Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Pertemuan


__ADS_3

"Pak Dirman, ada apa?" tanya Fatih dengan wajah tegang.


Petugas keamanan restoran miliknya itu bergeming, ia menatap Fatih dengan tatapan yang sulit diartikan. Gilang di samping atasannya pun bertanya-tanya soal keberadaan Jago yang seperti menunggu mereka secara sengaja.


"Kenapa Pak Dirman masih di sini? Saya kira udah pulang begitu acara selesai," sambar Gilang tak tahan juga lisannya yang gatal ingin berucap.


"Anu, Pak. Tadinya emang saya udah mau pulang, tapi di depan saya ketemu Ibu. Katanya pengen ketemu sama Bapak," jawab Jago sembari menyingkir dari jalan dan menunjukkan keberadaan Seira.


Lorong itu sepi karena bukan lorong yang bisa dilalui para pasien ataupun para penjenguk. Tak lama, pintu ruangan itu terbuka. Hendra dan yang lainnya keluar sembari menatap mereka dengan bingung.


"Pak Fatih, kenapa masih di sini?" tegur Hendra. Dokter itu mendorong kursi roda Zafran keluar dan hendak membawanya kembali ke ruangan.


Fatih gugup tak dapat menjawab. Berselang, bunyi ketukan langkah di ujung lorong menggema terus mengusik telinga mereka. Semua orang fokus ke arah tersebut. Termasuk Zafran yang tetap diam di atas kursi rodanya.


Satu sosok berbalut kerudung merah muda dan gamis berwarna serupa muncul, di gendongannya seorang bayi yang didandani serupa dengannya. Menyusul sosok kecil itu pun keluar, sosok yang menjadi perbincangan hangat dalam kasus video Zafran.


Keduanya berjalan cukup tenang, Fatih tersenyum menyambut kedatangan istri dan anaknya. Tak apa, mungkin sudah waktunya. Lagipula para wartawan telah pergi.


Zafran termangu dengan bibir dan kelopak mata yang berkedut-kedut. Rasa panas menjalar dari rongga dada hingga merayap ke wajahnya. Terus menyentuh kedua mata, menimbulkan genangan air merubahnya menjadi kemerahan.


"Anakku." Setetes air jatuh tanpa dapat ia tahan.


Tangannya bergetar hendak menggapai sosok kecil itu, sosok yang ia rindukan, sosok yang seharusnya menjadi penerus dalam keluarganya. Pandangannya beralih pada sosok anggun, sang mantan istri yang tampak begitu sempurna dengan pakaian yang menutupi seluruh auratnya.

__ADS_1


Kamu cantik, Sei. Sempurna. Aku emang bodoh udah buang kamu cuma demi wanita itu. Rasanya, menyesal juga udah nggak ada guna. Ini hukuman buat aku karena udah nyia-nyiain wanita sebaik kamu. Maafin aku, Sei.


Air mata Zafran bercucuran membayangkan wajah Seira yang pucat dan lemah saat dia mengusirnya dulu. Bayangan Bi Sari yang memohon padanya untuk membiarkan Seira tinggal sampai kondisinya membaik, benar-benar menusuk hatinya.


Baru sekarang dia bisa merasakan sakitnya menjadi Seira waktu itu. Baru sekarang dia tahu betapa pedihnya hati Bi Sari karena penolakan itu, dan semuanya sudah terlambat.


Tak hanya Zafran, Hendra dan Nisa pun tertegun, tapi berikutnya wanita itu pun tersenyum. Dokter Ferdi hanya menduga-duga karena dia belum tahu sosok Seira dan Rayan yang menjadi pembahasan dalam video Zafran.


Fatih meninggalkan tempatnya menghampiri Seira, rasa cemas melanda hati Zafran. Ia takut laki-laki itu membawa mereka kembali pulang dan tidak memberi izin untuk bertemu dengannya. Gelisah, tapi tak dapat melakukan apapun juga.


"Sayang, sama siapa ke sini?" tanya Fatih begitu mereka berhadapan.


"Aku diantar karyawan, Mas, karena Rayan pengen ke sini," jawab Seira tak enak hati. Seharusnya dia meminta izin suaminya dulu untuk pergi, bukan?


