Aku Yang Kau Buang

Aku Yang Kau Buang
Pada Hari Ulang Tahun Naina


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui Zafran dan Lita dipenuhi senyuman, mengukir cerita bahagia pada jalan kehidupan yang mereka tempuh. Sejak kedatangannya dengan seikat bunga, Zafran merubah takdir cintanya. Tak lagi peduli pada semua tentang Seira, saat ini ia tengah bahagia bersama keluarga kecilnya.


"Naina, anak Ibu cantik banget, sih," puji Lita.


Ia tengah mendandani sang anak seperti seorang putri raja. Dengan mahkota bertabur berlian yang dipesannya secara khusus untuk hari ulang tahun sang anak. Gadis kecil itu baru saja belajar melangkah, tapi sudah membawa kebahagiaan untuk orang-orang di rumah itu.


"Sayang, udah siap belum? Itu pesanan kue udah dateng," panggil Zafran dari luar kamar.


Di teras para tamu telah berdatangan, hanya para tetangga dan kerabat mereka saja.


"Iya, bentar. Aku keluar," sahut Lita seraya menggendong Naina dan membawanya keluar.


Lita menyerahkan anak itu pada Zafran, sedangkan dirinya pergi menemui utusan toko yang mengantar pesanan mereka. Melunasi sisa pembayaran sekaligus mengatur semuanya.


Acara tersebut berjalan lancar dan ceria, seorang pemandu acara profesional didatangkan lengkap dengan hiburan musik dari artis lokal.


Sementara di gudang Zafran, Jago tengah disibukkan dengan pesanan beras dari restoran langganan. Pesanan yang tak biasa untuk sebuah acara.


"Gimana? Udah beres semuanya?" tanya Jago setelah menaikkan karung terakhir pada pickup.


"Udah lengkap. Tinggal bawa!"


"Ya udah, jaga gudang bentar. Aku antar ini dulu," ucap Jago seraya masuk ke dalam mobil.


Bersama satu rekannya mobil melaju meninggalkan gudang. Sudah terbayang di pelupuk mata bonus yang akan mereka dapatkan hari itu. Biasanya memang selalu begitu dan seharunya selalu begitu.


Di depan restoran, tiga orang laki-laki berdiri menunggu. Dua di antaranya memakai seragam restoran, sedangkan seorang lagi memakai pakaian biasa.


"Itu mobilnya, Pak." Salah satu dari mereka menunjuk pickup yang dibawa Jago.


Laki-laki itu mengangguk, berjalan semakin ke depan untuk menyambut Jago yang turun.

__ADS_1


"Berasnya, udah kami pastiin sesuai dengan jumlah yang diminta restoran Bapak. Mau ditaruh langsung ke dapur atau mau diperiksa dulu?" ucap Jago dengan sikapnya yang ramah.


Wajah boleh sangar, tapi didikan Seira amat melekat dalam dirinya. Pada siapapun harus menghormati terlebih pada mereka yang belum kita ketahui asal-usulnya.


"Boleh saya periksa dulu?" ucap laki-laki tersebut meminta izin Jago.


"Silahkan, Pak!" Jago berbalik dan berlari untuk membuka penutup.


Laki-laki itu berjalan penuh wibawa, usianya mungkin saja tak jauh beda dengan Zafran, tapi auranya amat kuat. Jago seperti sedang berhadapan dengan Seira, sang majikan yang kini menghilang entah ke mana.


Laki-laki itu menelisik butiran beras yang diambil Jago dari karung, tersenyum puas seraya memerintahkan beberapa orang pekerjanya untuk membawa karung-karung itu ke tempat penyimpanan.


"Saya ucapkan banyak terima kasih karena selama ini gudang kalian selalu menjaga kualitas beras yang restoran kami butuhkan. Ini mohon diterima uangnya, dan ini untuk dibagikan pada para pekerja. Anggap saja sebagai imbalan dari kerja keras kalian. Hati-hati!" ucapnya seraya memberikan dua buah amplop ke tangan Jago.


"Saya rasa nggak perlu, Pak. Majikan saya selalu bilang kita nggak boleh serakah. Kami udah dapet bonus dari pengiriman ini, dan ini saya kembalikan," tolak Jago teringat akan pesan Seira.


