking dari seorang gadis terdengar cukup keras.
"Ayah, ayo! Nanti Kakak keburu masuk, aku mau main sama Kakak."
Rayan dan Biya menoleh, begitu pula dengan Seira dan Fatih, tapi laki-laki itu menyuruh Ibu dan Bi Sari untuk melanjutkan langkah mereka memasuki restoran.
"Dia anaknya Jago?" Seira berbisik di telinga suaminya.
"Iya, dia gadis yang kuat sama seperti ayahnya." Fatih balas berbisik sebelum mendekati Rayan dan berjongkok di sampingnya.
"Namanya Rani, dia anak Pak Dirman dan mau kenal sama Rayan. Dia anak yang baik, ceria dan mudah sekali tertawa. Datangi dan kenalan sama dia," ucap Fatih di telinga bocah itu.
Rayan melirik papahnya, pandang mereka beradu dan kedipan mata Fatih memberinya tanda untuk menjadi laki-laki sejati yang tidak mengabaikan seorang perempuan. Rayan menganggukkan kepala, menoleh pada gadis kecil yang masih menarik-narik tangan ayahnya.
Rayan melangkah pelan, dahinya mengernyit saat melihat gadis kecil itu terdiam sambil menatapnya. Detik berikutnya dia tersenyum lebar, dan berlari ke arahnya. Sontak langkah bocah itu terhenti, termangu di tempat menunggu kedatangannya.
Jago harap-harap cemas, berkali-kali menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa mengering. Tangannya saling meremas terasa lembab karena keringat. Sementara di sisi lain, Seira terus tersenyum memperhatikan tingkah lucu nan menggemaskan kedua bocah itu.
"Kakak, Kak Rayan, 'kan? Aku Rani, kita main, yuk!" Suara cempreng gadis kecil itu menggelitik telinganya, Rayan terdiam beberapa saat tak berekspresi.
Hanya mematung sambil menatap bingung gadis kecil di depannya yang terus menampakkan deretan gigi susunya yang kecil-kecil.
"Ayo, Kak. Rani bawa mainan, Rani mau main sama Kakak," ajak gadis kecil itu lagi dengan berani memegang tangan Rayan dan menggoyangnya.
"Tunggu!" Rayan baru bersuara setelah Rani menarik paksa tangannya.
"Kenapa, Kak?"
__ADS_1
"Rayan mau ke mal, mau main di sana sama Aunty. Kalo Rani mau ikut, boleh, kok." Rayan tersenyum, dia memang ramah persis seperti mamahnya.
Mendengar itu, Seira terkekeh kecil. Begitu pula Fatih, tapi tidak dengan Jago. Ia merasa tak enak karena merasa anaknya itu sudah berbuat lancang.
"Rani, kamu nggak boleh gitu. Jangan maksa-maksa orang buat main sama kamu," sergah Jago sedikit membentak anaknya.
Seira menautkan alis tak senang, ia melangkah pelan mendekati kedua anak itu.
"Nggak apa-apa, Rani boleh ikut Rayan ke mal, kok. Mau, ya?" Seira mengusap kepala anak itu.
Senyum yang tadi diukirnya hilang, berganti raut sedih yang kentara. Ia menoleh pada ayahnya, meminta izin untuk turut pergi bersama Rayan. Jago mendelik, tapi tatapan Seira menghancurkan kegarangannya. Laki-laki itu lantas mengangguk dengan terpaksa.
"Yeay!"
Seira mengusap kepala anak itu, seraya mengusap perutnya sendiri. Dia anak perempuan pemberani, tangguh dan mandiri. Seira menyukainya.
******
"Mamah mau ke toko kue dulu, nanti menyusul sama Papah," ucap Seira pada Rayan yang bersiap pergi.
Bocah itu mengangguk, bersama Biya dan dikawal Jago, mereka pergi dengan riang gembira.
"Bu, Bi, kita pamit dulu. Aku pengen lihat cabang toko kue yang di sini," pamit Seira pada kedua wanita paruh baya itu.
Mereka pun pergi meninggalkan restoran, berikut dua orang wanita tua yang terlihat bahagia di masa tua mereka itu.
"Mas, apa jauh dari restoran?" tanya Seira saat baru saja mobil mereka meninggalkan parkiran.
