
Melihat Seira larut dalam pelukan Fatih, Lita menyusut air mata dan ibu mertuanya menatap nanar wanita di sana. Bukan Seira yang dia cari, tapi sesosok kecil yang sejak tadi tak terlihat batang hidungnya. Oh, di manakah dia? Anak laki-laki kecil yang ingin ditemuinya.
Mereka menunggu Naina, tetap berdiri di tempat mereka berbincang tadi. Rasa malu hadir begitu saja, saat mengingat Seira yang tak ingin menerimanya lagi. Semua sudah berubah, kebaikan Seira saat ini bukan untuknya.
Dari dalam sana muncul satu sosok yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Sekilas mata kecil itu menatap ke arah mereka, terlihat tak senang karena telah membuat mamahnya menangis.
Cucu aku. Dia mirip dengan Zafran. Rasanya aku pengen meluk dan cium dia. Seandainya Seira berbaik hati mau memperkenalkan aku dengannya, betapa aku merasa senang sekali.
Hati kecil Ibu bergumam pedih, berharap kebaikan hati Seira mau mempertemukan mereka. Namun, semua itu hanya hayalannya semata, dan apakah mungkin akan terwujud?
Itu pasti anaknya Mas Zafran, mukanya mirip sama dia. Ternyata, diam-diam Seira mengandung anak itu dan melahirkannya.
Lita turut berbincang dengan hatinya, mengusap perut sendiri kapan akan terisi oleh si jabang bayi. Setelah kelahiran Naina, lima tahun yang lalu, Lita tak juga mengandung anak Zafran. Sementara Seira, di sisinya telah ada dua orang anak meski berbeda Ayah.
Rayan berjalan pelan keluar, berdiri di samping Fatih yang masih memeluk Seira. Dua pasang mata itu terlihat sama, sama tajamnya menghujam biji mata mereka. Ia menoleh pada Seira, semakin mendekat dan memeluk tubuh wanita itu.
"Mamah. Kenapa Mamah nangis? Apa mereka udah jahat sama Mamah?" tanyanya sambil mendongakkan kepala menatap ke arah Seira.
Tangan Fatih perlahan turun dan mengusap rambut Rayan, mata mereka saling menatap penuh arti. Keduanya adalah kekuatan Seira, mereka tempatnya mencari damai dan ketenangan hati. Melepas lelah dari perihnya kehidupan duniawi.
Sungguh, jika tak ada mereka yang selalu menjadi pemandangan terindah di matanya, mungkin Seira tak akan setegar saat ini. Ia mengusap air mata sebelum melepas pelukan dan berpaling pada sang anak. Memaksa sudut bibirnya untuk naik ke atas meski bergetar.
Seira berjongkok di depan sosok kecil itu, menggenggam jemarinya dengan lembut seraya mengecup kedua punggung tangannya dalam-dalam. Ia kembali mendongak, beradu tatap dengan mutiara hatinya.
"Nggak ada yang jahatin Mamah, Mamah cuma lagi bersyukur karena punya Rayan sama Papah yang selalu bikin hati Mamah bahagia. Ada Adik Fathiya yang menambah kebahagiaan di hati Mamah." Seira memeluknya sambil menahan tangis.
__ADS_1
Fatih tersenyum haru, tapi pandangannya teralihkan pada dua wanita yang masih berdiri di bangku pinggir jalan itu. Sedang apa mereka? Apa yang mereka tunggu? Begitu gumam hati Fatih tak senang.
Berselang, sosok Naina pun keluar dengan dahi yang berkerut bingung. Dia melihat Ibu dan neneknya, lalu melihat Seira yang memeluk Rayan. Kepalanya terangkat ke atas, beradu tatap dengan Fatih yang juga sedang melihatnya.
"Pulanglah, mereka udah nungguin kamu. Besok kamu bisa datang lagi," ucap Fatih. Bukannya dia mengusir Naina, tapi Fatih ingin mereka berdua cepat pergi dan menghilang dari hadapan sang istri.
Naina mengangguk pelan, matanya kembali melirik Seira yang tidak melihat ke arahnya. Ia berjalan dengan hatinya yang bingung, bertanya-tanya dengan apa yang telah dilakukan Ibu dan neneknya itu terhadap Seira.
