Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Beberapa Hari Berlalu


__ADS_3

Beberapa hari berlalu setelah pengusiran Lita dan mantan ibu mertua Seira, kehidupan terus berlanjut. Seira selalu duduk di depan toko menunggu kemunculan Naina. Sudah beberapa hari gadis kecil itu tidak muncul.


Apakah Lita melarangnya untuk datang? Apa dia tersinggung dengan kemarahan Bi Sari kemarin? Harusnya tidak seperti itu, kenapa tidak datang lagi untuk meminta maaf jika benar-benar ingin melakukannya. Seharusnya mereka bisa maklum dengan sikap Bi Sari itu, bukan?


Lamunan Seira tersentak saat stasiun televisi menyiarkan sebuah berita tentang seorang narapidana wanita yang menderita sakit. Tubuhnya menegak memastikan dia yang berada di atas tandu dan dibawa tim ambulan ke mobil.


"Perempuan itu ...." Seira bergumam, tubuhnya seketika meremang, jantungnya berdebar-debar tak karuan. Sungguh tak dinyana, perempuan yang sempat menggoda suaminya ternyata seorang penderita Aids.


"Hei, kamu lihat apa?" tegur Fatih sembari memeluk sang istri dari belakang.


Seira menoleh, mengecup pipi suaminya.


"Itu, perempuan yang waktu itu datang sama teman Mas," jawabnya sambil kembali pada televisi.


Fatih tersenyum, sudah lama ia tahu tentang perempuan itu. Tepatnya, sejak menolong warga untuk menutup bisnis gelap di kampung mereka.


"Dia itu mucikari. Kamu inget malam itu, waktu Mas pulang subuh? Mas bantu warga buat nutup bangunan yang dijadiin tempat ... ya, kamu pasti tahu." Fatih mengecup pipinya.


Seira tercenung, itu adalah saat pagi hari Rayan berteriak mengatakan 'ada Papah di tv.' Seira manggut-manggut mengerti, ia terlupa ingin menanyakan itu dulu.


"Oh, yang waktu paginya Mas masuk tv? Pantes aja perempuan itu marah-marah, nggak tahunya ...." Seira tersenyum lega.


Mengetahui pekerjaan Mala tidak menutup kemungkinan dia memang menderita penyakit itu. Seira berdoa semoga Allah mengampuni semua dosanya.


"Kamu ngapain di sini?" Fatih beranjak, duduk di samping sang istri seraya mengambil Fathiya dari gendongan ibunya.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku lagi nunggu anak kecil itu, udah berapa hari nggak ada." Seira mengedarkan pandangan ke jalan raya, ada banyak anak kecil yang berlalu-lalang, tapi mereka bukan dia.

__ADS_1


"Udahlah, nggak usah dipikirin. Kita udah bantu sebisa kita, sisanya biarkan mereka berusaha sendiri. Jangan terlalu dipikirin, Mas bisa ngerti kenapa Bi Sari bersikap begitu kemarin karena kalo Mas jadi Bi Sari, Mas juga pasti akan marah," ucap Fatih sambil menimang anaknya yang semakin hari semakin serupa dengannya.


Seira tersenyum, menatap suami dan anaknya yang asik bermain. Fatih meracau mengajak berbicara bayi itu sendiri. Sementara sang kakak, Rayan pun tengah asik bermain dengan gadis kecilnya, Rani.


Semakin hari mereka tampak semakin dekat, seperti sepasang kakak dan adik yang akur dan tidak berselisih.


"Oya, Mas, gimana sama lahan yang kemarin Mas beli? Udah beres?" tanya Seira setelah beberapa saat mereka terdiam tanpa kata.


Fathiya tidur di pangkuan sang papah, terlihat nyaman dan damai.


"Alhamdulillah, udah beres. Rencananya bulan depan akan dimulai pembangunan. Makasih, ya, kamu udah doain Mas. Semua yang Mas dapatkan sekarang, itu berkat doa kamu, doa Ibu dan anak kita," ucap Fatih seraya menatap sang putri di pangkuan.


"Aamiin, alhamdulillah." Seira mengusap wajah penuh syukur. Laki-laki yang menjadi suaminya saat ini benar-benar menjadikanya ratu tak hanya di rumah, tapi juga di hatinya.


