
Termenung sendirian, duduk memeluk lutut sendiri. Bibirnya tak henti meracau. Tubuhnya menggigil hebat, wajah pucat gemetaran dibanjiri air mata. Teringat pada kejadian siang tadi, di mana dia diperiksa Hendra, dokter sekaligus sahabatnya.
****
Di rumah sakit, dia berhadapan dengan Hendra. Saling melihat satu sama lain, melempar tatapan penuh tanya dan rasa penasaran yang tak pernah usai.
Zafran meneguk ludah berkali-kali, melihat wajah Hendra yang tegang dan tatapannya yang tajam membuat tenggorokan Zafran mengering dan seret.
"Ja-jadi, aku sakit apa, Hen?" Zafran memberanikan diri bertanya.
Rasa cemas mulai mengisi hati, perlahan berubah menjadi ketakutan yang berkumpul membentuk awan hitam di hati dan wajahnya. Hendra menghela napas, dia sendiri tidak yakin dengan hasil pemeriksaannya.
"Tunggu hasil dari lab keluar, aku nggak yakin dengan kondisi kamu, Zafran." Hendra menautkan tangan di atas meja.
"Jangan nakut-nakutin aku, Hen. Jujur aja aku sendiri udah takut," ucap Zafran mewanti-wanti.
Lagi-lagi Hendra menghela napas, menunduk sejenak sebelum menatap Zafran kembali.
"Beberapa waktu lalu, ada pasien dari penjara dengan kondisi kayak kamu, tapi dia lebih parah. Buat ngomong aja dia nggak bisa. Sekarang dia ada di ruang isolasi karena kondisinya yang belum stabil," ucap Hendra misterius.
Tubuh Zafran semakin menegang, apakah dia juga akan diisolasi seperti orang yang sedang dibicarakan Hendra.
"Lalu, si-siapa? Dan dia sakit apa?" tanya Zafran semakin kacau.
"Perempuan, aku rasa kamu juga kenal sama dia. Sekarang dia cuma menangis sendirian di ruang isolasi. Mau melihat?" tawar Hendra.
Deg!
Jantung Zafran memburu seketika, berpacu dengan cepat. Hanya teringat pada satu nama yaitu Mala.
"Mala?" gumam Zafran yang berpaling muka dengan gelisah.
__ADS_1
"Kamu bener, dia emang Mala. Aku nggak nyangka mantan pacar kamu itu nekad jadi mucikari. Sekarang dia harus menjalani hukuman, dia menderita Aids, Zafran," sahut Hendra.
Bagai disambar petir di siang bolong, rasanya jiwa Zafran hancur lebur mendengar ucapan Hendra. Berselang, mata dokter itu memicing curiga. Menyelidik Zafran yang hobinya main sana main sini padahal di rumah ada istri yang sempurnanya tiada banding.
"Jangan bilang kamu ...." Hendra menggelengkan kepala tak percaya.
Dokter itu menjatuhkan punggung pada sandaran, membuka kacamatanya sambil mendesah panjang. Zafran menangis, menutup wajahnya penuh sesal.
"Astaghfirullah, Zafran! Kamu emang keterlaluan. Kalo udah kayak gini, gimana!" bentak Hendra bersungut-sungut.
Zafran terus menangis histeris, menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dia benar-benar tertular penyakit itu. Sejak kapan? Tidak ada yang tahu.
Hendra bangkit, menarik tangan Zafran dan memaksanya untuk ikut. Hendra terus menyeret Zafran ke sebuah lorong yang semakin sepi dari manusia. Ruang isolasi.
Hendra menghempaskan tubuh Zafran hingga berdiri di depan sel. Di dalam sana, seorang wanita sedang duduk di kursi roda. Tubuhnya kurus kering, mungkin hanya berbentuk tulang yang dibungkus kulit saja. Wajahnya pucat pasi, ia menatap jendela. Ingin keluar, tapi tak bisa.
"Lihat! Dia Mala, kayak gitu orang yang udah kena Aids, Zafran. Dia nggak bisa ke mana-mana, nggak bisa berhubungan dengan siapa pun," geram Hendra tertahan.
Zafran menangis dan meratap di depan ruangan Mala. Ruangan itu dijaga ketat, tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke sana. Mala mendengar, tapi ia enggan menoleh. Terlalu malu rasanya, hanya air mata saja yang dibiarkan turun menjatuhi pakaiannya.
