
Sinar matahari telah berganti, sang surya kembali ke peraduannya dengan tenang setelah menjalankan tugas menerangi kehidupan manusia. Kegelapan menyapa jagat, kehidupan malam pun dimulai dari sejak jelaganya turun memayungi bumi. Sebagian memilih beristirahat, mengendurkan otot-otot tubuh yang seharian dipaksa bekerja.
Di sebuah kamar, Lita tengah asik memainkan ponsel sambil berbaring di ranjang tanpa busana dan hanya ditutupi selembar selimut saja. Dia sedang menunggu orang yang bergulat bersamanya pergi. Ada hal yang harus dia selesaikan, hanya sebentar saja. Begitu dia berpesan.
"Ah, enaknya hidup aku sekarang. Uang terus ngalir, nggak sedikit lagi. Mereka yang suka sel*ngkangan emang gampang banget kalo soal uang."
Lita tertawa kegirangan melihat sejumlah uang dengan nominal yang tak sedikit masuk ke rekeningnya.
"Maaf, ya, Mas Zafran. Mungkin aku akan tinggalin kamu kalo udah kaya nanti. Buat apa hidup sama laki-laki kere kayak dia. Mending begini, mau uang tinggal ... klik, klik, klik."
Dia kembali tertawa, layaknya orang yang kehilangan akal. Berselang, pintu kamar terbuka dan laki-laki yang bersamanya tadi masuk sambil tersenyum.
"Kamu bawa apa?" tanya Lita beranjak duduk.
Matanya melirik sebuah tas belanja di tangan laki-laki itu dengan dahi yang mengernyit. Mengikuti langkahnya hingga tiba di depan sebuah nakas yang berada di samping ranjang.
"Ini cuma minuman, teman kita main malam ini," katanya sambil melirik sinis.
"Minuman? Tapi aku udah lama nggak pernah minum lagi," sahut Lita tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Kalo begitu, kita minum malam ini. Aku mau kamu bikin aku benar-benar puas malam ini," katanya seraya duduk di tepi ranjang berhadapan dengan Lita.
"Kamu tenang aja, asal uangnya pantas aku akan bikin kamu menggelepar di ranjang," tantang Lita dengan berani.
"Kamu tenang aja, udah aku kirim uangnya, 'kan? Nanti aku kirim tambahnya."
Lita mengangguk, tanpa segan apalagi malu menyambar bibir laki-laki itu dengan rakus. Uang oh, uang. Apapun akan dilakukan manusia demi mendapatkannya.
Pintu kamar yang terbuka, menghentikan permainan panas mereka. Lita menarik selimut menutupi tubuhnya yang terekspos sempurna. Dua orang laki-laki melangkah masuk, keduanya dia kenal. Mereka pun sering memakai jasa Lita di atas ranjang.
"Kenapa ada mereka di sini?" tanya Lita gugup.
Ia merapatkan selimut di dada, wajahnya memerah malu sekaligus takut.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, dia teman-teman aku. Mereka cuma mampir aja ke sini, minum-minum sama kita. Kamu nggak apa-apa, 'kan?" ucap laki-laki itu.
Pandangannya berbeda, tak ada lagi pancaran memuja seperti siang tadi. Mata itu mencemooh, mencibir bahkan merendahkannya.
"Aku mau pulang," ucap Lita hendak turun dari ranjang.
Namun, laki-laki tadi tak akan membiarkannya pergi begitu saja, ia mencekal kedua tangan Lita dan menekannya di atas ranjang. Menatap tajam manik yang kini memancarkan ketakutan.
"Kamu udah janji akan buat aku puas malam ini, aku juga udah kirim uang banyak ke rekening kamu. Jadi, kamu nggak bisa pergi gitu aja sebelum buat kami puas," ucapnya dengan seringai jahat seperti serigala.
Lita menggeleng panik, bukan seperti itu. Dia tidak ingin bermain dengan banyak lelaki sekaligus, tidak. Batinnya memberontak. Menolak semua yang akan terjadi.
"Udahlah, lagian kita juga udah sering main, 'kan? Kenapa kamu ketakutan kayak gitu?" sahut yang lain tak lain adalah laki-laki yang pertama kali memakai jasa Lita.
Lita tetap menggeleng, salah satu dari mereka membuka botol minuman dan membawanya mendekati ranjang. Lita semakin panik, apa saja yang akan mereka lakukan, dia tak ingin melakukannya.
