
"Jago!"
Seira memanggil petugas keamanan restoran Fatih yang dilihatnya di pertemuan tadi. Fatih tidak mengizinkannya keluar restoran, mereka berdiri di pintu masuk lain rumah makan besar itu.
Namun, laki-laki di sana tak menggubris, tetap berbincang dengan rekannya di pos seolah-olah tak mendengar, atau tidak kenal, atau hanya berpura-pura saja.
"Namanya Dirman, sayang. Coba kamu panggil Dirman," sela Fatih sembari menopang salah satu tangan pada tiang di belakang tubuh istrinya.
"Dirman? Dia udah nggak mau pake nama itu, nama Jago yang aku beri itu dia yang suka," celetuk Seira rasa tak percaya.
"Iya, iya, dia udah kayak anak kamu aja. Gemas aku dengarnya." Tangan Fatih berpindah ke pundak Seira dan meremasnya.
Lalu, melingkar di pinggang wanita itu memeluknya dengan erat. Seira melirik tangan Fatih, mendesah tanpa suara.
"Dirman? Kamu nggak denger istri saya manggil?" Kali ini suara Fatih yang menguar.
Laki-laki yang tak lagi berjanggut itu lekas menoleh, ia beranjak dan berlari cepat ke arah mereka.
"Iya, Pak, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya sambil terus menunduk.
Fatih menarik tubuh Seira ketika istrinya itu hendak mendekati Jago. Ia memutar bola mata malas, padahal sudah diceritakan siapa Jago.
"Jago!"
Pundak laki-laki itu terlihat bergetar, Fatih mengernyit. Ia melirik Seira yang belum melanjutkan kalimatnya setelah memanggil nama Jago.
"Gimana kabar kamu dan yang lain? Apa selama ini kalian hidup dengan baik?" tanya Seira seperti seorang Ibu pada anaknya.
Lagi-lagi Fatih melempar lirikan pada istrinya, tersemat senyum kelegaan di wajah cantik wanita itu. Tatapannya tak sama seperti saat dia menatapnya, tapi kenapa Fatih tetap cemburu?
"Jago? Apa kamu udah nggak pakai nama itu? Baik, Dirman?" Seira masih berkata lembut, dia sama sekali tidak berubah.
Ibu pulang dan nggak pernah berubah, masih lembut dan baik kayak dulu. Alhamdulillah, makasih, ya Allah. Engkau telah menjaga Ibu dan memberikannya hidup yang bahagia. Pak Fatih orang yang baik, beliau nggak akan sia-siain Ibu kayak si Zafran dungu itu.
"I-iya, Bu. Sa-saya baik," jawab Jago terbata.
"Angkat kepala kamu, Jago. Kamu nggak boleh terus menunduk kalo nggak ada salah yang kamu buat," ucap Seira mengingatkan.
Fatih hanya diam memperhatikan sang istri dan kepala keamanannya, tapi tangan itu tetap melingkar erat di pinggang Seira seolah-olah ingin menunjukkan kepada dunia dia miliknya seorang.
Tiba-tiba Jago ambruk, bersimpuh di tanah sambil menangis tersedu-sedu. Seira berjengit begitu pula dengan Fatih.
"Mas!" Ia menoleh meminta suaminya itu untuk membuat Jago segera beranjak.
__ADS_1
"Ayo, bangun, Dirman. Kamu nggak boleh kayak gini, kalo ada yang mau kamu omongin datang ke ruangan saya," ucap Fatih seraya mengajak Seira masuk ke dalam.
Jago masih berlutut di sana, isak tangisnya terdengar menyayat hati tak peduli pada tatapan aneh semua orang yang mengarah padanya. Ia beranjak dengan kepala terus menunduk, seragam keamanan itu tidaklah cocok untuknya. Di hadapan semua orang ia terlihat sangar, tapi di depan Seira, seperti anak ayam yang tak bisa kehilangan induk.
Fatih membawa Seira ke ruangannya, mengajaknya duduk di sofa berdampingan. Ketukan pada pintu membuat laki-laki itu segera melingkarkan tangan di belakang tubuh sang istri.
"Masuk!"
Pintu berderit, Jago melangkah tertunduk, berdiri di hadapan mereka.
"Duduk!"
"Tidak! Duduk di atas!"
Suara Fatih menyambar cepat disaat Jago hendak duduk di lantai. Laki-laki itu kembali berdiri dan mendaratkan bokongnya di sofa.
"Aku nggak akan ganggu, cuma mau denger aja." Fatih berbisik di telinga Seira.
Diam-diam Jago melirik lingkaran tangan sang atasan, sejak di luar tadi tangan itu tak beranjak dari sana. Ia sadar batasannya, sekarang Seira sudah bukan yang dulu. Tak bisa terlalu dekat dengannya seperti saat di gudang beras Zafran.
"Jago, apa yang terjadi setelah aku pergi? Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Seira teringin tahu kabar tentang semuanya. Ia perlu tahu kabar karyawan-karyawan yang lain bukan soal Zafran, Seira sama sekali tidak ingin bertanya tentang mereka.
"Jawab aja, jangan sungkan," sambar Fatih disaat Jago tak cepat menjawab. Kedua tangannya mengepal dan saling meremas satu sama lain.
"Saya pergi dari gudang itu karena tak suka sama kelakuan nyonya majikan saya," pungkas Jago mengakhiri ceritanya.
