Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Bersamaan


__ADS_3

Waktu terus berjalan, usaha beras Zafran pun mulai stabil setelah semua perhiasan milik Ibu dan istrinya dijual. Perlahan semua kembali seperti semula, tapi sikapnya terhadap Lita masih sama. Dingin dan ketus.


Zafran sangat jarang di rumah, tak jarang tiba di rumah saat larut malam. Alasan selalu sama, di gudang. Ia juga telah mengganti ponselnya yang rusak dengan yang baru.


"Mas, kamu di mana? Bukannya kita mau periksa kandungan?"


Lita mengubungi Zafran yang sejak dari semalam tak pulang. Perutnya sering berdenyut nyeri, ia khawatir waktunya sudah tiba.


"Mas! Kok, diem aja? Kamu mau pulang nggak? Klo nggak, aku pergi sendiri aja," ucap Lita lagi, tapi Zafran tak kunjung menjawab.


Laki-laki itu keluar dari kamar mandi di sebuah rumah, ia terkejut melihat Mala sedang memegang ponselnya di telinga. Zafran mendelik tajam ketika matanya berserobok dengan gadis itu. Gegas merebut benda tersebut dan pergi meninggalkan Mala sendirian.


"Yah, kenapa, Lita?" tanya Zafran setelah keluar dari kamar Mala.


"Maaf, di sini nggak ada signal. Aku lagi ketemu sama klien soalnya," lanjutnya berbohong.


Terdengar helaan napas berat dari seberang sana, Zafran menunggu Lita mengatakan apa yang dikatakannya pada Mala.


"Kamu pulang nggak, Mas? Bukannya kita mau periksa kandungan? Ini udah lewat soalnya," tanya Lita harap-harap cemas.


Zafran tercenung, ia membuat janji dengan Mala dan lupa pada istrinya. Sebuah tangan melingkar di pinggang, Mala tak membiarkannya pergi begitu saja. Bibirnya yang nakal bermain di sekitar ceruk leher Zafran, laki-laki itu meremang. Ia sadar ini sebuah kesalahan, karena kesal terhadap Lita dan orang tuanya, ia pergi mencari pelampiasan pada Mala.


"Kamu udah janji mau temenin aku, jangan sampai ingkar janji," bisik Mala di telinga Zafran sembari digigitnya daun telinga itu dengan pelan.


Darah laki-laki itu bergolak, mendidih hingga ke puncaknya. Kesalahan yang sama dia lakukan, jerat nafsu telah membelenggu jiwa Zafran. Ia pun tenggelam dalam kubangan dosa yang hitam.


"Mas! Kamu masih di sana, 'kan?" Suara Lita menyentak lamunan Zafran.


Cepat-cepat tangan Zafran melepas lingkaran di pinggangnya dan pergi menuruni anak tangga. Ia takut kelakuannya akan tercium Lita, dan akhirnya menjadi masalah juga.


"Iya, Lita. Maaf, tapi ini belum selesai. Kamu pergi sama Ibu dulu, ya. Nanti klo udah selesai aku nyusul ke rumah sakit," jawab Zafran berbohong semakin jauh.


Lita mendesah, tapi tak dapat melakukan apapun. Ia menutup sambungan telepon begitu saja tanpa pamit pada suaminya itu.


"Kamu bilang ada masalah sama istri kamu? Kamu juga bilang dia nggak becus apa-apa? Kenapa masih peduli aja sama dia?"


Suara Mala menyentak Zafran yang sedang memandangi ponsel di tangan. Selain menjual perhiasan mereka, Zafran memanfaatkan kedekatannya dengan Mala. Ada rencana terselubung dibalik semua sikap baiknya.


Gadis itu berdiri tak jauh dari posisinya, tak ada senyum disaat pandang mereka bertemu. Zafran mendesah, berjalan pelan mendekati.


"Lita lagi hamil besar, sebentar lagi dia lahiran. Aku nggak mau anakku sampai kenapa-napa nantinya. Aku udah lama pengen punya anak, kamu ngerti, ya?" jawab Zafran dengan lemah lembut.

__ADS_1


"Tapi kamu nggak boong, kan, soal kamu mau pisah sama dia nanti setelah lahiran. Inget, lho, aku udah bantu banyak buat ngembangin usaha kamu lagi karena kamu udah janji sama aku," ucap Mala mengingatkan.


Zafran tersenyum, mengangguk pelan teringat akan janjinya waktu itu. Memang setan tak pernah jauh dari sisi manusia, menggoda keimanan mereka sampai terjerumus ke lembah nista.


Mala memeluk Zafran dengan manja, tujuannya kembali ke kota Jakarta perlahan akan tercapai meskipun harus berkorban banyak. Ia tak peduli, yang penting Zafran bisa kembali padanya.


