
"Mamah! Papah!"
Rayan berlari begitu terlepas dari gendongan Biya. Seira dan Fatih menunggu di depan restoran, setelah Biya menghubungi. Di belakang mereka Jago tercengang melihat kedatangan Rayan.
Ia pandangi wajah Seira bergantian dengan Rayan, benar-benar bagai pinang dibelah dua. Tiada beda, amat serupa. Kedua matanya semakin membelalak begitu Bi Sari turut muncul dari dalam mobil. Bibirnya berkedut-kedut, matanya berkaca-kaca. Sungguh ia terharu.
"Sayang!"
Seira menangkap tubuh bocah itu, mengangkatnya dalam gendongan seraya menciumi seluruh wajah.
"Gimana mainnya? Seneng?" tanya Fatih sembari mengusap punggung Rayan.
Bocah itu berbalik, berganti gendongan pada papahnya. Mengangguk semangat karena sepanjang bermain dia merasa senang.
"Tapi cuma bentar, disuruh pulang sama temen Papah," adunya dengan bibir yang mengerucut lucu.
Seira melirik pada Fatih, kemudian melemparkan tatapan pada tiga wanita yang mengajaknya bermain. Dari riak wajah ketiganya, ia tahu ada sesuatu terjadi pada mereka di mal.
Kening Bi Sari mengernyit begitu menatap lelaki berseragam security di belakang mereka. Ingat tak ingat, seperti tak asing, tapi tak ingin menebak-nebak.
"Apa yang terjadi?" Seira bertanya entah pada siapa, tapi matanya melirik pada tiga wanita itu.
Biya gugup, Bi Sari diam hanya Ibu yang melangkah pelan mendekati Seira. Menjelaskan apa yang terjadi di mal, naluri seorang Ibu yang takut kehilangan anaknya, Seira mencengkeram tangan Rayan dengan kuat.
Ia tak tahu harus berkata apa? Hati kecilnya berkata dia pastilah laki-laki itu. Benar, ada Jago di kota itu. Apakah mereka pindah? Pikiran itu pun terus memenuhi hatinya. Pindah, pastilah Zafran pindah dari kota yang dulu.
"Jago-"
"Eh, Jago? Pantesan dari tadi Bibi kayak kenal, ternyata kamu Jago?" Bi Sari menyela ucapan Seira, baru ingat dengan wajah yang dulu selalu ditutupi janggut dan sekarang bersih lagi rapi.
"I-iya, Bi. Saya Jago," jawab Jago seraya menghampiri Bi Sari dan menyalaminya dengan sopan.
"Kamu ganteng kalo nggak ada jenggotnya kayak gini. Coba dari dulu dicukur, pasti kamu udah nikah dari dulu," puji Bi Sari.
Jago mengulum senyum, tapi air menggenang di kedua sudut matanya. Terharu karena mereka masih baik terhadapnya sama seperti dulu. Seira turut tersenyum, membenarkan apa yang diucapkan Bi Sari tadi.
Teringat pada Rayan, Jago berbalik dan memperhatikan wajah mereka berdua lagi.
"Apa itu anak Ibu yang dulu itu?" tanya Jago. Entah bagaimana menggambarkan riak wajahnya, ada haru, bahagia, lega dan syukur yang terlihat di sana.
__ADS_1
Seira melirik Rayan dalam gendongan Fatih, ia hanya mengangguk tanpa menyahutnya dengan kata.
"Dia pasti nyesel udah nyia-nyiain istri sebaik Ibu dan anak yang hebat kayak Aden-"
"Rayan, namanya Rayan," bisik Bi Sari disaat Jago menggantung ucapannya karena tak tahu nama anak itu.
"Iya, Den Rayan."
"Alhamdulillah, dia sehat dan cerdas. Kamu sendiri gimana, Jago? Udah nikah sama gadis incaran kamu?" tanya Seira tak enak jika harus membahas soal ayah Rayan di hadapan Fatih dan keluarganya.
Jago tersenyum malu-malu, rona merah menyembul di kedua pipinya mengingat sang pujaan hati di rumah.
"Alhamdulillah, udah, Bu." Jago menjawab pelan.
"Mmm ... udah punya anak?" Bi Sari bertanya cepat.
"Alhamdulillah, udah, Bi."
"Laki-laki apa perempuan?" Giliran Fatih yang turut campur menggoda.
"Perempuan, Pak. Alhamdulillah, baru dua tahun. Beda satu tahu sama Den Rayan," jawabnya lagi terus tersenyum.
"Ya udah, kita masuk aja. Ibu udah laper ni," sela Ibu sambil mengusap perutnya yang keroncongan.
