
"Uhuk-uhuk!"
"Nai, kamu dari mana dapet ini? Siapa yang beliin?" tanya Lita saat menerima sebungkus obat dari tangan Naina.
"Itu dari Kakak penjaga toko kue, Bu. Katanya Nai harus ke sana setiap bulan, mereka juga kasih ini. Katanya, ini rezeki buat Nai. Buat sekolah, Nai mau sekolah, Bu." Naina, gadis kecil itu selalu terlihat senang setiap kali melihat iring-iringan anak sekolah.
Tersemat keinginan dalam hati untuk menginjakkan kaki di tempat tersebut. Kapan? Dia tak pernah tahu.
Lita menerima lembaran uang tersebut dari tangan Naina, jumlahnya cukup banyak. Mungkin seperti beberapa bulan uang yang dia dapatkan dari hasil buruh cuci pakaian.
"Ini banyak banget, Nai. Kamu yakin Kakak itu yang kasih, bukan nyuri?" tanya Lita tak percaya.
Naina menggeleng, untuk mengemis saja dia tak mau apalagi harus mencuri? Sungguh tidak ada di dalam otak kecilnya.
"Beneran, Bu. Aku nggak nyuri, kata orang nyuri itu dosa dan yang nanggung dosanya orang tua. Nai nggak mau Ibu nanggung dosa itu," jawabnya sambil tertunduk.
Berlinang air mata Lita, anak sekecil Naina saja tahu bahwa mencuri itu dosa, tapi apa yang sudah dia lakukan? Dia adalah seorang pencuri, dia mencuri kebahagiaan wanita lain, mencuri suami sahabatnya sendiri. Dia pencuri, mencuri kehidupan orang lain.
Terpukul hatinya, bagai ditikam ribuan sembilu. Nyeri berdenyut-denyut, teringat akan dosa yang tak henti menghantui. Oh, sungguh dia takut sekarang? Dosa itu akan menjadi beban dalam perjalanan hidupnya menuju akhirat.
Ditariknya tubuh kecil Naina, sambil berharap bahkan memaksa Tuhan untuk tidak menjadikan anak itu seperti dirinya. Cukup sampai padanya saja, jangan pada anaknya. Entah benih laki-laki mana yang tumbuh menjadi sosok Naina?
Sudah pasti sifatnya yang menurun pada gadis kecil itu. Ia ciumi ubun-ubun anaknya penuh cinta dan penyesalan. Dia harus tumbuh menjadi anak yang baik dan berguna meskipun terlahir dari wanita kotor sepertinya.
"Makasih, sayang. Makasih kamu udah peduli sama Ibu," ucap Lita diliputi rasa haru yang tiada tara.
__ADS_1
Ibu yang mendengar percakapan mereka, tersenyum bangga pada cucunya. Meski Naina bukan cucu kandungnya, tapi dia tidak menganggapnya orang lain. Naina adalah cucunya, dan akan tetap menjadi cucunya.
"Bu, bawa Nenek berobat. Nai mau Nenek sembuh kayak dulu lagi," pinta Naina memohon pada Lita.
Wanita itu mengangguk, untuk menebus kesalahannya pada Zafran karena telah mengkhianati pernikahan mereka, dia akan merawat Ibu dengan baik. Entah setelah laki-laki itu tahu tentang semua dosanya, apakah dia akan diusir dan diceraikan? Dia akan menerima semuanya.
Uang itu disimpan Lita dengan sangat hati-hati, susah payah dia menyingkirkan hobinya yang suka membeli ini dan itu. Berjanji pada dirinya sendiri tak akan mengunakan uang Naina. Itu miliknya, untuk masa depannya.
"Bu, kata Kakak penjaga toko, nanti akan ada acara di toko kue. Nai diminta datang ke sana," ucap Naina sambil tersenyum sumringah.
"Oya? Kapan acaranya?" tanya Lita antusias.
"Nai nggak tahu, nanti Kakak itu kasih tahu kalo udah deket waktunya," katanya menyampaikan apa yang diucapkan penjaga toko kue Seira.
Lita mengangguk, menggendong tubuh kecil Naina menuju belakang rumah untuk dimandikan. Dia baru saja pulang dari rumah orang kaya menjadi buruh cuci dengan bayaran tak seberapa.
Lita tersenyum sambil menggosok tubuh Naina dengan sabun, anak itu selalu begitu. Setiap habis pergi pasti tubuhnya kotor, entah apa yang dilakukannya. Dia pamit untuk bermain.