Kebahagiaan jelas memancar dari riak wajah serta senyum yang diukirnya. Kian bertambah karena kehadiran Fathiya, rezeki pun datang dengan deras.


"Oh, itu semua atas saran Ibu sama Biya. Yang design, Mas sendiri karena kamu suka taman jadi Mas buat taman mini supaya nambah seger lingkungan. Kamu suka?" jawab Fatih melirik pada istrinya.


Seira menganggukkan kepala, bukan suka lagi, tapi amat suka.


"Kita tinggal di sini beberapa hari lagi, ya. Lagian Rayan juga ada temennya, Rani. Kata Pak Dirman, gadis kecil itu selalu cerita tentang Rayan sama mereka," ucap Seira.


Fatih tidak keberatan, lagipula sebagai pemilik restoran dia hanya datang memeriksa selebihnya semua karyawan yang bertugas. Gilang tak hanya sekedar manager, tapi juga orang kedua yang harus didengarkan ucapannya oleh semua karyawan.


Untuk keuangan yang dihasilkan restoran, Fatih tak pernah ikut campur. Bendahara yang ditunjuknya sangat bertanggungjawab pada amanah yang diembannya. Dia tak pernah risau akan keadaan restoran, sepenuhnya percaya pada mereka.


Dalam arti Fatih hanya menyediakan lapangan kerja untuk mereka yang membutuhkan. Dia selalu puas dengan apa yang mereka lakukan. Rapat selalu diadakan setiap bulannya, evaluasi soal perkembangan restoran.

__ADS_1


Dari laporan-laporan itu dia akan tahu bagaimana perkembangan restoran dari bulan ke bulan, dan setiap masalah yang datang akan mereka carikan solusi bersama-sama. Dari awal bekerja, Fatih selalu mengingatkan ini tempat kita mengais rezeki, jaga dan kembangkan.


****


Sementara di belahan lain kota tersebut, seorang gadis kecil tengah menangis di belakang rumahnya. Duduk di atas batu sendirian, bertemankan ilalang yang bergoyang karena tertiup angin.


"Kenapa Ibu selalu marah-marah kalo aku mau pergi? Apa Ibu takut aku pergi ke toko itu lagi," ucap Naina sambil mengucek matanya yang berair.


Teringat hari di mana Bi Sari mengusir mereka, sejak saat itu Lita tak enak makan. Setiap apa yang masuk ke dalam mulutnya selalu terasa pahit. Kata-kata yang diucapkan wanita tua itu sungguh membuatnya tak bisa berkutik.


Dia terbatuk, sakit yang dideritanya semakin parah. Wajahnya semakin pucat pasih. Benar, ini mengingatkan pada waktu mereka mengusir Seira. Kondisi wanita itu juga sangat lemah saat itu, tapi mereka dengan tega tidak memberinya tempat berteduh meski sesaat saja.


Lita menangis seorang diri, betapa kejamnya dia dulu terhadap orang yang sudah menjadi penolong dalam hidupnya. Betapa ia tak punya hati telah merempas kebahagiaannya. Sekarang, pantaslah dia diusir seperti halnya Seira yang diusir tanpa melakukan kesalahan apapun dulu.


Mendengar tangisan sang ibu, Naina beranjak turun dari batu dan bergegas lari ke rumah. Di sana, Lita sedang meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.


"Ibu!" Gadis kecil itu berhambur mendekat. Memeriksa suhu tubuhnya.


Lita demam tinggi, tubuhnya menggigil hebat.


"Bu, Ibu makan, ya. Udah tiga hari Ibu nggak makan, nanti Ibu tambah sakit. Nai nggak mau Ibu sakit," ucap Naina merayu Lita sambil mengusap-usap rambutnya.


Namun, sakit yang mendera tubuhnya, membuat panca indera Lita tak berfungsi dengan baik.


"Sei, maafin aku. Maafin aku, Sei. Aku banyak dosa sama kamu, tolong maafin aku." Lita terus meracau menyebut-nyebut nama Seira.


Naina ikut menangis, dia tidak tega melihat ibunya sakit dan terus meracau meminta maaf.

__ADS_1


"Nai mau pergi ke sana dan minta maaf pada mereka kalo emang Ibu punya salah." Ia beranjak, tapi tangan Lita cepat menyambar dan menahannya.


__ADS_2