
Sementara di luar gedung, tak jauh dari acara pesta, sepasang mata menelisik jalannya acara. Menunggu tanpa kepastian, di pinggir jalan penuh kerinduan.
"Saya rasa sudah cukup Anda berada di luar, Pak. Sebaiknya kita kembali lagi ke rumah sakit, keadaan di luar tidak baik untuk kesehatan Bapak," ucap suster yang mengantar Zafran.
Laki-laki itu bergeming, terus fokus pada orang-orang yang keluar dari gedung tersebut.
"Tunggu, Suster! Sebentar lagi aja, aku mohon!" pinta Zafran menahan cepat tangan suster yang hendak memutar kursi rodanya.
Suster itu mengernyit, ikut menatap gedung baru di mana orang-orang berhamburan keluar dari sana.
"Emangnya ada yang Bapak tunggu?" tanya suster itu setelah mengamati Zafran dan bangunan itu.
"Iya, Sus. Saya pengen lihat anak saya dulu. Sebentar lagi, ya. Saya cuma pengen lihat aja," jawab Zafran memelas.
Terpaksa suster itu pun menurut, berdiri di sana sambil menunggu ... entah apa yang ditunggu Zafran sebenarnya. Sampai satu rombongan keluar, anak-anak panti asuhan, disusul Seira dan Fatih yang mengendong Rayan.
Anak itu terlihat nyaman, menjatuhkan kepala di bahu sang papah meski masih terlihat murung. Pandangan Zafran melembut ketika melihat sang mantan istri yang tampak anggun dengan balutan gamis yang menutupi seluruh auratnya.
Lalu, matanya menangkap sosok kecil dalam pelukan seorang laki-laki. Dia yakin itu adalah anaknya.
"Anakku!" gumam Zafran.
Suster itu mengangkat wajah, teringin melihat yang mana anak yang dimaksud oleh pasiennya.
"Yang mana anak Bapak? Perlu kita datangi?" tanya suster tersebut penasaran.
Zafran mengangkat tangannya bergetar menunjuk anak-anak yang masih berdiri di depan gedung tersebut. Tentu saja suster itu bingung, pasalnya ada banyak anak di sana.
"Yang itu, Sus. Aku mau ke sana, aku mau ketemu sama anak aku, Sus. Ayo, kita ke sana, Suster!" pinta Zafran gelisah.
Tak sabar rasanya ingin segera mendatangi mereka, jika bisa dia ingin memeluk dan menciumnya juga. Suster itu menurut, mendorong kursi roda Zafran mendekati depan bangunan itu.
__ADS_1
Seira dan Fatih berbalik setelah melepas kepergian anak-anak panti asuhan. Kembali ke dalam guna membereskan bekas pesta. Akan tetapi, suara serak Zafran menghentikan langkah keduanya.
"Ra-rayan! Ra-rayan, a-anakku!" ucap Zafran tidak tahu malu.
Seira berbalik bersamaan dengan Fatih. Rayan mengeratkan pelukan pada leher sang papah, tak ingin melihat laki-laki yang duduk di atas kursi roda itu.
"Rayan, ini Ayah, Nak. Ini Ayah kamu!" ucap Zafran lagi memelas, tapi anak itu sama sekali tidak menoleh.
Seira bergeming di tempatnya, melihat sosok laki-laki itu selalu mengingatkannya pada luka di masa lalu. Meskipun sudah memaafkan, tapi rasa sakit masih saja selalu hadir setiap kali melihat mereka.
Ia mencoba untuk tegar, terlebih ada Fatih di sisi yang tak pernah membiarkannya sendirian. Fatih mengurai jemari Seira yang terkepal, menautkannya dengan jemari sendiri, menyalurkan ketenangan pada hatinya yang gundah gulana.
"S-sei, tolong biarkan aku ketemu anakku. Dia anakku, 'kan? Kenapa kamu menyembunyikannya dari aku selama ini? Kenapa kamu nggak pernah bilang kalo lagi hamil? Sekarang, aku mau ketemu sama anak aku," ucap Zafran yang justru melimpahkan kesalahan pada Seira.
Seira tertawa getir, geli rasanya mendengar pertanyaan Zafran yang memojokkan dirinya.
"Kenapa? Kamu masih bisa tanya kenapa? Kamu nggak mikir kenapa aku nggak mau kamu tahu soal anak aku? Kamu lupa sama apa yang udah kamu lakuin dulu, Zafran? Ingat-ingat lagi, jangan sampai kamu pura-pura amnesia setelah lihat anakku." Seira tersenyum, tapi senyum itu tak lagi sama.
