
Berbulan telah berlalu, beberapa purnama telah terlewati. Perut seira mulai terlihat, Fatih semakin gencar memperhatikannya. Wanita itu bahkan tidak boleh melakukan pekerjaan ini itu meski ringan-ringan saja.
"Ibu, kenapa Ibu ada di sini? Nanti Bapak marah gimana?" pekik asisten yang sudah lama bekerja di rumah itu. Dia juga yang mengurus rumah mereka saat ditinggalkan.
"Nggak apa-apa, Bi. Aku cuma mau duduk di sini aja, kok. Bi, ada apa di kulkas?" tanya Seira, ia teringin memakan sesuatu dan akan meminta asisten tersebut yang memasaknya.
"Ada banyak, Bu. Emang Ibu mau masak apa?" Dia membuka lemari es memperlihatkan isinya. Lengkap.
"Bibi bisa nggak bikin soto yang kuahnya bening? Aku lagi pengen makan itu," tanyanya.
Air liur berkumpul di bawah lidah, membayangkan masakan khas sebuah daerah di bagian timur pulau Jawa yang menggugah selera itu.
"Aduh, Bibi nggak begitu bisa, Bu. Soalnya yang sering Bibi buat itu soto yang pake santan," sahut Bibi penuh sesal.
"Nggak apa-apa, Bi. Biar aku kasih tahu caranya, Bibi siapin aja semua bahan ini dulu." Seira memberinya secarik kertas berisi resep makanan yang dia mau.
Bibi membaca deretan huruf yang tertera sambil manggut-manggut mengerti. Ia mulai menyiapkan semua bahan di bawah pengawasan Seira.
"Sayang! Di mana?" Suara Fatih menggema di depan pintu dapur.
"Di dapur, Mas. Sini!"
"Mamah!"
"Di sini, sayang."
Seira menyahut panggilan mereka berdua tanpa beranjak dari tempatnya duduk. Ia berbalik menyambut kedatangan Rayan yang berlari ke arahnya.
"Mamah!" Bocah itu memeluknya, ia tersenyum saat menerima kecupan di ubun-ubun.
"Wah, Papah udah keduluan. Nggak adil nih kalo Papah nggak dapet cium juga dari Mamah." Fatih datang sambil menggoda.
Dia terlihat berbeda hari itu, kaos berwarna putih membalut tubuhnya yang atletis. Celana bahan tanggung hanya menutupi lutut saja, dengan alas kaki sandal mempertontonkan kulit betisnya yang putih.
__ADS_1
Seira berdecak kagum, pemandangan langka. Biasanya laki-laki itu akan mengenakan kemeja dan celana panjang. Wajah Seira merona dengan sendirinya, Fatih mengernyit. Melangkah masuk dan duduk di samping sang istri.
"Kenapa senyum-senyum? Ada yang aneh?" tanyanya sambil menatap penuh pada wanita cantik yang tengah hamil itu.
"Mas kelihatan beda, ya, hari ini? Bikin hati aku cenat-cenut," goda Seira sambil berkedip nakal.
Hati Fatih menghangat, berikut kedua pipinya. Seira tertawa melihat rona merah menyembul sempurna. Ternyata istrinya selain pandai memasak, juga pandai membuatnya tersipu. Fatih mengulum senyum, jika saja bukan di dapur sudah pasti dilahapnya bibir manis itu. Jika saja memiliki istri sebahagia ini, sudah dari dia akan menikah.
Eh? Iya kalo Sei yang jadi istri aku, klo bukan? Nggak, untung aku ngejomblo sampe ketemu Sei. Kalo bukan Sei yang jadi istriku, pasti rasanya nggak akan sama. Dia istriku ... oh, cantiknya!
Hati Fatih berbincang sendiri, tertawa sendiri, bahagianya bukan main memiliki istri yang cantik dan pandai merawat diri serta perutnya. Apalagi yang kurang? Tinggal menunggu beberapa bulan lagi, wanita itu bahkan menyempurnakan hidupnya.
Seira tersenyum geli melihat wajah merona suaminya, juga tingkah malu-malu itu.
Makasih, sayang. Kamu udah hadir menabur bunga di hidupku. Kamu emang yang terbaik. Nggak ada perempuan lain yang memperlakukan aku seistimewa yang kamu lakukan. Nggak ada. Cuma kamu. Aku nggak mau jadi laki-laki bodoh kayak mantan suami kamu itu. Nggak!