"Lita? Kenapa sama dia?" Seira berjengit.
"Minum dulu, sayang. Tahan emosi," ucap Fatih sembari mendekatkan sebotol air mineral di depan wajah Seira.
Tak menolak, Seira membuka mulut dan menerima air yang disodorkan suaminya. Benar, dia butuh air. Mendengar nama Lita disebut lidah sendiri, seketika saja hatinya panas bergolak.
"Dia ...."
******
Flashback.
Lita berkeliling di gudang beras Zafran, menunjuk ini dan itu memberitahu pada karyawan di sana apa yang harus mereka lakukan. Hari itu jago baru saja kembali dari mengirim beras ke langganan.
Ia mengernyit memperhatikan gerakan tangan Lita juga yang dilakukan rekan-rekannya. Ada Zafran juga di sana, tapi anehnya dia hanya diam tak melakukan apapun.
"Jago! Kamu bantuin mereka buat campur beras-beras itu, mereka semuanya udah ngerti," titah Lita disaat melihat kedatangan Jago.
__ADS_1
Semakin dalam kerutan di dahi mandor itu, ia melirik Zafran dan laki-laki itu justru menatapnya tajam seolah-olah mengancam dan harus menuruti apa perintah Lita.
Jago menghembuskan napas berat dan panjang, masih terpaku di tempatnya berdiri belum terlihat akan beranjak.
"Ayo, tunggu apa lagi kamu? Kenapa masih berdiri di sana aja?" ketus Lita dengan geram.
Mata wanita itu tak sedap dipandang, melotot dan nyaris keluar semuanya. Lemak di tubuhnya pula terlihat menjijikkan, tak seperti Seira selalu enak untuk dipandang. Menjadi penyemangat ketika mereka lelah bekerja. Kehadirannya bagai angin segar yang menyejukkan, tapi tidak dengan Lita. Ia seperti api setiap kali datang ke gudang selalu membawa panas yang membakar.
"Maaf, Pak, Bu. Kalo cara kalian cari duit kayak gini, saya udah nggak mau lanjut kerja di sini. Saya mau berhenti kerja saja," jawab Jago sungguh tak dinyana oleh Zafran dan Lita.
Wanita itu mencibirkan bibir, berjalan angkuh mendekati Jago yang berdiri tegak penuh wibawa.
"Jangan sok suci kamu, semua orang butuh duit. Apa aja caranya yang penting duit ngalir deras, Jago. Jangan munafik, kamu juga butuh duit, 'kan?" sengit Lita.
Jago menggelengkan kepalanya tak percaya, berbeda sekali dengan Seira.
"Kalo aja ada Ibu di sini, beliau pasti punya solusi yang lebih baik daripada harus curang kayak gini. Duit bukan segalanya, Bu, tapi kejujuran yang jadi modal utama pedagang akan menuai berkah pada duit yang didapat. Itu yang saya ingat dari nasihat Ibu," tutur Jago mengulang kalimat yang pernah diucapkan Seira sambil melirik Zafran yang buru-buru membuang muka darinya.
"Halah, zaman sekarang kayak gini mana ada pedagang jujur. Semuanya berlomba-lomba meraup untung lebih besar gimana pun caranya. Udahlah, Jago, nggak usah banyak drama. Kamu bantuin aja mereka biar cepet," sahut Lita sembari mengibaskan tangan dan memerintah Jago.
"Maaf, saya berhenti kerja di sini. Kalo kalian masih mau di sini, silahkan. Saya mau pergi," ucap Jago seraya berbalik setelah memandangi rekan-rekannya.
"Pergi aja kamu! Awas aja kalo kamu dateng ngemis-ngemis minta kerjaan ke sini, kamu udah nggak diterima!" sembur Lita dengan kesal.
Jago berhenti melangkah, Lita tersenyum penuh kemenangan. Laki-laki itu berbalik dan memasang senyum aneh.
"Dulu, kalian juga bilang begitu sama Mang Udin dan Bi Sari. Buktinya, mereka nggak ada ngemis-ngemis minta kerjaan lagi karena di luar sana ada banyak kerjaan yang lebih baik dan lebih halal duitnya daripada di sini." Jago sekali lagi tersenyum sebelum meninggalkan gudang milik Zafran sekilas ia melihat Lita menggeram marah.
******
"Begitu, Bu, ceritanya. Setelah itu saya nggak tahu lagi apa yang terjadi di sana. Saya melamar pekerjaan ke mana aja, tapi nggak ada yang mau nerima saya yang SD aja nggak lulus. Terus saya ketemu sama Bapak, dan ditawari jadi keamanan langsung saya terima, Bu. Saya seneng banget bisa ketemu sama Bapak, dan akhirnya bisa ketemu Ibu lagi," tandas Jago mengakhiri ceritanya sambil menatap mereka berdua.
Pandangannya beralih pada perut Seira, dia yakin anak yang dulu dikandungnya, sudah tumbuh besar tak jauh berbeda dari anaknya Zafran.
Obrolan mereka terhenti disaat ponsel Fatih tiba-tiba berdering.
"Yah, kenapa?"
"Di restoran."
"Oh, iya."
Seira menatap bingung suaminya, tapi laki-laki itu terus diam belum menjelaskan.
__ADS_1