
"K-kamu-"
"Yah, aku udah lama ngawasin tempat ini sama masyarakat. Bukti-bukti udah aku serahin ke polisi, sekarang kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatan kamu. Sadar dan tobat pada Allah."
Suara Fatih bernada pelan, tapi penuh penekanan. Ia berdiri tegak tampak gagah dan berani, sedangkan Mala tubuhnya tak henti gemetaran. Tangan yang memegang tongkat kayu itu pun tak lagi memiliki tenaga. Dia benar-benar hancur.
"Orang-orang bodoh! Di mana kalian? Kenapa kalian diem aja! Keluar!" Mala berteriak seperti orang kesurupan.
Mencari orang-orang yang bekerja di bawah perintahnya. Tiba-tiba, orang-orang bertubuh besar bermunculan dari dalam bangunan. Mereka berdiri di belakang Mala bersiap menerima perintah darinya.
"Bunuh laki-laki yang di sana!" titah Mala sambil menunjuk Fatih yang bergeming di tempatnya.
Semua warga sontak membeliak mendengar perintah kejam itu. Terlebih Jago, tanpa komando dia berjalan ke depan dan berdiri tegak memunggungi Fatih. Tubuhnya yang lebih besar, membuat beberapa orang suruhan Mala meragu.
"Sebelum itu, tulang kalian yang akan aku remukkan. Maju kalo kalian masih punya nyali!" ucap Jago tanpa rasa takut ataupun ragu.
Fatih terenyuh dengan tindakan berani laki-laki bertubuh besar itu. Punggungnya tegap, tak terlihat bergetar. Kakinya kokoh menapak, dia benar-benar siap.
"Kami juga! Kami nggak akan biarin kalian nyentuh dia!"
Satu per satu warga berdiri di hadapan Fatih. Menjadikan diri mereka benteng untuk melindungi laki-laki itu. Semakin terharu Fatih karenanya.
"Kurang ajar kalian! Bunuh mereka semua!" Mala meradang. Ia putus asa dan terlanjur malu.
Namun, baru saja langkah mereka berayun, suara sirine polisi membuat mereka kalang kabut. Semua berlarian kian kemari mencari tempat untuk melindungi diri dari kejaran polisi.
"Kalian nggak akan bisa ke mana-mana. Tempat ini udah dikepung!" ucap Fatih dengan senyum tersemat di bibir.
"Sialan kamu, Fatih! Awas aja, aku nggak akan pernah maafin kamu! Nggak akan pernah!"
Dor!
Langkah Mala yang hendak menyerang terhenti saat sebuah peluru ditembakkan tepat di depan mata. Rumput dan tanah di hadapannya terangkat, membuat tubuh Mala kaku tak dapat bergerak.
Ia jatuh berdebam. Mata membelalak besar, mulut terbuka lebar. Jantungnya serasa mau lepas dari rongga dada, terus memukul-mukul dengan kuat dan cepat.
__ADS_1
"Tangkap semua orang! Jangan biarkan satupun dari mereka lolos!" perintah sang komandan pada anak buahnya.
"Selamat malam! Dengan saudara Fatih?"
Fatih menganggukkan kepala saat seorang polisi berdiri di hadapannya.
"Bisa ikut kami ke kantor? Anda perlu memberikan keterangan lebih lanjut," pinta pak polisi yang diangguki olehnya.
Satu yang Fatih tak sadari kehadiran beberapa reporter televisi yang meliput kericuhan tersebut. Ia dan Jago pergi membuntuti mobil polisi yang membawa Mala serta semua orang yang terlibat pekerjaan kotor itu.
Mala yang syok, termangu di dalam mobil, air mata terus turun, meratapi kesialan nasibnya hari itu. Ia berada di mobil berbeda, mobil khusus dengan penjagaan yang ketat.
*****
"Jago. Makasih, ya, kamu udah temenin aku sampai tuntas," ucap Fatih sepulangnya mereka dari kantor polisi.
Mereka telah berada di depan restoran meski subuh hampir datang menjelang. Sepertinya acara ziarah akan dibatalkan Fatih, mengingat dia harus beristirahat setelah melakukan hal besar itu.
"Nggak masalah, Pak. Saya siap membantu Bapak kapan aja Bapak butuh, jangan sungkan menyuruh saya, Pak." Jago berucap tegas dan yakin.
