Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Diburu


__ADS_3

Sementara itu, di restoran Fatih, Seira masih menenangkan Rayan dan membujuknya agar mau makan barang sesuap saja. Ditambah si kecil Fathiya yang tiba-tiba menjadi rewel, menambah kecemasan yang telah melanda hatinya.


Ia berjalan keluar menghampiri Rayan yang duduk tertunduk di gubuk dengan membawa sepiring nasi sambil menggendong Fathiya. Betapa repotnya Seira, tapi ia tidak terlihat lelah.


"Sayang, Kakak makan dulu, ya. Ini Mamah udah masakin makanan kesukaan Kakak, makam dulu, ya," pinta Seira sembari duduk di belakang Rayan yang melamun menatap ikan-ikan di bawah gubuk.


Bocah itu menggeleng, entah apa yang sedang dipikirkannya, tak ada yang tahu.


"Ssst!" Seira menimang Fathiya yang menangis dalam gendongan.


Bayi itu tidak mau menyusu, dia ikut merasa gelisah seperti yang dirasakan mamah dan papahnya.


"Ya Allah, Fathiya. Sayang, jangan nangis," pintanya dengan sedih.


Ia meletakkan piring tersebut di lantai gubuk, berdiri lagi sambil menimang Fathiya. Rayan menoleh, merasa kasihan pada sang mamah yang terlihat kelelahan menenangkan adiknya. Ia melirik piring, tapi selera untuk menyantap makanan di atasnya tak tergugah.


"Ibu! Ya Allah!" keluh Seira sembari terus menenangkan bayinya.


Lelah, mungkin bayi itu lelah menangis. Mencari-cari makanannya untuk mengisi tenaga. Seira duduk kembali setelah Fathiya tenang dengan ASI-nya. Wanita itu kembali melirik piring yang belum disentuh Rayan.


"Sayang. Makan, ya, Nak. Nanti Kakak bisa sakit perut kalo nggak mau makan," bujuk Seira lagi sembari menahan tangis yang ingin menerobos turun.


Rayan mendongak, menatap sayu manik mamahnya yang tergenang air. Hati kecilnya tahu wanita di depan itu sedang berusaha tegar dan kuat untuk dirinya.


"Tapi Rayan nggak selera, Mah. Perut Rayan juga kenyang rasanya," ucap Rayan mengatakan alasannya kenapa tidak mau makan.


Seira tidak dapat melakukan apa-apa. Memaksanya, sama saja membunuh kepercayaan anak itu terhadapnya. Tak ada yang berbicara untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya diam dan saling menatap satu sama lain.


"Maaf, Bu. Boleh saya temenin Den Rayan?" pinta salah satu karyawan wanita yang selama ini juga menjadi teman bermain Rayan.


Seira mengangguk, kebetulan ia juga ingin menidurkan Fathiya yang telah terlelap di gendongan.


"Ah, iya, silahkan. Saya mau menidurkan Fathiya dulu di kamar," jawab Seira seraya berdiri dan mengusap kepala Rayan sebelum masuk ke dalam rumah.


Ia membaringkan Fathiya dengan hati-hati, tapi bayi itu terbangun lagi ketika hendak beranjak. Terpaksa Seira menyusui Fathiya untuk membuatnya tidur kembali. Sedang, di gubuk, karyawan wanita itu sedang berbincang dengan ringan bersama Rayan.


Seira beranjak, membuka tirai jendela kamar, mengintip mereka dari sana. Rayan terlihat mendengarkan dengan baik, Seira berharap semoga si sulung mau makan dan tidak terus menerus memikirkan pemberitaan yang sedang viral itu.

__ADS_1


Ia menutup tirai kembali, mendesah panjang mengurangi sesak yang merebak dalam dada. Kenapa semuanya jadi begini? Disaat kebahagiaan baru saja dia reguk, selalu ada masalah yang mengguncangnya. Apakah alam belum mengizinkannya untuk menikmati kebahagiaan?


Ia berbaring, tubuh rasanya lelah dan lesu. Pikirannya berbelit, seperti benang kusut yang rumit. Ia sulit mengurainya, meski mencoba untuk sabar dan tenang, juga menyandarkan hati pada sikap berserah. Tetap saja, gelisah selalu datang mengguncang.


Sampai sebuah teguran dari Rayan, menghentikan lamunannya.


"Mah, Rayan mau disuapi Mamah makannya," ucap Rayan berdiri di ambang pintu kamar sambil membawa piring.


Seira membuka matanya yang terpejam, lantas menoleh dan tersenyum sebelum beranjak dari kasur menghampiri anak sulungnya.


"Sini, sayang. Kita makan di sini, ya." Seira mengajak Rayan duduk di ruang tengah, menyuapinya dengan senang.


Bocah itu kembali tersenyum, entah keajaiban seperti apa yang diberikan Tuhan lewat karyawan wanita tadi sehingga Rayan mau menyuap nasi ke mulutnya.


"Mah, emang Ayah seperti apa orangnya?" tanya Rayan usai meneguk air yang diberikan Seira padanya. Nasi di piring telah habis, tapi pertanyaan Rayan membuat Seira termangu beberapa saat lamanya.


