
Di lain tempat, di sebuah kontrakan kecil, dua orang wanita bersama satu anak kecil duduk berpangku tangan di ruang depan. Dua orang wanita dewasa itu tengah memperhatikan gadis kecil mereka yang bermain sendirian.
"Perasaan Ibu, kok, Naina nggak besar-besar, ya? Dia juga nggak aktif kayak anak lain, terus ngantukan. Kenapa, ya? Nggak coba kalian periksa aja ke dokter? Takutnya dia sakit," ucap wanita yang lebih tua tak lain adalah Ibu Zafran.
"Aku juga nggak tahu, Bu. Makannya juga kurang, tapi gimana mau ke dokter. Uang aja aku nggak pegang. Ibu tahu nggak, sih, berapa gaji Mas Zafran di perusahaan itu? Masa kita mau tinggal di kontrakan kecil kayak gini aja?" jawab Lita tak sehari pun ia tak mengeluh soal kondisinya.
Beberapa bulan yang lalu, terpaksa mereka harus pindah ke kontrakan kecil itu karena rumah yang tiba-tiba dijual Zafran tanpa pemberitahuan pada mereka. Gudang, sudah tak ada lagi.
Sejak kedatangan orang-orang yang menagih hutang dan merusak hampir separuh dari stok barang di gudang Zafran, perlahan usahanya itu mulai terkikis. Berhutang? Mungkin sudah ratusan juta hutang yang ditanggung Zafran untuk menutupi kebocoran modal usahanya.
"Ibu juga nggak tahu, katanya buat lunasin hutang bekas buka modal dulu. Ya udahlah, lagian sekarang keadaan kita emang lagi kayak gini. Ya udah, yang penting bisa makan," pungkas Ibu seraya beranjak masuk ke kamar yang hanya satu-satunya itu.
Mereka berbagi tempat? Tentu saja tidak. Ruangan kamar itu khusus untuk Ibu, sedangkan Zafran, Lita dan anaknya harus tidur di ruang depan.
Lita menghembuskan napas panjang, diliriknya Naina yang terbaring di atas kasur lantai yang tipis. Dia tertidur?
"Ibu bener, Naina lebih sering tidur sekarang. Mukanya juga pucet, kelihatan lesu padahal nggak pernah main ke luar. Kenapa, ya?" Dia bergumam sendirian.
Mengusap dahi Naina dan mengecupnya.
"Mudah-mudahan Mas Zafran dapet uang hari ini biar bisa bawa Naina periksa," lirihnya penuh harap.
Hembusan napas panjang ia lakukan lagi demi mengurai sesak yang meraja dalam jiwa. Entah sudah yang ke berapa kali? Tapi tetap saja tak membuat hatinya lega.
Sementara di tempat lain, Fatih mengajak Seira ke restoran miliknya. Berniat mengenalkan sang istri pada semua karyawan di sana.
"Kita ke sini lagi, Mas?" tanya Seira disaat mobil berhenti di parkiran restoran.
Fatih tidak menyahut, yang dilakukan laki-laki itu adalah membuka sabuk pengaman Seira dan membukakan pintu untuknya.
"Keluar dulu, nanti juga kamu akan tahu," katanya misterius.
Seira mengulum senyum, Fatih memang selalu punya kejutan untuk membuatnya senang. Ia turun setelah Fatih berdiri di sisi pintu mobil tempatnya duduk. Melangkah bergandengan memasuki restoran.
"Selamat siang, Pak!" sapa resepsionis dengan sopan.
__ADS_1
"Di mana Gilang? Pinta dia dan beberapa orang lainnya di restoran ini untuk datang ke ruang rapat. Aku mau menyampaikan sesuatu!" titah Fatih pada resepsionis tersebut.
"Baik, Pak!" Meski bingung, wanita itu tetap melaksanakan perintah sang majikan.
Seira merajut alis bingung, melirik Fatih dengan ribuan tanya di hati. Ia mengikuti ke mana Fatih melangkah. Restoran itu hampir tak pernah sepi, selalu saja ada pengunjung yang datang untuk mengisi perut mereka.
"Mas. Kita, kok, nggak duduk di meja? Malah masuk ke sini?" tanya Seira bingung sendiri.
Mereka masuk ke sebuah ruangan, di dalamnya ada meja panjang dengan kursi yang berderet di kanan dan kirinya. Seperti ruang rapat, yang disediakan untuk membahas sesuatu yang penting dan darurat.
Fatih mengajak Seira untuk duduk di kursi utama, meski bingung Seira tetap mengambil tempatnya sendiri. Selama ini, ia memang tak pernah tahu pekerjaan Fatih, tapi yang pasti laki-laki itu selalu mengatakan rezeki yang dia beri pasti halaalan thoyyiban.
