
"Mas, dari mana aja kamu? Aku telpon nggak diangkat, SMS gak dibales. Kenapa, Mas?" tanya Lita segera sesaat Zafran berdiri di depannya.
Tenggorokan Lita tercekat saat bersitatap dengan mata merah milik Zafran. Seolah-olah terdapat gumpalan berduri di tenggorokan yang membuatnya kesulitan meneguk ludah. Butiran peluh tak tertinggal hampir memenuhi seluruh wajah.
Jatuh dan meluncur membasahi leher serta dadanya yang sedikit terbuka. Namun, Zafran bergeming, tak menyahut barang sepatah kata pun. Ia justru berlalu meninggalkan Lita di teras rumah.
"Mas!"
Lita tertegun sebentar sebelum berbalik menyusul Zafran ke dalam rumah.
"Mas! Tunggu!" Lita menyusul dengan susah payah.
Perutnya yang besar menyulitkan kaki yang sedikit bengkak itu untuk berjalan cepat. Akan tetapi, Zafran tak acuh dan terus saja berjalan menghampiri Ibu yang menunggu mereka di ruang tengah.
"Dari mana aja kamu, Nak? Lita tiap hari nungguin kamu pulang, dia juga bolak-balik terus ke gudang. Kasihan, tapi kamu nggak datang ke sana. Ke mana emangnya?" cecar Ibu lengkap dengan gurat panik di wajahnya.
Zafran berhenti di depan wanita yang telah melahirkannya itu, rongga dada bergemuruh hebat. Ia Menarik napas pendek-pendek untuk mengurai sesak yang menghimpit. Melihat emosi yang memuncak di wajah sang anak, Ibu mengajaknya duduk menenangkan diri.
"Duduk dulu, terus cerita ada apa? Ke mana aja kamu selama tiga hari ini?" ucap Ibu sambil menyentuh tangannya.
Dulu, sewaktu bersama Seira, wanita itu yang selalu bersikap demikian. Menyalurkan ketenangan pada hatinya yang memanas, dan selalu berhasil. Kali ini, semua itu hanya tinggal kenangan. Rasanya Zafran ingin mengejar Seira kembali dan mendekapnya erat.
Laki-laki berpenampilan kusut itu menghela napas sebelum menjelaskan apa yang terjadi padanya. Lita datang dengan perasaan gugup memenuhi hati. Duduk meski ragu, menunggu cerita yang akan diungkapkan suaminya.
"Aku pingsan di jalan waktu itu, Bu. Terus ditolong teman lama, dan aku menginap di sana. Nggak ke mana-mana, Bu. Aku cuma butuh waktu buat nenangin diri dari masalah yang terjadi," ungkapnya sambil melirik tajam pada Lita.
Wanita itu tertunduk, seperti dihantam ribuan belati, hatinya berdenyut nyeri.
"Tapi masalah bukannya selesai, malah jadi semakin rumit. Uang yang dia kasih buat beli tanah ternyata nggak pernah dibeliin sama orang tuanya. Mereka nipu kita, Bu. Sekarang mereka juga kabur dari kampung itu dan nggak tahu pergi ke mana?" Dengan geram Zafran mengisahkan semuanya.
Ibu tampak syok, begitu pula dengan Lita. Mata mereka membelalak lebar, udara tercekat di tenggorokan membuat keduanya kesulitan bernapas.
__ADS_1
"Nggak mungkin, Mas! Bapak sama Ibu nggak mungkin ngelakuin itu?" tolaknya dengan lirih.
Air mata yang sedari tadi ditahannya, lolos begitu saja. Kepalanya menggeleng, menolak pernyataan dari sang suami.
"Apanya yang nggak mungkin! Mereka itu penipu, mereka udah nipu aku." Suara Zafran meninggi.
Tidak! Bukan jalan cerita ini yang ingin ditempuh Lita, bukan skenario menyedihkan ini yang telah disusunnya. Dia berencana bahagia, harus bahagia.
Meski hatinya menolak berulang-ulang, tetap saja jalan cerita itu yang harus dilaluinya.
"Tapi kamu juga lihat sendiri, kan, tanahnya. Mereka emang beli tanah, Mas," ucap Lita keukeuh menolak semua kenyataan.
"Tanah yang mana? Tanah punya orang itu? Mereka cuma ngarang cerita, yang sebenarnya adalah mereka kerja di kebun itu dan punya hutang banyak sama pemilik tanah. Uang yang kamu kirim buat bayar hutang itu, aku nggak tahu berapa hutang mereka? Jangan-jangan ...."
