
Di dalam mal, Rayan asik bermain bersama teman sebayanya. Dia yang aktif terlihat cerdas, juga mewarisi kebaikan ibunya, terlihat sering membantu teman memecahkan masalah. Dia juga calon pemimpin hebat, mengarahkan mereka yang tersesat. Semoga saja tidak mewarisi sifat ayahnya.
"Aku mau main sama Rayan di dalam, Bu," rengek Biya yang gelisah hanya memperhatikan saja dari luar.
Bi Sari dan Ibu terkekeh, mereka terlihat akrab dan kompak.
"Kamu nggak lihat di dalam sana anak-anak kecil semua. Kamu harus jadi kayak mereka dulu kalo mau masuk ke sana," sahut Ibu gemas sendiri dengan tingkah putri bungsunya.
Biya menghentakkan kaki kesal, berdiri sambil memegangi pembatas yang menghalanginya dari Rayan. Bocah itu menengok, melambaikan tangan dengan senyum bahagia tercetak jelas.
Terbersit sebuah ide di benak Biya, ia mengambil gambar Rayan beberapa kali dan mengirimkannya ke ponsel Seira. Sayangnya, wanita itu tidak membawa ponsel dan meninggalkan benda itu di kamarnya.
Keseruan mereka terganggu oleh kedatangan orang suruhan Fatih, laki-laki itu menghadap Ibu dan berbicara serius dengannya.
"Apa? Kamu yakin?" tanya Ibu memastikan.
"Ya, Nyonya. Sebaiknya buat hari ini dicukupkan dulu, saya khawatir ada hal-hal yang nggak diinginkan terjadi," ucap orang tersebut.
Ibu melirik Bi Sari, begitu pula Biya yang mendengarnya meski samar. Tanpa menunggu ia menghampiri petugas yang menjaga tempat bermain itu dan memintanya untuk membawa Rayan keluar.
"Aunty, kenapa kita buru-buru pulang? Rayan masih mau main di dalam," rengek bocah itu dalam gendongan Biya.
"Aunty juga nggak tahu, nanti kita tanya sama Nenek di dalam mobil, ya," jawab Biya yang tergesa-gesa melangkah menyusul dua wanita tua yang berjalan di depan.
Di belakang mereka dua orang suruhan Fatih bersiaga menjaga. Melindungi mereka dari seseorang yang mencurigakan. Benar, petugas kebersihan yang ditabrak Rayan tadi mencuri-curi kesempatan untuk dapat mendekati bocah itu.
Langkah Fatih menempatkan pengawal untuk menjaga mereka memang tepat sekali. Ketakutan Seira terbukti, hari pertama keluar rumah sudah disambut kejadian tak mengenakan itu.
Dua orang pengawal berdiri tegak menunggu petugas kebersihan yang membuntuti mereka sejak Rayan menabraknya.
"Tunggu!"
Tangan laki-laki itu dicekal mereka, kanan dan kiri.
__ADS_1
"Lepaskan aku, kenapa kalian memegangi tangan aku?" Dia memberontak, tak tahu jika dua orang laki-laki itu adalah pengawal bocah yang dia buntuti.
Kepalanya celingukan mencari-cari keberadaan Rayan, semakin gencar memberontak kala bocah itu masuk ke dalam mobil. Dua orang tadi menyeretnya ke belakang, kamar mandi yang tampak lebih sepi dari biasanya.
Membawa tubuh itu masuk ke ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki karyawan termasuk petugas kebersihan.
Brugh!
Tubuh itu terbanting di lantai, punggungnya membentur dinding. Dia meringis merasakan sakit pada setiap tulang dan sendinya.
"Siapa kalian? Dan kenapa kalian bawa aku ke sini?" bentaknya berapi-api.
Dua laki-laki yang menyeretnya itu bergeming, tak menjawab pertanyaan darinya. Kesal, itulah yang terlihat dari wajah kuyu petugas kebersihan tersebut. Pintu terbuka, wajah pucat itu gegas melongo ingin tahu siapa lagi yang datang.
Laki-laki lain dengan pakaian yang sama melangkah masuk, berjongkok di depan petugas kebersihan yang tak lepas melihatnya.
"Kenapa kamu membuntuti mereka? Apa yang kamu mau dari mereka?" tanyanya segera.
Mata elang itu menghujam manik sayu si petugas kebersihan, ia tak tahu apapun tiba-tiba diseret ke gudang dan dibanting, lalu diinterogasi layaknya seorang penjahat.
Pengawal itu mendengus, mencibirkan bibir mendengar jawaban bernada arogan darinya.
"Hmm ... bilang aja apa yang kamu mau dari mereka? Nggak perlu berbelit-belit," katanya lagi dengan nada rendah, tapi penuh penekanan.
"Siapa? Oh ...."
