
"Saya datang ke sini sengaja untuk melamar Seira jadi istri saya, Bu. Kalo Ibu kasih izin, saya mau menikahi Seira dekat-dekat ini, Bu."
Kalimat yang kudengar di malam itu, malam di mana Mas Zafran datang ke rumah bersama ibunya untuk meminangku di hadapan Ibu, terdengar sangat manis di telinga hingga bunga-bunga cinta yang selama ini aku jaga dan rawat bermekaran di hati.
Aku tersenyum-senyum sendiri di dalam bilik kamarku yang tak seberapa luas ini. Dari balik pintu aku mengintip dia yang duduk begitu gagah berhadapan dengan Ibu. Benar, lelaki tampan di sana adalah calon suamiku. Kekasihku yang beberapa hari lalu mematri rasa di hati.
Tak kulihat riak gugup di wajahnya, dia nampak tenang dan berwibawa. Pantas saja, banyak gadis yang tergila-gila padanya, tapi justru ia memilihku. Gadis biasa saja dan tak punya apa-apa.
Kulihat Ibu masih bergeming, bersandar pada kursi rotan peninggalan Ayah. Sudah lapuk memang, tapi kata Ibu masih kokoh dan masih dapat digunakan.
"Nak Zafran tahu sendiri Seira itu cuma anak yatim, dia juga bukan dari keluarga berada. Cuma ini yang kami punya, gubuk satu-satunya peninggalan ayah Sei. Apa Nak Zafran dan Ibu nggak apa-apa punya istri dari gadis biasa-biasa aja dan besan dari keluarga biasa kayak kami ini?"
Suara Ibu memudarkan senyum yang kuukir sejak sosoknya duduk di sana. Ruang tamu yang tak jauh dari kamarku. Tanpa sadar aku menunduk, gelisah rasa hati cemas pun tak berperi, menanti jawaban dari sang pujaan hati.
"Saya nggak masalah, Bu. Sebelum datang ke sini, saya udah pikirin semuanya. Saya nggak peduli soal status keluarga, yang saya tahu saya mencintai Sei dan ingin cepat-cepat nikah sama dia. Apa Ibu kasih kami izin menikah?"
Jawaban tegas Mas Zafran membuat kepalaku mendongak dengan sendirinya. Sekali lagi tak kulihat keragu-raguan di wajahnya yang tampan dan selalu membuatku merindu.
Jawab saja 'iya', Bu. Biarkan anakmu ini bahagia, tapi wajah tua itu nampak bimbang dan banyak pertimbangan. Beliau pasti takut anaknya ini tidak akan bahagia, beliau pasti khawatir perbedaan kasta di antara kami akan membuatku hidup menderita bersama lelaki itu.
Helaan napas Ibu bahkan menebus daun pintu yang menghalangiku. Aku lupa pada wanita tua yang berhadapan dengan Ibu di sana. Ia tak bereaksi apapun sepanjang pembicaraan mereka. Mungkinkah hati Ibu cemas karenanya?
"Saya mengerti, tapi apa Nak Zafran mau janji sama saya? Bukan apa-apa, saya udah bilang Sei itu yatim. Ayahnya meninggal waktu dia masih remaja, dan selama ini saya yang jaga senyumnya. Saya cukupi semua kebutuhannya, dan sebagai orang tua tentunya saya cemas. Saya takut anak saya kelak jadi beban, dan suami serta keluarganya nggak sabar yang akhirnya membuat gadis saya terpuruk dan menderita."
__ADS_1
Ucapan yang terlontar dari bibir keriput itu sukses membuat mataku memanas. Cairan itu sekonyong-konyong jatuh menghujam pipi. Aku tahu dan aku lihat bagaimana perjuangan Ibu untuk membuatku bahagia.
"Saya janji sama Ibu, saya yang akan gantikan tugas Ibu untuk menjaga senyum Sei. Saya juga akan menerima semua kekurangan Sei karena saya cinta sama dia," jawab Mas Zafran dengan tegas.
Riak wajah itu aku suka, tak ada kebohongan, apalagi keragu-raguan. Seketika hatiku yakin dia memang lelaki baik yang dihadirkan Tuhan untukku. Terima saja, Bu. Apa yang Ibu cemaskan?
"Saya percaya, Sei juga sering cerita soal Nak Zafran. Saya nggak bisa ngelarang jodoh yang sudah diikat Tuhan di hati kalian. Cuma satu pesan saya, tolong jaga Sei. Gantikan peran ayahnya yang pergi untuk mencukupi semua kebutuhannya. Kelak, kalo dia berbuat salah, nasihati tanpa membentak. Kalo ada kekurangan dari dia yang kamu nggak ridho, bicarakan baik-baik sama dia. Air matanya sangat berharga buat saya, bisa kamu lakuin itu buat saya?" ucap Ibu.
Aku terenyuh mendengarnya, Ibu hanya mencemaskan masa depanku. Ia hanya ingin aku bahagia bersama siapapun kelak yang menikahiku. Lelaki mana saja yang ridho dengan segala kekuranganku. Yakinlah, Bu. Mas Zafran pasti bisa melakukan apa yang Ibu pinta. Dia lelaki yang bertanggungjawab dan tidak akan menyia-nyiakan anak gadis Ibu ini.
