
Naina menegang saat tubuh tua itu kian mendekat. Entah mengapa setiap ketukan langkahnya membuat detak jantung Naina bertambah kuat. Ia berpaling sambil menutup mata rapat-rapat, sedangkan tangannya mencengkeram tangan Seira kuat-kuat.
Bi Sari menatap nanar gadis kecil itu, sungguh tak menyangka dia begitu takut melihatnya. Mata Bi Sari melirik Seira, berkedip kelopak indah itu meyakinkan hatinya.
"Ja-jangan ... maafin Nai. Maaf," racau gadis kecil itu semakin rapat kelopak matanya terpejam.
Seira mengulum senyum, lewat getaran tangannya ia dapat merasakan ketakutan yang sedang melanda hatinya. Untuk itulah, ia tidak melepaskan tautan mereka supaya Naina sedikit mendapatkan ketenangan dan rasa aman.
Namun, hati yang tengah bergetar karena rasa takut itu, seketika menghangat saat sebuah pelukan ia terima.
"Maaf, ya. Kemarin saya buat kamu takut. Saya nggak bermaksud bikin kamu takut. Saya cuma nggak bisa nahan emosi sampe nggak lihat ada kamu," bisik Bi Sari dalam dekapan.
Mendengar itu, tubuh Naina meremang. Ada rasa lega, aman dan tenang yang perlahan mengisi hati dan mengikis rasa takut yang sedari tadi menguasainya. Naina mengendurkan kelopak mata, wajah yang tadi mengernyit seketika mengendur dan beriak dengan tenang.
Pegangan tangannya di tangan Seira berangsur-angsur mengendur, tak lagi terasa bergetar. Mungkin pelukan Bi Sari cukup membuang rasa takutnya. Pelan-pelan Seira mencoba untuk melepaskan tautan tangan mereka, tapi urung ketika Naina menguatkannya kembali.
Seira menepuk-nepuk tangannya dengan lembut, mengatakan lewat sentuhan bahwa semua baik-baik saja. Tangan Naina kembali melemas, dan terlepas. Ia membalas pelukan Bi Sari, menjatuhkan kepala di pundaknya. Usia Bi Sari tak jauh beda dengan sang nenek di rumah, dia sangat ingin berpelukan dengannya, tapi tak bisa.
"Nai, maafin Nenek." Gadis itu melepas pelukan, menatap manik Bi Sari dengan lekat.
"Umur Nenek kayaknya nggak jauh beda sama Nenek di rumah. Boleh aku panggil Nenek aja?" ungkap Naina penuh harap.
Bi Sari tersenyum, mengusap pipinya lembut. Mengangguk setuju, melihat ketulusan di kedua biji mata anak itu.
"Alhamdulillah, jadi Nai nggak takut lagi sama Nenek Sari, 'kan? Nenek Sari orangnya baik, Nai pasti suka kalo udah kenal," ucap Seira penuh syukur.
__ADS_1
Naina mendongak, bersitatap dengan Seira selalu membuatnya meras aman dan damai. Ia anggukan kepala sebagai tanda setuju. Hujan di luar sana masih begitu deras, tapi rasa dingin yang membuat tubuhnya menggigil perlahan hilang berganti aliran hangat yang menenangkan.
"Ya udah, anak cantik mandi dulu. Terus ganti baju, biar nggak masuk angin. Di luar masih hujan," ucap Bi Sari sembari melilitkan handuk di tubuh kecil Naina.
Bi Sari berdiri sambil menggandeng tangan Naina. Pancaran maniknya memperlihatkan rasa lega tidak seperti kemarin, tampak gelisah dan tak sabar.
"Biar Bibi aja, Non, yang mandiin Nai. Non istirahat aja di dalam," ucap Bi Sari lagi seraya meninggalkan lorong tersebut dan masuk ke kamar mandi.
Seira menggeleng senang kembali menghampiri anak dan suaminya. Di sana Fatih dan Rayan menunggu penasaran. Teringin tahu apa yang menyebabkan gadis itu datang sambil menangis. Seira menceritakan sambil dibubuhi nasihat untuk kedua anak kecil di sana.
