
"Tapi ...." Suster itu menggantung ucapannya, apakah dia harus berbicara?
"Tapi apa, Sus?" tuntut Nisa tak sabar rasanya. Ia geram sendiri ingin segera bertemu dengan pelaku pembuat kehebohan sejagat dunia maya.
"Mmm ... tapi setahu saya, Suster Kia kehilangan ponselnya sejak kembali dari mengantar pasien ke taman, Dokter?" jawab yang lain tanpa ragu ia berdiri dan mengatakan itu dengan lantang.
Hendra mengalihkan pandangan padanya, dia terlihat lebih muda, tapi lebih berani dari yang lainnya. Pandangan mereka beradu cukup lama, begitu pula dengan Nisa yang segera melempar bola mata padanya.
"Kalian yakin? Mungkin dia cuma pura-pura karena takut disalahkan dengan tersebarnya video ini?" tanya Nisa membuka kemungkinan.
Karena takut disalahkan pada akhirnya dia membuat kebohongan untuk menutupi kesalahannya. Dia tahu akan diburu oleh orang-orang yang bersangkutan dengan Zafran termasuk dokter Hendra.
"Saya yakin, Bu. Saya yang sering bertugas dengan Suster Kia dan sekalipun dia nggak pernah melakukan kesalahan. Lagian Suster Kia itu paling rajin beribadah, saya kira bukan dia pelakunya. Bisa saja orang lain yang mengetahui kondisi pasien tersebut. Lalu, dia nggak tega dengan kondisi kejiwaannya karena ingin bertemu anak. Pada akhirnya dibuatkanlah video itu untuk menarik simpati semua kalangan, termasuk siapa yang dimaksud dalam video itu," ungkap suster muda tadi tanpa keragu-raguan di setiap kata yang diucapkannya.
"Benar, Dokter, Bu, saya juga rasa seperti itu. Saya kenal betul siapa dan gimana Suster Kia? Jadi, nggak mungkin dia melakukan hal ceroboh kayak gini apalagi mengancam pekerjaannya," sahut yang lain turut membela suster tersebut.
Hendra dan Nisa diam bergeming, keduanya saling beradu pandangan. Menebak-nebak pun tak ada nama yang tersangkut dalam pikiran Hendra.
"Supaya Dokter yakin, gimana kalo nanti Suster Kia datang saya akan memintanya untuk ke ruangan Dokter. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali karena kalo pergi Suster Kia nggak pernah lama," pinta salah satunya yang disetujui Hendra dan Nisa.
Pada akhirnya mereka masih belum menemukan siapa pelaku sebenarnya yang menyebarkan kekacauan sejagat dunia maya.
*****
Di tempat lain, Fatih sedang berdiskusi bersama Gilang dan salah satu temannya yang ahli dalam analisis.
__ADS_1
"Video ini diambil masih di lingkungan rumah sakit, tapi di tempat yang nggak sembarangan orang bisa masuk. Dilihat dari keadaan ruangan yang nampak biasa saja, padahal ada satu hal yang mencolok di sana. Ada sepotong gambar yang sekilas nggak akan terlihat, tapi itu berpengaruh. Nah ini ...."
Orang tersebut menunjukkan sebuah gambar yang tak jelas menurut pandangan Fatih dan Gilang. Keduanya mengernyit bingung, apa pentingnya benda itu.
"Ini merupakan sebuah sofa yang nggak akan sembarangan diletakkan di ruangan pasien atau bahkan di ruang VIP sekalipun. Jadi, dari sini saja kita tahu seseorang yang membantunya memiliki jabatan yang nggak main-main di rumah sakit itu," pungkasnya sembari menjatuhkan punggung pada sandaran.
Fatih dan Gilang sibuk memperhatikan satu detail itu saja. Pandangan mereka memang beda, berada di bawah ahli.
"Kukira dokter itu, bukan? Yang selalu membantunya karena mereka berteman baik," gumam Fatih yang masih terdengar oleh mereka berdua.
Ahli tersebut menegakkan tubuh sembari berucap, "Sebenarnya bisa aja kita nuduh dia, tapi logikanya dia cuma pekerja di rumah sakit itu. Cuma seorang dokter dan nggak punya kedudukan penting. Tentu dia masih memikirkan pangkat kehormatan dia, kan? Jadi, saya rasa orang yang melakukan penyebaran video itu hanya dua kemungkinan." Ia mengangkat dua jari sembari menatap Fatih dan Gilang yang haus akan informasi.