Zafran frustasi, berbalik menerkam Hendra, tapi segera ditepis oleh dokter tersebut. Tubuh Zafran kembali menjauh, dia berdiri dengan napas memburu dan mata merah menyala.
"Tolong aku, Hen. Kamu harus tolong aku, kamu harus bantu aku sembuh. Aku mau ketemu anak aku, Hendra. Gimana pun caranya aku harus sembuh. Aku harus sembuh," mohon Zafran menatap nanar dokter yang berdiri di depannya.
Hendra bergeming, semua orang tahu jika penyakit tersebut tidak ada obatnya. Untuk itulah kenapa harus bermain-main dengan sembarangan.
"Kamu tahu, Zafran. Semua orang tahu kalo penyakit itu nggak ada obatnya. Itu salah kamu yang nggak bisa nahan diri. Kamu itu udah punya istri, tapi masih aja suka main di luar tanpa tahu kesehatan orang itu. Ini hukuman buat kamu, terima aja. Sekarang kamu mohon ampunan, Zafran. Supaya Tuhan mau berbaik hati sama kamu," ucap Hendra yang menohok hati Zafran.
"Aku juga mau istri sama anak kamu diperiksa."
*****
__ADS_1
Sekarang, menangis pun tiada guna. Semua sudah terjadi dan dia harus menerima. Tinggal meratapi diri sendiri, berserah pada Yang Kuasa dan memohon ampunan dari-Nya.
Zafran meremas rambutnya sendiri, menjatuhkan kepala tersungkur di atas sajadah di ruanganya. Meski sudah terlambat, tapi ia berharap pintu langit masih terbuka untuknya.
Zafran menangis tergugu sendirian, tak ada yang ingin berteman dengannya lagi. Tak ada yang ingin dekat-dekat dengannya. Semua orang menjauh, merasa jijik terhadapanya. Apapun dia lakukan sendirian, bahkan ketika dia kesulitan tak satu pun ingin membantu.
Apapun yang dipegang Zafran, tak ada yang menyentuhnya. Mereka khawatir akan ikut tertular penyakit itu. Zafran berada di ruangan khusus, sendirian. Terisolasi dari yang lainnya. Ia tak boleh pergi keluar, makanan selalu diantar ke ruangannya.
Yang dia lakukan hanyalah menangis, meratap, dan menyesali semua yang sudah terjadi. Harapan untuk bertemu sang anak pun pupus dari keinginan.
"Aku mau ketemu anak aku, ya Allah. Aku mau ketemu dia. Tolong beri aku kesempatan buat ketemu sama dia, aku juga mau minta maaf sama Seira. Ya Allah, jangan ambil nyawaku sebelum aku menerima maaf darinya. Ya Allah, kumohon, dengarkan aku kali ini aja. Aku mau ketemu anakku, ya Allah," ratap Zafran dalam sujudnya yang tak berkesudahan.
Sepanjang siang dan malam, hanya itu yang dia lakukan. Bersujud dan menangis, menyesali semua tindakan bodohnya.
"Aku mau ketemu anakku, aku mau peluk dia mau cium dia. Aku mau ketemu sama dia." Zafran terus menangis terdengar pilu dan menyayat hati.
****
Uhuk-uhuk!
Di rumah mereka, Rayan yang sedang makan siang tiba-tiba terbatuk hebat.
"Sayang, pelan-pelan makannya. Hati-hati," ucap Seira sambil memberinya minum.
Ia mengurut-ngurut pelan punggungnya menyalurkan rasa nyaman pada dada Rayan yang sesak. Entah apa yang terjadi, Rayan tiba-tiba merasa sesak dan jantungnya berdebar hebat.
"Sakit, Mah," lirihnya dengan suara yang parau.
Seira memeluk dan menciumnya, melihat wajah dan hidungnya yang memerah ia tahu Rayan pasti kesakitan.
"Kakak kenapa? Ada yang ganggu pikiran Kakak?" tanya Fatih yang juga tak tega melihat Rayan kesakitan.
__ADS_1
Bocah itu menggeleng, ia tak merasa ada yang mengganggu, hanya sebuah mimpi tentang seorang laki-laki yang terus menyebut dirinya sebagai ayah kandung Rayan.