Sementara di kamar mandi, Naina dimandikan Bi Sari. Gadis penjaga toko datang memberikan baju ganti untuk Naina. Gadis kecil itu tak lagi takut padanya, mengingat Nenek di rumah dia pun teringin wanita tua di sana sembuh dan bisa melakukan apa yang sekarang dilakukan Bi Sari.
"Nenek, kalo Ibu punya salah sama Nenek, tolong dimaafin. Ibu nggak mau makan udah beberapa hari ini, terus minta maaf. Nai nggak tahu apa kesalahan Ibu? Apa bisa dimaafin atau nggak? Tapi tolong Nenek berbelaskasih mau terima maaf Ibu," tutur Naina dengan lirih sambil memandang wajah tua yang memandikannya.
"Iya, Nenek udah maafin, kok. Udah nggak usah dipikirin lagi, ya. Nai harus hidup dengan baik karena Nai anak yang pintar," ucap Bi Sari sambil tersenyum.
Kasian kamu, Nai. Sekecil ini udah nanggung beban berat orang tua. Mudah-mudahan hidup kamu dipenuhi kebahagiaan ke depannya. Aamiin.
"Nah, udah selesai. Ayo, kita ke depan, tunggu hujan reda dulu," ajak Bi Sari seraya menggandeng bahu kecil itu.
Di sana Seira dan Fatih telah menunggu bersama kedua anak itu. Bi Sari memangku Naina, duduk menunggu hujan reda.
Namun, baru beberapa saat duduk, Naina tiba-tiba turun dari pangkuan dan berdiri sambil membungkuk.
"Bu, apa Ibu bisa pergi jenguk ibunya Nai? Mungkin kalo Ibu ke sana, ibu Nai mau makan," pinta anak itu yang kembali menatap Seira dengan matanya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Bi Sari dan Fatih sama-sama menoleh pada wanita itu, menunggu keputusan apa yang akan diambilnya. Seira pun turut melirik, ia menghela napas panjang sebelum menghadap Naina.
"Tunggu bentar, ya," pintanya seraya beranjak dan berjalan menuju meja kasir.
Di sana, Seira menulis sesuatu pada selembar kertas. Hanya dia yang tahu isi surat tersebut, ia pun meminta pada gadis penjaga toko untuk memasukkan beberapa kue ke dalam sebuah tas kecil.
Semua orang menunggu penasaran apa yang sedang dilakukan wanita itu. Seira berjongkok di hadapan Naina, meraih tangan kecilnya yang terasa lembab. Ia berikan tas kecil itu sambil terus mendoakan kebaikan untuknya.
"Maafin Ibu, tapi Ibu nggak bisa pergi ke mana pun. Ibu punya bayi yang nggak bisa ditinggalin, tapi Nai jangan cemas. Di dalam sini ada obat yang bisa bikin ibunya Nai mau makan. Kasih sama dia, dan percaya ibunya Nai pasti mau makan," ucap Seira misterius.
Fatih mengernyit, teringin tahu apa yang tadi ditulis Seira.
"Beneran, Bu? Ibu nggak boong, 'kan?" tanya Naina dengan kedua mata yang memancarkan harapan.
"Lho, bener, dong. Ibu nggak suka berbohong, percaya aja sama Ibu. Ibu Nai pasti makan," jawabnya yakin.
Naina mengangguk berharap yang dikatakan Seira akan benar-benar terjadi.
"Kalo begitu, Nai mau pulang sekarang. Takut Ibu sama Nenek nyariin," ucap Naina dengan sopan.
Seira mengangguk bangga, anak sekecil itu sudah mengerti betapa kerasnya kehidupan di dunia. Dengan diantar salah seorang pekerja di toko kue, Nai pergi dengan hati yang lega.
"Mudah-mudahan Ibu mau makan abis liat ini. Mereka orang-orang baik, semoga aja rezeki mereka bertambah banyak," gumam Naina sambil melirik pada tas yang dibawanya.
Gadis kecil itu juga memeriksa pakaian yang diberikan Seira, terlihat bagus dan mahal. Dengan kondisinya yang sekarang, dia tak akan pernah bisa membelinya. Naina tersenyum bahagia, bersyukur dalam hati dipertemukan dengan orang-orang baik itu.
__ADS_1