*****


Lita memandangi ponsel dengan kesal, akhir-akhir ini sikap Zafran berubah. Padahal hanya tinggal menghitung hari anak mereka akan lahir.


"Nggak apa-apa, mungkin Zafran beneran lagi sibuk. Kamu jangan berpikir yang macem-macem, ya. Pergi sama Ibu aja, yuk!" ucap Ibu menenangkan.


Mereka tampak akrab karena tak sabar dengan kehadiran anak yang di kandungnya. Lita mengangguk, seraya menyambar tas dan melangkah keluar bersama Ibu.


Sebuah mobil yang berhenti di halaman rumah menghentikan langkah mereka. Menunggu siapa yang datang. Ibu tersenyum ketika Hendra keluar dari dalam mobil, sudah lama sekali dokter muda itu tidak berkunjung. Bersamanya seorang gadis cantik ikut keluar dan melangkah berdampingan.


Tatapan Hendra fokus pada perut Lita, bibirnya tersenyum aneh dan Lita melihatnya.


"Nak Hendra? Udah lama banget nggak main ke sini, dateng-dateng bawa istri," sapa Ibu yang tersenyum ramah pada calon istri Hendra.


Laki-laki itu melirik pada gadis di sampingnya, sekilas menangkap rona merah di pipi mulus itu.


"Alhamdulillah, akhirnya anak Ibu yang satu ini nikah juga. Iya, Ibu pasti dateng. Masa ke pernikahan anak sendiri nggak dateng," sahut Ibu sedikit terkejut, tapi juga bahagia.


Sedekat itulah mereka, tapi merenggang sejak ayah Zafran meninggal.


"Makasih, Bu."


"Masuk dulu!"


Beberapa detik berikutnya, sebuah sepeda motor berhenti di luar gerbang. Pengemudi dengan jaket kulit berwarna coklat turun sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Siapa, ya?" Ibu mengernyit.


Ia maju beberapa langkah mendekati sosok asing itu.


"Saya dari pengadilan agama, Bu. Apa benar ini rumah Bapak Zafran?"


"Ya, benar."


"Ada surat untuknya. Ini tolong disampaikan pada yang bersangkutan," ucapnya sembari menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Ibu.

__ADS_1


"Mari, Bu."


"Makasih, Pak."


Ibu melihat-lihat logo yang tertera di depannya, logo pengadilan agama. Apakah surat cerai? Apa Zafran sudah mengurus perceraiannya dengan Seira? Bibir Lita tersungging senyum, senang bukan kepalang.


Namun, ekspresi wajah Ibu berbeda, terlihat kecewa dan sedih. Diam-diam Ibu berharap Seira bisa kembali kepada Zafran.


"Surat apa, Bu?" Hendra mendekat.


"Pengadilan agama, Zafran udah ngurus perceraiannya sama Seira." Ibu berucap lesu.


Hendra pun mendesah, takdir mereka memang cukup sampai di usia lima tahun pernikahan. Muncul rasa cemas dalam benak Hendra, tentang kondisi Seira yang sedang hamil. Buru-buru ditepisnya saat merasakan sebuah sentuhan di punggung.


"Ugh! Bu, perut aku!"


Suara Lita yang kesakitan mengagetkan semu orang, mereka berbalik dan melihat Lita meringis sambil memegangi perut.


"Mas, mungkin Mbak Lita mau lahiran. Bawa aja ke rumah sakit," saran calon istri Hendra.


"Kami juga mau ke rumah sakit tadinya, mau periksa. Terus gimana ini?" Ibu sedikit panik.


"Ya udah, ikut mobil aku aja. Biar aku antar ke rumah sakit," ucap Hendra yang segera membuka pintu mobil.


Ibu dan Nisa membantu Lita berjalan, masuk ke dalam mobil Hendra sambil sesekali meringis.


"Di mana Zafran?" tanya Hendra sambil memutar kemudi meninggalkan rumah tersebut.


"Dia lagi ada pertemuan sama rekan bisnisnya, jadi nggak bisa pulang," jawab Ibu.


Wanita tua itu mengusap-usap perut Lita penuh perhatian. Menenangkan sang menantu dari rasa sakit dan panik.


"Telepon dia, Bu. Bukannya dia pengen punya anak, dia harus temenin Lita lahiran," titah Hendra. Diam-diam melirik Lita dari spion tengah, tersusun sebuah rencana dan hanya dia yang tahu.


Lita diam-diam tersenyum, apa yang diucapkan Hendra benar adanya. Semoga setelah melihat anak itu, Zafran kembali berubah.


Ibu bersegera mengubungi Zafran yang langsung diangkat oleh anaknya itu.


"Zafran, Lita mau lahiran!"


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2