Mereka semua masuk menikmati makan siang yang disuguhkan restoran Fatih.
"Jadi, ini restoran Papah? Wah ... Papah hebat!" seru Rayan begitu tahu restoran yang ia kagumi adalah milik keluarga Fatih.
"Iya, sayang. Ini punya kita, punya Rayan sama Mamah," sahut Fatih sambil mengusap kepalanya.
Tak ada yang keberatan untuk itu, karena restoran tersebut memang didirikan olehnya sendiri meskipun Ibu sedikit membantu dengan memberikan tambahan modal.
"Oya, sayang. Kamu mau lihat toko kue kamu yang di sini? Kebetulan Mas ada pertemuan di sana," tanya Fatih sembari menatap Seira.
"Oh, jadi toko kue itu punya Kakak? Aku pikir Kak Fatih sendiri yang buka," seloroh Biya sembari mendengus merasa dibohongi oleh kakaknya sendiri.
"Kakak mana bisa buat kue seenak itu, semua itu resep dari Kakak ipar kamu ini. Dia jago, 'kan?" Fatih berucap bangga. Merangkul bahu Seira sambil tersenyum memuja.
Semakin kagum Ibu dan Biya pada wanita itu, tak salah Fatih memilih istri. Selain pandai menjaga diri, pandai pula menjaga rumah dan perut suami.
__ADS_1
Laki-laki bodoh, kenapa dia buang istri sempurna kayak Sei? Tapi dengan begitu, akhirnya Fatih beruntung bisa mendapatkan Sei. Kalo saja waktu itu aku nggak denger cerita si Udin, nggak mungkin sekarang Sei ada di sini, jadi menantu aku.
Ibu bergumam, hatinya tiba-tiba kesal teringat pada mantan suami Seira yang diceritakan Mang Udin waktu itu.
"Gimana, sayang?" Fatih kembali bertanya.
"Kayaknya aku tunggu kamu di sini aja, Mas. Nggak apa-apa, 'kan?" jawab Seira lirih.
Fatih mengusap rambutnya, tak mengapa jika ia ingin tetap di restoran. Sekalian saja belajar mengatur restoran menggantikan Fatih.
*****
Siang berlalu, malam datang menjemput. Seharian Rayan bermain dengan Jago dan Fatih tak lagi cemburu setelah mendengar laki-laki itu telah berkeluarga. Anak itu tertidur di ruangan khusus milik Fatih, ditemani Biya karena tak mau jauh darinya.
Sementara Ibu dan Bi Sari pulang lebih dulu bersama supir mereka. Seira beranjak dari ruangan, melangkah keluar hanya sekedar ingin melihat-lihat keadaan restoran. Sungguh tak dinyana, hidupnya akan sampai pada titik ini. Di mana kebahagiaan selalu hadir memenuhi hati setiap harinya.
"Malam, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Gilang manager di restoran itu.
"Nggak ada, Pak. Saya cuma mau lihat-lihat. Boleh, 'kan?" jawab Seira sambil mengulas senyum.
"Silahkan, Bu. Sangat boleh." Gilang menjawab ramah, bersyukur dalam hati memiliki majikan yang baik seperti Fatih dan Seira. Meski wanita itu baru dikenalnya, tapi ia tahu jika sosoknya tak jauh beda dengan sang atasan karena jodoh adalah cerminan diri.
Seira mengangguk, berdiri memperhatikan setiap bangku yang hampir terisi penuh oleh pengunjung. Tepat di sana, di meja nomor dua puluh lima, seseorang terus melambai-lambaikan tangan memanggil pramusaji.
Seira menatap sekeliling, mencari-cari karyawan di sana. Namun, mereka semua terlihat sibuk, hilir-mudik tak henti-henti mengantarkan pesanan. Jadilah dia berinisiatif mendatangi meja tersebut, menggantikan tugas pramusaji yang terlihat sibuk semua.
Seira menggulung rambut tinggi ke atas untuk memudahkannya bekerja. Beruntung hari itu ia tidak mengenakan gaun. Wanita itu membenarkan blazer sembari membawa langkah mendekati mereka. Ia bahkan berdehem untuk memperbaiki suaranya.
"Yah, Pak, Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sopan.
Mendengar suara lembut itu, mereka semua menoleh. Seketika saja membelalak ketika mengenali siapa yang akan melayani.
"Sei?"
"Seira?"
*****
Hallo, Kakak-kakak semua. Tak bosan author ngucapin terima kasih untuk semua dukungan yang Kakak-kakak berikan. Salam hangat dan penuh cinta.
__ADS_1