Hati Fatih kembali bergumam, sejak kedatangan Seira di kehidupannya rasa bahagia tak pernah surut. Jika pun ada masalah, baik di rumah atau di restoran, wanita yang dinikahinya tiga tahun lalu itu selalu memiliki cara untuk membuatnya tenang.
Dia istri yang cantik secara lahir dan batin , pelipur lara, penghibur hati yang gundah. Di rumah dia akan berperan sebagai istri yang baik, di jalanan terkadang dia menjadi teman yang memberi peringatan juga nasihat. Dia menjadi penunjuk jalan disaat Fatih merasa buntu.
"Mas! Mas! Kok, melamun?" tegur Seira sambil melambaikan tangan di depan wajah suaminya.
"Eh?" Fatih tersadar.
Tak disangka ia terhanyut di alam hayalnya, berbincang dengan hati tentang wanita yang dia miliki. Fatih terkekeh menutupi rasa malunya.
"Papah, kenapa senyum-senyum sendiri? Matanya nggak kedip lihat Mamah. Pasti karena Mamah cantik," seloroh Rayan sambil menyandarkan punggung di kaki Seira.
Seira menutup mulut menyembunyikan tawa, menggelengkan kepala pelan. Ada saja tingkah keduanya yang selalu mengundang tawa dan bahagia.
"Itu udah pasti, sayang. Nenek aja langsung terpesona sama Mamah waktu pertama kali lihat, apalagi Papah," sambar Ibu yang entah kapan datang tahu-tahu sudah duduk di meja makan.
Fatih mengusap tengkuk salah tingkah, memang benar yang dikatakan Ibu. Dia bahkan sudah terpesona pada Seira sejak pandangan pertama mereka. Ruang makan itu selalu terasa hangat jika mereka sedang berkumpul.
__ADS_1
Bibi yang sudah lama bekerja di rumah itu pun, bisa merasakan perbedaannya. Benar, sejak kehadiran istri Fatih rumah yang biasanya sepi kini selalu dipenuhi tawa dan bahagia. Terlebih saat Rayan bertingkah menggemaskan.
Alhamdulillah, Ibu sama kedua anaknya sekarang bahagia. Bapak di sana juga pasti bahagia.
Hati Bibi art bergumam penuh syukur.
"Hari ini menu apa yang kamu kasih sama Bibi?" tanya Ibu saat mencium aroma sedap yang menguar dari masakan.
"Cuma soto, Bu. Aku lagi pengen makan itu," jawab Seira.
Satu per satu berdatangan dan berkumpul di meja makan untuk sarapan. Biya dengan seragam sekolahnya, gadis itu pun tak luput dari perhatian Bibi. Keceriaan, tawa yang tak pernah dia dengar, dan senyum yang selalu ditujukan hanya untuk orang tertentu saja, kini semuanya berubah.
"Oh, pasti seger. Dari baunya aja udah menggugah selera," ucap Fatih saat menerima soto tersebut.
Resep dari sang istri memang tak pernah gagal, selalu berhasil memanjakan lidahnya dan menolak makanan lain. Pantas saja Rayan tumbuh berbeda dari anak-anak lainnya. Bocah itu begitu lahap menyantap semangkuk soto. Dia sudah belajar makan sendiri.
*****
Di tempat lain, sudah berhari-hari Lita mengurung diri di kamarnya. Kamar yang dulu ditempati Ibu, kini ia jadikan tempat bersemedi. Bersembunyi dari dunia yang telah mempermalukan dirinya.
Semua sudah habis, sudah hilang dan kembali seperti dulu. Dia bahkan sudah tidak mampu membayar pengasuh lagi. Setiap hari hanya marah-marah, dan mengurung diri saja. Tak ada yang dia lakukan membuat Ibu gelisah tak menentu.
"Ibu! Nai laper, Nenek juga belum makan. Ibu nggak masak?" Naina mengetuk pintu kamar memanggil-manggil Lita.
Terenyuh hatinya, air mata jatuh mendengar suara gadis kecil itu. Dia teramat malu terhadap mereka. Benar-benar malu.
"Ibu! Nai laper, Bu. Mau makan." Suara menyayat hati itu kembali terdengar, semakin menambah perih pada luka.
Mungkin dia harus melakukan apa yang seharusnya sudah dilakukan untuk membuat hatinya tenang. Lita beranjak, melangkah mendekati pintu, berdiri termangu. Tangannya terangkat ragu, tapi tak urung jua membuka pintu tersebut.
"Ibu!"
Lita menjatuhkan diri di depan sang anak, memeluknya sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
"Maafin Ibu, sayang. Maafin Ibu. Ibu berdosa sama kamu."