Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Sebuah Acara


__ADS_3

Merenungi keadaan Lita dan Naina di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, membuat Hendra teringat pada anak dan istrinya. Bagaimana jika nasib Lita menimpa pada istri dan anaknya. Apakah mereka akan bisa menghadapinya?


Ah, tidak!


Hendra menepis pikiran itu karena bagaimanapun dia tidak ingin meninggalkan Nisa yang sudah memberinya kebahagiaan sempurna. Hadirnya Hana dalam kehidupannya yang kelabu memberi warna indah menambah rasa bahagia.


Hendra duduk di ruangannya, sebagai seorang dokter umum dia menerima banyak pasien setiap hari dengan kondisi yang berbeda. Namun, hari itu dia tidak terlalu fokus, berkali-kali matanya melirik pada arloji di tangan. Rasanya ingin segera selesai dan pulang. Semoga saja Nisa dan Hana sudah mau berbicara dengannya.


Hendra menghela napas, masih ada beberapa nama pasien lagi yang harus dia tangani. Hari itu terasa lebih melelahkan padahal pasien yang datang tidak lebih banyak dari kemarin.


****


Di ruangannya, Zafran tengah termenung seorang diri. Memikirkan sikapnya yang begitu egois terhadap Lita, ia sedikit menyesal.


"Kenapa kamu nggak datang lagi, Lita?" tanyanya pada diri sendiri.


Ia berdecak, kesal sekaligus resah memikirkan nasib keduanya. Sedangkan untuk Ibu, dia percaya Hendra pasti merawatnya dengan baik.


"Sebenarnya ke mana kamu, Lita? Apa kamu selingkuh lagi? Kamu bener-bener nggak mikirin keadaan aku ini? Semua perempuan sama saja, sukanya ninggalin kalo udah ketahuan buruknya," geram Zafran kesal sendiri.


Ia menatap pada pintu, sudah beberapa hari ini tak ada sosok yang dikenalnya muncul selain suster yang mengantarkan makanan. Bosan, Zafran turun dari ranjang dan mencoba melangkah dengan kaki sendiri keluar.


Namun, baru beberapa langkah saja, kakinya sudah tidak memiliki tenaga. Hampir saja jatuh jika tangan tak sigap mencengkeram sisi ranjang. Ia menarik kursi roda dan menjatuhkan diri di atasnya dengan napas memburu berat.

__ADS_1


"Sial! Sebenarnya aku sakit apa? Kenapa seluruh tubuhku rasanya lemas. Mereka juga nggak ngebiarin aku keluar dari ruangan ini. Aku bosan," umpatnya sambil memukul kedua kaki yang tak dapat bekerja dengan baik.


"Kenapa kamu nggak kuat jalan, hah? Untuk apa aku punya dua kaki, tapi nggak bisa digerakin? Rasanya percuma aja," ucap Zafran tak henti mengumpati dirinya sendiri.


Ia memukul-mukul kursi roda dengan kesal, sampai-sampai menangis tak terkendali. Pintu ruangan yang terbuka pun tak dihiraukannya. Terus saja merutuki diri sendiri tiada henti.


"Percuma aja kamu marah, Zafran. Semuanya nggak akan bisa balik kayak dulu lagi," ucap suara Hendra sambil melangkah memasuki ruangan Zafran.


Laki-laki itu berbalik, matanya memancarkan harapan tentang kabar yang ingin dia dengar.


"Hendra?" Senyum pun tersemat sempurna di bibirnya yang pucat.


"Kamu tahu kenapa kamu nggak boleh keluar dari sini, Zafran?" tanya Hendra sedikit ketus. Matanya menatap tepat pada retina Zafran yang berbinar-binar.


"Aku nggak tahu, Hen. Makanya aku bosan pengen keluar dari sini. Aku pengen udara segar, Hendra," mohon Zafran meratap pada sahabatnya itu.


"Kondisi kamu ini yang nggak ngizinin kamu untuk keluar ruangan, Zafran. Kamu rentan terkena penyakit, apapun. Makanya sampai kondisi kamu membaik atau sampai kamu mampu melawan sakit itu, maka kamu akan tetap di sini dan nggak ke mana-mana," jelas Hendra menyurutkan senyum di bibir sahabatnya itu.


