Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Malu


__ADS_3

Di kejauhan, seorang laki-laki memperhatikan wanita yang terduduk di lahan parkir restoran sambil menangis tersedu-sedu. Senyum tercetak sinis menyumpahinya atas apa yang telah terjadi.


Jago menyaksikan bagaimana wanita itu diseret tunangannya, dia hanya diam dan tak ada niat untuk membantu. Jago tahu betul siapa wanita itu, dia tak jauh beda dengan Lita.


"Percuma aja kamu nangis di sana, nggak akan ada orang yang simpati sama kamu. Meding pergi, kamu ngalangin orang-orang yang keluar masuk restoran. Pergi!" teriak Jago sembari mengibaskan tangan mengusir Mala.


Wanita itu perlahan menoleh, rasa malu semakin meraja di hatinya saat melihat Jago yang berkacak pinggang sambil tersenyum sinis. Mala menggeram dikala Jago kembali mengibaskan tangan mengusirnya.


"Sial! Awas aja kalian semua, aku nggak terima dipermalukan kayak gini," umpat Mala sembari perlahan berdiri dan melangkah pelan meninggalkan parkiran.


"Aw! Kakiku," keluhnya saat merasakan ngilu di kaki.


Ia melihat terdapat luka gores di beberapa tempat yang mengeluarkan bercak kemerahan. Mala meringis, nyeri dan ngilu sekaligus. Terus berjalan tertatih menuju sebuah bangku yang tersedia di tepi jalan.


"Kenapa hari ini aku sial begini?" Dia mengumpat sambil memijit-mijit pelan kakinya yang terasa pegal.


Dering ponsel miliknya berbunyi, ia segera mengangkatnya dengan cepat. Seorang asisten di tempatnya bekerja yang menelpon.


"Apa? Kenapa bisa begitu?" Mala berteriak terkejut.


"Ya, aku akan pulang sekarang!" katanya seraya menutup sambungan dan celingukan mencari angkot atau ojek.


Tangannya cepat melambai ketika angkot yang dia tunggu muncul. Meski banyak penumpang, Mala tak peduli. Dia tetap naik dan duduk dengan gelisah. Desas-desus dari Ibu-ibu rempong di dalam angkot, membuat suasana di dalam mobil tersebut bertambah panas.


Beberapa pasang mata menatapnya sinis, bibir mereka juga terlihat mencibir sambil memperhatikan penampilannya. Sedangkan para lelaki di dalam angkot, menatap liar padanya. Berkali-kali terlihat menjilati bibir sendiri, seolah-olah ingin segera melahapnya.


Tak nyaman, itulah yang dirasakan Mala. Ingin segera sampai di tempatnya bekerja dan memastikan kabar yang yang diberitahukan sang asisten kepadanya.


Sementara di dalam kamar, Seira tampak gelisah. Hatinya cemas karena Fatih tak kunjung muncul. Ia takut suaminya itu lepas kendali dan melakukan sesuatu yang diluar batas.


"Ibu, yang tenang. Bapak nggak mungkin berbuat jauh," ucap pelayan yang menemani mereka.


"Iya, Mah. Duduk dulu, dari tadi Mamah bolak-balik aja. Nggak capek?" timpal Rayan yang turut memperhatikan sang mamah yang gelisah.


"Mamah cemas sama Papah, sayang. Aku mau keluar, aku harus mastiin Mas Fatih nggak kelewatan," ucapnya seraya melangkah mendekati pintu dan hendak keluar.


"Jangan, Bu. Bapak bilang harus tetap di kamar sampai Bapak datang," sergahnya sambil mengikuti langkah Seira.

__ADS_1


"Tapi aku-"


Pintu yang berderit menghentikan ucapan Seira yang belum sempat keluar.


"Ada apa?" Fatih berdiri di ambang pintu menatap heran pada istri dan pekerjanya.


"Bapak!"


"Mas!" Seira menghampiri suaminya, memeluk tubuh itu dengan segera.


Kedipan mata Fatih meminta sang pekerja untuk meninggalkan mereka. Laki-laki itu mengusap kepala Seira dan mengecupnya.


"Ada apa? Kenapa kamu kelihatan cemas kayak gitu?" tanya Fatih.


Seira melepaskan pelukan, memperhatikan wajah laki-laki yang sempat tak ia kenali beberapa saat lalu.


"Mas nggak apa-apa?" tanyanya sambil menangkup wajah Fatih dengan kedua tangan, maniknya berputar menilik bergantian milik laki-laki itu.


"Nggak apa-apa, emangnya Mas kenapa?" Fatih menarik tubuh Seira semakin merapat.