"Sayang, masuk, yuk. Fathiya udah nyariin mamahnya," ajak Fatih sembari mengusap kedua pundak Seira.
Mendengar tangisan Fathiya, Seira melepaskan pelukan. Ia mengecup dahi Rayan sebelum berdiri dan masuk ke dalam sambil menggandeng tangannya. Di sana, Bi Sari hanya duduk menunggui bayi itu. Ia menimangnya saat Fathiya menangis, hatinya ikut teriris melihat Seira yang menangis.
"Makasih, ya, Bi." Seira mengambil alih bayinya dan membawa masuk ke ruangan di mana tempat mereka berkumpul.
"Pembangunan cabang restoran udah mau rampung, Mas mau kamu yang nanti potong pitanya, ya. Itu untuk kamu dan anak-anak kita nanti," ucap Fatih sambil mendekap Seira yang sedang menyusui.
Wanita itu menoleh, berterimakasih lewat senyuman. Ia menjatuhkan kepala pada pundak kokoh itu, bersyukur dengan keadaannya saat ini. Tak perlu lagi ada yang dicemaskan, semua akan baik-baik saja.
*****
Di dalam sel, setelah Zafran melihat Rayan kemarin, ia lebih banyak melamun. Jarang terlihat mengantri di tempat makan, ataupun bercengkerama dengan rekan satu selnya. Laki-laki bertatto itu telah dipindahkan entah ke mana, Zafran tidak tahu.
Yang pasti, setelah kepergiannya tak ada lagi yang menasihati Zafran. Tak ada yang mengingatkannya pada keagungan Tuhan. Hatinya kosong, kering kerontang.
Pagi itu, dia pun tak bersemangat dalam kegiatan kerja bakti yang rutin dilakukan setiap Minggu. Membersihkan lapangan, kamar mandi, memotong rumput dan lain sebagainya.
__ADS_1
Zafran duduk di sebuah bangku kayu pinggir lapangan, merenung, mengingat-ingat wajah Rayan yang beberapa menit dilihatnya kemarin. Rindu menyeruak, teringin memeluk dan mencium wajahnya. Air mata luruh begitu saja, ingin rasanya cepat keluar dari tempat buruk itu.
Desas-desus mengusik telinganya, tentang seorang tahanan yang diberikan kebebasan meski bersyarat karena berkelakuan baik selama di penjara.
Apa aku juga bisa begitu? Nggak ada salahnya, kan, aku coba. Siapa tahu benar. Keluar dari sini aku pengen langsung nemuin anakku, pengen peluk sama cium dia. Tunggu Ayah, sayang. Kita pasti akan bertemu. Kasihan kamu, Nak, harus tumbuh sama Ayah tiri.
Hati Zafran berapi-api. Semangatnya timbul kembali, segala macam bentuk kebaikan dia lakukan termasuk membantu para sipir merenggangkan otot mereka.
Berharap dia akan mendapatkan peruntungan, dan keluar dari tahanan. Setiap hari tersenyum menyapa semua orang, mengepel lantai dan menyapu.
Bayangan wajah Rayan yang tersenyum padanya, menjadi penyulut paling nyata. Pelukan dan panggilan Ayah untuknya, sudah mengisi telinga menghibur hati. Seira pasti akan mengenalkan mereka, Seira pasti akan mempertemukan mereka.
Dia bukan orang yang tega memisahkan anak dari ayahnya. Begitu isi pikiran Zafran, tak sadar seberapa besar kesalahan yang telah dia lakukan. Apakah Seira akan begitu mudahnya mempertemukan mereka?
Hari demi hari dijalaninya dengan semangat, membuat tahanan lain merasa heran sendiri dengan tingkahnya.
"Woy, Zafran. Akhir-akhir ini aku sering lihat kamu ketawa sendiri? Kenapa? Kamu masih ...." Laki-laki itu meletakkan jari telunjuk di dahi dengan lurus.
Zafran tertawa, ia menepuk pundaknya cukup kuat.
"Aku masih waras, lah. Aku lagi seneng aja, keluar dari sini nanti akan ketemu anak aku." Zafran kembali tertawa membuat bulu kuduk mereka merinding.
Namun, tiba-tiba, tubuh Zafran membungkuk. Meringis, dan merintih kesakitan.
"Duh, sakit!"
__ADS_1