Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Anak Tetaplah Anak


__ADS_3

Lita benar-benar tak mengindahkan keinginan anaknya. Dia terus melenggang pergi meninggalkan kontrakan tempat tinggal mereka. Meninggalkan Naina yang bersedih dan merasa kesepian.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam telah menunggunya di pinggir jalan raya. Dari balik kacamata hitam, seorang laki-laki paruh baya tersenyum padanya. Dalam beberapa Minggu dia sudah berkencan dengan beberapa laki-laki kesepian.


Seperti sebelum-sebelumnya, mereka pergi ke sebuah hotel berbintang sesuai yang dijanjikan. Demi uang, apapun akan dia lakukan. Yang penting, uang.


Lita dan laki-laki tadi memasuki hotel tanpa sengaja berpapasan dengan seseorang.


"Tunggu, kayaknya aku kenal sama orang itu. Siapa, ya?" Dia bergumam sambil berpikir.


Seketika tersenyum sinis, matanya memicing tajam. Dia sangat mengenal laki-laki yang bersama Lita itu.


"Kena kamu. Apa Zafran udah nggak bisa nafkahin kamu sampai-sampai kamu harus rela kencan sama laki-laki tua kayak gitu." Dia mencibir.


Matanya berbinar seketika disaat sebuah ide muncul.


"Mampus kamu! Sekalian aja aku hancurin hidup kamu!" kecamnya seraya mengambil langkah pergi ke suatu tempat.


Lita tak tahu, jika sesuatu tengah mengintainya. Mereka masuk ke sebuah kamar, dan tanpa basa-basi melancarkan aksi terlarang yang beberapa pekan ini digeluti Lita.


Sementara di tempat lain, di dalam sel sana. Zafran duduk lesu di sudut ruangan. Baru saja dia dan rekan-rekan selnya melakukan kerja bakti. Biasanya di akhir pekan, mereka akan dikunjungi sanak saudara. Akan tetapi, sudah beberapa Minggu berlalu, Lita tak kunjung mendatangi lapas di mana Zafran dipenjara.


"Ya Allah, apa udah nggak ada yang peduli lagi sama aku? Kenapa Lita nggak pernah dateng? Aku juga mau tahu gimana kabar Ibu? Naina ... anak itu nggak ada salah, tapi aku udah jahat banget sama dia," ucap Zafran pada dirinya sendiri.


Lagi-lagi bayangan Seira yang menangis saat dia mengusirnya kembali melintas dan menjadi penyesalan terdalamnya. Jika saja, seandainya, umpama, misalnya ... ah, semua itu sudah terlambat.


Andai memupuk kata andai pun, Seira tak akan pernah kembali lagi padanya. Untuk selamanya.


"Maafin aku, Sei. Di mana pun kamu berada, semoga kebahagiaan menyertai kamu. Maaf karena aku udah ingkar janji sama kamu, sama Ibu kamu. Aku berdosa." Air mata kembali jatuh membasahi pipi.


Ia menyugar rambut gelisah, kembali teringat akan sikapnya yang begitu keras pada Naina. Selama di penjara, Zafran kerap mendapat bimbingan rohani dari seorang ustadz yang sengaja diundang untuk memberikan pelajaran keagamaan.


"Ya Allah, maafkan aku. Naina ... maafin Ayah, Nak. Maafin Ayah." Zafran membenamkan kepalanya pada kedua lutut. Terisak pilu menyadari kesalahannya terhadap gadis kecil itu.


Sungguh dia ingin Lita datang dan membawa Naina. Sayang, perempuan itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya di penjara.

__ADS_1


"Hei, Zafran. Emang kamu nggak punya keluarga? Kok, aku nggak pernah dengar ada yang jenguk kamu?" tanya seorang teman yang melihat Zafran terus meringkuk di pojokan.


Laki-laki menyedihkan itu menghentikan tangisnya, ia mendongak menatap langit-langit ruangan. Pertanyaan seperti tadi kerap ia dapatkan dari rekan-rekan di sel tersebut.


"Aku nggak tahu, apa aku masih punya keluarga? Istriku, anakku, ibuku, aku nggak tahu gimana kabar mereka?" lirih Zafran pilu.


Kedua tangan memeluk lutut, kepala bersandar di dinding sel, helaan napas terdengar berat dan lelah. Jakunnya naik dan turun dengan lambat, dia terlihat menyedihkan.


Sebuah tepukan di bahu menyentak lamunan Zafran. Ia memejamkan mata tanpa beranjak dari posisinya semula.


"Sabar, Bro. Mungkin mereka juga bukannya nggak kangen sama kamu, tapi belum nemu waktu yang pas aja buat datang. Berpikir positif aja, ya," ucapnya menenangkan Zafran.


Kepala laki-laki itu menoleh, menyematkan senyum meski terpaksa, menghibur hatinya yang gundah gulana.


