Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Pelangi Setelah Badai


__ADS_3

Pagi datang menjelang, matahari pun telah muncul sepenggalan, tapi laki-laki itu masih tenang terbuai alam mimpi. Tak terusik sama sekali, selepas sholat subuh Fatih kembali tidur. Kejadian semalam benar-benar menguras tenaganya.


Rayan tengah asik bermain di dalam kamar dengan televisi yang dibiarkan menyala. Bocah itu sama sekali tidak menggangu sang ayah yang terlelap. Suara keributan di televisi memancing perhatiannya. Dia mendekat saat mengenali satu sosok yang tak asing. Meniliknya dengan saksama, takut-takut salah mengenali.


"Mah! Mamah! Ada Papah, Mah!" teriaknya tanpa memalingkan pandangan dari televisi.


"Iya, sayang. Papah, kan, lagi tidur." Suara Seira menggema dari dalam kamar mandi. Ia tengah membersihkan diri setelah mendandani putranya.


"Bukan, Mah. Cepetan, ada Papah di tv," teriak Rayan lagi.


Mendengar itu Seira yang tengah menggosok gigi pun keluar dan mendapati anaknya yang berdiri tepat di depan benda kotak itu.


"Rayan, kenapa dekat-dekat nontonnya?" Seira berbicara sambil menggigit sikat gigi. Ia bergegas menghampiri dan mendekap anaknya itu.


Namun, matanya sontak membesar saat melihat adegan Mala yang mengacungkan tongkat kepada warga. Di sana juga ada Fatih bersama Jago berikut warga kampung. Sayangnya, berita itu hanya sekelip mata ia lihat dan langsung berganti berita lain.


"Mas Fatih! Mala!"


"Papah, Mah."


Seira kembali masuk ke kamar mandi menyelesaikan gosok giginya. Buru-buru keluar lagi dan mengenakan pakaian, ia duduk di tepi ranjang sambil menyisir rambut. Matanya tak lepas dari wajah sang suami yang terlihat damai dalam tidurnya.


"Mamah, tadi itu Papah, 'kan? Kenapa Papah bisa ada di tv?" Rayan mendatanginya seraya duduk di pangkuan Seira.


Dahi kecil itu mengkerut, sorot matanya sarat akan tanya. Penasaran dan ingin tahu itulah yang dapat dilihat Seira.


"Mamah juga nggak tahu, sayang. Nanti coba kita tanyain sama Papah kalo udah bangun, ya?" Rayan mengangguk, bocah itu kembali bermain sendiri.


Seira menghela napas, memperhatikan Rayan yang asik sendiri meskipun tanpa seorang teman. Mulai terpikir olehnya untuk menyekolahkan bocah itu.


Fatih yang melenguh membuat Seira berpaling padanya, wanita itu tersenyum disaat kelopak mata sang suami terbuka.


"Pagi!" sapanya dengan ceria.

__ADS_1


"Pagi, sayang." Fatih menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan, mengecup dahi itu penuh cinta. Tak ada yang membuatnya bahagia selain senyum sang istri yang menyambut ketika mata baru saja terbuka.


Fatih merayap ke perut Seira, meletakkan kepala di pangkuan wanita yang telah kembali duduk. Tangannya mengusap-usap pelan perut besar itu sambil sesekali menciumnya.


"Pagi, kesayangan Papah. Gimana kabar kamu, sayang? Kamu sehat-sehat di dalam sana, ya. Jangan nakal, kasian Mamah," ucapnya lirih.


Seira tersenyum, hatinya selalu dihujani bunga-bunga cinta dikala Fatih melakukan hal tersebut.


Kayak gini rupanya kalo kita hamil ada suami. Sentuhan tangannya di perut membuat hatiku dan bayi di dalam sana merasakan ketenangan. Hal yang nggak aku dapatkan waktu mengandung Rayan.


Seira bergumam, matanya berkaca menatap sang putra yang juga tengah menatap ke arah mereka. Rasa sedih menghampiri hatinya saat harus mengingat masa-masa mengandung si sulung. Seira dengan cepat mengusap air mata, meski begitu, Rayan tidak kekurangan kasih sayang seorang Ayah. Fatih menjalankan perannya sebagai Ayah dengan sangat baik walaupun hanya sebagai ayah sambung.


"Papah ngomong sama siapa?" tegur bocah itu yang telah berdiri di belakang kepala sang ayah.


Fatih menghentikan gerakan tangannya, mendongak sebentar pada Seira sebelum berbalik menghadap bocah itu. Tangannya menarik tubuh Rayan agar semakin mendekat, mencium pipinya yang gembil dengan gemas.


"Papah lagi ngomong sama Adik yang di perut Mamah," jawab Fatih sejujurnya.


