Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Seperti Apa Jakarta


__ADS_3

"Mamah, kota Jakarta itu kayak apa? Apa sama kayak kota tempat kita tinggal?" celoteh Rayan dengan riang gembira.


Sejak pagi tadi balita itu terlihat bahagia, senyum terus terukir di bibirnya yang merah dan basah. Kulit matanya bahkan terlihat keriput karena terus menyipit oleh senyuman.


Pujian dari teman-teman sebayanya membuat hati Rayan senang. Kata mereka, dia mirip dengan Fatih. Sekilas memang ada kemiripan dengan laki-laki itu, lantaran sejak di dalam kandungan dialah sosok yang siaga di samping sang Ibu.


"Nanti kamu juga tahu, sayang, kalo udah sampe di sana," jawab Seira sembari melirik anaknya dari kursi depan.


Riak wajahnya tak puas, ia menoleh pada Bi Sari yang duduk di sampingnya. Fatih tersenyum memperhatikan mereka dari spion tengah mobil.


"Apa Nenek tahu Jakarta itu kayak apa? Ayo, Nek. Kenapa Mamah nggak mau bilang?" Bibir mungilnya mengerucutkan lucu.


Mengundang gelak tawa orang-orang dewasa yang berada satu mobil dengannya.


"Di Jakarta itu ada banyak gedung-gedung tinggi, mobil-mobil besar, kereta cepat, bus kota, dan lain lagi. Nanti Rayan pasti lihat satu-satu di sana," jawab Bi Sari sambil mengulas senyum untuk balita itu.


Kedua maniknya berbinar penasaran, teringin cepat sampai di kota yang bernama Jakarta tempat selama ini papahnya bekerja. Ia duduk kembali sambil menyandarkan tubuh, mulutnya terbuka, matanya mengawang pada langit-langit mobil. Membayangkan apa-apa saja yang tadi disebutkan oleh Bi Sari.


Seira mengernyit sembari mengulum senyum gemas, Bi Sari pun turut menahan tawa melihat tingkahnya.


"Kamu mikirin apa, sayang?" goda Seira tak tahan menahan gatal di lidah.


"Di rumah, Rayan punya apa-apa yang disebutin Nenek. Papah, kan, selalu beli mainan. Kayaknya emang Rayan punya semuanya. Mobilan, keretaan, bus, semuanya," selorohnya membentang tangan lebar-lebar.


Benar, semua yang disebutkan Bi Sari memang ada di rumah walau hanya berupa mainan. Jadi, otaknya sedang mengelana sambil mengeja setiap mainan yang dia punya.


"Oh, itu bener, sayang, tapi yang akan kita lihat nanti itu beneran. Rayan bisa naik di dalamnya, dan banyak orang bisa naik juga," timpal Seira dengan gemas.


Mata bulatnya melebar, semakin berbinar terang.


"Beneran, Mah? Rayan bisa naik? Rayan mau naik kereta cepat!" serunya sambil menggerakkan tangan kanan melesat dengan cepat.


"Iya, sayang. Nanti Papah ajak Rayan naik kereta cepat, ke mana aja yang Rayan mau." Fatih menimpali.

__ADS_1


Bugh!


Tubuh laki-laki yang duduk dibalik kemudi itu tersentak ke depan tatkala Rayan menabrakkan diri pada kursinya.


"Beneran, Pah?"


Suaranya nyaring menusuk gendang telinga, sedikit meringis Fatih dibuatnya, tapi ia tetap tersenyum dan mengangguk.


"Hore!"


Balita itu kembali pada kursinya, bersorak senang seperti baru saja mendapatkan mainan baru.


"Oya, Pah. Nenek tahu Rayan mau main ke rumah Nenek sama Aunty?" tanyanya setelah puas bersorak.


"Nggak, sayang. Kita akan kasih kejutan sama mereka." Fatih menjawab.


Bi Sari dan Seira hanya terdiam sambil memperhatikan.


"Nanti mereka pasti kaget. Wah ... cucu Nenek! Gantengnya Aunty! Gitu, ya, Pah?" tanyanya benar-benar menggemaskan.


"Rumah Nenek itu kayak apa, Mah? Mamah pasti tahu." Dia bertanya lagi setelah cukup lama diam dan asik sendiri.


"Mamah juga belum tahu, sayang." Seira menyesal, ia melirik Fatih yang tak bereaksi apapun.


"Yah, kalo Papah, tahu?"


Tawa menggelegak dari laki-laki yang ditanyanya, anak-anak memang terkadang konyol. Tak sabar Rayan ingin segera mendengar jawabannya.


