Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Menuntaskan Masalah


__ADS_3

"Kalian egois!"


"Kamu yang egois, Zafran! Sekarang aku tahu kenapa Nisa melarangku buat bantuin kamu diam-diam, karena emang kamu itu cuma mentingin diri sendiri. Coba kamu sabar, introspeksi diri, perbaiki niat kamu, supaya Rayan terketuk hatinya." Hendra menyambar dengan lantang, sampai-sampai Nisa terlonjak mendengar suaranya yang tiba-tiba.


"Inget, Zafran. Dulu kamu usir ibunya pada saat dia mengandung anak kamu itu. Kamu selingkuh dari Seira cuma karena pengen punya anak. Coba kamu lebih sabar sedikit, rezeki orang berbeda-beda. Kamu sama Sei waktu itu diuji soal anak, tapi kamu nggak sabar. Cuma lima tahun, Zafran. Baru lima tahun waktu itu kamu sama Sei, orang-orang di luar sana bahkan ada yang sampai sepuluh tahun menunggu kedatangan anak, tapi mereka sabar dan baik-baik aja," cerocos Hendra tak sabar pula.


Dokter Ferdi merasa bersalah, dia hanya melihat dari sisi Zafran dan menganggap sebagai korban tanpa mau tahu sisi sebelahnya. Sungguh, amat menyesali tindakannya karena yang dipermainkan dalam perkara ini adalah perasaan seorang anak.


"Kamu tahu, Zafran. Seira itu yang udah bantu pengobatan Ibu kamu waktu kamu di penjara. Dia diam-diam bantu mereka karena merasa kasihan. Lewat Naina, gadis kecil itu paling menderita karena ulah kalian. Dia harus menanggung beban berat di usianya yang masih sangat kecil. Terus sekarang, harus kecewa karena ulah kamu juga. Sadarlah, Zafran. Kenapa kamu sekarang sendirian dan semua orang ninggalin kamu? Itu karena kamu nggak pernah sadar dan nggak pernah mau memperbaiki kesalahan. Astaghfirullah al-'adhiim!" Hendra meraup wajah gusar.


Nisa di sampingnya mengusap punggung sang suami, menenangkannya, tapi tetap membiarkan dia meluapkan semua. Ia lega pada akhirnya Hendra menyadari kekeliruannya. Beruntung dia memiliki wanita itu di sisi yang tak pernah bosan mengingatkan.


Fatih hanya terdiam menyaksikan, dia bahkan tak perlu membuka semua karena Hendra, sahabat Zafran sendiri yang pada akhirnya membuka semua rahasia.


Laki-laki di kursi roda itu termangu tak percaya. Perlahan air turun dari matanya, entah apakah kali ini dia menyadari betul-betul semuanya ataukah akan kembali berulah seperti sebelum-sebelumnya.


"Maaf, maafkan saya, Pak Fatih. Saya tidak melihat sisi lain dari masalah yang dialami Pak Zafran. Saya hanya melihat dari sisi Pak Zafran karena hampir setiap hari menangis dan meratap ingin bertemu anaknya. Saya kira kalian melarangnya bertemu karena dia seorang pesakitan. Itu memang masuk akal, tapi dibalik semua itu ternyata ada masalah yang lebih rumit terjadi. Tolong, maafkan tindakan saya yang ceroboh," ungkap Dokter Ferdi, dokter yang selama ini menangani masalah penyakit Zafran.


Fatih tersenyum, ia merasa lega pada akhirnya semua terkuak dan berharap akan menyadarkan Zafran dari semua buruk sangkanya terhadap Seira dan juga dirinya.


"Nggak apa-apa, Dokter. Saya maklum, karena sebagai orang luar emang nggak seharusnya tahu secara detail masalah ini. Saya juga berterimakasih karena Anda meluangkan waktu untuk membahas masalah ini. Saya harap ke depannya, rumah sakit ini akan selalu menjadi tempat ternyaman untuk mereka yang mencari kesembuhan," tutur Fatih dengan pelan.


Ia memang marah, tapi sekedarnya saja. Apabila suatu masalah bisa diselesaikan secara musyawarah, untuk apa tarik urat menghabiskan tenaga. Hanya membuat lelah dan memberi kesempatan setan untuk mengompori emosinya.

__ADS_1


Dokter Ferdi tersenyum, ia siap membantu Fatih meluruskan masalah jika video tersebut menjamur sampai membawa dampak besar untuk kehidupan Fatih dan keluarganya.


