Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Mencari Biang Masalah


__ADS_3

"Mamah!"


Rayan berlari memeluk Seira, tubuhnya bergetar ketakutan. Bayangan seorang laki-laki yang ingin menculiknya di dalam mimpi, terus menghantui dan menambah rasa takut di hatinya.


Seira terhenyak, detak jantungnya terus saja berpacu tak terkendali. Ia mengusap kepala Rayan, bingung sekaligus cemas apa yang terjadi pada bocah itu. Wajah terkejut Seira mendongak menatap Bi Sari dan Rani yang berdiri tak jauh dari mereka.


Melalui sorot mata dia bertanya, dan Bi Sari mengangguk meminta waktu untuk berbicara.


"Sayang, ada apa?" tanya Fatih.


Persiapan untuk acara pembukaan cabang restoran hampir semuanya rampung. Hanya tinggal menunggu dua hari lagi untuk penyempurnaan.


Seira menggeleng disaat Fatih merangkul bahunya. Laki-laki itu berjongkok, mengusap punggung Rayan yang terasa bergetar. Fatih tahu anak sambungnya itu sedang ketakutan.


"Sini sama Papah, anak laki-laki harus cerita sama Papah. Kita harus bisa melawan ketakutan kita, dan harus bisa menyelesaikan masalah kita sendiri," ucapnya seraya menarik tubuh Rayan dengan pelan dan membawanya dalam gendongan.


Seira dan Bi Sari turut mengekor di belakang mereka, menuju tempat duduk untuk berbincang. Mereka duduk melingkar, Seira mengambil alih Fathiya dari kereta dan memangkunya, sedangkan Rayan berada di atas pangkuan Fatih.


"Sekarang cerita sama Papah apa yang bikin Kakak ketakutan kayak gini?" tanya Fatih mulai membuka bahasan.


Rayan menatap wajah tegas di hadapannya, kedua tangan melingkar di leher Fatih. Dia masih kanak-kanak yang sangat membutuhkan tempat di mana dia bisa mendapatkan rasa aman dan damai. Dari sorot mata itu hati Rayan selalu menemukan kedamaian dan ketenangan.


"Tadi ada orang asing di taman, Pah. Rayan takut, Rayan takut dia nyulik Rayan," katanya sedikit bergetar saat membayangkan wajah Hendra yang asing.


Seira dan Fatih dibuat terkejut dengan pernyataan itu. Keduanya menoleh pada Bi Sari bertanya lewat sorot mata. Wanita tua itu mengangguk pelan, maniknya yang berkabut memancarkan kekhawatiran yang kentara.


"Apa jangan-jangan ...."


"Nggak mungkin, bukannya dia ada di penjara?" sela Bi Sari dengan cepat menyangkal kalimat yang belum sempat diucapkan Seira.


Wanita itu berpikir, melirik Rayan yang menjatuhkan kepalanya di dada Fatih. Pelukan hangat laki-laki itu benar-benar membuat hatinya merasa damai.


"Mmm ... sayang, emangnya orang itu bilang apa?" tanya Seira. Mungkin dari jawaban Rayan dia akan tahu siapa yang tadi menemui anaknya.


Rayan menatap Fatih, laki-laki itu mengangguk. Kepalanya berpaling pada Seira, jejak ketakutan jelas terpancar di kedua mata kecil itu.

__ADS_1


"Dia bilang, Rayan mirip sama temannya, Mah. Abis itu Rayan langsung takut terus pergi," jawabnya.


Seira menahan napas, dia tahu siapa orang itu. Hatinya menggeram, amarah meletup-letup dalam dada teringin mencabik-cabik mulut lancang itu hingga tak mampu lagi berbicara. Kulit wajahnya yang putih memerah berikut kedua matanya yang turut memanas. Sungguh, Seira tersulut sekarang.


Fatih mengernyit melihat rahang sang istri yang mengeras, helaan napasnya terlihat berat menahan setiap gejolak yang membuncah.


"Sayang, kamu tahu siapa orangnya?" tanya Fatih penasaran.


Seira menghirup udara sedalam-dalamnya, menghembuskannya perlahan. Mengurai sesak disebabkan emosi yang meluap-luap.


"Aku tahu, Mas." Seira menggeram dari balik giginya yang merapat.


"Siapa, Non?" Bi Sari turut bertanya, tak ada nama yang terlintas dalam pikirannya.


"Mas tahu, dokter yang waktu itu manggil aku?" Seira melirik pada suaminya.


