
"Mamah!"
Suara parau Rayan mengalihkan perhatian semua orang, banyak pengunjung yang melihat ke arah anak itu datang. Ia berdiri celingukan mencari Seira, di belakangnya menyusul Biya setengah berlari menghampiri.
"Rayan!"
Zafran tersentak mendengar suara seorang anak kecil, terlebih saat nama Rayan disebut. Nama yang mengingatkannya pada toko kue yang waktu itu dia datangi.
Cepat-cepat kepalanya menoleh, mencari sosok anak yang memanggil sang Mamah. Kedua mata Zafran melebar begitu yang dilihatnya adalah anak yang dia ikuti saat di mal siang tadi.
Itu ... anak itu ... astaga! Jadi, dia ... nggak mungkin!
Hati Zafran menolak kenyataan, ia tak ingin mengakui bahwa anak itu adalah anak dari wanita yang terlanjur dia sebut mandul. Zafran menundukkan pandangan, berharap bocah itu bukan anak Seira.
Wajah Ibu dan Lita bertambah pucat saat melihat wajah anak yang mirip dengan Seira itu.
"Dia ... kenapa mirip banget sama dia?" Lita bergumam lirih, menolak kenyataan bahwa Seira juga wanita sempurna sama seperti dirinya.
"Iya, rasanya nggak mungkin. Dia, kan, mandul," komentar Ibu syok. Ketiganya tak sadar kondisi Naina semakin lemah.
Hati mereka kalut, tak ingin menduga-duga apa yang seharusnya sudah terduga. Itu semua bukan hanya sekedar praduga, tapi benar-benar nyata.
Seira melepas pelukan dan berbalik, bibirnya tersenyum saat melihat Rayan yang berdiri di depan pintu memperhatikan semua pengunjung.
"Sayang! Mamah di sini," jawab Seira sembari mengambil langkah mendekati anaknya.
"Mamah!"
Zafran dan kedua wanita yang bersamanya menahan napas mendengar suara Seira. Jantung mereka menggebu tak terkendali, semuanya berpaling tak ingin melihat.
Lengkap sudah hidup Seira, rona bahagia benar-benar memancar dari wajahnya yang jelita. Ditambah Fatih, laki-laki itu terlihat menyayanginya.
"Rayan bangun terus nyariin Kakak," lapor Biya dengan wajah bantalnya.
Seira mengangguk mengerti, mengusap-usap punggung Rayan yang menjatuhkan kepala di pundaknya.
"Mamah kelamaan, ya, perginya. Maaf, ya, sayang. Mau bobo lagi?" ucap Seira dengan pelan.
Rayan menggelengkan kepala, menunjuk sebuah kursi yang baru saja ditinggalkan pengunjung. Mereka duduk seperti pengunjung yang lainnya, Fatih meminta pelayan mengantar minuman untuk mereka.
"Mas, bukannya itu yang punya restoran ini?" tanya Lita memperhatikan Fatih lekat-lekat.
"I-iya, emangnya kenapa?" Zafran menjawab gugup lantaran senyum Seira terus menggangu pikiran, dan sesekali mata itu tertuju padanya seolah-olah sedang menunjukkan kehidupan yang kini lebih bahagia.
__ADS_1
"Bukannya kamu bilang yang punya restoran ini yang beli rumah kita?" Lita lanjut bertanya.
"I-iya." Ke mana arah pembicaraan Lita, Zafran sudah mengerti.
"Dia bilang beli rumah itu buat calon istrinya, 'kan?"
Zafran kembali mengangguk, dahinya berkerut dalam saat mengingat kenyataan pahit yang menimpa pada hidupnya.
"Kalo dia suami Seira, itu artinya rumah kita buat dia?"
Kali ini Zafran menggeleng, ia pun masih menebak-nebak soal itu.
"Aku nggak terima, Mas. Itu rumah impian aku, kamu harus beli rumah itu lagi. Pokonya harus gimanapun caranya. Aku nggak mau tahu, Mas. Aku nggak rela rumah itu ditempati Seira, aku nggak rela, Mas!" bisik Lita dengan geram.
Rasa kecewa dan putus asa tercetak jelas di wajahnya yang kusam. Semakin kalut perasaannya menerima kenyataan dia telah kalah dari Seira.
"Tapi aku nggak punya uang, pake apa belinya?" Zafran turut berbisik dengan geram.
"Udahlah, Lita. Kamu nggak usah kebakaran jenggot kayak gitu. Zafran itu lagi pusing mikirin hutangnya yang numpuk dan nggak lunas-lunas. Bukannya bantu suami, malah nuntut ini itu," ketus Ibu.
Matanya mendelik saat Lita melirik ke arahnya, mengumpat dalam hati menyadari bahwa Lita menantu yang tidak berguna.
Nyesel aku udah ngusir Sei dari rumah, sekarang coba lihat dia. Hidupnya senang, dia juga nggak mandul. Coba aja Lita nggak sampe kebablasan, pasti sekarang mereka masih sama-sama dan punya anak. Dasar menantu nggak berguna, bisanya cuma nyusahin.
