
Sepeninggal Hendra yang membawa Naina pergi, Lita meraung tak terkendali. Ibu menangis di hadapan Zafran memohon pada anaknya itu lewat tatapan mata untuk melepaskan semua kesalahan yang dilakukan Lita.
Seandainya Ibu bisa berbicara, dia ingin mengatakan kepada Zafran bahwa yang dilakukan Lita dulu semata-mata untuk memenuhi kebutuhan mereka meskipun tidak dibenarkan.
Sayangnya, semua itu hanya terucap di dalam hati saja. Tak pernah tertuang melalui lisan.
"Maafin aku, Mas. Maaf. Aku bingung waktu itu ke mana harus cari uang buat makan," mohon Lita sambil tersedu-sedan.
Ia duduk bersimpuh di kaki Zafran, meremas udara menahan getirnya hati. Zafran bergeming, terlalu enggan untuk menatap Lita yang bermain-main di belakangnya. Tak ingatkah dia pernah bermain bersama Mala ketika Lita sedang mengandung Naina hanya untuk membangkitkan usahanya dulu? Oh, kamu lupa lagi, Zafran! Apakah sakit membuat kamu lupa akan dosa?
Apa bedanya Zafran dengan Lita? Atau Lita dengan Zafran?
Tangan Ibu yang gemetar bergerak perlahan, susah payah ingin menggapai tubuh anaknya, menyentuhnya, meyakinkan dirinya bahwa Lita sudah berubah sejak kejadian itu.
"Aku emang salah, Mas, tapi waktu itu aku dijebak sama mantan selingkuhan kamu itu. Aku ... aku juga sakit, Mas." Lita semakin dalam tertunduk kala mengingat kejadian dulu itu.
Di mana Mala menjebaknya, membuatnya harus mendapatkan perlakuan yang menjijikkan sekaligus menyakitkan dari mereka yang tidak manusiawi. Tangisannya semakin pilu terdengar, membuat Ibu tak tega hati.
Tangan Ibu mendarat di permukaan kulit Zafran setelah beberapa saat berjuang melawan ketidakmampuan. Merasakan sentuhan dari tangan dingin Ibu, Zafran mengangkat pandangan menatap wanita luar biasa di depannya itu.
Ibu memelas lewat tatapan mata yang berair deras, menggeleng pelan memberi pengertian Zafran tanpa melalui kata-kata. Ingin dia berkata, semua itu sudah berlalu, biarlah berlalu meninggalkan jejak peristiwa yang harus diambil sebagai pelajaran berharga.
Namun, hati Zafran terlalu sakit untuk menerima kenyataan itu. Hancur sudah hidupnya, hancur sudah dunianya. Tak ada lagi harapan untuk membangunnya kembali. Zafran berpaling dari wajah Ibu, tapi cengkeraman lemah dari tangan Ibu menyatakan ketidakrelaannya dengan sikap yang diambil Zafran.
__ADS_1
Mendengar dan mengingat perselingkuhan yang pernah dia lakukan, dan juga penerimaan Lita atas semua itu, Zafran menyadari sesuatu. Baik dirinya maupun Lita bukanlah manusia sempurna.
"Mas, aku tahu aku salah. Kita pernah melakukan kesalahan yang sama demi tujuan yang berbeda. Aku udah lupain semua, Mas. Aku mau kita mengulang semuanya dari awal, aku nggak mau pisah sama kamu, Mas. Biarlah hidup kita tanpa harta, yang penting kita sama-sama," ungkap Lita terdengar manis menggelitik.
Zafran terpejam, ia belum mengeluarkan sepatah kata pun sejak bertanya tentang kebenaran kabar yang dibawa Mala. Helaan nafasnya berat, dada Zafran naik dan turun dengan cepat, Lita tahu dia sedang menahan gemuruh di dada yang ingin meledak.
Lita mendongak, memberanikan diri menggenggam tangan Zafran dengan erat. Ia jatuhkan dahi di atas punggung tangan itu, menangis lirih memohon ampunan.
"Maafin aku, Mas. Maaf. Aku mengaku salah, aku mengaku berdosa sama kamu, tapi apa aku bisa mendapat kesempatan seperti Mas dulu? Aku udah terima semua hukuman, kalo Mas mau menghukum juga siapa yang akan aku jadikan sandaran tempat mengadu, Mas?" mohon Lita.