"Dokter Hendra?"


"Dia maksud kamu?"


Seira teramat muak menyebut namanya meski hanya dalam hati.


"Aku yakin itu dia, Mas. Aku mau datangi dia dan bertanya tujuannya. Kenapa menganggu kehidupan kita? Padahal, aku nggak pernah mengganggu kehidupan siapa pun termasuk mereka yang udah nyakitin aku," tegas Seira dengan sorot mata yang berapi-api.


Ini nggak bisa dibiarin.


Semakin lama Hendra pasti akan semakin berani, jika didiamkan saja dia akan terus datang dan mengganggu mental Rayan. Seira sadar, Zafran adalah ayah dari Rayan, tapi tidak dengan tiba-tiba memberitahu anak itu.


Biarkan dia mengerti pelan-pelan siapa Ayah kandungnya? Apa perbedaan Fatih dan Zafran untuk hidupnya? Seira tidak akan pernah membiarkan Rayan memilih akan hidup dengan siapa. Tidak akan!


"Di mana kalian bertemu dengannya?" tanya Fatih. Melihat Seira yang terbakar, hatinya ikut memanas.


"Rayan yang lihat, Bibi sama sekali nggak lihat," jawab Bi Sari.


"Dia di pagar bunga tempat Rayan main sama Rani, Pah," timpal Rayan dengan lirih.

__ADS_1


Fatih mendengar, ia mengusap punggung Rayan sambil menarik napas panjang.


"Kakak bisa, kan, tunggu di sini sama Nenek sama Rani? Ada Om Gilang juga di sini dan semua orang pasti akan menjaga Kakak. Nggak apa-apa, 'kan?" tanya Fatih.


Ia tak bisa melihat Seira bersedih apalagi ketakutan. Hari itu juga Fatih teringin bertemu dengan Hendra dan memperingatkan laki-laki itu apa pun tujuannya.


Mendengar itu Seira menatap Fatih, kemarahan jelas terpancar dari kedua matanya yang coklat. Perlahan mengendur melihat suaminya itu tersenyum dan mengangguk menenangkan.


Rayan menjauh dari dadanya, mengangguk pelan seraya turun dan menghampiri Bi Sari.


"Kalian di dalam aja, ya. Papah mau cari orang yang tadi bikin Kakak takut," ucap Fatih sambil menatap ke arah mereka.


Seira menyerahkan bayi Fathiya kembali pada Bi Sari, dia akan ikut dengan Fatih untuk menemui Hendra. Semoga saja laki-laki itu masih ada di taman.


Keduanya beranjak setelah Rayan dan Bi Sari menghilang di dalam sebuah ruangan. Dengan hanya berjalan kaki, mereka akan tiba di taman tersebut. Keduanya berkeliling, tempat biasa Rayan bermain adalah yang pertama mereka datangi.


Fatih memeriksa pagar bunga yang dimaksud, tingginya dapat menyembunyikan tubuh orang dewasa bila membungkuk. Kedua matanya berkelana kian kemari, mencari-cari satu sosok di antara puluhan kepala manusia.


"Mas, kayaknya dia udah pulang. Dari tadi kita cari nggak ketemu juga," ucap Seira sambil duduk di bangku taman.


Fatih mengangguk, tapi mata elangnya terus mengawasi.


"Oya, Mas. Udah periksa danau yang di sana? Mungkin aja dia di sana," ucap Seira teringat pada danau buatan yang dulu sering ia kunjungi.


Fatih mengangguk, menjulurkan tangannya untuk menggandeng sang istri sebelum mendatangi danau tersebut. Jaraknya tidak begitu jauh, hanya perlu turun untuk tiba ke sana.


Ada banyak pengunjung yang duduk di tepian sambil menabur makanan untuk ikan-ikan yang hidup di danau tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah para wanita yang membawa anak-anak.


Seira berdiri di satu sisi, tak jauh darinya seorang wanita dan anak perempuan seusia Rani duduk di tepi danau. Ia menghela napas, masih juga tidak menemukan sosok Hendra.


"Di mana dokter itu? Kenapa dia nggak ada di sini juga?" geramnya sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.


Wanita itu mendengarnya meski lirih, ia menoleh dan memperhatikan Seira lekat-lekat.


*****

__ADS_1


Terima kasih banyak-banyak atas doa Kakak-kakak semua. Love you all. Salam hangat dari author.


__ADS_2