Tiba-tiba dia teringat pada sekelompok orang yang dia perhatikan. Tidak, tapi bocah itu yang menjadi pusat perhatiannya sejak tabrakan itu terjadi.
"Maaf, kalian kayaknya salah faham." Dia terkekeh, tapi laki-laki di depannya tak percaya begitu saja.
"Saya cuma mau mastiin aja karena wajah anak itu mirip seseorang yang saya kenal. Itu aja, saya bukannya mau mencelakakan mereka. Bukan! Cuma mau mastiin aja, sumpah!" katanya jujur.
Tatapan mereka bertemu, pengawal itu menelisik kejujuran di manik si petugas kebersihan. Ia beranjak dan membawa dua orang lainnya pergi tanpa berkata-kata lagi.
__ADS_1
Helaan napas lega dihembuskan si petugas kebersihan, jatuh bersandar pada dinding gudang sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Syok karena diseret seperti penjahat, membuat dadanya sempat terasa sesak.
"Ya ampun, cuma gara-gara anak yang nggak aku kenal, aku sampai kayak gini. Kayaknya mereka bukan orang sembarangan, tapi kenapa anak itu mirip banget sama Sei. Aku kayak lihat Seira versi anak-anak tadi. Astaga!" gerutunya sambil membayangkan wajah Rayan yang asik bermain.
"Iya, dia emang beneran mirip Sei. Apa Sei udah nikah terus mereka punya anak, ya? Kalo emang benar, artinya hidup Seira udah lebih baik sekarang dari pada aku." Dia mengusap wajah gusar, senyum mengejek Seira tetiba membayang dalam pikiran.
"Ah, nggak! Nggak mungkin, dia nggak bisa apa-apa, 'kan? Dia nggak bisa ngapa-ngapain tanpa aku. Emang bisa apa dia sendirian di luar sana? Keluarga nggak punya, teman juga nggak ada." Dia tersenyum getir melirik dirinya sendiri yang berpakaian petugas kebersihan.
Menghela napas lagi, dan menggeleng menepis bayangan senyum Seira yang kembali datang mengganggu. Laki-laki yang tak lain Zafran itu beranjak dari duduk, membasuh wajah, dan sebentar saja memperhatikan diri sendiri di dalam cermin.
Wajah yang dulu tampan, kini tampak kusam dan kuyu. Ada banyak garis-garis halus di area tertentu dan juga flek hitam hampir memenuhi wajah itu.
"Kenapa hidup aku jadi kayak gini sekarang. Dulu, waktu sama Sei aku nggak pernah keliatan jelek begini. Sekarang lihat muka sendiri aja aku muak rasanya," gumamnya sambil memperhatikan wajah di dalam cermin.
Zafran mengepalkan tangan hendak meninju cermin tersebut, tapi urung dilakukan. Dia kembali pada tugasnya membersihkan lantai gedung yang tak pernah usai tersebut.
*****
"Nenek, kenapa kita pulang? Rayan masih mau main di dalam sana," rengek sang bocah yang duduk di depan di pangkuan Biya.
"Iya, Bu. Ada apa, sih? Aku nggak jelas tadi dengernya," sahut Biya juga teringin tahu.
Bi Sari dan Ibu saling melempar tatapan, sebelum sama-sama menatap Rayan.
"Tadi orang suruhan Kakak kamu itu bilang, ada orang yang mencurigakan di mal. Dia terus ngikutin kita, makanya kita disuruh pulang aja," jawab Ibu yang dibenarkan Bi Sari.
Ibu sedikit terheran melihat sikap wanita sebayanya itu terus diam sejak kepergian mereka dari mal.
"Kenapa, Bu? Apa Ibu tahu siapa yang ngikutin kita?" tanya Ibu mengobati rasa penasaran di hatinya.
"Mmm ... saya nggak yakin, sih. Cuma nebak-nebak aja, tapi nggak nutup kemungkinan, 'kan, kalo dia mantan suami Non Sei. Mungkin karena lihat muka Rayan yang mirip sama ibunya, makanya dia ngikutin kita," ujar Bi Sari menerka-nerka segala kemungkinan.
Biya yang mendengar melirik kepala keponakannya, mengeratkan dekapan pada tubuh kecil Rayan. Entah mengapa rasa cemas pun memenuhi hatinya. Sekarang dia mengerti kenapa Seira begitu khawatir Rayan bermain jauh dari rumah.
__ADS_1
"Iya, Ibu bener juga. Sei, kan, emang dari sini mantan suaminya juga ada di sini. Pantes aja dia nggak mau Rayan dibawa main jauh, mungkin dia nggak mau lagi berhubungan dengan mantannya itu, Bu." Ibu berkomentar.
Semuanya membenarkan. Rayan yang tidak mengerti pembicaraan para orang dewasa yang bersamanya, hanya mendengarkan dan sesekali melihat ke arah mereka. Selebihnya, sibuk dengan mainan di tangan.