Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Tak Ingin Bercerai


__ADS_3

"Kamu mau ke mana, Zafran?"


Mala turut beranjak mengikuti laki-laki yang beberapa hari ini menemaninya. Gadis itu melebarkan langkah untuk segera menyusul Zafran yang hampir menggapai pintu.


"Zafran! Tunggu!"


Mala menarik tangan laki-laki itu hingga membuatnya berbalik dan berhadapan dengannya.


"Aku udah ngelakuin apa yang kamu mau, Mala. Sekarang, aku harus pulang karena Lita mau melahirkan. Aku harus ada di sana dan melihat sendiri anakku dilahirkan. Aku harus pergi," tegas Zafran sembari melepaskan tangan Mala yang menggenggam lengannya.


"Kamu nggak bisa pergi, Zafran. Kamu udah janji sama aku mau di sini temenin aku. Kenapa kamu ingkar lagi kayak dulu? Kenapa kamu terus jahat sama aku, Zafran?!" teriaknya dengan lantang.


Air mata berjatuhan tak terelakan, sakit yang dirasanya bertubi-tubi menghantam hati. Zafran tidak peduli, terus masuk ke dalam mobil meski teriakan Mala terus menggema.


Gadis berpakaian terbuka itu berlari memukul-mukul jendela mobil Zafran.


"Zafran! Buka! Kamu nggak bisa pergi ninggalin aku! Zafran! ZAFRAN!"


Laki-laki itu benar-benar mentulikan telinga, terus menginjak pedal gas dan melaju dengan cepat. Mala sempat mengejarnya, tapi terjatuh karena kedua kaki yang tiba-tiba terasa lemas.


"ZAFRAN!" Mala tersungkur di halaman rumahnya sendiri. Menangis tersedu meratapi kepergian laki-laki berstatus suami orang itu.


Asisten yang mendengar teriakkan majikannya bergegas keluar menghampiri.


"Ya ampun, Neng! Kenapa sampe kayak gini? Bangun, Neng. Jangan kayak gini," pintanya sambil membantu Mala berdiri.


"Dia pergi, Bu. Dia bilang udah nggak peduli lagi sama istrinya, dia bilang mau sama aku terus, tapi kenapa sekarang dia pergi, Bu?"


Mala menjatuhkan kepalanya di dada wanita tua itu. Menangis histeris, merasa telah dikhianati oleh laki-laki yang amat ia cintai. Asisten itu membawanya masuk dan mendudukkannya di sofa, tanpa menunggu ia bergegas mengambil air dan diberikannya pada Mala.


"Minum dulu, Neng. Tenangin hati, Neng. Jangan kayak gini," ucapnya penuh perhatian.

__ADS_1


Mala menerima dan meminumnya. Aliran air di tenggorokan tak lagi terasa segar, justru sebaliknya perih menusuk-nusuk. Seperti hatinya yang tercabik oleh sikap Zafran yang semena-mena terhadapnya. Setelah menguras uang darinya untuk membangun kembali bisnis yang hampir bangkrut, ia pergi begitu saja meninggalkan luka yang dalam.


"Tenang, Neng. Ibu udah nggak suka dari awal sama laki-laki itu. Dia cuma manfaatin Neng aja. Laki-laki kayak dia harusnya dikasih pelajaran, biar nggak sembarangan ngerendahin orang. Ibu nggak terima dia bikin Neng kayak gini," ucapnya dengan geram.


Mala yang masih sesenggukan terdiam, mencerna kalimat sang asisten yang sudah seperti Ibu sendiri untuknya. Jemarinya mengepal, jika Zafran memang benar-benar meninggalkannya maka dia harus membuat perhitungan dengan laki-laki itu.


"Ibu bener, dia nggak bisa seenaknya kayak gini. Liat aja, aku pasti bales semua yang perbuatan kamu, Zafran. Kamu nggak boleh bahagia setelah membuat aku menderita. Liat aja nanti!"


*****


Zafran tiba lebih cepat di rumah sakit, Ibu dan Nisa duduk di depan ruang bersalin, menunggu Lita yang sedang berjuang di dalam.


"Bu!"


"Zafran!"


Ibu beranjak dari bangku dan menemui putranya. Lega hati melihat kedatanganya, tapi raut cemas jelas tergambar di wajah tua itu.


Tubuhnya menegang seperti sedang dihadapkan pada sebuah ujian antara hidup dan mati.