Fatih melangkah menyusuri lorong bagian samping restoran yang mengarah ke belakang, tempat tinggal para karyawan. Kamarnya sendiri berada di dalam restoran berdampingan dengan ruang kerjanya.
Ia membuka pintu dengan pelan, tak ingin membangunkan Seira dan juga Rayan.
"Mas!"
Seira berlari dan segera memeluk Fatih. Sudah satu jam lamanya dia terbangun dan menunggu dengan cemas suaminya yang pergi. Pakaian Fatih yang basah disebabkan keringat menambah rasa cemas di hatinya.
Seira melepas pelukan, memeriksa keadaan suaminya itu.
"Mas nggak apa-apa? Kenapa pergi lama banget? Ini udah mau subuh, sebenarnya apa yang Mas lakuin?" cecar Seira tanpa menutupi rasa cemasnya.
Fatih tersenyum, mengusap rambut sang istri seraya mencium dahinya sangat lama sekali.
"Mas nggak apa-apa, sayang. Biasa Mas dari kampung sebelah, ada masalah di sana dan Mas membantu mereka," jawab Fatih menenangkannya.
__ADS_1
Seira tak percaya begitu saja, sekali lagi memeriksa tubuh Fatih mencari-cari memar atau apapun mungkin berkas perkelahian.
"Kenapa baju kamu sampe basah begini, Mas? Kamu nggak-"
"Nggak, sayang. Nggak usah berpikir yang macem-macem, Mas mau mandi dulu, gerah. Mau tidur juga, kelonin." Mulai muncul sikap manjanya.
Seira yang cemas memukul dadanya dengan pelan. Masih saja bisa bercanda padahal istri sangat mencemaskannya. Seira duduk menunggu di tepi ranjang, tersenyum sendiri membayangkan kisah hidupnya yang bertambah manis.
Rasa lelah Fatih segera saja menguap disaat sentuhan lembut sang istri ia rasakan di rambutnya. Rasa kantuk datang menyerang, lumayan ada waktu satu jam sebelum subuh datang.
*****
Sementara di kantor polisi, Zafran yang tengah tertidur lelap bersama rekan satu selnya, dibangunkan oleh suara ribut karena kedatangan Mala yang diseret seorang polisi. Beberapa orang juga turut terbangun dan melihat kejadian itu.
Ia mengernyit, yang paling mencolok dari kemunculannya adalah ada begitu banyak orang yang datang bersamanya. Dalam hati Zafran bertanya, apa yang terjadi pada mantan kekasihnya itu.
"Kenapa ada banyak orang yang datang? Apa mereka semua penjahat?" tanya rekan Zafran yang ikut melihat iring-iringan Mala dan teman-temannya.
"Aku nggak tahu." Zafran menjawab jujur.
"Biasanya mereka terlibat kasus prostitusi. Kalian nggak lihat tadi banyak perempuan muda yang pake baju seksi? Mereka PSK, dan aku rasa perempuan yang paling depan itu mucikari. Dia yang menjajakan perempuan muda pada laki-laki hidung belang. Duit."
Zafran menahan napas, mulai berpikir jika selama ini usaha yang digeluti Mala adalah usaha ... Zafran bahkan enggan menyebutkannya meskipun hanya dalam pikiran.
Jadi, Mala seorang mucikari. Pantas aja baju yang dia pakai seksi terus. Astaghfirullah! Jangan-jangan ....
Pikiran-pikiran buruk mulai hinggap di kepalanya, soal penyakit yang mungkin saja akan dia terima mengingat pekerjaan Mala pastilah dia sudah tidur dengan banyak laki-laki.
Sial! Ternyata kamu itu cuma j*l*ng lebih busuk daripada Lita.
Ia mengumpat kesal, kedua tangannya terkepal menahan gejolak yang membuncah. Jika saja wanita itu dekat dengannya, ingin rasa hati Zafran mencabik-cabik wajahnya yang jelek itu. Teringat pada kejadian beberapa Minggu lalu, di mana Mala datang mengunjungi sel nya.
Dia ....
*****
__ADS_1
Hallo, Kakak. Selamat malam, terima kasih saya haturkan kepada Kakak semua yang sudah mendukung novel ini. Mohon maaf, jika komentar telat saya balas atau bahkan ada yang belum terbalas. Harap dimaklum. Salam sayang semuanya.