Pintu ruangan yang terbuka, mengalihkan perhatian Seira dari sikap suaminya yang aneh. Lima orang masuk, satu di antaranya berseragam security. Seira membelalak, saat mengenali salah satunya.
Tubuhnya berdiri karena tersentak kaget, bibirnya berkedut-kedut hendak mengucapakan sesuatu, tapi terhalang dan berat. Hal itu membuat Fatih melirik terkejut, berjengit melihat riak Seira yang termangu.
"Sayang, duduk aja. Nggak usah berdiri kayak gini," bisik Fatih sembari menarik tangan Seira yang masih termangu di tempatnya.
"I-itu, Mas ...."
"Udah, nanti aku kenalin sama mereka. Duduk aja, ya," ucap Fatih tak ingin mendengar penjelasan Seira.
"Bapak manggil kami?" tanya seorang laki-laki yang memakai setelan jas resmi. Mungkin posisinya lebih tinggi dari yang lain.
"Iya, Gilang. Silahkan, duduk!" Fatih menunjuk deretan kursi di sisi kirinya.
Mereka serentak duduk, tetap saja laki-laki yang menjadi perhatian Seira itu tertunduk. Sesekali mencuri pandang pada wanita yang tetap cantik itu lewat ekor matanya.
"Perhatian semuanya, sengaja saya kumpulkan kalian karena ingin memperkenalkan kalian pada istri saya." Fatih menjeda kalimatnya.
Laki-laki itu mendongak, wajahnya memucat karena terkejut. Lalu, ia kembali tertunduk menghindari tatapan tajam Seira.
"Namanya Seira, saya ingin mulai hari ini kalian hormati dia dan layani dia seperti kalian melayani saya. Jangan buat istri saya tersinggung karena senyumnya yang hilang akan berakibat fatal untuk kalian," lanjut Fatih dengan tegas.
Ia menatap satu per satu wajah-wajah karyawan di hadapan, ke semuanya menatap Seira mematri dengan lekat wajah sang nyonya majikan, meneguhkan dalam hati perintah dari pemilik tempat mereka mengais rezeki itu.
__ADS_1
Kecuali satu orang yang berseragam security di sana, terus tertunduk menghindari tatapan dua majikannya.
"Ekhem! Pak Dirman, kenapa terus menunduk? Apa ada masalah di rumah?" tanya Fatih sembari menggenggam jemari Seira di atas pahanya.
Bukan laki-laki yang dipanggil Fatih yang tersentak, tapi Seira. Seolah-olah disadarkan, ia memutuskan pandangan dari laki-laki itu. Melirik Fatih yang beriak tak biasa. Sekilas cemburu dapat dilihat di wajah tampan itu.
Sedari tadi bukannya Fatih tak memperhatikan, ia tahu Seira terus menatap kepala keamanan yang duduk di paling ujung.
"Nggak, Pak. Saya cuma ngerasa nggak sopan aja kalo terus lihatin Bapak sama Ibu," jawabnya menahan getar di lisan.
Seira menunduk, mengepalkan jemari yang digenggam Fatih. Laki-laki itu tanggap, mengurai genggamannya dan menautkan jemari mereka tanpa melirik pada sang istri.
Jantung Seira berdegup tak karuan, sejak kedatangan mereka, ia tak dapat menahan pacuannya. Terus berdentam memukul-mukul rongga dada.
"Oh, iya, iya. Baiklah, untuk hari cukup di sini saja. Ke depannya, perlakukan istri saya sebaik mungkin karena dia juga pemilik restoran ini," pungkas Fatih.
Wajah Seira yang menunduk, segera saja terangkat mendengar kalimat terakhir dari Fatih. Itu artinya restoran ini milik suaminya.
"Baik, Pak."
Fatih mengangkat tangan kanannya mempersilahkan mereka semua beranjak dari tempat duduk.
"Mas?" panggil Seira bergetar setelah kepergian semua orang.
Fatih menoleh, mengangkat jemari mereka yang bertaut dan menempatkannya di bibir.
"Ada apa?"
Seira gugup ketika manik lelaki di hadapannya memancar penuh cinta.
"I-itu ...."
"Mas nggak suka kamu lihat laki-laki lain kayak tadi. Ada apa? Kamu kenal sama dia?" Fatih mengecup punggung tangannya.
"I-itu ... a-aku ...."
__ADS_1
*****
Hallo, hallo lagi, Kakak-kakak semua. Tak bosan author ngucapin terima kasih sama semua yang sudah mendukung Seira. Love you Kakak-kakak semua.