
"Papah! Papah! Papah!"
Seira dan semua orang yang berada di ruang keluarga tersentak mendengar teriakan Rayan dari kamar. Fatih menahan tubuhnya yang hendak beranjak dan menggeleng, sigap ia berdiri dan berlari menuju lantai dua rumah untuk melihat Rayan.
Tangisan bocah itu terdengar dari tangga, langkah Fatih semakin cepat dan membuka pintu kamar segera.
"Rayan!" panggilnya dengan mata membelalak melihat Rayan tengah menangis menghadap jendela.
"Papah! Rayan takut, Pah! Rayan takut!"
Tangan balita itu terangkat, raut ketakutan jelas tergambar di wajahnya yang basah oleh keringat pun oleh air mata. Dengan cepat Rayan menyambar leher papahnya dan mengalungkan kaki di pinggang laki-laki itu.
Kepalanya terbenam dalam di pundak kokoh Fatih, sambil terus terisak dan meracau ketakutan. Laki-laki itu berjalan mendekati jendela sambil menenangkan Rayan. Tak ada yang salah di sana. Jendela itu terkunci dan tirainya tertutup. Mungkin Rayan bermimpi, entah apa?
"Ssstt ... cup, cup! Nggak ada apa-apa di sana, sayang. Udah, ya, nangisnya. Kita turun aja ke bawah," ucap Fatih sambil mengusap-usap punggung gemetar Rayan akibat rasa takut dan tangisannya.
"Rayan takut, Pah. Rayan takut!" racau Rayan tak lekas berhenti menangis.
"Iya, iya, Papah ngerti. Udah, ya. Tenang, ada Papah di sini. Rayan nggak akan kenapa-napa," ucap Fatih lagi sambil melangkah keluar dari kamar.
Baru beberapa langkah, Seira muncul dari tangga dengan wajahnya yang panik.
"Mas! Kenapa Rayan?" tanyanya segera sambil mengusap punggung anaknya.
"Mamah!"
Rayan beralih pada gendongan Seira, berada di pelukan sang Mamah hatinya menjadi tenang. Ketakutan hilang begitu saja, apalagi setelah merasakan sapuan tangannya di punggung yang secara ajaib memberikannya kenyamanan.
"Dia ketakutan, mungkin mimpi buruk," ucap Fatih sembari memeluk keduanya.
Mereka membawa Rayan menuju ruang keluarga di mana semua orang berkumpul. Gurat panik pun terlihat di wajah mereka, bertanya hal yang sama seperti yang ditanyakan Seira.
"Mah, haus," lirih Rayan dengan suaranya yang parau.
Fatih yang mendengar gegas mengambil segelas air di atas meja dan memberikannya pada Seira. Benar-benar haus, Rayan menghabiskan segelas air dalam satu kali tenggak.
Bocah itu kembali menjatuhkan kepala pada pundak mamahnya, pundak yang paling kokoh dari pundak siapapun. Berada dalam dekapannya, segala rasa takut juga cemas hilang begitu saja. Menguap bersama udara yang terbang dan hilang.
"Rayan kenapa, sayang? Rayan mimpi, ya?" tanya Seira sambil melirik wajah sang anak di pangkuan.
Tangannya mengusap-usap rambut Rayan, lingkaran erat di pinggang ia rasakan dari kedua tangan kecil itu. Mata bulatnya yang sama persis seperti milik Zafran, terbuka dan menatap Seira lesu. Ia mengangguk sambil mengeratkan pelukan.
"Mmm ... pasti lupa baca doa, coba bilang sama Mamah Rayan mimpi apa?" tanya Seira lagi sambil melayangkan kecupan di pelipisnya.
__ADS_1
Semua orang fokus mendengar, suara televisi diperkecil supaya dapat mendengar jawaban dari balita itu.
"Ada orang yang mau ambil Rayan dari Mamah sama Papah. Rayan takut, Rayan nggak mau pisah sama Mamah sama Papah," jawabnya semakin erat lingkaran di pinggang Seira.
Fatih dan Seira saling menatap satu sama lain, ketakutan yang dirasakan wanita itu ternyata dirasakan juga oleh Rayan. Kontak batin antara Ibu dan anak yang tak rela dipisahkan.
"Mungkin ...."
"Ssstt!"
Ibu menyela suara Biya yang hampir saja berbicara soal ayah kandung Rayan. Matanya berkedip melarang si bungsu untuk berbicara apapun.
Satu yang ada di pikiran mereka, dan hanya satu nama yang melintas di sana. Nama Zafran, mantan suami Seira.
"Apa mungkin dia udah tahu soal ...." Mata Bi Sari melirik Rayan.
"Aku nggak tahu, Jago nggak mungkin bilang. Aku tahu betul Jago itu gimana? Dia orang yang berpegang teguh sama janji," ucap Seira menerka kemungkinan karena hanya dia yang sekarang berada di dekat ayah kandung Rayan.
"Iya, Mas juga tahu Jago orangnya seperti apa. Mungkin ada orang lain yang tahu soal kehamilan kamu waktu itu?" tebak Fatih menduga-duga kemungkinan lain.
