
Wanita di kursi roda itu bergetar melihat Seira yang tengah menemani keluarganya memberikan santunan pada semua anak yang berbaris tertib.
"Aku malu ada di sini, Bu. Kita pulang aja, ya," ucap Lita seketika gelisah melanda hatinya.
Sungguh ia tak menduga jika pemilik toko kue tersebut adalah wanita yang dulu dia rebut kehidupannya. Namun, Ibu seperti menolak, kepalanya menggeleng pelan dengan air mata yang berjatuhan.
Lita harus rela menahan gejolak rasa yang membuncah, malu-lah yang mendominasi. Malu karena dosa-dosa masa lalu yang pernah dia perbuat. Sementara wanita di sana, bersikap biasa saja bahkan tersenyum sepanjang acara.
Seira mengusap kepala anak-anak itu sambil bersalaman dengan mereka. Setiap orang memberikan apa yang harus dibawa anak-anak itu. Di urutan paling akhir, gadis kecil dengan pakaiannya yang kusam berjalan tertunduk.
Seira yang melihat dan berjongkok di sampingnya, seraya mengusap tangan kecil itu.
"Hallo, siapa nama anak cantik ini?" tanyanya sambil tersenyum menatap Naina.
Gadis kecil itu mengangkat wajah, menatap pada kedua manik Seira yang berbinar. Wanita di hadapannya sangat cantik dan baik hati pula. Tanpa terasa hati kecilnya mengangumi sosok Seira.
"Apa Ibu yang punya toko ini?" Naina balas bertanya.
Seira mengangguk tanpa menjawabnya dengan kata menunggu jawaban dari pertanyaan yang dia ajukan.
"Namaku Naina, Bu. Terima kasih karena Ibu udah baik banget sama Nai. Berkat bantuan Ibu, Nai nggak lagi kekurangan, dan Nenek bisa berobat. Boleh Nai peluk Ibu?" pinta anak itu.
Seira tersenyum, tercenung mendengar penuturan katanya yang begitu teratur. Dia masih sangat kecil usianya beberapa bulan di atas Rayan. Tanpa segan Seira menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukan, mengusap punggungnya dengan pelan sebelum melepaskannya lagi.
Air mata Lita jatuh dengan sendirinya, menyaksikan betapa wanita itu masih sama seperti dulu. Baik hati dan suka menolong.
"Aku malu sama Sei. Malu banget, ya Allah." Lita tergugu sambil menunduk.
Kedua tangannya yang memegang kursi roda itu menguat, menahan gejolak yang meluap-luap ke permukaan. Ibu pun merasakan hal yang sama, terlebih saat melihat Rayan yang tumbuh dengan baik. Wajahnya mirip sekali dengan Zafran, terbesit keinginan untuk memeluk dan mencium anak itu, tapi benar kata Lita terlalu malu.
Seira melepas pelukan memandang wajah tak berdosa Naina yang berbinar.
"Terima kasih, Bu. Ibu sama Nenek juga pengen banget ketemu sama Ibu. Lihat, mereka ada di sana nyusulin aku. Katanya mereka mau tahu siapa yang punya toko kue ini," cerocos anak itu sambil menunjuk Lita dan Ibu.
__ADS_1
Seira mengangkat pandangan, matanya bertemu dengan manik tua Ibu yang basah sepanjang menyaksikan acara santunan tersebut. Seira tersenyum, menyapa sekali lagi lewat anggukan kepala.
Ia kembali menatap Naina, menilik wajah yang tak serupa dengan ibu dan ayahnya itu.
"Kenapa nggak diajak sekalian ke sini? Kumpul bareng-bareng di sini," ucap Seira dengan segala kelapangan hatinya.
Naina menoleh pada kedua wanita itu, melihat Lita yang menunduk dan Ibu yang terus menangis.
"Nggak tahu, Bu." Naina menjawab seadanya.
Ia beranjak dan kembali mendekati Fatih, meletakkan Fathiya ke dalam kereta bayinya.
"Sayang, bukannya itu mantan mertua kamu?" bisik Fatih setelah memberikan bingkisan pada Naina, gadis terakhir yang menerima santunan.
"Iya, kata anaknya mereka pengen tahu siapa yang punya toko ini," jawab Seira.
Fatih menatap tajam pada wanita yang menunduk di belakang kursi roda itu. Dia penyebab hidup Seira hancur berantakan. Benih dari derita yang harus dijalani sang istri, tapi Fatih juga berterimakasih padanya. Berkat apa yang dia lakukan dulu, dia akhirnya bisa menemukan cinta sejati.