"Sei, maafin aku, Sei. Tolong biarin aku ketemu sama anak aku, Sei," mohon Zafran mengiba sambil menangkupkan kedua tangan di dada.
Dada Seira bergemuruh hebat, Fatih yang melirik lekas saja mengeratkan genggaman. Mengingatkan bahwa di antara mereka ada Rayan yang mendengar. Seira memejamkan mata, menghela napas panjang dan membuangnya.
Bukan Fatih tak cemburu, tapi untuk apa? Mereka hanya sebatas masa lalu yang tak akan mungkin bisa kembali lagi. Satu-satunya urusan mereka hanyalah Rayan. Itu pun jika keduanya berbesar hati dan saling menerima.
Fatih mengusap kepala Rayan, menatap manik anak itu dengan dalam. Ia tersenyum, tapi bocah itu diam tak bereaksi.
"Sayang, mungkin udah takdir Allah yang menginginkan kalian bertemu. Di sana ada ayah Kakak, beliau mau ketemu sama anaknya. Kakak bersedia, kan, nemuin Ayah?" ucap Fatih memberi pengertian pada Rayan.
Namun, jawaban yang diberikan Rayan, membuat Zafran harus menelan kekecewaan. Anak itu menggelengkan kepala, menolak bertemu dengan ayahnya sendiri.
"Rayan nggak mau ketemu sama orang yang udah nyakitin Mamah. Rayan nggak mau, Pah." Rayan menjatuhkan kepala di bahu Fatih, kembali menangis tak ingin menemui Zafran.
__ADS_1
"Tapi, Nak, ini Ayah. Ayah mau ketemu sama Rayan, mau peluk Rayan. Ayah kangen sama Rayan," ucap Zafran meratap lengkap dengan air matanya.
"Nggak! Rayan nggak mau!" jerit Rayan semakin erat memeluk tubuh Fatih.
Mendengar penolakan Rayan, Zafran mengetatkan rahang. Kedua tangannya terkepal erat, hatinya tersulut emosi.
"Kalian apakan anakku? Apa kalian meracuni otaknya sampai-sampai dia nggak mau ketemu sama aku? Kalian emang egois, manusia nggak punya hati. Tega misahin ayah sama anaknya. Kalian orang tua yang buruk!" sentak Zafran tidak terima dengan penolakan Rayan.
Seira yang baru saja berhasil menenangkan diri, kembali terbakar emosi. Matanya mendelik, sungguh tajam lidah laki-laki pesakitan itu.
"Mamah sama Papah baik, Mamah sama Papah nggak jahat sama Rayan. Kamu pergi!" teriak Rayan membuat hati Seira semakin menjerit.
Fatih menghela napas, melihat situasi yang mulai memanas, ia menyerahkan Rayan pada mamahnya dan meminta mereka untuk masuk ke dalam. Sementara dirinya akan berbicara dengan Zafran.
Seira menurut, memang lebih baik mereka tidak berhadapan dulu saat ini karena kondisi Rayan yang belum bisa menerima kehadirannya.
"Rayan, mau ke mana kamu, Nak? Sini, sayang. Ayah mau peluk kamu!" jerit Zafran semakin parau suaranya terdengar.
Namun, Seira tak mengindahkan, terus berjalan dan menghilang di dalam ruangan. Pandangan Zafran jatuh pada sosok Fatih yang masih berdiri di tempatnya, seperti biasa dia akan meminta pengertian dari ayah Rayan itu.
"Kamu!" Kedua mata Zafran melotot lebar. Hampir-hampir melompat keluar dari tempatnya.
"Sabar, Pak. Tahan. Jangan terlalu emosi," ucap suster yang menemani Zafran, tapi laki-laki itu tidak peduli. Hatinya terlanjur terbakar dan ingin mencabik-cabik Fatih rasanya.
"Kamu pasti udah cuci otak anak aku, kamu pasti yang udah buat dia benci sama aku. Kenapa? Apa kamu takut Seira aku rebut, hah?" bentak Zafran sembari menuding Fatih dengan tangannya yang bergetar.
Fatih tersenyum, seraya menggelengkan kepala. Tak ingin rasanya percaya ada manusia bengal di depan matanya.
"Aku sarankan untuk meluruskan niat kamu dulu, kalo kamu bener-bener mau ketemu sama anak kamu. Aku yakin, dia pasti bisa merasakan apa yang terniat dalam hati kamu. Kurasa cukup, silahkan pergi karena pesta telah usai," ucap Fatih sembari menunjukkan jalan pulang untuk Zafran.
Laki-laki itu menggeram, tapi tak dapat melakukan apapun juga. Terpaksa kembali dengan tangan hampa.
__ADS_1