Zafran menggeleng-gelengkan kepalanya, sampai kapan dia akan terus seperti ini? Sedangkan yang dia rasakan setiap harinya selalu bertambah lemas dan tak bertenaga. Dia meraung sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Kenapa, ya ALLAH? Kenapa jadi begini?" ratapnya pilu.


Hendra bergeming di tempatnya berdiri, tidak melakukan apapun selain menatap Zafran dengan segala rasa yang berkecamuk dalam jiwa.

__ADS_1


"Kamu tahu, Zafran. Gara-gara kamu, sekarang Nisa ngediamin kau. Udah dari kemarin aku nggak liat istri dan anak aku, Zafran. Semua ini gara-gara kamu yang nyuruh aku bawa Rayan ke sini. Coba aja aku nggak nurutin kemauan kamu itu, aku sama Nisa pasti baik-baik aja," ungkap Hendra dengan hati yang kesal.


Tangis Zafran berhenti, teringat kembali pada Rayan. Kemarin dia meminta Hendra untuk membawa Rayan padanya meskipun tanpa izin Seira. Zafran mendongak, menatap Hendra dengan matanya yang basah.


"Kamu ketemu sama dia? Sama anakku? Apa dia mau ke sini jenguk aku?" cecar Zafran kembali antusias.


Hendra menggeleng-gelengkan kepala, tapi tak ada rasa sesal di wajahnya ataupun kasihan. Setelah berpikir semalaman, dia membenarkan ucapan Nisa dan menyalahkan diri sendiri karena telah bertindak gegabah hanya untuk menolong Zafran.


"Aku ketemu sama dia, tapi anak kamu lari ketakutan karena menganggapku ancaman. Aku bahkan belum sempat ngomong soal kamu sama dia. Udahlah, Zafran. Kalo kamu emang mau kenal sama dia, datangi Seira. Minta maaf padanya," saran Hendra tak ingin lagi terlibat masalah Zafran dan Seira.


Laki-laki di atas kursi roda itu menunduk sambil menangis, kepalanya menggeleng lemah, kedua tangan terkepal erat menahan gejolak yang membuncah.


"Aku malu, Hendra. Aku malu ketemu sama dia. Aku cuma mau lihat anak aku, itu aja." Zafran frustasi.


Bertemu Seira dalam keadaan yang menyedihkan seperti sekarang ini, membuat rasa malu Zafran semakin meningkat. Wanita itu sudah pasti akan menertawakan dirinya. Jatuh sudah harga dirinya sebagai laki-laki terhormat.


"Untuk apa malu? Justru yang aku lakukan kemarin itulah yang memalukan. Meminta maaf bukanlah hal yang sulit, Zafran. Hanya siapkan aja hati kamu dan cobalah untuk ikhlas. Aku yakin Seira itu wanita yang baik, dia nggak mungkin menolak permintaan maaf kamu," ucap Hendra memberi dukungan pada sahabatnya itu.


Zafran terdiam, mencerna setiap kata yang terucap mulut Hendra. Memang tak seharusnya dia melakukan itu. Hendra menatap kasihan pada sosok Zafran yang menyedihkan.


Membayangkan jika saja dirinya ditinggal pergi oleh Nisa, mungkin akan sama seperti Zafran yang setiap hari selalu bertanya tentang anaknya. Setiap menit berharga, dokter Hendra tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Cukup didiamkan hari ini saja, esok mereka harus kembali seperti sedia kala.


"Lusa, ada acara di dekat taman kota. Pembukaan restoran cabang milik mantan istri kamu itu. Kalo kamu mau, aku bisa bawa kamu ke sana nanti, tapi cuma lihat dari jauh aja. Nggak bisa dekat-dekat, apalagi sampai mendatangi mereka. Gimana?" usul Hendra teringat pada desas-desus para pengunjung rumah sakit yang dia dengar sekilas-sekilas.

__ADS_1


Zafran kembali terdiam. Hanya melihat dari jauh? Dia ingin lebih, tapi tak mengapa. Mana tahu dia bisa menemui anaknya dan memperkenalkan diri sebagai ayah kandungnya.


"Iya, aku mau. Nggak apa-apa," jawab Zafran dengan segala rencana yang tersusun di otak liciknya.


__ADS_2