"Dia di dalam, Hendra juga di dalam. Anak kamu belum lahir, cepat kamu masuk ke dalam. Kasihan Lita, dia butuh suaminya," ucap Ibu panik.


Zafran mengangguk, berpaling sebentar saat melintasi tempat duduk Nisa. Gadis itu mengangguk sopan, tapi Zafran tidak membalas. Hatinya dipenuhi rasa cemas tentang keadaan Lita dan bayinya. Gegas ia masuk, tapi dihadang cepat oleh petugas medis di dalam.


"Lita!"


"Mas! Kamu dateng?" Suara Lita terdengar lirih.


Zafran melewati petugas medis dan berdiri di samping ranjang Lita berbaring. Rasa haru menyeruak begitu saja memenuhi hatinya. Detik-detik kehadiran seorang bayi yang amat dia nantikan sejak pernikahannya dengan Seira.


Namun, baru beberapa saat Zafran di sana, Lita meringis sambil menatap kakinya yang terbuka lebar. Bayi di dalam perut keluar dengan sendirinya. Tanpa rasa sakit ataupun cerita kesulitan mengedan. Semuanya terjadi begitu saja, bahkan tim medis disibukkan oleh tangisan bayi itu.

__ADS_1


"Dokter!" Lita bersuara panik, sedangkan Zafran termangu tak percaya.


Suara tangisan bayi juga mencipta bahagia di hati Ibu yang sedang menunggu di depan. Wanita tua itu bahkan memeluk Nisa meluapkan kebahagiaannya. Lengkap sudah anggota keluarga di rumah besar mereka, kehadiran cucu yang dinanti telah menyempurnakan kehidupannya.


Senyum-senyum kebahagiaan tercetak sempurna di wajah semua orang, terutama Ibu dan Zafran tentunya, tapi tidak dengan Hendra. Ia ada di sana, hanya diam tidak membantu proses persalinan Lita. Selain dia bukan dokter kandungan, juga tak peduli pada keadaan wanita itu dan bayinya.


*****


Di ruangannya, Hendra menyodorkan amplop coklat yang datang dari pengadilan agama kepada Zafran. Lita dan bayinya sedang istirahat ditemani Ibu dan Nisa.


"Aku kira kamu nggak bakal ngambil langkah ini, Zafran. Nggak tahunya kamu serius mau pisah sama Sei, lagian sekarang anak kalian udah lahir," ucap Hendra sembari menyandarkan punggung.


Zafran melipat dahi, tampak bingung saat melihat logo pada amplop tersebut. Seingatnya, dia belum pernah pergi ke pengadilan untuk mengurus perceraiannya. Seira, wanita itu tidak memiliki berkas apapun. Rasanya tidak mungkin dia yang mengurus semua. Lalu, siapa?


"Aku nggak pernah berencana ngurus surat cerai ke pengadilan. Aku mau rujuk sama Sei, tapi surat ini siapa yang kirim?" gumam Zafran sambil melihat-lihat surat di dalam amplop tersebut.


Surat panggilan sidang.


Hendra mengernyit, menegakkan tubuhnya kembali hingga sedikit condong pada Zafran.


"Kamu yakin?"


"Iya, aku nggak tahu. Kalo Sei, dia nggak punya berkas sama sekali. Gimana mungkin bisa ngurus semua ini?" Zafran terlihat bingung.


"Kalo Sei emang nggak punya berkas-berkas, itu artinya dia dibantu orang lain. Dan yang pasti orang itu bukan orang sembarangan." Hendra bergumam sambil berpikir.


Kalo mereka sidang, udah pasti ketemu di pengadilan. Zafran akan tahu kalo Sei lagi hamil.


Lirikan Hendra jatuh pada laki-laki di depannya. Dulu, ia berniat mengatakan kepada Zafran tentang kehamilan Seira, tapi zafran menolak bertemu dengannya. Jadilah sampai hari itu, kehamilan Seira masih menjadi rahasia.


"Tapi aku nggak mau cerai sama dia, Hen. Aku mau rujuk sama dia. Aku nggak mau cerai," racau Zafran terlihat kecewa.

__ADS_1


Hendra mendesah, sudah terlambat. Dia mengumpati Zafran dalam hati, mencibir tindakannya yang sembrono yang pada akhirnya mendatangkan penyesalan. Terlalu tergesa mengambil keputusan tanpa berpikir lebih dalam lagi.


__ADS_2