Sementara si sulung, tak berkedip matanya menatap Zafran. Laki-laki pesakitan yang telah membuatnya ketakutan setengah mati. Pandang mereka beradu, Zafran menatap penuh rindu pada sang anak yang mulai meniti langkah mendekatinya.


Fatih dan Seira tidak melarang, mereka hanya diam memperhatikan Rayan yang meninggalkan tempatnya. Bocah itu tak berekspresi, tak ada senyum ataupun rasa haru yang terlihat di wajahnya. Dia tampak datar dan biasa saja tidak seperti Zafran yang menangis karena rasa haru.


Rayan berdiri di depannya, menatap dalam-dalam manik laki-laki kurus itu. Tak sabar rasanya Zafran ingin segera memeluk tubuhnya, mencium aromanya. Memanggilnya sayang dan mendengar panggilan Ayah dari bibir mungil itu.


"Apa benar ini ayahnya Rayan?"


"Iya, sayang. Ini Ayah, Nak." Zafran menjawab sambil menjatuhkan air mata.

__ADS_1


"Ayah mau ketemu sama Rayan, kan? Tapi kenapa bikin Rayan takut?" tanya anak itu yang menohok hati Zafran.


Ia menggeleng sambil melipat bibirnya, air terus berjatuhan dari pelupuk, tak mampu menjawab pertanyaan itu. Semua orang diam membiarkan ayah dan anak itu berinteraksi untuk pertama kalinya.


Melihat wajah Rayan, dan mengira usianya, Dokter Ferdi benar-benar merasa bersalah dan menyesal. Anak seusia Rayan pastilah terguncang hebat dengan pemberitaan yang membawa-bawa dirinya. Akan tetapi, bocah itu tampak tegar dan kuat juga bisa menerima kehadiran Zafran sebagai ayah kandungnya.


"Maafin Ayah, Nak. Maaf. Ayah emang salah karena udah bikin kamu takut. Ayah putus asa, Rayan. Ayah cuma takut nggak bisa ketemu sama kamu karena sakit Ayah ini. Ayah cuma mau lihat wajah anak Ayah sebelum kematian datang menjemput. Maafin Ayah, tolong maafin Ayah," ucap Zafran sembari tertunduk menyembunyikan deraian air matanya.


Rayan melangkah semakin mendekat, mengusap pipi Zafran membersihkannya dari air mata. Laki-laki itu mendongak, menatap penuh pada manik sang anak.


"Rayan nggak benci sama Ayah, Rayan udah maafin Ayah. Kata Papah kalo nggak ada Ayah, nggak mungkin ada Rayan. Makasih karena Ayah, Rayan bisa ada di sini, punya Mamah kuat, ada Papah hebat, dan sekarang ada Adik juga. Rayan sayang sama Ayah, cepat sembuh supaya kita bisa main sama-sama," ucap bocah itu dengan lugas.


Sepertinya Rayan sudah menyusun kata-kata itu menjadi kalimat sejak mereka di perjalanan. Bocah itu memeluk Zafran, erat. Berterimakasih padanya karena adanya dia maka sosok Rayan bisa ada di dunia ini. Seburuk-buruknya orang tua, mereka tetap orang yang paling berjasa untuk hidup seorang anak.


Seira yang melihat tak kuasa menahan tangis, ia menyandarkan kepala di bahu suaminya, meredam tangis yang menguar tanpa izinnya. Jago memalingkan wajah enggan melihat keharuan itu.


Nisa yang mudah tersentuh hatinya, memeluk Hendra menyembunyikan tangis di ketiak sang suami. Teringat pada Hana, jika anaknya itu ada di posisi Rayan, apakah akan sekuat Rayan? Oh, tidak! Jangan dibayangkan, jangan sampai suaminya melakukan kebodohan yang akan menjadikan Hana sebagai korban utamanya.


Tangis Zafran semakin menjadi, betapa ia merasa kecil di hadapan sang anak. Rasa sesal semakin menghimpit rongga dada, membuatnya sesak dan sakit. Kenapa dan kenapa? Seandainya, kata-kata itu tak dapat mengembalikan waktu yang telah terbuang sia-sia.


"Maafin Ayah, Nak. Ayah bisa tenang sekarang, doakan Ayah semoga bisa sembuh. Ayah juga mau main sama kamu," lirih Zafran bergetar.


Rayan mengangguk dalam pelukan. Pertemuan yang mengharukan.

__ADS_1


__ADS_2