"Nggak! Aku nggak mau, lepasin aku. Aku nggak mau!" tolak Lita disaat laki-laki yang mencekalnya, mendudukkan dia.
Tiga lawan satu, apalah daya Lita hanya seorang wanita lemah dan tak berdaya. Dia hanya butuh uang, sampai-sampai rela menjajakan tubuhnya sendiri pada laki-laki kesepian seperti mereka.
Salah satu dari mereka menarik selimut dan membuangnya jauh-jauh. Kepala Lita mulai terasa berputar, pandangannya berkunang-kunang, terlihat suram semuanya. Ketiga sosok laki-laki itu mulai membuka pakaian mereka.
Lita merangkak hendak turun, setengah kesadarannya masih ia genggam. Namun, ke mana dia akan pergi? Mereka sama sekali tidak memberinya celah. Suara teriakannya seolah-olah menguap begitu saja. Hilang entah ke mana.
Tawa mereka masih menjejali rungunya, Lita semakin tak berdaya. Di bawah pengaruh alkohol, dia mencoba melawan, mencakar, menendang, apapun untuk mencegah mereka mendekatinya.
Namun, sekali lagi, tiga lawan satu dan dia hanyalah seorang wanita. Terjadilah hal yang tak diinginkan Lita, digilir tiga orang laki-laki yang tak memiliki perasaan. Mereka bermain kasar, terkadang pipi Lita ditampar jika ia tidak mengerang.
Biadab memang, tapi itulah jalan yang ditempuh Lita. Semuanya hanya untuk uang, bukan? Apalagi, menyesal? Sudah terlambat.
*****
Prang!
__ADS_1
Zafran tersentak saat piring yang dipegangnya jatuh dan terpelanting di atas lantai. Jantungnya berdebar-debar, mata memanas, kepala berdenyut. Secara perlahan rasa sedih menghampiri hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Lita? Menyebut namanya, kesedihan langsung saja memenuhi rongga dada.
"Kamu kenapa, Zaf?" tegur salah satu temannya yang melihat Zafran melamun.
"Aku nggak tahu, tiba-tiba aku keingetan sama istri aku di rumah. Apa terjadi sesuatu di rumahku, ya?" jawab Zafran sambil terus menunduk menatap piring yang baru saja jatuh.
"Jangan berpikir yang macam-macam, Bro. Mungkin itu cuma perasaan kamu aja karena kangen sama dia. Udahlah, sebaiknya kita cepat makan," ucap rekannya itu sambil mengajak Zafran untuk mengambil makanan.
"Bener juga, mungkin ini cuma karena aku udah lama nggak liat Lita. Jadi, was-was kayak gini." Zafran berjongkok mengambil piringnya kembali.
*****
Prang!
"Nenek!"
Naina berteriak sambil menangis, anak itu tak sengaja menjatuhkan gelas di tangan saat dia ingin mengambil minum.
"Aduh, Neng, kenapa? Kenapa nggak bilang sama Bibi kalo mau minum?" Pengasuh yang disewa Lita segera berlari dari kamar Ibu.
Wanita paruh baya itu baru saja membaringkan Ibu di kasurnya. Beruntung, Lita menyewa seorang pengasuh yang baik dan perhatian, juga sayang terhadap Naina.
"Maaf, Bi. Nai mau minum, tapi tiba-tiba gelasnya jatoh," rengeknya sambil berderai air mata.
Pengasuh itu memeluknya, mengusap kepala hingga punggung Naina yang berguncang karena takut.
"Udah, nggak apa-apa. Nanti Bibi beresin, sekarang Nai masuk ke kamar, ya. Di sana udah ada air yang Bibi siapin," ucapnya lemah lembut.
Naina bergeming, ia menunduk sedih. Teringat pada Lita yang sudah seharian tak pulang.
"Kenapa?" tanya Pengasuh itu sambil mengusap pipi Naina.
"Nai keingetan Ibu, apa Ibu baik-baik aja, ya? Kenapa Nai sedih, Bi?" tanya Naina.
__ADS_1
Matanya sayu dan basah, kesedihan jelas terpancar di kedua maniknya. Pengasuh itu kembali memeluknya, menenangkan Naina bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun, tidak dengan Lita, dia sedang tidak baik-baik saja. Mereka tak membiarkannya mengambil napas panjang, terus bermain sampai rasa perih mendera bagian intimnya. Tak hanya di sana, seluruh tubuh rasanya remuk redam.