Hatinya menggerutu, kesal sendiri karena sikap Lita yang tak pernah berubah. Rasa sesal perlahan memenuhi rongga dada, menjadikan segumpal daging di dalam sana terasa sesak dan terhimpit.
Harusnya emang dulu aku nggak buru-buru nyerein Sei apalagi ngusir dia dari rumah. Aku nggak tahu kayak apa kehidupannya dulu. Dia nggak bawa apa-apa waktu pergi dari rumah, sekarang dia punya semuanya. Suami yang sayang, harta, juga anak. Astaghfirullah, aku nyesel. Bener-bener nyesel udah usir Sei dari rumah. Aku mau Sei kembali sama aku.
Hati Zafran meringis sedih, makanan di atas meja masih tersisa banyak. Mereka baru saja memakannya sedikit, dan langsung tak berselera.
"Ibu mau pulang aja, udah nggak selera makan di sini," ucap Ibu kesal.
"Iya, aku juga udah nggak mau di sini," sahut Zafran yang sebenarnya, hati tengah terbakar cemburu melihat kemesraan mantan istri dan keluarga kecilnya.
"Tapi sayang makanannya, gimana?" ucap Lita panik.
Makanan itu bukannya murah, dan jarang bisa menikmatinya dengan kondisi mereka yang sekarang.
"Ya udah, kamu pinta pelayan suruh bungkus aja terus bawa ke rumah," titah Zafran tak acuh.
Gengsi? Tapi sayang.
Lita pun akhirnya terpaksa memanggil pelayan, dengan berbisik ia meminta padanya untuk membungkus semua makanan di meja. Pelayan itu mengerti, ia memanggil rekannya untuk membawa semua makanan itu ke dapur dan membungkusnya.
__ADS_1
"Buat apa makanan itu?" tanya Fatih saat mereka melintas di depannya.
"Meja dua puluh lima minta makanan ini dibungkus, Pak," jawabnya menunjukkan makanan yang dibawa.
"Oh." Fatih tak lagi berbicara, diam-diam melirik meja yang dimaksud.
Alisnya saling bertaut satu sama lain saat mengenali siapa yang duduk di sana.
"Apa dia ganggu kamu, sayang?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Zafran yang berpaling pada jendela. Mereka sempat bertatapan beberapa saat tadi.
Seira turut melirik, sedikit heran dengan pertanyaan Fatih tadi.
"Dia? Nggak, kok," jawabnya pelan.
"Emang Kakak tahu siapa mereka?" Biya bertanya penasaran.
"Laki-laki yang di sana mantan bos Pak Dirman, itu artinya dia mantan suami kamu, 'kan?" Fatih menoleh, menatap Seira sambil tersenyum.
Gugup? Tentu saja tidak. Untuk apa? Zafran sudah tak ada lagi di hatinya.
"Iya, Mas bener. Dia emang mantan aku, dan perempuan itu sahabat aku dulu, tapi sekarang aku udah nggak peduli lagi." Seira menegaskan.
Fatih melirik dekapan wanita itu pada tubuh Rayan, seketika saja ia mengerti apa yang sebenarnya ditakuti Seira.
"Kamu nggak usah khawatir, Mas nggak akan biarin siapapun rebut Rayan dari kamu termasuk dia. Dia udah nggak berhak mendapatkan Rayan karena tak sekalipun kasih kalian nafkah. Dia anak kita," tegas Fatih sambil mengusap rambut Rayan yang tertidur di pangkuan Seira.
Terharu Seira mendengarnya, ia mengangguk seraya meraih tangan Fatih dan menciumnya.
"Makasih, Mas. Aku percaya sama Mas," ucapnya bergetar.
"Aku juga nggak akan sudi ponakan aku diambil sama dia. Laki-laki bejat nggak bertanggungjawab," geram Biya sambil memukulkan kepalan tangan pada telapaknya.
Hati Seira menghangat, sedikit lega karena orang-orang yang bersamanya saat ini begitu peduli dan amat menyayangi Rayan. Rasa percaya diri semakin kokoh di hatinya, ia harus membuktikan pada mereka bahwa wanita yang dulu mereka hina dan rendahkan kini hidup dengan baik dan bahagia.
Bahwa wanita yang dulu mereka anggap mandul, kini telah menjadi wanita sempurna. Mengandung dan melahirkan seorang anak yang sehat lagi ceria.
Para pelayan memberikan apa yang diminta Lita, mereka beranjak setelah membayar. Ketar-ketir dompet Zafran, tapi ia sedikit lega karena hari itu baru saja dapat rezeki nomplok yang tak terduga.
Langkah mereka terburu-buru menuju jalanan, tak ada mobil yang mengantar mereka pulang dan pergi. Tak ada kendaraan apapun yang menunjang perjalanan mereka.
Namun, langkah mereka seketika saja terhenti, saat seseorang berdiri di depan pintu menghadang.
"Kita ketemu lagi, Pak, Bu."
__ADS_1
*****
Terima kasih atas semua dukungan yang Kakak-kakak berikan. Salam sayang.