Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Berbicara


__ADS_3

Malam datang dengan cepat sesuai keinginan Hendra, Hana pun telah terlelap di kamarnya tak akan datang mengganggu. Oh, ada apa dengan jantung? Kenapa tiba-tiba degupnya tak terkendali?


Hendra menghela napas sambil memegangi dadanya yang bergemuruh. Melangkah pelan menapaki anak tangga menuju lantai dua. Kalimat singkat dan padat yang diucapkan Nisa dengan tegas membuat tubuhnya terus bergetar sepanjang perjalanan.


"Aku tunggu di ruang kerja kamu!"


Hanya seperti itu saja, Hendra kalang-kabut dibuatnya. Berkali-kali menghela napas, mengurai sebak yang merebak, tetap saja getar di hatinya tak mau pergi. Oh, sungguh, perjalanan dari lantai satu menuju lantai dua terasa seperti meniti jembatan shiraath al-mustaqiim. Berpeluh-peluh wajah Hendra, seolah-olah ada api yang membakar di bawah sana.


Ruangan dengan daun pintu terbuat dari kayu dan dicat kecokelatan itu, laksana ruang sidang di mana dialah terdakwanya. Jantung Hendra semakin berpacu kencang, mendekati ruang tersebut, ruang kerjanya sendiri.


Dia berdiri di sana, menghela napas dalam-dalam. Menempelkan daun telinga pada pintu berharap ada sedikit saja suara dari dalam sana.


"Nis, kamu di dalam?" tanya Hendra setelah mengetuk lembut daun pintu ruangannya. Hendra diam mendengarkan dengan perasaan yang tak menentu.


"Masuk!" Suara Nisa terdengar seperti suara gemuruh dari langit yang akan menurunkan badainya.


Perlahan, Hendra membuka pintu ruangan dan melongo ke dalam. Nisa di sana, duduk di kursi terhalang meja kerjanya yang dipenuhi dengan berbagai dokumen. Ia bergeming, wajahnya serius dan tegang, membuat Hendra semakin kalut.


Laki-laki itu masuk dan menutup pintu tanpa suara. Melangkah pelan mendekati sebuah kursi yang berseberangan dengan meja tersebut. Ia duduk tanpa diperintah, rasa cemas yang sedari siang melanda hati berubah menjadi gugup.


Brak!


Nisa melempar sesuatu di atas meja, sebuah figura kecil dari kayu dan diberi cat keemasan, menusuk kedua manik Hendra. Tangannya bergetar mengambil benda tersebut, sungguh tak dinyana inilah malapetaka yang sedari tadi dia takutkan.


Hendra membaliknya, berkedip mata tak percaya Nisa akan menemukan rahasia yang dia simpan baik-baik.

__ADS_1


"Dia perempuan itu, kan? Perempuan yang kamu cari dengan alasan membantu sahabat kamu itu?" tanya Nisa penuh penekanan.


Setiap kata yang terucap, menikam-nikam rasa Hendra.


"Kenapa kamu bisa punya gambar dia? Dan kamu simpan dengan baik di sini. Pantas aja aku dilarang masuk ke ruang kerja kamu, itu karena kamu nggak mau aku tahu, kan?" cecar Nisa sembari menahan gemuruh di dada.


Dia cemburu, tapi rasa takut terhadap sosok Seira sudah pergi sejak perbincangan mereka sore tadi. Itu semua karena dia yakin Seira tidak akan pernah merebut Hendra darinya. Dia memiliki kehidupan yang lebih bahagia dari siapapun.


"Jawab, Mas!" tuntut Nisa semakin menekan suaranya.


"Da-dari mana ka-kamu dapat ini?" tanya Hendra terbata, dia terlihat seperti orang bodoh.


Nisa tertawa sumbang, melihat riak wajah laki-laki itu, dia tahu kecurigaannya selama ini ternyata benar.


Perlahan rasa hangat mengalir dalam tubuh wanita itu, menjalar hingga membuat kedua matanya memanas. Nisa mengepalkan tangan, menahan air yang hendak jatuh dari tahtanya.


