Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Permohonan Gadis Kecil


__ADS_3

Sore itu, guntur menggelegar memenuhi jagat. Petir di langit menyambar berkilat-kilat, butiran air turun dengan deras menimpa bumi. Genangan-genangan tercipta, terciprat ke mana-mana saat ban kendaraan melintasi.


Orang-orang berteduh di pinggiran toko, di warung-warung, di depan minimarket. Anak-anak kecil, remaja bahkan orang dewasa berlomba-lomba menjajakan payung untuk siapa saja yang membutuhkan jasa mereka.


Kerasnya hidup di kota besar, orang kecil harus rela kebasahan demi rupiah yang tak seberapa jumlahnya. Di antara mereka, ada sesosok tubuh kecil berlari di bawah hujan. Kaki mungilnya berpacu dengan cepat, sesekali akan terpeleset ketika melewati jalanan licin.


Namun, dengan gigihnya dia kembali berdiri, dan berlari lagi meski petir terus menyambar kian kemari. Tubuhnya terlihat kotor karena dia terjatuh di atas lumpur. Tanah merah yang tersiram hujan menyulitkan kaki kecilnya untuk segara tiba di tempat tujuan.


Gadis kecil itu berdiri tak jauh dari sebuah bangunan, napasnya memburu berat, air mata dan keringat habis tersapu air dari langit. Ia melambatkan langkah, berjalan setapak demi setapak mendekati bangunan tersebut. Setengah pintunya tertutup, mungkin karena hujan lebat terjadi.


Air sungai dan parit-parit meluap, menghanyutkan tumpukan sampah, berkumpul membentuk banjir kecil karena jalannya terhalang.


Dia berdiri di depan toko kue Seira, air mata luruh bercampur air hujan saat mengingat kondisi ibunya di rumah. Ia semakin dekat, semakin dekat hingga berdiri di dekat etalase toko. Kepalanya melongo ke dalam, khawatir diusir wanita tua itu seperti kemarin.


"Ibu! Bu, Nai datang mau memohon sama Ibu," ucapnya lirih disusul isak tangis pilu yang bergetar.


Dia tahu mereka semua ada di dalam, terdengar suara tawa Rayan dan Rani juga suara Fatih yang sedang bercerita.


"Ibu!" Dia berteriak memanggil Seira.


Bersambut gemuruh petir dan guntur yang menyamarkan suaranya.


"Tolong maafin kesalahan ibu Nai, Bu." Suara tangis Naina semakin histeris. Membuat hati siapa saja yang mendengar serasa teriris.


Penjaga toko yang melihat buru-buru mendatangi tempat Seira berkumpul dan memberitahu perihal Naina yang sedang menangis di depan toko.


"Apa?" Seira tersentak, gegas ia menyerahkan Fathiya pada papahnya dan berlari keluar.


Wanita itu terhenyak melihat Naina yang menangis tertunduk dengan tubuhnya yang membungkuk dan menggigil.

__ADS_1


"Naina?"


Gadis kecil itu mendongak ketika mendengar suara Seira. Air matanya menjadi bukti betapa ia sedang bersedih hati. Bibirnya yang pucat gemetaran, pelan menangkupkan kedua tangan yang bergetar di depan dada. Naina menjatuhkan diri bersimpuh di depan toko.


"Bu, tolong maafin ibu Nai. Ampuni kalo Ibu punya salah, Nai nggak mau kehilangan Ibu. Nai nggak mau Ibu ninggalin Nai. Tolong maafin ibu Nai, Bu." Naina memohon dengan air mata berderai deras.


Suaranya bergetar menambah pilu pada hati siapa saja yang mendengar. Seira terhenyak, segera berlari mendatangi gadis kecil itu dan memeluknya.


"Tolong maafin ibu Nai, Bu. Udah beberapa hari ini Ibu nggak mau makan, badannya juga panas. Ibu nggak berhenti minta maaf sama Ibu Seira. Ibu terus minta maaf, cuma itu yang keluar dari mulut Ibu. Nai mohon, Bu. Maafin Ibu."


Naina menangis, mengiba dalam pelukan Seira. Mendengar rintihannya, wanita itu tidak tega. Ia menitikan air mata, mengeratkan pelukannya pada tubuh kecil yang menggigil itu.


