
Wanita yang duduk itu menilik Seira lekat-lekat, dia merasa pernah melihatnya. Hanya saja lupa di mana tepatnya. Dahi wanita itu bahkan berkerut banyak, betapa dalamnya ia menggali isi ingatan.
"Kayaknya udah pergi, sayang. Terus gimana?" ujar Fatih yang berdiri tak jauh dari posisi Seira berdiri.
"Awas aja kamu, Hendra. Aku akan datangin ke rumah sakit kalo emang hari ini nggak ketemu," ancam Seira. Matanya memicing dan tajam, seolah-olah mampu merobek daging siapa saja yang berada di hadapannya.
Wanita yang tak lain adalah Nisa itu tersentak saat nama Hendra disebut dengan lirih. Nisa juga melihat kobaran api kemarahan di setiap garis wajahnya yang menegang. Mulai hati bertanya-tanya apa yang dilakukan sang suami sehingga menyinggung perasaan wanita itu.
Siapa perempuan itu? Rasa-rasanya aku pernah melihat, tapi di mana?
Lalu, pandangan Nisa beralih pada Fatih yang masih mengedarkan mata ke segala arah.
Itu pemilik restoran itu, 'kan? Kenapa mereka cari-cari Mas Hendra, ya?
Semakin bingung Nisa dibuatnya. Hatinya tak henti bertanya, kenapa dan kenapa? Lagipula Hendra lama sekali perginya. Ke mana laki-laki itu setelah menemui Rayan?
"Ibu! Apa yang Ibu lihat?" tegur anak Nisa yang sejak tadi memperhatikan Seira dan Fatih.
Nisa gelagapan terlebih saat Seira menoleh ke arahnya karena suara anak perempuan itu yang hampir berteriak.
"Nggak ada, sayang. Kenapa?" Nisa mendengarkan apa yang terjadi pada anaknya.
Sementara Seira, kini tengah memperhatikan mereka. Terutama anak perempuan di sana, sedikitnya dia mirip dengan Hendra.
"Sayang, ada apa?" tanya Fatih sambil menarik tangan Seira untuk menjauh dari danau.
Wanita itu menoleh sebentar dan kembali lagi menatap anak perempuan Nisa.
"Mas, coba, deh, liat anak perempuan itu? Kenapa aku merasa dia mirip sama orang yang kita cari, ya?" tanya Seira menunjuk anak perempuan tadi menggunakan dagunya.
Fatih ikut melihat, dia tidak begitu yakin karena baru sekali bertemu dengan dokter itu.
"Udahlah, sayang. Mungkin mereka cuma mirip aja. Kita pulang, yuk. Nanti Fathiya nyariin mamahnya," ucap Fatih. Yang sebenarnya dia masih ingin mencari laki-laki itu, tapi teringat pada bayi mereka yang ditinggalkan, hatinya menjadi cemas.
"Tapi, Mas, mungkin mereka itu istri dan anaknya? 'Kan, kita nggak tahu," ujar Seira.
Fatih terdiam, semua itu memang tidak menutup kemungkinan, tapi apa yang akan dikatakan kalo bertemu dengan mereka. Perempuan itu tidak tahu apa-apa. Namun, Fatih mengerti maksud Seira, kemungkinan laki-laki itu masih di sana dan belum pulang.
__ADS_1
"Ayo!"
Seira berbalik dengan enggan, mereka mengayun langkah beberapa sambil menoleh ke belakang berharap laki-laki itu akan muncul di sana. Benar, teriakan anak perempuan itu membuat langkah Seira terhenti.
"Ayah!"
Seira berbalik, dengan rasa penasaran yang sangat ia menatap tak berkedip pada anak perempuan yang berlari ke arah ....
"Hendra?"
Seira dengan cepat melepaskan tautan tangannya, dan berjalan kembali mendekati mereka. Akan tetapi, Fatih tak kalah cepat menariknya. Ia tak ingin Seira meledak di hadapan anak dan istri Hendra.
"Kenapa, Mas? Dia di sana!" sentak Seira dengan dadanya yang bergemuruh.
"Tenang, sayang. Kamu nggak lihat anak kecil itu? Dia nggak tahu apa-apa, jangan sakiti perasaannya dengan memarahi laki-laki yang dia banggakan sebagai Ayah," pinta Fatih mengingatkan.
Seira tercenung, teringat pada dua anaknya di rumah. Terlebih pada Rayan yang baru saja mengalami guncangan.
"Tarik napas, buang pelan-pelan." Fatih menyarankan.
Fatih mendekat, Hendra belum menyadari kedatangannya. Dia masih asik dengan anak perempuan itu, saling menyuapi camilan ke mulut masing-masing.
