Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Berakhir


__ADS_3

Fatih yang baru saja tiba di alam mimpi, terpaksa membuka kembali kelopak matanya ketika benda pipih di saku mengeluarkan bunyi panggilan. Ia mengangkat panggilan tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Hallo." Suara paraunya menjawab. Lalu, diam dan mendengarkan.


Mata yang tertutup itu terbuka sempurna saat mendengar laporan yang diberikan seseorang padanya. Pelan dia melirik Seira, istri dan anaknya tampak terlelap.


"Yah, aku ke sana!"


Fatih menutup sambungan, beranjak pelan dan hati-hati. Ia menaruh bantal di punggung Rayan dan menyelimuti tubuhnya. Melirik Seira sebelum membangunkan wanita itu.


"Kenapa, Mas?" Seira mengernyit, tubuhnya yang hendak beranjak ditahan Fatih supaya tetap berbaring.


"Mas mau keluar sebentar, ada urusan." Fatih berbisik khawatir akan membangunkan Rayan.


"Mas mau ke mana? Emang ini jam berapa?" tanya Seira menyipitkan mata karena silau terhadap cahaya lampu.


"Ada urusan yang harus Mas selesaikan, ini udah hampir larut. Kamu tidur aja di sini," jawab Fatih mengusap tangan Seira yang melingkar di tubuh Rayan.


"Tapi, ini udah malem, Mas."


"Mas pergi sama Pak Dirman, pintu Mas kunci dari luar. Kunci cadangannya ada di laci." Fatih beranjak turun berjalan memutar ke sisi ranjang di mana Seira berada.


Ia membungkuk seraya mengecup dahi wanita itu.


"Hati-hati, Mas. Langsung pulang aja kalo urusan Mas udah selesai," ucap Seira sambil mengalungkan tangan di leher suaminya.


"Iya, sayang."


Fatih melepaskan tangannya, menyambar jaket dan kunci mobil sebelum keluar dari kamar. Seira mendesah, apapun urusan Fatih ia hanya berdoa semoga dimudahkan.


"Pak!"


"Gimana, Pak Dirman? Saya kurang jelas tadi," tanya Fatih seraya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi.


Jago turut masuk, duduk di kursi kemudi sebelum melapor.


"Kata warga ada perempuan marah-marah datang dan mengancam semua orang. Dia nggak terima tempat usahanya dirusak, Pak." Jago menghidupkan mesin mobil dan melaju meninggalkan parkiran yang lengang.


Restoran sudah ditutup sejak satu jam yang lalu, hanya ada petugas keamanan yang lalu-lalang di sekitar bangunan bertugas menjaga keamanan.

__ADS_1


"Itu pasti dia," gumam Fatih sambil menatap lurus ke depan.


Tak ada lagi perbincangan di antara mereka, hening suasana mobil sehening malam itu. Hanya beberapa kendaraan saja yang melintas di jalan raya, tak sepadat saat siang.


Teringat tujuannya menginap di sana, selain untuk menghadiri acara reuni, juga karena Fatih ingin menyelesaikan perkara yang diadukan masyarakat kepadanya. Untuk itulah, dia berencana menginap satu Minggu atau sampai perkara itu selesai.


Beberapa Minggu yang lalu, tanpa sengaja Fatih mendengar keluhan masyarakat tentang sebuah bangunan yang membuat warga resah. Saat itu Fatih sedang beristirahat di sebuah mushola, sekaligus menunaikan ibadah sholat ashar.


Di sanalah dia melihat sekumpulan masyarakat sedang berdiskusi mengenai bangunan yang mereka curigai sejak lama.


"Tapi gimana? Kita ini cuma masyarakat miskin, nggak punya apa-apa. Kalo dia sampe main duit dan buat laporan yang nggak-nggak, kan, kita juga yang repot."


Fatih mengernyit mendengar keluhan salah satu warga. Hatinya menebak-nebak perkara apa yang membuat mereka resah.


"Iya, padahal kita udah buat surat peringatan supaya bangunan itu ditutup, tapi mereka nggak denger." Percakapan berlanjut.


"Lagian kita nggak bakal bisa ngapa-ngapain, orang RT-nya belain terus. Dia bilang itu cuma rumah kos yang disewakan. Padahal, saya lihat pake mata kepala saya sendiri di dalam sana itu banyak perempuan-perempuan muda yang pake baju seksi. Kadang ada laki-laki keluar masuk sana. Heran saya."


Kerutan di dahi Fatih semakin banyak, jika benar dugaannya maka semua itu memang harus dibubarkan apalagi jika tempat itu berdiri di tengah-tengah lingkungan masyarakat.


"Lah, iya. Si RT itu enak, tiap hari dapet duit. Makanya dia nutup-nutupin terus. Buat laporan juga percuma, dia cuma tanda tangan aja terus disimpan sendiri. Bilangnya, udah padahal nggak sama sekali."


"Maaf, Bapak-bapak. Jika diizinkan boleh saya tahu permasalahan yang sedang Bapak semua bahas ini? Bukan apa-apa, saya hanya merasa masalah yang Bapak semua bahas ini harus cepat dibereskan." Fatih berucap pelan dan sopan.


