Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Semakin Rumit


__ADS_3

Tiga hari sudah Zafran tinggal di rumah Mala, tak ada apapun yang dia lakukan kecuali makan, tidur, dan bersantai ria di depan televisi bersama Mala sepulangnya dari bekerja.


Saat ini pun, ia tengah duduk di ruang tamu memainkan ponselnya yang diberi pulsa oleh Mala juga. Sederet pesan dan panggilan tak terjawab dari Lita memenuhi layar pipih tersebut. Zafran tidak mempedulikannya, ia masih marah pada wanita di rumah itu.


Satu hal yang sedang dia tunggu, kabar dari orang yang disuruhnya mencari informasi tentang tanah yang dibeli mertuanya di kampung. Zafran buru-buru mengangkat panggilan disaat nomor yang dia tunggu menghubunginya.


"Yah, gimana? Udah dapet?" tanyanya segera.


"Udah, Bos. Saya udah tanya-tanya sama orang-orang di kampung ini, dan mereka semua bilang mertua Bos sama sekali nggak beli tanah. Buat tanah yang ditunjukin sama Bos waktu itu, ternyata bukan punya mereka, Bos. Itu tanah orang, mereka kerja di sana dan banyak hutang."


Asap mengepul dari sela-sela kepala Zafran, ia mengetatkan rahang menahan amarah yang memuncak. Bunyi gemelutuk gigi terdengar nyaring, sungguh hati Zafran panas bergolak.


"Kurang ajar! Orang-orang nggak tahu diri itu ... seret mereka ke sini, aku mau mereka dipenjara!" titahnya dengan suara parau dan menyeramkan.


"Maaf, Bos. Mereka udah nggak ada di kampung ini, mereka pergi sebelum saya datang ke sini."


"Apa?" Zafran bangkit. Hatinya semakin panas, seluruh tubuhnya menegang tak terkendali. Ponsel diremasnya dengan kuat, tangan yang lain mengepal udara kuat-kuat seolah tak peduli dagingnya akan terkoyak dan luka.


"Sial! Brengsek!"


"Argh!"


Zafran melempar ponselnya hingga membentur dinding. Benda tersebut pecah dan terbelah menjadi beberapa bagian, hancur berkeping-keping tak dapat diselamatkan lagi.


Zafran memukul-mukul dinding ruangan hingga buku-buku jarinya mengeluarkan darah. Jejak cairan merah itu pun menempel sangat kontras pada permukaan dinding yang berlapis cat putih.


Dia tak berpikir lagi, menyambar kunci mobilnya dan gegas keluar. Selama tiga hari tinggal di rumah Mala, baru hari itu ia menampakkan diri dan itu pun karena terpaksa.


"Eh, Den! Mau ke mana? Tunggu Neng Mala pulang kalo mau pergi," teriak asisten rumah tangga di rumah Mala sambil berlari mengejar Zafran.


Langkah laki-laki itu terhenti, menoleh dengan wajah menyeramkan pada wanita tadi.

__ADS_1


"Bilang sama Mala ada masalah di rumah. Aku harus pergi," ucap Zafran seraya masuk ke dalam mobil dan melaju begitu saja tanpa ingin mendengar sahutannya.


Asisten itu berdiri di teras, menatap mobil Zafran yang perlahan menjauh dan hilang tak terlihat lagi. Berselang, mobil sang majikan masuk sesaat ia berbalik dan hendak masuk kembali ke rumah.


Wanita paruh baya itu membalik tubuh menunggu sang majikan turun dengan tergesa-gesa.


"Bu, tadi itu mobil Zafran, kan? Mau ke mana dia?" tanya Mala terlihat panik.


"Anu, Neng. Katanya di rumah ada masalah, jadi dia nggak sempet pamit," jawabnya menyesal karena tak dapat mencegah kepergian laki-laki itu.


Mala berdecak, melangkah dengan kesal memasuki rumah. Marah pun pada siapa? Gadis berpenampilan seksi itu membanting dirinya di atas sofa, bersandar karena rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya.


Mala memicing melihat becak merah di dinding. Ia menyingkirkan bantal sofa yang dipangkunya sebelum beranjak mendekati kejanggalan di dinding rumahnya. Mala memeriksa, menyentuh bercak tersebut dengan jari telunjuk dan mengendusnya.


"Darah? Masih segar?" gumamnya.


Helaan napas berat terhembus mengingat Zafran yang terlihat berbeda. Lipatan di dahinya terbentuk banyak ketika menemukan pecahan ponsel Zafran berserakan di lantai. Ia berjongkok, memungutnya sebagian dan mengumpulkan semua.