Alis kecil itu saling bertaut satu sama lain, jelas dia bingung dengan jawaban dari sang ayah. Kepala Rayan terangkat sedikit, menatap perut mamahnya yang semakin membesar.


Seira mengulum senyum, tapi air kembali menggenang di pelupuk. Anak itu tak pernah mendengar suara ayahnya sejak dia masih di dalam kandungan hingga saat ini yang usianya hampir mencapai tahun keempat.


"Bisa, dong. Adik juga jawab kalo Papah ajak ngomong."


Mata Rayan berbinar, menganggap ucapan Fatih itu benar dan menarik keingintahuannya.


"Beneran, Pah? Kalo Rayan yang ajak ngomong, Adik mau jawab nggak, Pah?" tanyanya antusias.


"Jawab, dong, sayang. Coba Kakak ajak ngomong, Adik pasti denger." Fatih beranjak duduk.


Menarik tubuh Rayan supaya semakin mendekat. Bocah itu kini berhadapan dengan perut sang mamah, tapi tak tahu apa yang harus dia ucapkan. Rayan menempelkan tangan di perut Seira, ia juga menempelkan pipinya di sana.


"Hallo, Adik. Ini Kakak, apa Adik bisa denger suara Kakak?" tanya Rayan lirih.

__ADS_1


Tubuh kecil itu terlonjak, matanya membeliak disaat sebuah gerakan menjawab pertanyaan darinya. Mata besarnya menatap bergantian pada Fatih dan Seira, kulit pipinya bahkan memerah saking senangnya.


"Gimana?" tanya Fatih mengulas senyum menunggu jawaban.


Rayan terkesima sampai-sampai lidahnya kelu tak dapat berucap. Hanya kepalanya saja yang mengangguk, selanjutnya dia kembali melakukan hal yang sama. Berkali-kali dilakukan, tetap saja membuatnya terpana disaat bayi itu terus bergerak.


Namun, kebahagiaan itu tersita oleh suara isak tangis yang lirih. Seira menangis, selalu tak kuasa menahan kesedihan saat masa-masa mengandung Rayan kembali melintas.


Tak ada sosok laki-laki yang menguatkannya seperti saat ini, tak ada yang mengusap perutnya seperti yang dilakukan Fatih. Tak ada yang memeluknya saat dia lelah karena perutnya yang semakin membesar. Tak ada yang menemani ketika dia selalu ingin ke kamar mandi. Tidak ada. Semua dilakukannya seorang diri, dia harus mampu menguatkan dirinya sendiri.


"Mamah, kenapa nangis?"


"Sayang?"


Fatih dan Rayan sontak memeluk tubuh berguncang Seira. Tangis wanita itu kian menjadi tatkala tangan kecil Rayan melingkar di pinggangnya. Rasa sesal selalu hadir ketika mengingat dia yang ingin mati menyusul kedua orang tuanya.


"Maafin Mamah, sayang. Maafin Mamah." Seira tersedu-sedan menciumi ubun-ubun sang anak.


Mamah sempat menyerah saat Rayan ada di dalam perut Mamah. Makasih, sayang. Rayan udah tumbuh dengan sehat menjadi pelipur lara hati Mamah. Mamah janji nggak akan biarin Rayan menangis karena bersedih. Mamah sayang Rayan.


Seira melanjutkan kalimatnya di dalam hati, jiwanya menjerit. Masa-masa sulit itu kini telah terbayar berkat kehadiran si buah hati yang ceria dan selalu riang gembira.


"Sayang. Maafin Mas, kalo Mas bikin kamu sedih." Suara Fatih terdengar lirih di telinga Seira.


Rayan mendongak, menatap wajah sang mamah yang dibasahi air mata. Tidak! Mata kecil itu pun nampak merah dan sedih.


"Kenapa Mamah minta maaf? Apa Rayan udah bikin Mamah sedih? Rayan minta maaf kalo udah bikin Mamah sedih." Tangis bocah itu pecah.


Seperti kebanyakan anak seusianya, Rayan histeris. Seira mengusap pipi keduanya, mencium dahi mereka bergantian. Tangis Rayan berhenti, memandang sang mamah sambil terisak-isak.


"Mamah sayang kalian. Mamah sayang Papah sama Rayan. Mamah sayang kalian."


Seira kembali menangis, menarik keduanya ke dalam pelukan. Sebuah tangis kebahagiaan, setelah badai datang menghantam dan memporak-porandakan dunianya.

__ADS_1


Terima kasih, Ya Allah. Kau hadirkan laki-laki baik dalam hidupku.


Terlupa pada tujuannya menunggu Fatih membuka mata.


__ADS_2