
"Ada apa, Kak? Kenapa sama Kak Sei?" tanya Biya saat melihat raut wajah Fatih yang tiba-tiba menegang setelah menerima telepon dari Seira.
"Kakak nggak tahu, Sei minta Kakak pulang sekarang juga," jawab Fatih bingung.
"Ya udah, kita pulang aja kalo gitu." Biya hendak beranjak, tapi ditahan Fatih.
"Nggak. Kayaknya kamu tetap di sini temenin Rayan, biar Kakak aja yang pulang. Kasihan Rayan masih pengen sama mereka," sergah Fatih dengan cepat.
Biya menurut, ia kembali ke tempat duduk dan menunggu. Memikirkan masalah apa yang terjadi sehingga Fatih harus kembali.
Laki-laki itu mendekati mereka, tersenyum canggung kepada semuanya.
"Mmm ... maaf, tapi saya harus kembali. Ada masalah di restoran yang membutuhkan saya," ucap Fatih di hadapan keempat orang yang sedang bercengkerama itu.
Zafran dan Ibu sama-sama mendongak, begitu pula dengan Rayan dan Naina.
"Kenapa buru-buru, Pak?" tanya Zafran dengan kerutan di dahi.
"Ada apa, Pah? Rayan ikut pulang sama Papah," ucap Rayan sigap berdiri dan mendekati Fatih.
Tangan Fatih mengusap kepalanya, tersenyum saat anak laki-laki itu melihat ke arahnya.
"Sayang, Rayan di sini aja, ya. Ada Aunty juga yang temenin, nanti sore Papah jemput kalo semua masalah udah selesai. Ayah sama Nenek masih kangen sama Rayan," ucap Fatih.
Ia tak tega melihat wajah sendu wanita tua itu saat Rayan memilih ikut pulang dengannya. Anak itu melihat sang nenek, lalu mengangguk setelah memperhatikan raut wajah tuanya.
Fatih kembali menatap Zafran, tersenyum pada laki-laki itu.
"Iya, Pak. Saya harus buru-buru pulang untuk menyelesaikan masalahnya. Kalo gitu, saya permisi. Saya titip Rayan sama adik saya di sana, nanti sore saya jemput mereka," ucap Fatih seraya mengusap kepala Rayan dan mencium ubun-ubunnya.
Rayan menyalami Fatih sebelum laki-laki itu mengangguk pamit dan pergi meninggalkan taman dengan tergesa. Hatinya tak tenang mengingat suara Seira yang terdengar marah di telepon. Ada masalah apa?
Ia mengemudikan mobilnya dengan cepat. Sayang, akhir pekan harus menghadapi kemacetan yang mengular. Fatih memukul setir, tak sabar ingin segera tiba di rumah. Bunyi klakson mobil yang saling bersahutan satu sama lain, menambah ruwet keadaan.
Perlahan kemacetan pun terurai dan Fatih segera melangsungkan perjalanan. Ia terus masuk ke belakang restoran dan buru-buru turun untuk menemui Seira di rumah.
"Assalamualaikum! Sei!" Suara Fatih menggema di ruang tengah. Ia bahkan tak melepas sepatu karena mencemaskan keadaan Seira.
"Fatih, ada apa, Nak? Kenapa kamu buru-buru kayak gini?" tegur Ibu yang muncul dari belakang.
"Sei di mana, Bu? Sei tadi telepon dan minta Fatih buat pulang," tanya Fatih dengan cemas.
"Jangan kencang-kencang, Fathiya lagi tidur. Tadi Ibu lihat Seira ke restoran, coba aja cari di sana," jawab Ibu.
Tanpa menunda, Fatih segera berlari ke restoran. Menatap sekeliling mencari-cari keberadaan sang istri di antara banyaknya kepala hari itu.
__ADS_1
"Gilang!" Ia memanggil Gilang yang muncul dari arah dapur.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Gilang begitu tiba di depan Fatih.
"Kamu lihat Sei? Kata Ibu dia ke sini," tanya Fatih sambil terus menelisik setiap kepala di sana.
"Oh, Ibu tadi ke ruang kerja Bapak. Katanya pengen lihat-lihat ruang kerja Bapak," jawab Gilang.
Fatih membeku. Kenapa tiba-tiba Seira ingin melihat-lihat ruang kerjanya?
"Gawat!" Fatih gegas berbalik dan berlari menuju ruangannya.
Ia menghirup udara panjang dan membuangnya sekaligus. Membuka pintu ruangan dengan pelan, seperti seorang maling yang takut ketahuan.
"Sayang!" Fatih memanggilnya lirih.
Berjalan masuk dan menutup pintu dengan pelan. Wajahnya meringis tatkala melihat banyaknya foto bertebaran di lantai ruangan.
Udah aku duga, Sei pasti nemuin ini. Astaghfirullah! Aku harus bilang apa?
Wajah Fatih terangkat melihat Seira yang berdiri menghadap jendela. Menatap hilir-mudik kendaraan dan manusia di sekitar restoran.
"Sayang!"
Seira berbalik dengan wajah yang merah padam, Fatih terhenyak. Menahan napas ketakutan, meneguk ludah yang terasa berduri menusuk tenggorokan.