"Ponsel Zafran? Kenapa, ya? Kok, sampe hancur kayak gini? Aku harus cari tahu," gumamnya seraya membongkar benda tersebut dan mengeluarkan SIM card dari dalamnya.


"Siapa tahu ada petunjuk di sini."


Ia memasukkan kartu itu pada ponselnya, menunggu beberapa saat apa saja yang muncul darinya.


Mala tersenyum aneh, raut wajahnya tak terbaca.


*****


Sementara itu, di rumah Zafran, Lita gelisah sejak kepergian suaminya. Setiap hari pulang pergi gudang hanya untuk mencari Zafran, tapi laki-laki itu tak ada di sana.


Pikiran-pikiran buruk berdesakan di dalam kepalanya, tumpang tindih tak beraturan. Lidahnya berulangkali berdecak, kesal sekaligus takut. Dalam hati mengancam jika saja lelakinya itu melakukan kesalahan fatal.

__ADS_1


"Di mana kamu sebenarnya, Mas. Kenapa nggak bisa dihubungin? Ini udah tiga hari, tapi kamu nggak ada kabar sama sekali." Lita menggigit bibir, duduk di sofa sambil terus menatap pintu berharap dia akan datang.


Lita membuka ponsel, mencoba menghubungi Zafran untuk kesekian kalinya dalam waktu satu jam terakhir. Ia tersenyum saat ponsel suaminya bisa dihubungi, tapi kembali merajuk karena Zafran sama sekali tak menjawab panggilannya.


Kesal, Lita mengirimi banyak pesan dengan pertanyaan yang serupa. Di mana kamu? Lagi apa? Kenapa nggak pulang? Kenapa ponsel nggak bisa dihubungin? Dan masih banyak lagi. Namun, lagi-lagi, ia harus menelan kecewa disaat satu pun pesan yang dikirimnya tak berbalas.


"Kenapa ditelpon nggak diangkat, di-sms nggak dibalas. Sebenernya di mana kamu, Mas?" geram Lita yang kembali berdecak kesal.


Ibu mengernyit, wanita tua itu sama cemasnya seperti Lita. Ia berjalan mendekat dan duduk bersebrangan dengan wanita hamil itu. Sungguh, meski hatinya masih marah, tapi ia tak dapat mendiamkan Lita karena khawatir akan berdampak pada bayi dalam kandungannya.


"Kenapa? Zafran masih nggak bisa dihubungin?" tanyanya dengan pelan.


Lita mengangguk lemah, ada genangan air yang berkumpul di kedua sudut matanya. Ia terlihat menyedihkan.


Ibu menghela napas seraya melanjutkan kata-katanya, "Sebelumnya dia nggak pernah kayak gini. Pergi berhari-hari dari rumah dan nggak ngasih kabar sama sekali."


Sungguh tak habis pikir sama sekali, Zafran akan bersikap keras seperti sekarang. Semua itu terjadi sejak dia menikah dengan Lita.


Kenapa semuanya jadi kacau setelah mereka menikah? Apa ada yang salah dari semua ini?


Ibu bergumam dalam hati sambil menatap menantunya yang terlihat menyeka sudut mata.


"Aku juga nggak tahu, Bu. Aku nggak nyangka Ibu sama Bapak juga keras kayak gini. Padahal tinggal jual aja, tapi susah. Sekarang malah nggak bisa dihubungin juga. Aku juga bingung, Bu." Lita terisak.


Ibu merasa iba padanya, terlebih saat tangan Lita mengusap-usap perut besarnya. Akan tetapi, ia juga tak tahu harus apa? Semua itu memang salah Lita, memberikan uang tanpa izin pada suami dulu.


Di posisinya, Zafran melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan. Teringin sekali cepat sampai di rumah dan mengkonfirmasi semua kemungkinan.


"Brengsek!" umpatnya sambil memukul setir, "kalo tahu begini jadinya, nggak akan aku kasih uang itu sama Lita. Kenapa dia beda banget sama Seira?" lanjutnya bertambah geram.


"Sial, sial, sial!"

__ADS_1


Zafran benar-benar meledak kali ini, mobil berbelok dengan cepat memasuki kawasan perumahan tempatnya tinggal. Ban berdecit hebat saat pedal rem diinjaknya sekaligus.


Mendengar deru mobil, Lita berhambur keluar. Tersenyum menyambut kedatangan sang suami, tapi apa yang dia lihat? Wajah sangar Zafran yang menghitam.


__ADS_2