"Ekhem ... maaf, bisa kita bicara?" ucap Fatih dengan pelan.
Hendra mendongak, begitu juga dengan Nisa dan anak mereka.
Bukannya dia yang berdiri sama perempuan itu, ya?
Nisa bergumam dengan alisnya yang bertaut. Begitu pula dengan Hendra, dia tidak ingat laki-laki di depannya itu.
"Ada apa? Apa kita saling mengenal?" tanyanya dengan bingung, atau hanya berpura-pura saja.
Fatih mendesah, mencoba untuk bersabar. Ia melirik anak perempuan Hendra, seketika teringat pada Fathiya.
"Iya, aku hanya ingin berbicara sebagai sesama lelaki dan seorang Ayah," jawab Fatih terlihat tenang dan sabar.
Hendra menyipit mengingat-ingat wajah laki-laki di depannya itu. Oh ... hatinya menemukan siapa sosok Fatih.
__ADS_1
"Untuk apa? Kamu bukan ayahnya juga, 'kan?" sengit Hendra tak acuh. Ia kembali bermain dengan anaknya tidak peduli pada sosok Fatih yang tengah menahan geram.
"Sebenarnya aku nggak mau ngerusak image kamu sebagai sosok ayah sekaligus suami yang baik di depan anak dan istri kamu itu, tapi sikap kamu yang angkuh membuatku terpaksa mengatakan yang mau aku katakan di depan mereka. Mungkin setelah ini pandangan kedua orang itu akan berubah terhadap kamu," ujar Fatih sembari mengulas senyum licik di bibirnya. Ia menumpuk kedua tangan di perut.
Hendra termangu, menatap anak dan istrinya dengan terkejut. Oh, mungkin dia amnesia seperti Zafran. Lupa jika ada sosok kecil itu di depannya juga sang istri.
"Baiklah, aku datang cuma mau kasih peringatan sama kamu karena selain Dokter kamu-"
"Bisa kita bicara di tempat lain?" tukas Hendra dengan cepat.
Wajahnya gugup lebih mendekati takut. Sosoknya sebagai suami dan ayah yang baik di depan mereka akan rusak oleh kata-kata yang akan disampaikan Fatih. Oh, pastilah ini mengenai Rayan. Apa anak itu mengadu? Sial!
"Kenapa? Apa kamu takut?" tanya Fatih menantang kesombongan Hendra. Nyatanya laki-laki itu terlihat gemetar ketika bertatapan dengan manik penuh tanya milk Nisa.
"Mas, ada apa?" tegur Nisa. Wanita itu merasa perlu tahu permasalahan yang sedang terjadi pada suaminya.
"Nggak ada, Nisa. Kalian tunggu di sini aja, aku mau bicara dulu sama dia," ucap Hendra semakin terlihat gugup.
Dia buru-buru berdiri dan meminta Fatih untuk mengikutinya. Tak lama Seira muncul, ingin berbicara dengan Nisa sebagai seorang Ibu. Bedanya, Nisa tidak memiliki jalan takdir seperti Seira. Yang diusir dan ditalak saat baru saja mengandung anak mereka. Lebih-lebih diselingkuhi oleh mantan suami dan sahabatnya.
Ia menghela napas, mencoba percaya pada Fatih yang akan menyelesaikan masalah Hendra. Seira memperhatikan beberapa saat wajah Nisa, dia tidak pernah tahu tentang perempuan itu.
Ia berdiri di belakang Nisa, perempuan itu tengah fokus pada dua laki-laki yang di sana. Terlihat sikap Fatih yang mendominasi dan Hendra berkali-kali menyangkal.
"Maaf, apa kita juga bisa bicara?" sapa Seira yang sontak membuat Nisa berbalik ke arahnya.
"Ka-kamu ...." Kalimat Nisa menggantung, tak tahu harus mengatakan apa.
Seira tersenyum seraya duduk di samping Nisa.
"Mungkin kamu pernah lihat aku, atau mungkin juga kenal sama aku. Aku Seira, mantan istri sahabat suami kamu," ucap Seira masih dengan nada pelan mengalun ramah.
Mata Nisa berkedip-kedip, mulutnya terbuka. Dia ingat, satu nama yang sempat dia dengar dari mulut suaminya dulu.
"Ka-kamu ...."
Oh, kenapa wanita itu menjadi gugup tiba-tiba? Apa ada sesuatu yang mengusik saat mendengar nama Seira? Sebegitu menakutkankah lima huruf itu? Jika tidak, tak akan Nisa berwajah pucat seperti seseorang yang sedang melihat hantu.
__ADS_1