Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Naina Anakku.


__ADS_3

"Bangun, Zafran! Kamu nggak boleh pergi sebelum ketemu mereka!"


*****


"Kenapa kita di sini, Hendra? Bukannya kita mau ketemu Naina?" tanya Zafran dengan suara yang lemah. Wajahnya tampak bersinar jauh berbeda dengan hari kemarin.


"Yah, memang harusnya kita ada di sini," sahut Hendra tak acuh.


Di sanalah mereka, di depan sebuah minimarket tempat Lita bekerja. Di sana Hendra pernah bertemu dengan Lita sebagai penjaga kasir minimarket tersebut.


Keduanya menunggu di dalam mobil, menanti datangnya sang malaikat hati Zafran. Seperti sebelumnya, Naina akan pergi ke minimarket itu sepulang sekolah.


"Kamu yakin kita harus di sini? Nggak ke rumahnya aja, mungkin aja mereka di rumah," ucap Zafran lagi tak sabar untuk bertemu dengan Naina dan ibunya.


Hendra mendesah, melirik jam di tangan. Sepertinya memang terlalu pagi karena anak-anak sekolah belumlah selesai belajar.


"Aku nggak tahu rumah mereka, yang aku tahu Lita kerja di sini." Hendra melirik Zafran.


Laki-laki pesakitan itu tertegun saat melihat seorang anak yang berjalan sendirian di seberang jalan tersebut. Mata Zafran berbinar sekaligus berembun melihat Naina berdiri di sana hendak menyeberang.


"Naina?"


Suara Zafran mengalihkan perhatian Hendra darinya. Dokter itu gegas menoleh, membeliak kedua matanya melihat kendaraan yang tak ada abisnya di jalanan.


Gegas ia turun dan membantu Zafran untuk turun pula. Mendudukkannya di kursi roda, sebelum berpamitan pada sahabatnya itu.


"Aku mau bantu dia nyebrang dulu, kamu tunggu di sini aja, ya," ucap Hendra seraya berlari menyebrangi jalan.


Tak tega rasanya melihat Naina yang berdiri sendirian menunggu jalanan sedikit lengang untuknya dapat menyebrang. Zafran menurut dan menunggu di ujung jalan lainnya dengan mata yang basah.


Terbersit bangga melihat gadis kecil itu berseragam dan menenteng tas, melangitkan asa semoga kelak jadi anak yang berguna dan tidak menyusahkan hidup orang lain.


"Naina?" panggil Hendra begitu sampai di jalan di mana Naina berdiri.

__ADS_1


Gadis kecil itu menoleh, matanya berbinar terang. Seolah-olah keberuntungan menghampiri dan memberikan ketenangan. Ia tersenyum menampakkan deretan giginya yang mulai keropos di bagian depan.


"Om Dokter!" panggilnya dengan riang sambil melambaikan tangan.


"Kamu mau nyebrang?" tanya Hendra begitu tiba di hadapan Naina yang tampak sumringah.


"Iya, Om, tapi mobilnya banyak banget dari tadi nggak abis-abis," sahut Naina cemberut.


"Kalo gitu Om sebrangin, ya?"


Gadis kecil itu mengangguk senang, itulah yang membuatnya senang bertemu dengan Hendra. Ada yang akan membantunya menyebrang. Hendra memegangi tangan mungilnya, memperhatikan jalanan yang masih dipenuhi kendaraan.


Matanya menangkap sosok Zafran yang memperhatikan mereka berdua, ia tersenyum.


"Nai, coba lihat ke sana. Ada siapa di sana?" pinta Dokter Hendra sembari menunjuk Zafran yang menunggu di seberang jalan.


Naina mengangkat pandangan, melihat arah yang ditunjukkan dokter tersebut. Ia memiringkan kepala memastikan penglihatannya tak salah. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk lengkungan sempurna dan menciptakan lesung pipi kecil di kedua sisinya.


"Ayah!" pekiknya senang. Hendra tersenyum.


Laki-laki di kursi roda membalas lambaian tangannya, sambil sesekali mengusap air mata yang jatuh dengan deras. Kepala Naina menoleh ke kanan dan kiri tak sabar ingin segera menyeberang menemui Zafran.


"Ayo, Om. Cepetan!" pintanya sembari mengeratkan pegangan pada tangan Hendra.


Dokter itu tersenyum, membentangkan tangan untuk meminta jalan pada pengendara. Setengah berlari Naina kecil menyebrang, ingin segera berjumpa dengan laki-laki di sana.