"A-aku ...."


Nisa tertawa getir, ternyata dia tidak berhasil menaklukkan hati laki-laki itu. Tetap saja, nama lain masih tersimpan rapi di sana. Lalu, di mana tempat namanya disimpan? Sementara tahta ratu telah diduduki wanita lain.


"Aku akan maafin kamu kalo kamu mau jujur, Mas. Sekarang, aku mau tahu gimana perasaan kamu sama dia juga sama aku?" tanya Nisa setelah mempersiapkan hati untuk mendengar kenyataan pahit dari mulut laki-laki itu.


"Nisa, aku tahu aku udah salah karena masih nyimpen masa lalu, tapi percaya sama aku. Cuma kamu yang bisa bikin aku nyaman. Aku udah lama lupain dia, sejak kita nikah dulu apalagi saat aku udah jadi Ayah. Aku bener-bener udah lupa sama dia," ucap Hendra mencoba meyakinkan istrinya itu.


Nisa menghela napas, maniknya yang tajam menghujam milik Hendra. Dia bergeming, balas menatap sang istri untuk meyakinkan hatinya.

__ADS_1


"Kamu yakin, Mas?" tanya Nisa tak langsung mempercayai suaminya itu.


"Aku yakin, sayang. Cuma kamu di hati aku, nggak ada yang lain. Dia cuma masa lalu aku yang udah aku buang jauh-jauh. Apa lagi? Aku udah bahagia sekarang sama kamu, dan anak kita. Jangan sampai pikiran buruk kamu itu ngerusak semuanya, Nisa. Kita membangun semua ini dari awal, kan? Benar-benar dari nol," jawab Hendra. Dia tidak ingin kehilangan Nisa dan anaknya, tidak ingin hidup dalam penyesalan seperti Zafran.


Keduanya bergeming, tak saling bicara. Hanya mata mereka saja yang masih saling menatap satu sama lain. Nisa kembali menghela napas setelah beberapa saat terdiam.


"Terus kenapa kamu ganggu anak mereka? Dia masih anak kecil, Mas, sama kayak Hana. Dengan kamu datangi kayak tadi siang, itu mengganggu mentalnya. Kamu itu dokter, harusnya lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan," ucap Nisa sedikit geram.


Hendra gugup, teringat siang tadi di mana dia sengaja menemui Rayan dan ingin berbicara soal Zafran pada anak itu.


"I-itu ... aku cuma mau anak itu tahu siapa ayah kandungnya? Aku kasihan sama Zafran, Nis. Dia nggak ada kesempatan buat sembuh, makanya aku pengen dia lihat anaknya. Itu aja," jawab Hendra.


Nisa menggelengkan kepala.


"Itu bukan urusan kamu, Mas, itu urusan mereka. Lagian kalo kamu emang mau bantu teman kamu itu, nggak kayak tadi caranya. Kamu harusnya datangi orang tua anak itu, ngomong baik-baik sama mereka. Ceritakan, jelaskan kondisi teman kamu itu sama mereka. Kalo perlu kasih mereka catatan medis atau gambar dia supaya menjadi bukti kalo kamu itu nggak mengada-ada," papar Nisa meluruskan kekeliruan Hendra.


Laki-laki itu tertunduk, memikirkan soal Zafran yang sekarat, dia sungguh tak tega.


"Tapi aku kasihan sama dia, Nisa. Dia kelihatan putus asa dan nggak punya harapan hidup. Mungkin dengan dia bertemu sama anaknya, setidaknya dia punya secuil kebahagiaan," tutur Hendra.


Nisa tetap menggelengkan kepala.


"Niat kamu emang baik, Mas, tapi cara kamu itu yang salah. Aku sebagai seorang Ibu, juga nggak akan terima kalo jadi dia. Sekarang, pikirin lagi semuanya sama kamu, aku harap kamu bisa ngerti."


Nisa beranjak, meninggalkan harapan di ruangan itu. Semoga setelah pembicaraan ini, Hendra dapat mengerti semuanya dan mau memperbaiki kesalahan.

__ADS_1


__ADS_2