Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Ikhlas II


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Bi Sari lebih banyak diam dan tak banyak bicara. Bermain dengan Rayan dan menjaga Fathiya, sedangkan Ibu dan Biya telah kembali ke rumah mereka karena remaja itu harus bersekolah.


Seira ingin menetap di sana untuk beberapa waktu lamanya. Selain karena Fathiya masih sangat kecil dan rawan virus, ia juga ingin memantau keadaan toko secara langsung.


Seira duduk di lantai teras mengambil alih bayi Fathiya yang terbangun dan menangis. Ia memperhatikan Bi Sari yang terlihat melamun meski suara Rayan tak henti meracau.


"Bi! Jangan melamun, jangan biarin hati Bibi kosong dan memudahkan setan menguasainya. Istighfar, Bi. Nggak usah dipikirin, semua pasti baik-baik aja," tegur Seira dengan lemah lembut.


Bi Sari tersenyum, mengucap istighfar dalam hati. Mengingat wajah ketakutan Naina, membuat hati Bi Sari tidak tenang. Ia merasa bersalah dan teringin meminta maaf padanya.


"Sayang!" Fatih memanggil, menemui mereka yang sedang berada di taman belakang restoran. Entah kapan taman itu dibuat, yang pasti saat mereka ke restoran halaman belakang yang kosong dan hanya dijadikan tempat bersantai karyawan itu telah disulap menjadi taman kecil dan terdapat sebuah rumah minimalis yang mungil di sana.


Rumah itu dibangun untuk sang majikan disaat mereka ingin menginap. Sejuk dan nyaman, bersih juga asri. Seira menyukainya, rasanya dia tidak ingin kembali.


"Kenapa, Mas?" Seira bertanya, dahinya mengernyit saat melihat Fatih yang telah rapi dengan setelan jasnya.


"Mas mau ke mana? Ini udah siang," tanya Seira karena tak ada rencana Fatih pergi hari itu.


"Dadakan sayang, Mas pergi sama Gilang. Ada pertemuan penting membahas lahan yang Mas incar. Rencananya Mas mau bangun cabang restoran di sana. Doain, ya, mudah-mudahan dilancarkan," ucap Fatih seraya duduk di samping sang istri.


Mengecup pelipis wanita itu, seraya mengusap dahi putrinya.


"Sayang, Papah pergi dulu, ya. Kamu jangan rewel, kasihan Mamah," ucap Fatih seraya mencium dahi bayi itu.


Rayan yang mendengar Fatih akan pergi, menoleh. Beranjak dan menghampiri mereka seraya duduk di pangkuan sang papah.


"Papah mau pergi?" tanyanya.


"Iya, sayang. Kenapa?" Fatih mengusap rambut Rayan yang lembab.


"Boleh Rayan ikut? Rayan bosan karena nggak ada Aunty," pintanya dengan raut wajah muram.

__ADS_1


"Lho, Papah bukannya main, sayang. Papah mau melakukan bisnis, Kakak di rumah aja, ya." Seira menyapu pipi Rayan sambil tersenyum memberinya pengertian.


"Nggak apa-apa, deket, kok. Kalo Kakak mau ikut boleh aja. Ajak sekalian Nenek, pertemuannya deket taman kota. Kakak bisa main di sana selama nunggu Papah," ucap Fatih mengerti kebosanan Rayan.


Bocah itu bersorak riang, teramat senang karena akhirnya bisa pergi keluar.


"Papah, gimana kalo ajak Rani juga? Dia pasti seneng."


Fatih dan Seira saling menatap satu sama lain, selanjutnya mereka tertawa merasa gemas dengan tingkahnya.


Jadilah mereka pergi bersama Bi Sari dan dua bocah yang tak henti berceloteh itu. Di belakang mereka menyusul Jago bersama sang istri yang ditugaskan Fatih untuk menjaga mereka selama bermain menunggu pertemuan selesai.


*****


Sementara di tempat lain, kabar berita tentang seorang wanita yang sakit di dalam sel segera tersebar ke seluruh sel hingga ke lapas di mana laki-laki berada.


Desas-desus pun semakin ramai terdengar, tapi Zafran tetap tak acuh. Ia hanya memikirkan dosanya sendiri yang entah terampuni atau tidak.


Di sana, di dalam salah satu sel, seorang wanita terus menangis merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Terutama di bagian bawah, area sensitif miliknya.