Naina berlari dengan segera ke arah nenek dan ibunya. Memberikan apa yang didapatnya pada mereka dan dengan riang mengatakan bahwa Seira memintanya untuk datang menemui. Namun, Lita ragu, lagipula dia malu.
Ia mengangkat pandangan melihat orang-orang di sana masuk ke dalam setelah kepulangan semua orang.
"Kamu harus istirahat, sayang. Kelihatannya kamu capek," ucap Fatih seraya mengajaknya untuk masuk ke dalam menyusul semua orang.
"Seira!"
Baru beberapa langkah kakinya berayun, sebuah suara memanggil namanya. Ia tertegun begitu mengenali milik siapa suara itu, lantas berbalik dan mengernyit saat melihat Lita berdiri tertunduk di depan toko.
Seira mengalihkan pandangan pada Fatih ketika tangan laki-laki itu menyentuh pundaknya. Ia tersenyum, mengangguk meyakinkan sang suami bahwa dia baik-baik saja.
"Mas, bawa masuk Fathiya, ya. Mungkin ada yang mau dia bicarakan," pintanya pada Fatih.
"Tapi ...."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mas. Aku nggak apa-apa," sela Seira saat menangkap keragu-raguan di wajah tampan suaminya.
Perlahan Fatih mengambil alih kereta bayi Fathiya, melirik tajam pada dua wanita yang tak tahu malu di sana sebelum mendorong masuk ke dalam. Bi Sari yang merasa cemas melihat kedatangan mereka, bergegas mendatangi tempat di mana Seira berada.
Wajahnya mengeras, kobaran api kemarahan tak dapat disembunyikannya. Mata yang biasa teduh saat memandang itu, kini tampak merah menyala. Dia masih merasa sakit hati dengan perbuatan mereka, terutama wanita tua di kursi roda itu.
"Mau apa kalian datang ke sini? Apa nggak cukup kalian udah buat hidup Non Sei menderita, hah? Pergi, kalian! Pergi! Jangan pernah muncul di hadapan kami!" usir Bi Sari yang meradang. Tangannya menuding lurus pada jalanan tak menerima kehadiran mereka.
Seira mengusap-usap punggungnya yang bergetar karena amarah, air mata Bi Sari bahkan jatuh teringat perbuatan mereka di masa lalu. Amat menyakitkan, terlebih saat mengingat Seira terlihat putus asa bahkan memilih ingin mati menyusul kedua orang tuanya. Bi Sari benar-benar tidak terima dengan itu semua.
Mang Udin di dalam sana, merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan wanita tua itu. Sama marahnya, sama kecewanya, mereka saksi hidup bagaimana perjuangan Seira untuk dapat bangkit dari rasa sakit.
Berbeda dengan istri Jago, meski dia tidak melihat seperti apa rekayasa perbuatan mereka, tapi dia sama marahnya. Jika saja Jago tidak menahannya, mungkin dia sudah berlari melabrak mereka.
"Kenapa kalian masih berdiri di sini? Cepat pergi!" usir Bi Sari lagi dengan air yang terus berjatuhan dari pelupuk.
Fatih bisa melihat ketulusan pada diri wanita tua itu, kasih sayang yang besar terhadap istrinya, juga kepedulian akan semua rasa sakit yang pernah dialaminya. Ia bersyukur Seira memiliki wanita itu di sisinya, jika tidak mungkin tak akan ada pertemuan di antara mereka.
"Ibu!"
Naina memeluk kaki Lita ketakutan, dia tak tahu apa yang sudah terjadi di antara mereka, tapi melihat wajah Bi Sari dan mendengar teriakannya dia tahu pasti ada masalah di antara ibu dan wanita tua itu.
"Udah, Bi. Ada anak kecil di sini, nggak baik bentak-bentak kayak gini," bisik Seira sambil mengusap-usap punggung Bi Sari menenangkan.
Ketegangan di wajahnya tak mengendur, kali ini telinga Bi Sari tertutup untuk mendengar ucapan Seira.
"Maaf ... maafin kami, Sei-"
"Maaf kalian nggak diterima. Pergi!" sela Bi Sari dengan cepat.
Lantas, ia menarik Seira untuk masuk ke dalam tanpa peduli padanya yang ingin mendengarkan ucapan mereka.
Baru kali ini dalam seumur hidup Seira melihat Bi Sari yang murka.
__ADS_1