
"Saya rasa sudah cukup. Jadi, kita akhiri saja pertemuan hari ini, semoga rekan-rekan wartawan semua bisa melihat secara bijak yang telah disampaikan oleh Bapak Zafran tadi. Untuk itu, acara hari ini saya anggap selesai, dan rekan-rekan boleh kembali lagi bekerja," pungkas Fatih mengakhiri acara pertemuan tersebut.
"Tunggu!" cegah Dokter Ferdi yang turut merasa bersalah karena telah membantu Zafran menyebarkan video tersebut.
Fatih mempersilahkan, ia tahu dokter itu ingin menyampaikan sesuatu sejak mereka duduk di sana. Fatih diam dan mendengarkan, apa yang akan disampaikan olehnya.
"Saya juga bersalah dalam hal ini. Untuk itu, saya mohon maaf pada semua orang terutama mereka yang terkena dampak paling besar dari kasus ini. Sungguh, niat awal saya hanya ingin membantu dan tidak ada maksud lain di dalamnya. Itu semua murni karena saya merasa kasihan terhadap pasien yang setiap hari meracau ingin bertemu dengan anaknya. Kepada masyarakat, dan seluruh
awak media, saya minta jangan lagi disebarkan video tersebut. Tim saya juga sudah mengatasi itu semua, menghapus video dari edaran. Terima kasih."
Acara hari itu berakhir, masalah pun terselesaikan dengan baik. Fatih berdiri diikuti yang lain keluar dari gedung tersebut. Para wartawan pun membubarkan diri secara tertib.
Mereka pergi berlawanan arah sesuai yang ditunjukkan petugas kemanan di rumah sakit. Fatih dan yang lain kembali ke tempat awal mereka berkumpul.
"Coba dari dulu kamu nggak egois, Zafran. Nggak mungkin ada kasus yang begini," seloroh Hendra yang membantu mendorong kursi roda Zafran.
Laki-laki itu bergeming, tertunduk menyesali semua yang telah terjadi. Mendengar Rayan yang ketakutan, membayangkan Naina yang kecewa, sungguh hatinya merasa tercubit. Yah, apakah dia sudah dibutakan nafsu?
Nafsu itu laksana seorang bayi yang menyusu, bila tak disapih maka ia akan tetap menyusu sesukanya. Nafsu bila tak dikendalikan, dia akan terus menerus menguasai dan mengotori hati juga pikiran.
Tap-tap-tap!
Suara langkah kaki yang berlari membuat mereka mengernyit. Hendra dan Nisa berbalik untuk melihat siapa yang datang di belakang mereka.
"Dokter! Dokter, tunggu!" pinta suara itu dengan napasnya yang tersengal-sengal.
Hendra dan rombongan menghentikan langkah, mereka berbalik untuk dapat melihat siapa yang memanggil.
__ADS_1
"Suster Kia?" panggil Hendra saat melihat wajah berkeringat seorang wanita berpakaian suster.
Wanita itu kelelahan, ia memburu udara untuk menghilangkan sesak akibat berlari. Suster Kia membungkuk, seperti seseorang yang telah berlari ratusan kilometer panjangnya.
"Ada apa, Suster? Kenapa kamu seperti dikejar hantu begitu?" tegur Dokter Ferdi dengan lipatan di dahi.
Suster Kia perlahan menegakkan tubuh, kulit wajahnya yang putih nampak memerah karena lelah berlari. Ia menatap Dokter Hendra bersalah, bergantian dengan wanita di sampingnya yang tak lain adalah Nisa.
"Kata teman-teman tadi Dokter nyariin saya. Terus saya diminta ke ruangan Dokter, tapi waktu saya ke sana, Dokter nggak ada. Jadi, saya ke sini. Kenapa, Dokter? Apa ini ada sangkut pautnya dengan ...." Mata Suster Kia melirik Zafran di kursi roda.
Raut bingung juga bersalah bercampur jadi satu terlihat di wajah ayunya.
"Ah, itu cuma salah faham saja, Suster. Lagian semuanya juga udah selesai. Maaf, ya, saya sempat ngira kamu yang rekam dan sebarin video itu karena kamu yang ngerawat Zafran selama ini," jawab Hendra sembari tersenyum tak enak telah menuduh bawahannya itu.
Dokter Ferdi pun turut tersenyum, hati kecilnya juga merasa bersalah terhadap suster itu. Kia mengukir senyum canggung, tapi tak menampik hati sedikit lega mendengarnya.