"Mah!" tegur Rayan lagi karena melihat Seira yang melamun. "Nggak apa-apa, kalo Mamah nggak mau ceritain soal Ayah, nanti aja kalo Mamah udah siap," lanjut Rayan mengerti tentang perasaan mamahnya.


Seira menoleh, tersenyum meski terpaksa.


"Semuanya."


Wanita itu mengangguk sebelum berbicara, "Baiklah. Ayah adalah sosok yang baik, penyayang, dan bertanggungjawab." Itu sebelum dia berkhianat dengan Lita. Seira melanjutkan di dalam hati.


"Beneran, Mah?" Rayan memicing tak senang.


"Iya, dong."


"Terus kenapa Mamah bisa pisah sama Ayah? Dan kenapa Ayah usir Mamah dari rumah dulu?" Sederet pertanyaan lanjutan dari Rayan, membuat hati Seira mencelos nyeri, tapi coba ditahannya agar tidak meledak.


"Mmm ... Kakak tahu, kan, seluruh alam dan isinya ada atas kuasa Allah. Begitu pula pasangan. Jodoh Mamah sama Ayah cukup sampai di sana saja, itu takdir yang harus Mamah terima. Untuk masalah Mamah diusir, Papah udah bilang itu cuma salah faham karena Mamah dan Ayah udah pisah, maka Mamah harus pergi dari rumah itu," jawab Seira sambil mengusap rambut putranya.


Rayan bergeming, menatap manik Seira menelisik kebohongan.


"Rayan udah maafin Ayah, kok. Rayan juga udah siap ketemu sama Ayah. Rayan nggak mau nyesel kayak Kakak tadi, tapi kalo Mamah belum siap bawa Rayan ke Ayah, nggak apa-apa, kok. Kapan-kapan aja kita ke sana," ucap Rayan setelah menemukan apa yang dia cari dari manik sang mamah.


Seira tersenyum, mendekap hangat putranya yang pengertian. Jika dia sudah bisa menerima, maka untuk apa menunda lagi. Lebih cepat lebih baik, semoga setelah bertemu dan memeluk anaknya, Zafran tak akan datang mengganggu lagi.

__ADS_1


*****


Di luar, restoran yang semula tenang dan damai, secara tiba-tiba didatangi segerombolan orang yang hendak meminta penjelasan terkait video Zafran yang tengah viral. Mereka adalah pemburu berita, gabungan wartawan dari berbagai saluran. Setelah mendapat informasi tentang orang yang dimaksud dalam video Zafran dari netizen yang maha tahu.


Sigap Jago dan seluruh karyawan mengamankan restoran. Menutup pintu dan tirai-tirai juga meminta para pengunjung untuk tetap tenang di dalam. Mereka datang seperti gerombolan hewan buas yang turun gunung karena kelaparan.


Berdengung bagai ribuan tawon yang siap menyerang si perusak rumahnya.


"Pak Dirman, gimana ini? Pak Fatih sama Pak Gilang nggak ada lagi, kita harus apa?" tanya salah seorang karyawan wanita dengan panik.


Bagaimana tidak? Kelompok pemburu berita itu tidak sedikit jumlahnya. Mereka memenuhi area parkir restoran hingga merangsek ke pintu masuk.


"Udah, kalian tenang aja, aku sama tim keamanan yang lain akan mengamankan mereka," ucap Jago yang keluar dari pintu lain dan menemui rekan-rekannya.


Mereka menerobos lautan manusia itu, merangsek hingga ke depan pintu restoran. Memukul mundur para wartawan hingga menjauh dari pintu utama.


"Saya harap kalian tidak menakut-nakuti para pengunjung di dalam. Apa tujuan kalian datang ke sini? Bilang sama saya!" sentak Jago dengan posisi gagah berani.


Tubuhnya yang tinggi besar, cukup membuat gentar sebagian juru tulis itu. Ia berdiri di paling depan, tanpa rasa takut dan ragu.


"Kami ingin bertemu dengan pemilik restoran ini."


"Yah, kami ingin mengkonfirmasi kabar terkait video yang sedang viral itu."


"Kami dengar pemilik restoran ini yang melarang dia untuk bertemu dengan anaknya."


Mendengar itu, Jago meradang. Kedua tangannya terkepal, tapi dia menahan diri untuk tidak emosi. Siapa yang di hadapannya? Mereka orang-orang suci yang tak bisa disentuh sembarang.


"Maaf, saudara-saudara sekalian. Pemilik restoran sedang tidak ada di tempat, dia sedang pergi bersama asistennya untuk meluruskan berita tersebut. Jika kalian ingin bertemu dengannya, maka datanglah lagi ketika pemilik restoran ini kembali," pinta Jago seraya membubarkan mereka dengan tertib.


"Ada apa?"


Mendengar keributan Seira meninggalkan Rayan dan Fathiya untuk mencari tahu.


"Ada banyak wartawan, Bu."


Ia terhenyak, membuka tirai, dan membelalak.

__ADS_1


__ADS_2