"Saya janji, Bu. Segenap hati, saya akan menjalankan peran suami dengan baik. Menjaga Sei, menyayangi dia, dan menerima segala kekurangan yang ada padanya. Ibu nggak perlu khawatir, saya janji akan buat anak Ibu bahagia," janji Mas Zafran pada waktu itu.
Kalimat tegas yang terucap dari bibirnya yang manis sukses membuatku melayang di awang-awang dan tak ingin turun lagi. Semua itu terbukti, dan di hadapan jasad Ibu ia menuangkan janji yang sama. Akan menjagaku, mencintaiku, dan menerima segala kekuranganku.
Namun, selepas lima tahun pernikahan, rahimku tak kunjung disambangi si buah hati. Mas Zafran memang tidak menuntut, tapi Ibu mertua kian hari kian bersikap dingin padaku. Setiap saat selalu membuat telingaku berdenging mendengar sindirannya soal anak.
Tepat saat aku dinyatakan hamil, semuanya terungkap. Kupikir aku bisa memperbaiki semua dan mengembalikan keadaan rumah tanggaku. Nyatanya, kehamilan Lita lebih dulu diketahui daripada aku.
Dia mengingkari janjinya. Janji di hadapan Ibu, di hadapan jasadnya yang terbujur kaku. Hari itu, dia bahkan membiarkan air mataku tumpah ruah menghujani bumi. Remuk redam hati dibuatnya karena tanpa alasan dia mengusirku sekaligus menceraikan aku.
Mandul? Apa itu yang selama ini mereka pikir? Lalu, benih siapa yang kini tertanam di rahimku? Kulirik Lita, ingin kukuliti saja wajahnya yang tak tahu malu itu. Namun, aku sadar, mungkin ini sudah jalan takdir yang harus aku lalui. Kutinggalkan rumah beserta lelaki yang selama lima tahun ini menjaga senyumku. Mungkin tugasnya sudah selesai sampai di sini. Aku juga tidak peduli, apakah dia akan mencariku atau tidak.
Rasanya hati dan jiwaku tak ingin berlama-lama di dekat mereka. Aku juga enggan membawa apapun dari sana meskipun harta peninggalan Ibu turut campur dalam kesuksesannya.
__ADS_1
Kujatuhkan diri di antara dua pusara, menangis menumpahkan semua kesakitan. Kuadukan semua yang dilakukan Mas Zafran pada Ibu. Aku yakin, ia pun tengah menangis melihat buah hati yang selama hidupnya dia jaga datang membawa derita.
"Ibu, dia ingkar janji sama Ibu. Dia bohong, Bu. Dia usir Sei, dia talak Sei. Ibu ... Sei butuh Ibu, pengen peluk Ibu. Tolong bawa Sei sama Ibu. Sei nggak kuat, Bu."
Kujatuhkan tubuh di atas gundukan yang mengurung Ibu. Meremas tanah merah itu menuangkan derita, tanpa tahu apakah itu semua akan mengakhiri penderitaanku. Sebuah pelukan kurasakan dari belakang tubuh, isak tangis lirih pun turut membaur dengan sedu yang menguar dari bibirku.
"Jangan ngomong gitu, Non. Inget, ada janin dalam rahim Non. Non Sei harus kuat demi dia," ucap Bi Sari, Ibu keduaku. Wanita yang selama ini menjagaku, menyayangiku, menguatkan aku dari sindiran ibu mertua.
Namun, semua itu tak menyurutkan air mataku, ia terus saja mengalir membasahi pusara Ibu.
"Tapi aku nggak kuat, Bi. Aku mau ikut Ibu aja, aku nggak mau hidup lagi, Bi. Aku mau ikut Ibu."
"Nggak, Non. Nggak! Kalo Non pergi Bibi sama siapa? Bibi akan sendirian di dunia ini, Non sama Bibi aja, ya. Kita sama-sama rawat janin yang ada di rahim Non Sei. Dia pasti cantik dan kuat kayak ibunya. Jangan sia-siain anak yang mau hidup di sana, Non. Jangan!"
Tangis Bi Sari menyayat hatiku, mungkin Ibu juga akan seperti itu jika saja dia ada dihadapanku sekarang. Memeluk dan menasihati dengan kata-katanya yang ampuh menenangkan hatiku.
"Bi Sari bener, Non. Masih banyak yang sayang dan peduli sama Non. Ada Jago yang tanggap nolong kita, apalagi kalo bukan karena dia peduli sama Non." Suara Mang Udin turut menggema di telinga.
Selain Bi Sari, lelaki yang tak lagi muda itu pun memiliki peran penting dalam hidupku. Dia seperti Ayah, selalu menasihatiku seperti apa itu asam garam kehidupan yang pernah dilaluinya.
Berkat orang-orang itu, kehadiran serta nasihat yang mereka berikan, aku kuat sampai detik ini. Pun dengan kehadiran laki-laki yang perlahan memupus luka di dalam hati. Perhatian, kasih sayang, dan cinta yang dilimpahkannya, mengikis semua rasa perih yang mencabik rasaku.
Hingga dia lahir, dan aku menyaksikannya tumbuh. Terbersit rasa sesal di hati, seandainya saat itu aku memilih mati, tak akan ku bertemu dengannya, takkan kucium pipinya, kupeluk tubuhnya. Dialah obat untuk semua rasa sakit yang diberikan laki-laki itu, dan selamanya aku tak akan mengabarkan kehadirannya.
__ADS_1
*****
Selamat membaca, terima kasih atas semua dukungan. Dan semoga suka.