Hati Fatih sibuk bergumam, berdiri dengan wajah gelisah. Entah apa yang akan menjadi jawabannya ketika Seira bertanya tentang gadis kecil itu.
Langkah kaki Seira bahkan membuat kedua kaki Fatih bergetar dengan sendirinya. Sungguh, hatinya ketar-ketir sekarang. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Dia pun masih menunggu.
"Apa maksudnya itu semua, Mas?"
Seira berhenti di hadapan laki-laki itu, melingkarkan kedua tangan di leher suaminya, sembari mengintimidasi. Bibirnya tersenyum tipis, tapi tajam menusuk. Fatih tahu, wanitanya itu sedang menahan amarah.
"A-apa? Mas nggak ngerti," jawab Fatih gugup.
Seira terkekeh, menunduk sebentar sebelum kembali menatapnya. Tangan kanannya turun dan bermain di dada bidang sang suami.
"Jelasin aja kenapa semua foto itu bisa ada di sini dan tersimpan rapi," tuntut Seira sembari menekan tengkuknya.
Dia terlihat liar hari itu, tapi Fatih tahu Seira tidak sedang menggodanya. Kedua mata Fatih bergerak-gerak gelisah, ia sudah menduga Seira akan menanyakan tentang semua itu.
"I-itu cu-cuma masa lalu, sayang. Mas juga udah lupain dia, kok. Jangan marah, ya," ucap Fatih sembari melingkarkan tangan di pinggang Seira.
"Kenapa, Mas? Kenapa harus dilupain? Kalo aku nggak mau gimana?" tanyanya semakin membuat Fatin berkeringat.
__ADS_1
"Sei, percaya sama Mas. Itu cuma masa lalu yang ... yah, cuma masa lalu aja, sayang. Kamu jangan kayak gini, lagian itu cuma anak-anak," jawab Fatih lagi masih berkilah.
Seira memukul dadanya pelan, kemarahan tadi lenyap begitu saja berganti dengan semu merah di pipi.
"Bukan itu yang aku tanyain. Aku tanya kenapa foto-foto itu ada di sini?" tekan Seira menjelaskan apa yang ingin ditanyakannya.
Fatih semakin gugup, sekarang dia menyesal kenapa tidak menuruti ucapan sang ibu untuk melepas semua kenangan itu. Benar-benar penyesalan yang tak ada gunanya lagi.
"I-itu ...."
"Aku mau tahu siapa gadis kecil di foto itu? Apa Mas tahu?" tanya Seira menyela ucapan Fatih.
"Di-dia teman masa kecil Mas, sayang. Lagian sekarang Mas juga nggak tahu di mana dia? Udah lama juga nggak berhubungan sama dia," jawab Fatih yang justru mengetatkan tangan di pinggang Seira.
"Apa Mas masih mengharapkan kehadirannya?" Seira semakin menuntut.
Fatih menggeleng cepat. Menolak isi pemikiran sang istri, tapi Seira justru cemberut. Ia tampak kecewa dengan jawaban Fatih. Ada apa sebenarnya?
"Aku kecewa. Kenapa Mas menggeleng?" Seira menatap sendu manik suaminya.
"Ya, karena Mas udah punya kamu, sayang," jawab Fatih dengan yakin.
"Apa Mas mau tahu di mana gadis kecil itu sekarang?"
Fatih kembali menggeleng.
"Kenapa hari ini Mas bikin aku kecewa terus. Apa Mas tahu siapa gadis kecil itu?"
Kali ini Fatih diam, tidak mengangguk ataupun menggeleng. Ia takut Seira semakin kecewa karenanya.
"Mau tahu nggak, Mas?" Seira menekan dada Fatih hingga tangannya dapat merasakan detak dari dalam sana. Ia terkekeh sendiri, tanpa peduli pada Fatih yang sudah dibanjiri keringat.
"Dia di sini, Mas. Di depan kamu. Itu foto aku lagi waktu kecil, aku inget. Aku udah inget semuanya, Mas," jawab Seira merebahkan kepala di dada bidang Fatih.
Sumpah demi apapun, Fatih tertegun setelah mendengar keterangan sang istri.
"A-apa ...."
"Iya, Mas. Itu aku, rupanya takdir kita sudah terikat sejak kecil. Benar kata anak laki-laki itu, aku nggak akan bisa bahagia sama siapapun karena cuma dia yang bisa bikin aku bahagia. Dan sekarang, semuanya terbukti. Makasih, ya, Mas," ucap Seira sambil mendongak menatap wajahnya.
Bibir Fatih berkedut, lidahnya kelu tak dapat berbicara. Senang bukan main, karena gadis kecil yang sempat hadir dalam mimpinya adalah wanita yang dia nikahi.
Fatih merengkuh tubuh Seira, menangis penuh haru. Penantian yang tak sia-sia. Pada akhirnya takdir mempertemukan mereka meskipun tanpa disengaja.
"Ya Allah, Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah. Akhirnya aku bisa menunaikan janjiku. Terima kasih." Fatih menciumi kepala Seira penuh syukur. Ini keajaiban, takdir memang tak akan salah memilih.
__ADS_1
****
Tuntas!