"M-mas, nggak ngapa-ngapain dia, 'kan? Bukan apa-apa, aku cuma nggak mau suamiku ini melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan," ucap Seira sambil menjatuhkan kepala di dada bidang Fatih.


Hangat dan tenang. Begitu yang keduanya rasakan saat ini, ketika hati mereka saling menyentuh satu sama lain maka rasa damai selalu hadir membawa kebahagiaan.


"Nggak, sayang. Mas cuma usir mereka aja dari restoran dan melarang perempuan itu datang lagi ke sini," ucap Fatih sejujurnya. Hanya saja dia tidak mengatakan perihal menyeret Mala dan membantingnya.


Seira bernapas lega, meremas pakaian suaminya sambil berucap syukur.


"Ya udah, besok kita pulang aja, ya," ucap Fatih tiba-tiba.


Seira mengangkat kepala menatap suaminya dengan alis yang terajut.


"Kenapa? Bukannya kita mau seminggu di sini. Aku juga pengen lihat toko kue aku, Mas. Boleh?" ucap Seira.


Fatih tersenyum, mengusap rambutnya dengan lembut. Harum sampo menguar dari sana, Seira sudah mengganti pakaiannya yang basah tadi.


"Iya, kita akan ke makam Ayah dan Ibu dulu. Setelahnya, kita akan ke toko kue kamu, baru pulang. Gimana? Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Fatih sedikit risau dengan kehamilan Seira.

__ADS_1


Wanita itu menggeleng dan setuju dengan apa yang direncanakan Fatih. Jarak yang tidak terlalu jauh, karena hanya memerlukan waktu setengah jam saja jika tidak macet, tapi sepertinya tak akan ditemukan jalanan lengang di kota besar tersebut. Kendaraan selalu mengular hingga puluhan meter panjangnya membuat malas bepergian jika saja tak ada keperluan.


"Mamah, mau bobo." Suara Rayan yang parau membuat mereka menoleh. Keduanya berjalan mendekati ranjang, Fatih meminta Seira untuk beristirahat, sedangkan dia yang akan membereskan keperluan mereka.


Fatih sengaja tidak memasukkan semuanya karena bagaimanapun mereka pasti akan kembali ke sana. Sebenarnya bisa saja bolak-balik, tapi mengingat kondisi Seira yang tengah hamil Fatih terus saja cemas.


Rencana menginap satu Minggu batal disebabkan kejadian Mala.


"Mamah, kita mau pulang besok?" tanya Rayan yang memeluk Seira.


"Iya, sayang. Kenapa? Rayan masih mau di sini?" Seira mengusap rambutnya.


"Bukan, tapi Aunty bilang besok pulang sekolah mau nyusul ke sini. Mau ajak Rayan main di mal."


Gerakan tangan Fatih terhenti, mereka lupa satu hal itu. Ia melirik Seira yang juga sedang memperhatikannya.


"Kita tanya Papah, ya?"


Fatih merenung, selama dua hari tinggal di restoran mereka memang tidak ke mana pun karena Fatih harus fokus menyiapkan untuk acara reuni yang berubah menjadi ricuh karena keributan yang dibuat Mala.


"Ya udah, kita pulangnya bareng Aunty aja. Nggak apa-apa, 'kan? Nanti pagi kita ziarah dulu terus ke toko kue dan kembali lagi ke restoran," jawab Fatih tak tega menolak kedatangan adiknya yang ingin bermain dengan Rayan.


"Makasih, Papah. Bilang sama Papah," titah Seira pada Rayan.


Bocah itu beranjak turun dari ranjang, berjalan menghampiri Fatih dan memeluknya.


"Makasih, Papah." Mengulang kalimat yang diajarkan Seira dengan senyum tersemat.


Fatih mengangkat tubuhnya yang bertambah berat itu, membawanya kembali ke ranjang dan berbaring bersama-sama.


"Iya, sayang. Sekarang Rayan bobo, ya. Biar besok nggak kesiangan." Fatih mengecup pelipisnya sebelum menjatuhkan diri di samping tubuh Rayan.


Malam yang penuh amarah, berganti dengan rasa bahagia saat berkumpul bersama keluarga. Tak ada tempat ternyaman di hidup Fatih selain berada di dekat anak dan istrinya. Mereka terlelap melepas semua emosi yang menguras tenaga.


Sementara Mala, masih berada di dalam angkot. Ia meminta supir untuk mengantarnya ke tempat pekerjaan. Sesampainya di sana, Mala lekas membayar ongkos dan bergegas masuk ke dalam gang yang hanya bisa dimasuki oleh sepeda motor.


Mala membeliak menyaksikan tempatnya mencari pundi-pundi rupiah yang sudah tak berupa.

__ADS_1


__ADS_2