"Nah, bisa jadi itu. Kemungkinan ada orang lain selain kalian yang tahu," timpal Ibu.
Semua terdiam, merenungkan setiap kemungkinan dan menebak-nebak orang lain yang tahu soal kehamilan Seira waktu itu.
"Apa, Mas?"
"Itu ... soal ...."
******
Sementara di rumah sakit, Zafran kembali duduk menunggu di depan ruangan bersama Jago yang turut gelisah karena meninggalkan pekerjaan juga anak dan istrinya di rumah. Meski sudah menghubungi mereka tetap saja hatinya tak tenang karena seharusnya dia sudah di rumah berkumpul dengan keluarga kecilnya.
Lita, dia duduk terpisah dari bangku Zafran. Sadar betul suaminya itu tak ingin didekati. Ia tak ingin lagi menyulut api yang telah padam. Sesekali matanya akan melirik Zafran dengan tatapan penuh sesal, tapi laki-laki itu tak sekalipun melirik ke arahnya.
Kurang ajar kamu, Mas. Kamu udah janji sama aku nggak akan kayak gini, tapi kenapa sekarang kamu lihat aku aja nggak. Sialan, kenapa Naina harus sakit segala, sih? Jadi berantakan semuanya. Mereka juga nggak ada yang mau tanggung jawab. Brengsek!
Zafran tersentak ketika pintu ruangan terbuka, dan sosok Hendra muncul dari balik pintu itu.
"Gimana, Hen?" tanya Zafran segera.
"Ikut aku ke ruangan!" pintanya sembari melangkah menuju ruangan.
Mereka kembali berkumpul di sana, membahas soal kondisi Ibu yang masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Ibu belum sadar, beliau mengalami gagal jantung dan kemungkinan akan mengalami stroke berat. Kamu yang sabar, ya. Ini semua ujian," ucap Hendra menyesal.
Zafran terperangah, punggungnya jatuh pada sandaran kursi, mengusap wajah gusar dan cemas. Ia tak menyangka ujian datang bertubi-tubi di hari yang sama.
"Argh!"
Zafran bangkit dari kursi, sekonyong-konyong menghampiri Lita dan menariknya dari kursi.
"Semua ini gara-gara kamu!" bentaknya sambil membanting tubuh Lita ke lantai.
Wanita itu meringis kesakitan, perih hatinya sakit pula fisiknya. Beberapa siksaan ia dapatkan hari itu dari laki-laki yang bergelar suami.
"Zafran, hentikan! Kamu nggak boleh nyiksa dia!"
Hendra mencekal tangan Zafran dengan kuat, menghentikan gerakannya yang akan menampar Lita lagi.
"Lepas! Perempuan ****** ini yang bawa bencana dalam hidup aku. Aku nggak mau lihat dia lagi! Aku talak-!" teriak Zafran kesetanan.
"NGGAK!" Lita turut berteriak.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Nyebut, Pak. Bapak nggak boleh ngambil keputusan dalam keadaan marah kayak gini. Sebaiknya kita duduk dulu, kita ngomong baik-baik dan cari solusinya. Jangan sampe diulang lagi kesalahan Bapak yang dulu, jangan sampe Bapak nyesel lagi," sela Jago mencegah lidah Zafran yang hendak berucap kata talak.
Dada laki-laki yang dikuasai amarah itu kembang-kempis, memburu udara dengan rakus. Kedua tangan terkepal, geraham saling beradu satu sama lain. Sungguh, ia menjelma bagai setan malam itu.
"Benar, Zafran. Kendalikan emosi kamu, jangan ngambil keputusan ketika marah. Lita itu istri yang kamu pilih, istri yang kamu mau. Ada peran kamu dalam semua masalah yang terjadi, bukan sepenuhnya salah Lita. Sabar, duduk dulu!" sahut Hendra turut menengahi mereka berdua.
Beruntung Jago ada di sana, jika tidak, mungkin Hendra kewalahan menghadapi sikap keras Zafran.
"Argh!"
Zafran membanting diri di kursi dengan kesal.
"Maafin aku, Mas. Maaf. Aku bener-bener nyesel, tapi aku juga bener-bener sayang sama kamu. Aku nggak mau pisah sama kamu, Mas. Masalah Naina, itu terserah kamu," ucap Lita pasrah pada kehidupannya.
Hendra dan Jago membelalak, Ibu macam apa yang menjadikan anak korban dari semua kesalahan yang dia perbuat.
"Dia anak kalian! Kalian harus merawatnya, mau siapa lagi yang rawat dia? Astaghfirullah, saya benar-benar nggak nyangka kalian itu manusia yang nggak punya hati!"
Jago meradang, tak tahan dengan drama yang mereka buat. Akhirnya, dia memilih pergi meninggalkan rumah sakit dengan hatinya yang dongkol.
"Lama-lama aku bisa ikutan jadi gila kalo di sini terus," gerutunya terus melangkah keluar.
Di ruangannya, Hendra meminta Lita untuk meninggalkan Zafran dan menemani Naina di kamarnya.
__ADS_1
Tinggallah mereka berdua dalam keheningan malam yang kian mencekam.