"Ayah!" panggilnya lagi melengking tinggi.


Ia melepas tautan tangannya dari dokter Hendra begitu tiba di ujung jalan. Terus berlari ke arah Zafran dengan senyum yang terbentuk sempurna. Laki-laki itu tersenyum meskipun air terus jatuh dari pelupuk.


Naina berhenti di hadapan Zafran dengan napasnya yang tersengal, wajah cantik itu memancarkan kebahagiaan meski peluh membanjirinya. Naina berlabuh ke dalam pelukan Zafran, menumpahkan kerinduan yang selama ini ditahannya.


"Nai kangen sama Ayah, tadinya Nai sama Ibu mau jenguk Ayah nanti sore," ungkap Naina sembari mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Zafran tak henti menangis. Benar, gadis kecil itu tak pernah membenci ayahnya. Zafran melepas pelukan, menempatkan tubuh kecil Naina yang sedikit lebih berisi di atas pangkuan. Hatinya menghangat merasakan pelukan dan melihat senyumnya.


Disapunya wajah Naina yang berkeringat, diselipkannya anak rambut yang nakal ke belakang telinga gadis kecil itu sambil tersenyum bahagia.


"Nai, nggak benci sama Ayah, 'kan?" Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya.


"Nai, sayang sama Ayah?" Naina menganggukkan kepalanya.


Tangan kecil itu meraba pipi Zafran yang kurus, dikecupnya telapak tangan Naina penuh kerinduan.


"Nai sayang sama Ayah, Nai nggak pernah benci sama Ayah. Karena Ayah adalah Ayah Nai. Cepat sembuh, Yah. Nai kangen mau main lagi sama Ayah," ucapnya sambil melabuhkan kepala di pundak Zafran yang ringkih.


Bahu itu terguncang karena tangisan Zafran, Naina melingkarkan tangan di lehernya, memeluk erat laki-laki yang menjadi ayahnya sejak ia dilahirkan.


Hendra di kejauhan menatap haru keduanya. Semoga doa-doa dua anak itu diijabah Yang Kuasa. Zafran mendapat inayah dari-Nya berupa kesembuhan.


"Makasih, sayang. Doakan Ayah, ya. Semoga Ayah bisa cepat sembuh. Ayah juga mau main sama Naina. Ayah mau main sama kalian," ungkap Zafran sambil tak henti menangis karena rasa haru.


Naina mengangguk, ia tahu maksud ucapan Zafran. Tak apa berbagi Ayah dengan anak lainnya, bukan? Yang penting dia masih tetap ayahnya.


Lita yang sedang sibuk di meja kasir seketika panik mengingat Naina belum datang dari sekolah padahal jam pulangnya sudah terlewat. Ia meminta izin rekannya untuk menjemput ke sekolah, khawatir terjadi sesuatu pada anaknya itu.


"Ya udah, cepetan sana!"


Lita membereskan meja kasir sebelum berlari keluar. Berjalan tergesa menuju jalan raya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Naina berada dalam pelukan seseorang. Laki-laki yang dulu mengatakan muak melihatnya. Laki-laki yang tak peduli padanya ketika ia memutuskan untuk pergi.


Laki-laki egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Jika mengingat itu semua, rasanya ia tak rela Naina berada di sana. Namun, demi sang anak juga waktu yang mungkin tak akan terulang, ia mencoba untuk berlapang dada menerima semuanya.


Gadis kecil itu selalu bertanya 'kapan kita akan jenguk Ayah, Bu?'. Hampir setiap hari sejak video klarifikasi itu beredar di televisi. Kepercayaan Naina yang sempat pupus pada Zafran, seketika kembali dan Lita tak bisa menolaknya. Karena bagaimanapun, Zafran adalah sosok laki-laki yang dikenal Naina sebagai ayahnya.


Langkah Lita mengetuk jalanan, mendekati posisi mereka melepas rindu. Matanya berembun hampir menangis, disapunya dengan cepat sebelum tiba di dekat mereka.


"Mas Zafran!" tegurnya bergetar.

__ADS_1


Mendengar suara sang ibu, Naina melepas pelukan. Bertatapan dengan maniknya, lalu turun dari pangkuan Zafran. Laki-laki itu menoleh, pancaran matanya penuh sesal ketika berserobok dengan Lita.


"Lita ...."


__ADS_2