"Nai nggak tahu kesalahan apa yang udah Ibu buat, tapi Nai nggak mau kehilangan Ibu. Nai nggak mau Ibu ninggalin Nai. Mungkin kalo Ibu terima maafnya, ibu Nai mau makan dan sehat lagi. Maafin Ibu, maafin Ibu."


Tangis gadis kecil itu semakin menjadi membayangkan dia harus berjuang sendirian tanpa Lita. Kehidupan di dunia ini teramat keras baginya, ia tak tahu apa yang sudah dilakukan kedua orang tuannya hingga hidup memberinya ujian sebegitu berat.


Seira melepaskan pelukan, menangkup kedua tangan Naina seraya mengecupnya. Anak di hadapannya itu tidaklah bersalah, tapi dia harus menanggung hukuman atas apa yang dilakukan mereka.


"Denger, udah lama sekali Ibu udah maafin dia. Ibu nggak benci sama ibu Nai, apalagi dendam. Nggak. Jadi, nanti Nai bilang sama Ibu kalo Seira udah maafin semuanya." Seira tersenyum, tapi air masih menggenang di pelupuk mata.


Apa Lita bener-bener sakit, atau ini cuma trik supaya dia nggak berhadapan sama aku.


Naina menatap nanar manik teduh itu, rasa ragu jelas masih terlihat di pancaran matanya. Seira mengusap air mata yang terus menjatuhi pipinya, mengusap kedua lengan kecil itu dan meremasnya pelan.


"Ibu nggak boong, 'kan? Apa Ibu bisa datang ke rumah buat jenguk ibu Nai? Ibu bisa lihat sendiri keadaannya," ucapnya dengan sisa isak tangis yang masih terdengar pilu.


Seira kembali tersenyum, sekali lagi mengusap pipinya yang basah oleh air mata juga air hujan.


"Buat apa Ibu boong. Nai juga tahu, kan, boong itu dosa?"

__ADS_1


Naina mengangguk pelan, perlahan hatinya menghangat karena sikap Seira yang ramah lagi keibuan.


"Makasih, Nai mau pulang sekarang," ucapnya sambil tersenyum.


"Eh? Nggak sekarang, di luar masih hujan deras. Tunggu di sini dulu, sampe hujan reda. Baju kamu basah, harus ganti. Kalo nggak nanti kamu masuk angin." Seira mencegahnya, membawanya masuk ke dalam, tapi Naina tak beranjak.


"Kenapa?" Seira menoleh padanya.


"Nanti lantai toko Ibu basah semua," katanya sedih.


"Nggak apa-apa, Kakak yang di sini lagi beli baju ganti buat Nai. Masuk dulu, ya," ucapnya yang diangguki Naina.


Fatih dan yang lain melihat semuanya, meski mereka tidak berada di sana. Kedua anak itu terlalu takut dengan suara petir, dan juga di tangannya ada seorang bayi kecil yang tak bisa mendengar suara keras.


Naina melangkah pelan, bergetar seluruh tubuhnya. Kedua tangannya mengepal berharap sedikit kehangatan akan ia dapatkan. Nyatanya, rasa dingin itu tetap ia rasakan. Sama sekali tidak menghantarkan kehangatan.


Tarikan tangan Naina menghentikan langkah Seira, baru saja keduanya hendak memasuki pintu belakang di mana kamar mandi berada. Sosok Bi Sari yang berdiri tak jauh dari pintu tersebut, membuat Naina ketakutan.


Gadis kecil itu menyembunyikan dirinya di balik tubuh Seira, menunduk tak berani bersitatap dengan manik tua di sana. Tangan yang digenggam Seira semakin terasa getarannya, ia tahu sikap Bi Sari kemarin membekas pada ingatan, meninggalkan rasa takut di hati kecil itu.


Seira berbalik, berjongkok di hadapan Naina. Ia melirik Bi Sari yang bergeming di sana. Tidak melakukan apapun selain menatap Naina.


"Kenapa?" tanya Seira pelan.


"Nai, takut, Bu," jawabnya lirih dan terbata.


"Nggak apa-apa, nggak usah takut. Ayo!"


Naina menggeleng, tubuh kecilnya terlonjak saat bunyi ketukan langkah menggema di telinga. Nai menahan napas, matanya membelalak karena takut. Seperti seseorang yang sedang melihat sosok hantu menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2