"Saya akan menghapus video tersebut dari edaran, dan kalo bisa Pak Zafran harus mengklarifikasi kekeliruan dalam video tersebut. Bapak harus mulai memikirkan perasaan anak kandung Bapak itu juga perasaan anak yang Bapak asuh. Mereka masih terlalu kecil untuk dihadapkan pada permasalahan seperti ini. Apa Pak Zafran mau memperbaiki semuanya?" Dokter Ferdi menatap Zafran yang tertunduk menuangkan tangis.


Entah seperti apa hati laki-laki itu? Apakah masih saja keras, ataukah air telah membuatnya berlubang? Hanya Zafran sendiri yang tahu.


"Ayolah, Pak Zafran, semua ini untuk kebaikan semua orang termasuk Bapak. Tenangkan hati Bapak, hilangkan prasangka buruk terhadap semua orang, supaya kesembuhan perlahan mendatangi Bapak. Bukankah Bapak mau melanjutkan hidup? Memperbaiki semuanya dan melihat kedua anak Bapak tumbuh dengan baik? Jika iya, maka mulai sekarang perbaiki niat hati Bapak. Jika tidak, maka mulailah berpikir tentang kehidupan mereka yang sempurna," ucap Dokter Ferdi dengan sungguh-sungguh.


Zafran menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis. Ia terlalu malu mengakui kekalahan di hadapan Fatih. Yah, sifat angkuh dan tinggi hati Zafran masih saja bersemayam di sanubarinya.


Semua orang tidak mengerti betapa kerasnya hati laki-laki itu. Nisa benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa suaminya itu bersahabat dengan Zafran dan bahkan sampai membuatnya bertindak ceroboh.


Di sela-sela menunggu jawaban Zafran, ponsel Fatih berbunyi berbarengan dengan milik Gilang. Sang Asisten pamit keluar untuk menjawab panggilan, sedangkan Fatih tetap di sana karena Seira yang menghubunginya.


"Kenapa, Mas? Kenapa bisa-"


"Tenang, sayang. Mas nggak kenapa-napa, kok. Ada apa, kenapa kamu kayak panik gitu?" jawab Fatih dengan cepat.


"Mas, ada banyak wartawan di depan restoran. Mereka nggak mau pergi sebelum ketemu sama kamu, Mas. Jago sama teman-temannya ada di depan, tapi mereka tetap nggak mau pergi," ucap Seira membuat Fatih termangu.


"Mas! Gimana ini? Rayan ketakutan, dan Fathiya nangis terus." Suara Seira terdengar bergetar, dia pasti sedang menangis saat ini.


"Ah, ya udah. Kamu tetap di rumah, tenang, ya. Mas akan segera pulang," jawab Fatih seraya menutup sambungan dan mendesah berat.

__ADS_1


Berselang, Gilang masuk kembali ke ruangan dengan wajahnya yang panik. Hendra dan Nisa mengernyit, juga Dokter Ferdi tampak serius memperhatikan raut wajah dua orang itu. Tidak terkecuali, Zafran. Panggilan itu pasti dari Seira.


"Pak, Bapak udah tahu?"


Fatih mengangguk menjawab pertanyaan Gilang.


"Ada apa, Pak? Apa ada masalah?" tanya Hendra penasaran.


Fatih menatap mereka satu per satu, menghela napas panjang dan berat, mengurangi sesak yang tiba-tiba menyergap rongga dada.


"Ini yang saya takutkan, dampak dari meluasnya video itu sudah sampai ke restoran saya. Di sana ada istri dan anak-anaknya saya, mereka ketakutan. Para wartawan mendatangi restoran dan mereka nggak mau pergi sebelum ketemu sama saya. Jadi, gimana kalo kita selesaikan masalah ini hari ini juga? Agar tidak berlarut dan kita sama-sama merasa tenang," ucap Fatih dengan sikapnya yang setenang air.


Dia persis seperti Seira. Oh ... jodoh memang cerminan diri, siapa yang berlaku baik maka akan mendapatkan pasangan yang baik pula.


"Benar, sebaiknya memang diselesaikan hari ini juga." Dokter Ferdi menanggapi. Begitu pula dengan Hendra dan Nisa, sekarang tergantung pada Zafran apakah dia mau meluruskan kekeliruan dalam videonya?


"Gimana, Zafran? Kamu harus mengklarifikasi masalah ini. Kamu juga mau tenang, 'kan? Singkirkan ego kamu itu, Zafran, dan mulai berpikir tentang perasaan anak kamu," pinta Hendra dengan sungguh-sungguh.


"Aku nggak tahu, aku nggak tahu ...."


*****


Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

__ADS_1


(Q.S An-Nur : 26).


__ADS_2