"Di rumah Nenek ada banyak mainan yang disiapkan Aunty, juga Nenek udah nyiapin kamar khusus buat Rayan. Pasti Rayan suka sama kamarnya," jawab Fatih yang mengembangkan senyum di bibirnya.


"Wah, Rayan nggak sabar pengen liat kamarnya. Pasti kayak gambar di hp Aunty itu, 'kan. Kasurnya bentuk mobil," ucapnya kembali mengeja ingatan saat bersama dengan Biya.


Hampir sepanjang perjalanan, mobil itu dipenuhi celotehan Rayan meskipun masih terdengar cadel, tapi kosakata yang dia miliki sudahlah kaya.

__ADS_1


Hening. Seira melirik ke kursi belakang, Bi Sari tertidur sambil memangku kepala Rayan yang juga tertidur dengan nyaman. Ia berpaling saat sebuah sentuhan menggenggam jemarinya. Fatih membawa tangan Seira mendekati bibir, mengecup punggung tangan itu dengan mesra, menuangkan perasaannya yang sedang membuncah.


Seira terenyuh, rona merah di pipi tak dapat disembunyikannya. Ia biarkan menghangat terus merasuk ke ulu hati.


"Makasih, sayang. Kamu nggak usah takut tinggal di Jakarta lagi, ada aku yang akan jaga kamu juga Rayan dari apa aja yang akan bikin kalian bahaya. Percaya sama aku," ungkap Fatih sembari melirik Seira sebentar.


Senyum terukir tulus di bibir Seira, semalam ia harus memaksa hatinya membuang rasa takut. Dia berhasil dan akhirnya memutuskan untuk ikut Fatih tinggal di Jakarta. Menempati rumah yang telah disediakan oleh suaminya itu dan kini ditempati Ibu bersama Biya.


"Aku udah pikirin semuanya, Mas. Emang udah waktunya aku lupain semua, aku juga kangen sama Ibu sama Ayah. Nanti kita datengin makam mereka, ya. Aku pengen ngenalin Mas sama mereka," jawab Seira dengan kelapangan hatinya.


"Iya, sayang. Aku juga pengen ketemu mereka." Sekali lagi ia mengecup punggung tangan Seira, dan sepanjang perjalanan tautan keduanya tak lepas.


Sesekali Fatih akan menggenggamnya di dada, menghangatkan hatinya yang tengah berbunga-bunga. Kesabarannya membuahkan hasil yang manis, Seira dengan sendirinya meminta untuk ikut tinggal di Jakarta.


Teringat perbincangan mereka semalam menjelang tidur. Seira menggenggam tangan Fatih dengan hangat, menatap laki-laki itu dengan penuh cinta.


"Mas, aku udah pikirin dan udah putusin buat ikut kamu tinggal di Jakarta. Usaha di sini aku pengen hibahkan sama yayasan, supaya anak-anak yatim piatu di sini nggak kesusahan. Nggak apa-apa, 'kan, Mas?" ucapnya tadi malam.


Terkejut memang, tapi senang bukan kepalang.


"Kamu yakin?" Fatih menahan rasa gembiranya yang meluap-luap.


Seira mengangguk tegas, tak ada keragu-raguan di matanya seperti lalu-lalu. Fatih menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan, menghujani pucuk kepalanya dengan ciuman.


"Makasih, sayang. Makasih. Kamu nggak usah risau soal bisnis kamu ini, Mas setuju kalo kamu mau hibahin toko ini sama yayasan. Cabang toko kue kamu di Jakarta melesat pesat. Mas bahkan berencana mau buka cabang lagi di kota lain. Mas seneng dengernya, Ibu sama Biya juga pasti seneng denger kabar ini," ungkap Fatih tak melepaskan pelukannya.


Seira turut mengeratkan pelukan, tersenyum penuh kebahagiaan.


"Tapi, Mas, jangan bilang dulu sama Ibu. Biar aja kita kasih kejutan, nggak apa-apa, 'kan?" pintanya sembari mendongakkan kepala.


Satu kecupan mendarat di bibir manisnya, tidak masalah. Itu tidak masalah sama sekali.


****

__ADS_1


Hallo, Kakak-kakak semua. Terima kasih sudah setia dengan kisah Seira. Kalo mereka tinggal di Jakarta besar kemungkinan akan bertemu dengan Zafran. Ayo kita temukan mereka!


Author ingatkan, ya, Rayan usianya tiga tahun dan bayangin aja cara ngomong anak umur tiga tahun.


__ADS_2