
Hari terus berlanjut, Lita memutuskan untuk pindah ke sebuah kontrakan yang lebih layak. Bekerja sebagai buruh cuci pakaian dari rumah ke rumah orang. Dia tidak ingin Naina tumbuh menjadi anak yang tidak berguna. Meski harus bekerja kasar dan menguras tenaga bahkan terkadang harus rela menahan hinaan, Lita rela yang penting uang yang dia hasilkan halal dan makanan yang masuk ke dalam perut Naina pun halal.
Hari itu, dia baru saja menerima bayaran dari salah satu majikan. Menimang uang yang tak seberapa jumlahnya itu dengan senang. Namun, tetap membuat hatinya bahagia bukan kepalang. Itu hasil jerih payahnya, itu hasil peras keringatnya sendiri.
Lita berjalan pulang di sore hari, melewati pertokoan juga penjual-penjual makanan di pinggir jalan. Terketuk hatinya untuk membeli makanan kesukaan Naina dan Ibu. Melihat sebuah gerobak bertuliskan martabak, ia hampiri dan memesan sebanyak dua buah.
Duduk menunggu sambil celingukan, berniat mengajak Naina untuk bermain di taman saat ia telah mendapatkan gaji dari tiga majikan yang ia cuci pakaiannya.
"Ini, Bu." Suara si penjual menyentak lamunan Lita.
Ia menoleh menerima dan memberikan sejumlah uang sebelum pergi meninggalkan tempat tersebut. Kembali meniti langkah menuju rumah di mana cahaya kecilnya sedang menunggu.
Namun, dia lagi-lagi dikejutkan oleh sebuah klakson mobil yang begitu nyaring. Berselang, sebuah mobil putih menjegal langkahnya. Berhenti tepat di samping Lita berjalan. Wanita itu berhenti, mengernyit dahi Lita terlihat bingung. Oh, semoga bukan godaan.
Kaca mobil terbuka, sesosok wajah tampan menyembul dari jendela mengenakkan kacamata. Wajahnya tampak serius, ia membuka pintu mobil dan beranjak keluar.
Lita mengenali sosoknya sebagai dokter pribadi Zafran sekaligus sahabat dari suaminya itu.
"Dokter? Ada apa?" tanyanya sembari menahan degup jantung yang tiba-tiba bertalu.
Hendra berdiri di depannya, menatap aneh pada wajah Lita yang terlihat lebih tua daripada saat terakhir kali mereka bertemu.
"Langsung aja, kamu dan anak kamu harus melakukan tes untuk mengetahui apakah kalian tertular penyakit yang diderita Zafran atau tidak?" ucap Hendra tanpa basa-basi.
Kedua ujung alis Lita semakin bertaut satu sama lain, ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh dokter tersebut.
"Maksud Dokter apa?" tanyanya teramat bingung.
"Hanya untuk memastikan kalau kalian sehat dan baik-baik aja. Cuma itu, kok. Sebaiknya kita pergi sekarang, lebih cepat lebih baik," ucap Hendra yang lantas membukakan pintu mobil untuk Lita.
__ADS_1
Dengan ragu wanita itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam, duduk dengan gelisah dan hati yang bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Mobil itu melaju sesuai arah petunjuk Lita menuju kontrakan untuk menjemput Naina dan Ibu. Gadis kecil yang sedang asik bermain boneka di depan rumah, mendongak saat sebuah cahaya mobil menyorot ke arahnya.
Ia berdiri menunggu siapa gerangan yang datang.
"Ibu!" panggil Naina ketika Lita keluar dari dalam mobil tersebut. Disusul Hendra yang melangkah pelan di belakangnya. Dia ingin menyapa Ibu yang duduk di kursi roda.
"Siapa Om ini, Bu?" tanya Naina menunjuk Hendra yang berdiri di depan kontrakan.
"Ini, Dokter Hendra. Beliau mau meriksa Nenek, ayo masuk!" ucap Lita berbohong.
Bukan inginnya, dia hanya ingin menghindari omongan tetangga yang pedasnya melebihi cabe level seratus. Dokter Hendra mengangguk, mengerti tentang perasaan Lita. Mereka masuk dan menemui Ibu yang berada di kamarnya.