"Makasih, ya."


Beruntung, dia memiliki rekan yang baik di dalam sel tersebut. Mungkin itu imbalan dari setiap kebaikan yang pernah dia lakukan di dalam hidup.


Meninggalkan Zafran dengan beribu penyesalannya. Di rumahnya, Seira dan Fatih mengadakan acara syukuran sederhana. Mereka mengundang anak yatim-piatu untuk makan bersama dan menerima santunan dari Ibu. Yah, acara digelar oleh Ibu yang antusias menyambut kehamilan Seira. Cucu pertamanya.


"Terima kasih sudah datang. Doakan semoga anak yang dikandung Ibu Sei menjadi anak yang sholeh sholehah, taat pada agama, dan mencintai negara. Aamiin!"


Makanan sederhana, dikerjakan bersama-sama tetangga. Semua terkena dampak dari rasa bahagia yang didapatkan oleh keluarga itu. Sebagai tanda syukur pada Yang Maha Kuasa atas nikmat yang melimpah di permukaan bumi ini.


Anak-anak terlihat senang, Rayan mudah sekali beradaptasi dengan mereka. Bermain bersama bahkan makan pun bersama-sama. Hal itu membuat Seira turut bahagia, tak perlu cemas akan masa depan yang belum pasti terjadi. Syukuri saja apa yang didapatkan hari ini.


"Mamah! Mamah!" Rayan datang berlari dengan wajahnya yang memerah.


"Kenapa, sayang? Kenapa, kok, lari-lari?" tanya Seira yang tengah asik memperhatikan semua orang.


"Teman-teman bilang katanya Rayan mau punya adik, ya? Benar, Mah?" tanyanya tak sabar mendengar jawaban dari Seira.


"Lho, Kakak mau punya adik, nggak?" Fatih muncul sambil berjongkok di hadapannya.


"Mau, pasti adik Rayan cantik dan ganteng, tapi ...." Rayan tertunduk, binar di matanya hilang entah ke mana. Senyum yang diukirnya raib berganti sendu yang mengurung wajah tampan itu.

__ADS_1


Seira dan Fatih saling menoleh, ada sesuatu yang terjadi dan mereka tidak mengetahuinya.


"Tapi apa, sayang?" tanya Fatih sambil mengangkat dagu Rayan menggunakan telunjuknya.


Mata sendu bocah itu menatap mereka berdua bergantian, ada kecemasan yang terpancar di sana. Juga rasa takut yang mendominasi.


"Katanya temen Rayan, kalo ada adik nanti Rayan nggak disayang lagi kayak dia. Rayan nggak mau, Rayan sayang sama Mamah, sama Papah, juga sama Adik." Bergetar lidahnya mengatakan itu.


Seira melirik Fatih, ia pun mencemaskan hal yang sama mengingat Rayan hanyalah anak sambungnya saja. Berbeda dengan janin yang kini ada di kandungannya.


Namun, selanjutnya sikap Fatih, membuat Seira sedikit lega. Laki-laki itu mengusap kedua bahu Rayan, menariknya dalam pelukan untuk mengusir semua pikiran-pikiran buruk yang tertanam tanpa dia sadari itu. Beberapa saat saja, tapi membuat hati Rayan merasa lega.


"Jangan dengerin omongan orang, Rayan itu anak Papah juga. Papah akan tetep sayang sama Rayan. Kalo nanti ada Adik, Papah punya dua harta berharga yang harus Papah jaga dan Papah sayangi. Rayan sama Adik. Coba, Papah mau tahu Rayan udah punya nama belum buat Adik nanti?" ucap Fatih sembari menatap manik anak itu.


Bocah itu mengangguk tegas.


"Siapa?"


"Rahasia, nanti aja kalo Adik udah keluar. Boleh Rayan yang kasih nama?" pintanya yang kembali tersenyum.


Mereka mengangguk dalam hati meringis cemas, nama apa yang disiapkan bocah itu untuk adiknya. Seira menoleh pada Fatih, ia menyandarkan kepala di bahunya, menatap Rayan yang kembali berlari menghampiri teman-temannya.


"Makasih, Mas. Aku harap kamu nggak beda-bedain mereka setelah anak kita lahir nanti," ucap Seira penuh harap.


"Insya Allah, nggak, sayang. Yang namanya anak tetap anak, yang harus kita jaga, kita rawat, kita sayangi. Nggak peduli statusnya apa, kandung atau bukan, mereka tetap anak."


Kalimat yang terlontar dari bibir suaminya membuat hati Seira menghangat. Bertambah rasa syukur di hati, betapa ia bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.


*****


Brak!


"Dasar, J*l*ng!"


(Cuplikan).

__ADS_1


*****


Hallo, kakak-kakak semua. Nggak bosan author mengucapakan banyak terimakasih atas semua dukungan yang diberikan. Salam hangat.


__ADS_2