"Ponsel kamu hilang?" tanya Zafran.
Kia menganggukkan kepala seraya memperlihatkan deretan giginya yang rapi lagi bersih.
"Kayaknya aku lihat ada di kolong meja, tapi aku nggak tahu itu ponsel atau bukan? Aku nggak bisa ngambilnya," ucap Zafran memberitahu.
Mata Kia berbinar, sungguh tak dinyana benda yang membuatnya kalang-kabut dari kemarin, ternyata di ruangan yang setiap hari dia datangi.
"Baik, Pak. Terima kasih, nanti biar saya cek." Suster Kia tersenyum manis. Sekali lagi menatap dokter Hendra dan memastikan bahwa semuanya memang telah selesai. Ia berpamitan untuk kembali berkumpul bersama teman-temannya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ruangan. Untuk sekedar berpamitan karena Fatih teringin melihat keadaan Seira juga anak-anaknya.
__ADS_1
"Terima kasih atas kerjasamanya, Dokter. Pada akhirnya kasus ini tuntas dan kita semua bisa menjalani kehidupan dengan tenang," ucap Fatih setelah tiba di ruangan yang menjadi tujuan mereka.
"Nggak apa-apa, Pak Fatih. Saya juga minta maaf karena telah melakukan hal yang ceroboh. Kita sama-sama belajar dari kejadian ini, utamanya buat saya. Kita diberikan dua telinga supaya dapat mendengar suatu perkara dengan baik. Sekali lagi saya mohon maaf dan terima kasih atas kebaikan hati Bapak," ucap Dokter Ferdi masih sedikit merasa bersalah di hatinya.
Fatih tersenyum dan memang benar, dari kejadian tadi mereka semua belajar. Tentang Zafran yang putus asa hingga melakukan segala macam cara untuk dapat mencapai tujuannya. Tentang Hendra yang sempat menjadi tersangka karena seringnya bertindak ceroboh. Tentang Dokter Ferdi yang hanya mendengarkan cerita dari satu sisi saja tanpa mencari tahu sisi yang lainnya. Juga tentang kasih sayang Fatih yang memperjuangkan hak hidup tenang anak sambungnya.
Semua ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik untuk dijadikan acuan masa depan. Agar di hadapan kelak, tidak lagi melakukan kesalahan yang sama ataupun yang lebih fatal. Semoga kejadian tadi membuka mata dan hati Zafran agar mau memiliki kehidupan yang lebih baik ke depannya.
"Nggak apa-apa, Pak. Saya maklum, saya cuma merasa lega aja kasus ini dapat selesai hari ini juga. Semua itu berkat kerjasama kita semua," tutur Fatih yang setiap katanya selalu terdengar menenangkan.
Ia sama sekali tidak terlihat emosi sejak kedatangannya tadi, tapi berbeda dengan Gilang yang terlihat sedang menahan emosi.
"Maaf. Tolong maafin saya, Pak. Saya yang paling berdosa di sini. Saya sudah membuat hidup anak saya jadi nggak tenang tanpa saya sadari. Semua ini karena nafsu telah menguasai diri saya sampai-sampai saya nggak bisa ngendaliin diri saya sendiri. Tolong maafin saya, Pak. Sampaikan salam saya sama Seira, saya bener-bener minta maaf," ungkap Zafran dengan segenap kesungguhan hatinya.
Fatih terenyuh, pandangan yang sempat menajam sebelum acara, kini melembut setelah semuanya berakhir.
"Kita di sini sama-sama bersalah, Pak. Saya juga salah karena terlambat memberitahu Rayan soal keberadaan ayah kandungnya, tapi saya nggak bermaksud menyembunyikan Bapak dari Rayan selamanya. Saya dan Sei cuma lagi nunggu waktu yang pas aja, tapi ... ya, semuanya terlanjur terbuka. Mudah-mudahan kita bisa belajar dari kejadian ini," sahut Fatih sambil menilik manik Zafran.
Fatih dan Gilang berpamitan setelah cukup berbasa-basi dengan semua orang. Ia keluar, tapi dikejutkan dengan keberadaan Jago yang berdiri di lorong.
"Pak Dirman? Ada apa?"
*****
Nafsu itu seperti anak kecil yang masih menyusu. Jika dibiarkan maka dia akan ketagihan hingga dewasa kelak, namun jika disapih maka dia akan terbiasa.
(Imam Al- Busyairi)
__ADS_1