
Masih di ruang kerja Fatih, mereka duduk di sofa sambil melihat-lihat semua foto yang ditemukan Seira. Fatih juga menyimpan foto orang tua Seira, sedangkan miliknya tak sempat ia selamatkan dari rumah Zafran.
"Mas, aku lupa taman ini di mana, ya?" tanya Seira menunjukkan foto mereka yang berada di sebuah taman tak asing, tapi Seira belum bisa mengingatnya.
"Kamu beneran nggak inget?"
Seira menggelengkan kepala, mengingat-ingat semua membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Itu ada di belakang rumah Ibu, tapi udah lama ditutup karena Mas nggak bisa nemuin kamu," ujar Fatih membuat Seira menoleh padanya.
Laki-laki itu memeluk pinggang sang istri dengan erat, rasa yang sudah hadir semakin bertambah besar setelah semua rahasia terbongkar.
"Oya, pantes aja pintunya nggak bisa kebuka." Seira cemberut.
Fatih mendekapnya dan menciumi tengkuk sang istri.
"Nanti Mas buka lagi, waktu itu Mas takut kamu cemburu sama masa lalu karena Mas nggak berpikir dia itu kamu. Kenapa berbeda sekali, kamu semakin cantik setelah bertahun-tahun kita nggak ketemu," katanya sekali lagi menyesap leher Seira dari balik hijab yang dikenakan.
Wanita itu tertawa geli, tapi senang bukan main. Sungguh, takdir itu tak ada yang tahu. Dia yang lupa pada semua kejadian dulu, sekarang diingatkan kembali oleh sebuah penemuan yang tak pernah diduga.
"Iya, seandainya itu bukan aku, pasti aku cemburu, Mas." Seira tersipu.
Dekapan Fatih di tubuhnya terasa hangat dan menyenangkan. Entah seperti apa kehidupan mereka di masa kecil dulu, Seira belum mengingatnya secara tuntas.
"Kamu bener, tapi Mas lega karena akhirnya ...." Fatih semakin mengeratkan dekapannya. Tak ingin terpisah meski hanya satu menit saja.
"Kamu tahu, sayang? Sewaktu Ayah memutuskan untuk pindah ke luar negeri, Mas berjanji sama diri sendiri. Begitu kembali ke sini, yang pertama Mas lakukan adalah mendatangi kamu dan waktu itu Mas mau langsung nikahin kamu aja, tapi waktu Mas datangin rumah kamu, ternyata kosong. Kata tetangga di sana, kamu udah pindah."
Fatih menghela napas, mengingat kala itu dia mencari keberadaan Seira di setiap sudut kota Jakarta. Wanita itu diam mendengarkan.
"Terus, Mas datangi rumah yang dikasih tahu seseorang, tapi ternyata udah dijual dan katanya kamu udah nikah terus ikut sama suami kamu." Hati Fatih serasa tercubit.
__ADS_1
"Tapi Mas nggak percaya gitu aja, Mas cari lagi ... eh, ketemu sama perempuan ini di jalan. Pantes aja hati Mas waktu itu nggak bisa berhenti mikirin kamu. Ternyata kamu yang Mas cari," tandasnya diakhiri dengan sebuah kecupan di tengkuk Seira.
"Maaf, ya, Mas. Aku benar-benar nggak inget sama kamu. Pantes aja waktu itu, Ibu kayak ragu buat nerima lamaran Mas Zafran. Mungkin Ibu lagi nunggu Mas, tapi nggak mau aku sakit lagi." Seira menoleh pada suaminya itu.
Tatapan matanya penuh rasa sesal karena ia melupakan Fatih begitu saja.
"Oya, kenapa kamu bisa lupa dan sakit apa?" tanya Fatih kemudian.
Seira menghela napas, sebelum berbalik menatap foto kedua orang tua mereka.
"Aku kecelakaan, dan Ayah meninggal saat itu juga. Aku koma selama tiga hari dan dinyatakan hilang ingatan, aku lupa masa kecil aku. Maaf, ya, Mas. Aku bener-bener nggak inget," ungkapnya sembari balas memeluk Fatih.
Bibir laki-laki itu tersenyum, memaklumi semua yang telah terjadi. Lagipula, sekarang mereka sudah bersama dan telah dikaruniai seorang putri yang cantik. Apa lagi? Masa lalu ada bukan untuk diratapi ataupun disesali, tapi untuk diambil hikmah dan pelajarannya.
"Nggak apa-apa, Mas nggak nyalahin kamu, kok. Mungkin ini udah jadi takdir kita harus berpisah dulu, setelah itu bertemu untuk saling melengkapi satu sama lain." Fatih kembali tersenyum. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tiada tara, mata teduh itu menatap Seira penuh cinta.