Semua mata tertuju padanya, ada yang merasa asing, tapi juga ada yang hampir-hampir mengenali.


"Oh, Nak Fatih, ya. Silahkan, Nak. Duduk di sini," ucap salah satu warga yang Fatih kenal sebagai imam di mushola tersebut.


"Makasih, Pak Ustadz." Fatih diterima dengan baik di perkumpulan itu karena kesopanannya dan penjelasan singkat dari sang imam.


"Jadi, boleh saya tahu apa yang membuat warga resah? Mungkin saya bisa bantu," ucap Fatih memulai bahasan.


"Begini, Nak Fatih. Di belakang kampung kami ini ada lahan yang dulunya kosong. Lahan itu punya RT setempat, kemudian beberapa bulan lalu didirikan bangunan katanya untuk panti sosial. Nggak tahunya, ada praktek terlarang yang membuat warga resah. Kami nggak bisa ngapa-ngapain karena semua pihak terlibat."


Aduan dari imam mushola membuat hati Fatih berdenyut. Tempat itu tak seharusnya ada di sana, praktek terlarang di dalamnya yang melibatkan petinggi kampung memang membuat resah warga.


"Kami sudah memberikan surat peringatan supaya bangunan itu ditutup saja, tapi mereka malah mengancam akan merusak anak-anak di lingkungan kami, Pak."


Fatih tertegun, ini memang tidak bisa dibiarkan lagi.

__ADS_1


"Lalu, Bapak udah lapor pihak berwajib?"


"Udah, Nak, tapi nggak ada tanggapan."


Fatih terdiam, berpikir apa yang harus mereka lakukan agar bangunan itu ditutup.


"Sekarang mau Bapak-bapak semua ini gimana?" Fatih lanjut bertanya.


"Kami mau robohin bangunan itu aja, Pak, tapi itu masalahnya mereka terus aja ngancam."


Fatih mengangguk-anggukkan kepala mengerti.


"Kalo RT terlibat, pihak berwajib nggak ada respon, mending Bapak semua satukan tekad dan tenaga buat hancurin tempat itu. Nggak usah cemas, Pak. Saya yang akan tanggung jawab kalo mereka mengancam dan bawa-bawa polisi. Sekarang, kumpulkan bukti dulu supaya tindakan Bapak-bapak semua beralasan."


Begitulah Fatih memberi solusi. Dia menjadikan dirinya sebagai jaminan atas tindakan para warga dalam penghancuran bangunan itu.


Sebelum warga bertindak, Fatih lebih dulu pergi ke kantor polisi dengan membawa bukti-bukti yang didapatnya dari warga. Dia pun mengantungi izin dari pihak kepolisian untuk merobohkan bangunan yang membuat warga resah.


Sementara di tempat kejadian, Mala termangu menyaksikan bangunan yang dia dirikan dirobohkan warga. Banyak tembok yang rusak, kaca-kaca pecah, serta atap yang kehilangan pelindungnya.


Dia meradang, berjalan tergesa dan merebut salah satu tongkat kayu dari tangan warga. Orang-orang yang dia pekerjakan berada di dalam bangunan tersebut, sedangkan ketua RT tak mampu menghentikan amukan warga.


"Kalian orang-orang miskin berani-beraninya hancurin tempat ini! Emang kalian punya hak apa?" teriak Mala berdiri di depan bangunan tersebut.


"Hak apa? Tentu saja kami punya hak. Hak hidup nyaman dan tentram juga bersih dari praktek yang nggak bermoral kayak gini!" Suara salah satu warga tak kalah meninggi.


"Kalian semua munafik! Marasa sok suci padahal sama aja. Saya cuma bantu warga yang kesulitan cari uang, dengan bekerja di sini hidup mereka jadi lebih baik. Kalian merobohkan bangunan ini sama aja kalian menutup pintu rezeki mereka!" sentak Mala semakin berapi-api.


"Sudahlah, Bapak, Ibu, kita bisa bicarakan baik-baik semua ini. Nggak perlu melakukan hal anarkis kayak gini." Suara Pak RT ikut terdengar.


"Bapak itu RT, udah seharusnya menjaga lingkungan tempat tinggal warga Bapak supaya bersih, tapi kenapa Bapak kayak ngedukung perempuan itu!"


Laki-laki berstatus ketua Rukun Tetangga itu terdiam, merasa tertohok harga dirinya.


"Diam kalian, kalo kalian masih kayak gini saya nggak akan segan buat nyuruh orang-orang saya merusak rumah kalian. Ngerti!" Mala mengancam, tapi ancamannya kali ini tidak berpengaruh.


"Lakuin aja kalo kamu bisa. Nggak ada yang membenarkan praktek prostitusi karena itu hanya akan merusak moral semua orang terutama anak-anak."


Suara itu menggema membuat Mala tertegun. Menyusul sirine polisi yang semakin membuatnya gemetar.

__ADS_1


__ADS_2