"Satu, ada seseorang atau pemilik ruangan itu yang membantunya. Yang kedua, dia sendiri yang melakukannya dengan cara meminjam ponsel atau apapun. Untuk kebenarannya, kita harus bertanya langsung pada orang yang bersangkutan. Lagipula ...." Ia kembali fokus pada laptop di mana ada sosok Zafran di sana.
"Sebagai seorang anak yang nggak pernah tahu tentang ayah kandungnya dari sejak dia di kandungan, pastilah akan syok dan nggak akan mudah hatinya itu bisa menerima. Dijelaskan pelan-pelan kepada si anak. Supaya dia mau menerima kehadiran laki-laki itu, tapi harus tetap hati-hati karena saya melihat kejanggalan di sini. Ya, mudah-mudahan aja nggak ada masalah." Ahli tadi mengakhiri penjelasannya.
Ia menatap ke arah Fatih, menghela napas dalam-dalam. Permasalahan seperti itu memang kerap terjadi.
Fatih tercenung, ia mengerti maksud ahli tadi dan tahu apa yang harus dilakukan. Tentang siapa pembuat video itu, dia akan tetap mencari tahu maksud dan tujuannya menyebarkan video Zafran sehingga membuat Rayan terguncang.
"Kalo masalah sakitnya, apa dia beneran sakit?" tanya Gilang teringin tahu.
Ia kembali memperhatikan gambar Zafran, menelisik setiap detail garis wajah laki-laki itu. Mencari-cari kebohongan juga kejujuran.
"Setelah saya amati, dia emang sakit, tapi saya nggak tahu sakit apa. Wajahnya emang pucat kayak gitu, tubuhnya kurus nggak terawat. Itu yang saya lihat," jawabnya lagi.
__ADS_1
Gilang manggut-manggut, memang sekilas saja terlihat kalo Zafran itu sakit. Ia menepuk bahu Fatih, menguatkan laki-laki itu. Menuntut Zafran sungguh tak tega dikarenakan penyakitnya. Dia harus membicarakan semua itu dengan Seira dan Rayan supaya mau menemui Zafran.
Mereka berpamitan setelah puas mendapatkan jawaban dari apa yang ditanyakannya hari itu. Selanjutnya, Fatih dan Gilang akan sama-sama membongkar identitas si pengunggah awal video tersebut.
"Gimana menurut kamu, Lang?" tanya Fatih setelah mereka berada di dalam mobil.
"Yah, sebagai seorang Ayah saya juga bisa ngerasain yang dirasakan laki-laki itu. Emang, sih, caranya itu salah, tapi mungkin itu karena dia udah putus asa nggak tahu caranya supaya bisa ketemu sama anak. Itu, sih, terserah Bapak sama Ibu. Mendengar cerita gimana dulu Ibu diperlakukan, emang nggak mudah buat menerima." Gilang menoleh pada Fatih.
Ayah sambung Rayan itu bergeming, menatap lurus ke depan. Diam dan berpikir, tentang semua yang terjadi.
"Kira-kira siapa yang bantu dia bikin video, ya? Awalnya aku kira dokter itu atau suster yang nganter dia ke pesta kemarin, tapi ternyata ada orang lain yang lebih berpengaruh di rumah sakit itu," ucap Fatih dibarengi dengan helaan napas panjang dan berat.
Gilang mengangguk, asistennya itu pun sedang berpikir tentang seseorang yang disebutkan ahli tadi.
"Mungkin kita bisa tanya sama dokter itu, dia pasti tahu orangnya," saran Gilang dengan cepat.
Fatih terhenyak, ia mengangguk setuju.
"Kamu bener, kalo gitu sebaiknya kita ke rumah sakit aja," katanya.
Mobil berbelok menuju jalanan rumah sakit, hari semakin sore. Mereka harap Hendra masih berada di sana.
*****
Maaf, ya, Kakak-kakak semua. Semalam saya udah nulis 600 kata lebih, tapi si kecil bangun terus minta dikelonin. Pada akhirnya terbawa ke alam mimpi dan bangun setengah dua belas malam. Jadi, saya upload pagi saja. Sekali lagi, mohon maaf dan terima kasih banyak.
__ADS_1