"Kamu mau tahu lagi, waktu aku kasih lihat foto kamu sama Ibu, Ibu bilang 'ya udah, kamu tunggu apa lagi? Nanti keburu diambil orang, baru tahu rasa,' kejam, ya, Ibu. Doain aku begitu," katanya, tapi tak ada rasa kesal yang terlihat.
"Itu karena Ibu nggak mau kamu kehilangan gadis itu untuk yang kedua kalinya. Nggak apa-apa janda, karena Ibu tahu seluk beluk keluarganya. Orang tua Sei sahabat Ibu dan Ayah, nggak mungkin Ibu lepasin gitu aja," sambar suara Ibu yang masuk ke ruangan begitu saja tanpa mengetuk pintu sambil membawa Fathiya yang terbangun dari tidur.
Seira ingin beranjak, tapi tangan Fatih menahannya. Semburat warna merah muncul begitu saja, malu kedapatan bermesraan oleh Ibu.
Fatih menatap Ibu dengan matanya yang lebar, isi pikirannya penuh oleh dugaan-dugaan yang tak pasti tentang Ibu.
"Jadi, selama ini Ibu tahu? Kenapa Ibu nggak bilang?" Fatih cemberut tak senang ibunya merahasiakan itu semua.
Ibu menghela napas, duduk di samping Seira dan menyerahkan bayi itu padanya.
"Emang kamu nggak bisa lihat, wajah istri kamu itu mirip banget sama Ayahnya. Jangan-jangan kamu yang lupa, bukan Sei. Lagian kenapa Ibu nggak bilang sama kamu itu supaya kamu nggak berlarut sama masa lalu, karena Ibu tahu Sei kehilangan ingatan dan Ibu takut kamu akan maksa dia buat inget," ucap Ibu yang dibenarkan benak Fatih.
"Bener juga, ya. Nanti yang ada malah salah faham. Nggak apa-apa, sekarang, kan, udah kebuka semua. Kamu udah inget semuanya?" ucap Fatih sembari bertanya pada istrinya.
__ADS_1
Seira menggeleng, ia benar-benar tak ingat bagian mana saja dari cerita hidupnya yang terlupa.
"Ya udah, nggak apa-apa. Ibu cuma bisa doain semoga kalian bahagia sampai nanti-nanti. Masalah dalam rumah tangga itu hal yang biasa, maka kalian harus bisa menghadapinya secara dewasa. Bicarakan semua permasalahan agar tak ada rahasia di antara kalian. Saling percaya satu sama lain, jujur dan setia. Itulah kunci dari sakinah, mawadah, dan rahmah. Hidup dengan harmonis, di bahwa naungan cinta DIA yang memiliki sifat Alwaduud. Maha Mencintai," tutur Ibu seraya mengecup dahi Fathiya.
"Aamiin. Makasih, Bu," sahut mereka bersama-sama.
****
"Sayang, Mas mau jemput Rayan dan Biya, ya," ucap Fatih saat sore hari tiba.
"Iya, Mas, hati-hati." Seira muncul bersama si kecil Fathiya yang berada dalam gendongan.
"Kamu mau ikut?" tawar laki-laki itu.
"Apa nggak apa-apa?" Seira ragu, pasalnya pagi tadi Fatih tidak mengajaknya.
"Nggak apa-apa, kayaknya ada yang mau minta maaf sama kamu," jawab Fatih teringat pada ibunya Zafran yang menanyakan Seira.
Wanita itu tercenung, berpikir sebentar. Mungkin mantan mertuanya, teringat pada foto-foto yang dikirimkan Fatih padanya. Lalu, ia mengangguk setuju, berpamitan pada Ibu dan Bi Sari untuk pergi menjemput.
Di taman, mereka puas bermain. Naina bahkan mengajari Rayan menulis dan membaca ala kadarnya. Mereka berdua tampak akrab, layaknya dua saudara. Lita sampai di sana lebih dulu, bercengkerama dengan Ibu.
"Te-te-ri-ma ka-sih," ucap Ibu. Mengingat semua pengorbanan Lita yang tak pernah mengeluh saat merawatnya.
"Makasih, Lita. Kamu udah rela berkorban waktu dan tenaga buat rawat Ibu. Aku minta maaf karena udah bersikap egois dan nggak tahu terima kasih sama kamu," ucap Zafran benar-benar menyesali tindakannya waktu itu.
Lita tersenyum, dia terlihat lebih dewasa sekarang.
"Nggak apa-apa, Mas, Ibu. Lagian waktu itu kalo bukan aku yang ngurus Ibu, siapa lagi? Jadi, nggak usah diungkit-ungkit lagi masa lalu. Aku udah lupain semuanya," sahut Lita berlapang dada.
Semuanya bahagia hari itu hingga kedatangan Seira dan Fatih, kembali mengusik masa lalu yang menyakitkan dan penuh dengan rasa sesal.
__ADS_1
"Mamah!"