"Iya, nggak apa-apa, tapi jangan nakal, ya. Jangan ganggu Ibu, lihatin aja," ingat Lita yang diangguki olehnya.
*****
Sementara di sana, di tempat yang jauh dari keramaian dunia. Hanya berisi wajah-wajah yang sama yang bisa dilihat. Zafran duduk termenung di pojokan, memikirkan nasib keluarganya di rumah. Siapa yang memenuhi kebutuhan mereka?
Teringat pada gambar-gambar yang diberikan Mala waktu itu, segala pikiran buruk berseliweran mengganggu. Membuatnya tak enak makan dan tak lelap tidur.
__ADS_1
"Ah, astaghfirullah. Kenapa pikiran buruk ini nggak mau pergi, ya Allah," keluhnya sambil meremas rambut sendiri.
Bayang-bayang dosa masa lalu selalu menjadi momok mengerikan dalam hidupnya. Siapa Lita dan bagaimana hidupnya dulu, dia tahu. Tidak menutup kemungkinan dia akan kembali seperti dulu supaya tetap bisa menikmati hidup.
"Kenapa, Bro?" tegur salah satu rekan sambil menepuk punggung Zafran, seraya duduk di sampingnya.
Laki-laki itu menggeleng, tak tahu harus berkata apa? Yang pasti, semua itu mengenai masa lalunya yang kelam. Mengkhianati istri setia demi wanita yang mengaku hamil anaknya. Sungguh miris memang, pikirannya saja menertawakan dirinya.
"Jangan terlalu dipikirin, setiap orang punya rezeki masing-masing. Kamu jangan khawatir, jangan juga cemas, tawakkal aja sama Allah minta ampun dan minta dicukupkan rezeki anak dan istrimu di rumah, Zafran. Jangan biarin setan terus menggoda sampe kamu hilang keyakinan dan akhirnya was-was."
Dia menghela napas sebelum melanjutkan, "Aku juga bukan orang yang baik karena kalo aku orang baik nggak akan mungkin ada di sini. Kita sama-sama sedang mencari jalan kembali, jangan sampe setan berhasil menggoda kamu." Dia menepuk pundak Zafran.
Memberi rekannya itu semangat dan kekuatan supaya tetap berpikir jernih dan positif. Zafran tercenung, mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut laki-laki yang seluruh tubuhnya dipenuhi tatto itu.
Kata rekan yang lain, banyak nyawa yang tak berdosa mati di tangannya. Dia akan dengan senang hati membunuh jika bayarannya pantas. Tak ada yang mau menerima kehadirannya, tak ada yang ingin berteman dekat dengannya. Mungkin hanya Zafran yang sering diajaknya bicara.
Namun, percayalah, mata kepala Zafran sendiri yang menyaksikan dialah satu-satunya orang di dalam sel itu yang sujudnya paling lama ketika shalat. Tidak ada yang mustahil di dunia ini, jika kita percaya dan beriman.
"Kamu tahu, mereka bilang sekhusyu apapun aku shalat, selama apapun aku bersujud, Allah tetap nggak akan memberiku ampunan, tapi aku tetap keukeuh bahwa Allah Maha pengampun. Begitu yang DIA katakan dalam kitab suci. Jadi, aku nggak akan nyerah, Zafran. Yakin aja Allah itu ada di dalam diri seorang hamba yang berserah pada-NYA."
Ia mengakhiri ucapan dengan berbaring di lantai tersebut. Kegelapan malam telah lama menjemput sang mentari, tapi laki-laki itu sama sekali tak dapat terpejam. Hatinya gamang, was-was dan gelisah. Banyak bisikan-bisikan negatif yang membuat kepalanya berdengung hebat.
Zafran menatap rekannya itu penuh arti, tubuh yang tinggi besar itu tak perlu memakai pakaian karena seluruh kulitnya telah diukir di berbagai macam gambar. Namun, yang diucapkannya tadi cukup menyulut lentera keyakinan Zafran yang hampir padam.
Bukankah seorang ulama pernah mengatakan, "Ambillah apa-apa yang baik sekalipun itu keluar dari mulut binatang."
__ADS_1
Zafran mengerti, tak semua yang terlihat buruk akan selalu buruk, dan yang terlihat baik akan selalu baik. Maka benarlah pepatah itu, jangan menghakimi sebuah buku dari jilidnya saja.