Tak ada yang berani mendekat, teman satu selnya bahkan menatap jijik mengingat pekerjaan apa yang sudah dia kerjakan sebelum masuk ke dalam tahanan.


"Aduh! Tolong aku, sakit!" rintihnya lagi meringkuk di lantai sel.


Tubuhnya yang dulu sintal, kini tampak kurus kering. Wajah yang tak pernah lepas dari make-up itu, kini tampak pucat pasi dan ada banyak noda hitam di sekitar pipinya.


Sungguh miris, kecantikan yang dulu dia banggakan, tubuh indah yang dulu dia pamerkan, kini tak lagi berguna. Dia sendirian sekarang bahkan saat sakit, tak satupun mau menolongnya.


"Pak! Keluarin aja dia dari sel ini. Kami nggak mau ketularan sakit, Pak!" teriak salah satu tahanan pada penjaga.


Seorang laki-laki berseragam dengan tongkat di tangan datang memeriksa. Ia melihat Mala yang sedang meringkuk di lantai sambil memeluk tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Sudah, jangan ribut. Tunggu aja! Sebentar lagi ambulan datang," ketusnya sambil memukul jeruji besi seraya berbalik dan kembali ke mejanya.


Berselang, bunyi sirine ambulan pun menggema membuat semua tahanan berhambur mendekati jeruji. Mereka ingin melihat siapa yang dikabarkan sakit termasuk Zafran yang penasaran dengan kabar yang terbawa angin.


Petugas ambulan membawa Mala disaksikan semua tahanan. Wanita itu meringkuk memegangi perutnya, meringis dan merintih kesakitan.


"Mala? Jadi bener kabar itu kalo dia emang sakit ...." Zafran tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


Ia termundur lemas hingga menabrak dinding sel. Mengingat beberapa kali Zafran pernah tidur dengan wanita itu, seketika rasa cemas melanda hatinya.


Zafran mengusap wajah, dadanya bergemuruh hebat membuat pasokan udara ke paru-paru menipis. Sontak tangannya memegangi dada dan meremasnya.


"Nggak! Nggak mungkin, aku nggak mungkin sakit!" tolaknya cemas.


Keringat bermunculan di wajah, merembes hingga ke leher. Zafran ambruk di lantai, menekuk lutut dan membenamkan wajah di atasnya. Hatinya terus mengumpat, menyalahkan diri sendiri yang tak dapat menahan diri dari godaan.


Bagaimana jika dia tertular? Apakah Lita masih mau menerimanya? Ibu pasti akan kecewa, harapan bertemu dengan anak kandungnya pun menipis. Seira sudah pasti tak akan mengizinkan anaknya untuk bertemu apalagi bersentuhan dengan Ayah yang tertular penyakit kotor itu.


Zafran menangis tergugu, meremas rambutnya sendiri. Penyesalan memang selalu datang terlambat, bahkan di akhir cerita setelah kesialan menimpa diri. Sebuah teguran dari Tuhan, kasih sayang-Nya terhadap hamba.


DIA rindu pada suaranya yang lirih menyebut asma-Nya. DIA rindu tangisnya dalam dekapan di sepertiga malam. DIA rindu bermesraan dengan sang hamba dalam munajat cinta yang haqiqi.


Akankah hamba itu sadar pada kerinduan Tuhan? Akankah hamba itu sadar bahwa Tuhan pun bisa cemburu?


"Ya Allah!" Zafran menyebut lirih.


Memohon ampunan atas diri yang berlumur dosa. Ia jatuhkan tubuh di lantai, tersungkur tanpa segan. Bersujud memohon ampunan atas segala dosa yang telah dia lakukan.


Ampuni hamba, ya Allah. Ampuni ... hamba menyadari semua kesalahan yang telah hamba lakukan. Berikanlah sedikit kebaikan kepada hamba agar bisa memperbaiki semuanya.


Zafran berdoa dalam hati setulus-tulusnya. Tiada kebohongan, tiada tipu daya. Dia benar-benar menyesali semuanya. Bertaubat kepada Yang Kuasa dan berjanji dengan hati yang ikhlas tak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama ataupun kesalahan lainnya.

__ADS_1


Aku terima semua hukuman ini, ya Allah. Aku terima, aku ikhlas. Jika ini semua bisa menebus dosa-dosaku, ya Allah.


Zafran terus merintih tak peduli pada rekan-rekan yang menatap aneh padanya.


__ADS_2