Sudah kepalang tanggung, Lita sudah terjebak dalam perasaannya sendiri. Dia tidak percaya diri lagi jika harus berpisah dari Zafran. Ada ketakutan tersendiri yang terus menghantui hatinya. Menjadi rahasia yang hanya dia sendiri yang tahu.
"Aku butuh waktu buat terima itu semua, Lita. Aku mau sendiri dulu. Selama ini aku pikir kamu setia, aku pikir kamu udah mengikhlaskan semua yang aku lakukan dulu. Ternyata kamu menyimpan dendam dan membalas itu semua. Kamu lupa aku di penjara, Lita. Bukan lagi main-main, tapi kamu malah ... ah, aku mau sendiri dulu," ucap Zafran sembari menarik tangannya yang digenggam Lita.
Ibu semakin histeris, permohonannya pada Zafran tak diindahkan sama sekali. Ia menatap kecewa pada anak satu-satunya itu. Seandainya mampu, dia ingin membawa Lita pergi dan tidak kembali lagi padanya. Biarlah dia hidup sendirian hingga di akhir hayatnya.
"Tinggalin aku sendirian, Lita. Saat ini aku muak liat muka kamu!" ketus Zafran semakin mengoyak perasaan Ibu sebagai seorang wanita.
Ia hanya bisa menggelengkan kepala, berharap dalam hati Zafran akan melihat pengorbanan Lita.
Mendengar itu, Lita menguatkan hatinya. Tak ingin lagi memohon pada hati yang keras bagai batu. Dia berdiri, menyusut air mata dengan cepat. Matanya melirik pada Ibu yang tak henti menangis.
"Baik. Dulu aku udah janji sama diri aku, akan menerima apapun yang terjadi di hidup aku. Sekarang, kalo emang ini yang kamu mau aku terima, Mas. Aku serahin Ibu sama kamu, aku akan hidup sama Naina dan nggak akan ganggu kamu lagi. Aku permisi, Mas," pungkas Lita dengan tegar.
__ADS_1
Ia melirik Ibu sebelum mengambil langkah berbalik dan pergi.
Oh, tidak! Bukan seperti itu, bukan itu yang dia inginkan. Dia hanya ingin diberi waktu untuk bisa menerima semuanya. Ibu tidak bisa menerima, ingin mengejar menantunya itu, tapi tak bisa. Hanya dapat menatapnya dengan nanar dan penuh rasa sesal.
"Tunggu, Lita! Apa kamu nggak ngerti yang aku bilang? Aku cuma butuh waktu buat bisa nerima itu semua," sergah Zafran sambil berbalik menghadap Lita yang memunggungi.
Wanita itu berdiri di dekat pintu, menarik udara sedalam-dalamnya untuk menguatkan hati. Ia berbalik berhadapan dengan Zafran. Menatap tajam laki-laki lemah yang semakin terlihat lemah itu.
"Aku ngerti, Mas. Aku ngerti banget. Untuk itu, aku akan pergi dari hidup kamu. Aku berikan kamu waktu sepanjang yang kamu mau. Aku tahu, nggak ada yang mau nerima wanita kotor kayak aku ini. Aku juga sadar diri nggak pantes buat diterima lagi, tapi kamu harus tahu semua itu aku lakuin cuma buat ngerawat Naina sama Ibu kamu. Kalo kamu ngerasa jijik sama aku, muak lihat muka aku, aku akan pergi sama Naina." Lita berbalik.
Kali ini dia tidak berhenti ataupun menoleh saat Zafran memanggilnya. Merasa diri telah hina dan tidak pantas untuk diterima. Biarlah dia hidup sendiri bersama Naina, anak yang dia besarkan.
"Lita?" tegur Dokter Hendra saat melihat Lita datang dengan air mata yang berderai.
"Hei, ada apa?" tanyanya lagi dengan bingung.
Naina yang di sampingnya pun terlihat bingung melihat Lita menangis. Ia hampiri wanita itu dan memeluknya.
"Ibu kenapa nangis?" tanyanya bergetar.
Hendra masih menatapnya, ia tahu apa yang sudah terjadi. Lita semakin pilu kala mendengar Naina bertanya.
"Dia udah nggak mau nerima aku, Dokter. Aku mau pergi sama Naina. Aku titip Ibu," ucap Lita seraya menggendong Naina dan pergi dengan cepat.
__ADS_1
Dokter Hendra ingin mencegah, tapi tak bisa. Tangannya terangkat dan mulutnya terbuka, tapi diam tak bergerak.
Dasar Zafran bodoh! Kenapa bodoh masih dipiara, sih?!