"Nggak juga, deket, kok. Mas sengaja pilih bangunan yang deket sama restoran karena selain deket, di sana juga tempat yang strategis untuk menjual kue-kue seperti yang kamu buat," jawab Fatih sambil melirik istrinya.
Benar saja, cukup dua puluh menit berkendara, mereka tiba di depan sebuah bangunan bertuliskan 'Arrayan Cake'.
"Di sini, Mas?"
"Iya, sayang. Kamu jangan kaget, ya. Orang yang aku percayakan buat ngelola toko ini namanya sama kayak anak kita," ucap Fatih sontak membuat Seira membeliak tak sabar.
Keduanya berjalan mendekati toko yang lebih besar dari toko Seira saat di kota kecil dulu. Banyak pengunjung yang datang sedang menunggu pesanan ataupun tengah menikmati kue-kue tersebut di tempatnya.
"Selamat datang, Pak, Bu. Silahkan masuk!" sambut salah satu pekerja dengan ramah. Ia mengenali Fatih, tapi tidak dengan Seira. Namun, dalam hati menebak dia pasti pemilik resep dari kue-kue enak di toko tersebut.
"Besar banget, Mas. Ini, sih, tiga kali lipatnya dari toko kue aku yang dulu," ucap Seira sembari mengedarkan pandangan menatap segala apa yang terpajang di dinding toko.
__ADS_1
Seira membeliak, melangkah cepat mendekati deretan nama kue yang terpampang besar di salah satu sudut toko.
"Mas, nggak salah?" pekiknya setengah berbisik.
"Ada apa?"
"Harganya ... mahal banget. Di kampung sana harga satu kue di sini bisa dapet tiga," pekiknya menatap Fatih dengan mata yang lebar.
Laki-laki itu terkekeh, menggamit hidung Seira dengan gemas.
"Beda kualitas, sayang. Bahan yang Mas pilih adalah bahan-bahan berkualitas baik. Jadi, sesuailah lagian di sini, kan, kota besar. Beda sama di sana," jawab Fatih.
Seira membulatkan mulutnya, manggut-manggut mengerti, pantaslah lebih mahal ternyata bahannya berbeda. Lagipula di sana memang kota kecil, harga murah adalah yang utama.
"Mas mau ketemu Rayan dulu, ya. Kamu mau ikut?"
Seira tertawa, merasa lucu sendiri saat nama anak mereka disebut untuk orang lain. Ia menggeleng karena ingin melihat-lihat keadaan toko di bagian depan.
"Lin, titip Ibu, ya. Jangan sampe ke mana-mana. Dia baru di sini," ucap Fatih pada gadis yang menjaga toko.
"Baik, Pak."
Fatih berpamitan, sedangkan Seira melihat-lihat setiap sudut toko tersebut. Puas berkeliling, dia duduk di deretan bangku pengunjung. Sigap pekerja di sana membawakannya minuman. Seira tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
Puas rasanya, dia bisa mewujudkan mimpi untuk memiliki sebuah usaha. Sudah sejak lama Seira ingin merintisnya, dari sejak hidup bersama Zafran. Laki-laki itu tak pernah memberinya izin dengan alasan yang tak masuk akal.
Sangat bertolak-belakang dengan Fatih, dia justru mendukung Seira mengembangkan bakatnya hingga bisa sampai di titik ini. Semua karena dukungan laki-laki itu.
Dahi Seira mengernyit saat pandangannya tak sengaja menangkap sesosok kecil dengan pakaiannya yang lusuh berdiri di depan toko, memunggunginya. Ia juga melihat pekerja tadi memberikan sebungkus kue padanya. Rasa penasaran membawa langkah Seira mendekati pekerja tadi.
Ia menatap iba pada gadis kecil yang melangkah semakin jauh.
"Siapa gadis kecil itu?" tanya Seira cukup mengejutkan pekerja tadi.
"Eh, Ibu? Maaf, tadi itu anak kecil yang sering mengamen di sekitar sini. Pak Rayan meminta saya untuk memberinya kue."
"Kamu kenal?"
"Nggak, Bu. Dia bilang, ibunya sakit, bapaknya nggak ada, dan neneknya nggak bisa ke mana-mana."
"Ya Allah. Kasihan sekali, anak sekecil itu harus menanggung beban yang berat. Semoga jalan hidup kamu dimudahkan, Nak."
__ADS_1
Doa Seira yang tulus diaminkan pekerja tadi.