Wanita tua itu sedang duduk di kursi roda, memandangi foto Zafran di pangkuan. Air matanya jatuh, betapa ia merindukan anaknya. Bagaimana kabarnya hari ini? Sudah makan ataukah belum? Semua menjejali pikirannya.
"Ibu, ada Dokter Hendra mau jenguk Ibu," panggil Lita sebelum membuka pintu kamar Ibu.
Dengan susah payah wanita di atas kursi roda itu mengusap air mata. Tak ingin menantu dan sahabat anaknya itu melihat kesedihan di wajahnya. Ia mengangguk, seraya membalik kursi roda dengan hati-hati.
Bibirnya tersenyum meski bergetar. Menatap nanar pada manik Hendra yang berada di jarak yang sama dengannya. Dokter tersebut melangkah, berjongkok di samping Ibu sambil menggenggam tangannya yang kaku lagi gemetar.
"Gimana kabar Ibu? Apa Ibu udah merasa lebih baik sekarang?" tanya Hendra meski tahu tak akan ada jawaban yang akan dia dengar.
Ibu menganggukkan kepala, teringin bertanya padanya tentang kabar Zafran. Tangannya berkedut-kedut ingin mengusap kepala dokter itu, tapi tak mampu. Tanpa menunggu lebih lama, Hendra mengutarakan maksud kedatangannya untuk melakukan pemeriksaan terhadap keluarga Zafran.
Ibu setuju, mereka pun bergegas pergi ke rumah sakit tanpa menunggu apapun lagi. Satu per satu dari mereka diperiksa, dan menunggu hasil pemeriksaan.
"Dokter! Sepertinya telah terjadi kesalahan pada hasil pemeriksaan saudara Zafran. Kami menemukan tidak adanya gejala virus HIV, tapi ada virus lain yang menyerang sistem kekebalan tubuhnya. Ini jenis penyakit langka bahkan para peneliti pun belum mengetahui penyebabnya. Gejalanya tak jauh beda seperti orang yang menderita Aids, tapi bukan," jelas seorang dokter sambil menyerahkan sebuah kertas hasil pemeriksaan milik Zafran.
__ADS_1
Hendra menerimanya, membaca dengan hati-hati. Ia lega sekaligus cemas.
"Bukankah penyakit ini tidak menular dan tidak diturunkan?" tanyanya.
"Benar, Dokter. Menurut para peneliti penyakit ini tidak seperti Aids yang menular dan diturunkan. Namun, penyakit ini juga sama bahayanya, karena menyerang sistem kekebalan tubuh."
Entah harus seperti apa Hendra menanggapinya, apakah harus bersyukur ataukah sedih.
"Lalu, bagaimana dengan hasil pemeriksaan mereka berdua?" tanyanya.
"Mereka berdua aman, hanya saja harus lebih berhati-hati dan menjaga pola hidup sehat. Terutama ibu dari anak itu, dia rentan terkena penyakit. Juga anak itu pernah memiliki riwayat anemia akut," ucapnya menjadi akhir perbincangan mereka.
Hendra mendesah lega, ia berjalan keluar ruangan dan menemui mereka. Berbicara soal sakit yang diderita Zafran, dan kebebasan laki-laki itu dari penjara.
"Jadi, suami saya ada di sini, Dokter?" tanya Lita penuh haru.
Ibu menitikan air mata, kerinduan terhadap anaknya akan terobati jua. Dokter Hendra mengangguk, pihak kepolisian memutuskan untuk membebaskan Zafran sebelum waktunya dengan alasan sakit.
Dokter tersebut membawa mereka ke ruangan isolasi di mana Zafran berada. Ruangan yang berbeda dengan Mala. Mereka berdiri di sana, melihat dari celah pintu laki-laki yang tampak lebih kurus itu.
Hendra membuka pintu ruangan, tapi Zafran bergeming pada jendela kaca di ruangannya. Langkah kaki yang mengetuk lantai tak dihiraukan, ia pikir itu pastilah perawat yang membawakan obat untuknya.
"Mas!" lirih Lita sambil menangis.
Zafran terhenyak, tak menduga akan mendengar suara istrinya itu.
"Ayah?" Air matanya luruh saat suara Naina menyusul. Ia menunduk, enggan berbalik.
"Jangan mendekat!" katanya cepat saat bunyi langkah terdengar.
__ADS_1