Lita menggeleng cepat hingga air matanya menetes cepat. Menolak apapun yang saat ini terbesit di hati suaminya.
"Lita!" Suara Ibu tercekat di tenggorokan.
"Bu! Mas! Apa yang kalian pikirin itu nggak bener, aku nggak tahu apa-apa soal itu. Aku berani bersumpah, Mas. Demi anak yang-"
"Jangan bawa-bawa anakku!" sela Zafran dengan cepat.
"Tapi aku bersumpah nggak terlibat sama mereka, Mas. Aku juga nggak tahu kalo mereka boong, selama ini aku rutin kirimin mereka uang buat bantu sedikit. Aku nggak tahu apa-apa, Mas. Sumpah!" ratap Lita sembari memegang tangan Zafran berharap laki-laki itu akan percaya padanya.
Nyatanya, Zafran justru menepis tangan Lita sedikit kasar. Lita kembali menelan pahitnya kekecewaan. Dia sudah berubah, tak lagi sama seperti dulu. Laki-laki itu berpaling wajah menghadap Ibu dan menenangkannya.
"Lama-lama Ibu bisa mati mendadak kalo begini terus. Jantung Ibu sakit rasanya, kenapa bukannya selesai, masalah malah bertambah runyam. Terus gimana sama bisnis kamu, Zafran?" ucap Ibu susah payah.
Lita melirik, ia tak tahu harus apa saat ini. Uang di tabungannya hanya tersisa sedikit dan itu akan dia gunakan untuk biaya persalinan nanti.
Zafran bingung, ia sendiri pun tidak punya solusi untuk saat ini. Keadaan gudang benar-benar kacau.
__ADS_1
"Aku nggak tahu, Bu. Di gudang cuma ada beras jelek dan banyak kutunya. Beras yang udah dikirim juga dikembalikan lagi dan mereka minta uang juga kembali. Aku bingung, Bu. Tolong bantu aku, pinjamkan uang atau perhiasan Ibu dulu buat tambahan modal. Nanti aku ganti kalo keadaan gudang udah stabil," ucap Zafran menyedihkan.
Ibu tertegun mendengar itu, menatap Zafran tak percaya dan berganti pada Lita yang juga menunggu.
"Ayolah, Bu. Bukannya Ibu selalu aku kasih uang, pasti ada di tabungan, 'kan?" tuntut Zafran lagi.
Putus asa. Itu yang terjadi padanya.
"Tunggu! Selama ini kalo ada masalah kamu nggak pernah ganggu gugat uang yang kamu kasih sama Ibu, 'kan? Tapi kenapa sekarang kamu itung-itungan kayak gini sama Ibu? Pake punya Lita aja, dia itu sering banget belanja Ibu lihat," tolak Ibu secara langsung.
Kalo tahu bakal kayak gini, aku nggak biarin Zafran talak Seira. Dia itu, kan, berguna banget. Kenapa waktu itu aku nggak pertahanin dia aja, ya. Bodoh!
"Uang aku tinggal sedikit, Bu. Itu juga buat biaya lahiran nanti, aku ada perhiasan, tapi kayaknya nggak cukup," ucap Lita lagi.
Hatinya sangat menyayangkan jika sampai perhiasan yang dia punya ikut hilang untuk menambah modal.
"Semua ini salah kamu, salah orang tua kamu. Kamu harus tanggung jawab. Kasih uang sama perhiasan kamu ke Zafran! Ibu nggak mau tahu, pokoknya bisnis Zafran harus bangun lagi," tekan Ibu menuding sengit pada Lita.
Wanita itu mendengus, ia beranjak setelah Zafran melirik tajam ke arahnya. Pergi meninggalkan ruang tengah dan menuju kamarnya.
"Sayang sebenarnya, tapi mau gimana lagi? Semua ini gara-gara Ibu sama Bapak. Udah aku bantu malah nyusahin. Awas aja kalo ketemu aku nggak mau ngakuin mereka."
Lita menyusut air mata, mengancam kedua orang tuanya sendiri. Ia bangkit sambil membawa kotak perhiasan miliknya. Memberikan pada Zafran dengan perasaan dongkol.
"Ini masih kurang. Punya Ibu juga, ya."
Dua wanita itu memang tak tahu diri, saling melempar tanggung jawab dan tak ingin membantu.
Emang cuma Sei satu-satunya perempuan yang nggak pernah keberatan bantu aku. Aku nyesel banget udah ngusir dia, nyesel juga udah nalak dia. Kamu emang bodoh, Zafran!
Rencana licik mulai tersusun rapi di hatinya.
__ADS_1