Laki-laki itu tersenyum, menepuk bahu Jago dengan bangga. Sangat jarang sekali orang-orang di zaman sekarang yang bersikap jujur seperti Jago, dan dia sangat mengapresiasi tindakan jujurnya.


"Saya senang dengarnya, itu artinya kamu adalah orang yang jujur, tapi sekali lagi tolong diterima. Kamu nggak akan dianggap serakah cuma karena nerima uang yang nggak seberapa ini. Ambil aja, rezeki buat kalian," ucapnya terlihat tulus.


"Makasih, Pak. Makasih banget, Bapak orang yang baik. Mudah-mudahan rezeki Bapak ditambah oleh Allah." Jago benar-benar terenyuh.


"Nggak perlu kayak gini, lagian kayaknya saya lebih muda dari kamu. Ya udah, hati-hati di jalan," ucapnya sambil menarik tangan dan menepuk bahu Jago lagi.


Laki-laki berjanggut tebal itu mengangguk sopan sebelum pamit undur diri. Masuk ke dalam pickup dan menekan klakson sebelum menjalankan mobilnya.


"Alhamdulillah, kita dapet rezeki nomplok hari ini. Yang punya restoran itu ternyata baik banget, ya." Teman Jago memuji.


"Iya, bener. Alhamdulillah."


Sepanjang perjalanan yang mereka bahas hanyalah tentang laki-laki pemilik restoran tadi. Mobil berbelok menuju gudang, alangkah kagetnya Jago ketika tiba di depan gudang. Banyak beras berserakan di tanah, juga karung-karung beras yang berantakan.

__ADS_1


Ia turun dengan cepat menghampiri tiga orang yang duduk di lantai dengan keadaan lebam di seluruh wajah.


"Ada apa ini? Kenapa gudang jadi berantakan kayak gini?" tanya Jago sambil menatap frustasi pada beras yang berceceran.


"Maaf, Bang. Tadi ada sekelompok orang pake pakaian preman dateng, dia nagih utang si Bos. Katanya udah setahun Bos nggak bayar hutangnya. Mereka yang bikin semua ini berantakan, Bang. Mereka juga mukulin kita," jawab salah satunya sambil memegangi sebelah pipi.


"Kalian tahu siapa orangnya?"


Mereka kompak menggeleng, Jago mengusap wajahnya gusar. Bagaimana dia akan melaporkan semua kekacauan yang terjadi di gudang pada Zafran.


Terpaksa Jago harus mendatangi rumahnya, berbicara langsung sepertinya lebih baik daripada melalui sambungan telepon. Ia menutup gudang lebih awal dan pergi bersama-sama ke rumah Zafran.


Mereka berkumpul di halaman samping rumah yang tak digunakan untuk pesta. Jago mendatangi Zafran yang tengah berbincang dengan beberapa orang. Berbisik padanya tentang sesuatu yang harus dibahas.


"Apa? Siapa yang punya hutang? Aku nggak pernah berhutang, berani-beraninya mereka nagih hutang nggak jelas." Zafran meradang. Mereka berada di halaman samping rumah saat ini.


"Kami nggak tahu, Pak Bos. Sewaktu saya datang dari mengantar beras, keadaan gudang udah berantakan," jawab Jago sambil menunjukkan gambar gudang yang sempat diambilnya.


"Brengsek!"


Melihat gelagat Zafran di kejauhan yang tampak marah, Lita berinisiatif mendatanginya. Ia menitipkan Naina pada Ibu dan pergi meninggalkan pesta.


"Mas, kenapa? Aku lihat dari tadi Mas marah-marah nggak jelas," tegur Lita yang tak tahu apa-apa.


Jago dan keempat karyawan lainnya menunduk dalam, tak satu pun dari mereka menyahut. Semua bungkam dan membiarkan Zafran yang menjelaskan sendiri tentang gudang.


"Apa? Nggak mungkin!" Lita menutup mulutnya tak percaya. Menolak kenyataan tentang kekacauan di gudang.


"Terus gimana, Mas? Emangnya kamu beneran punya utang?" tanya Lita tak percaya.


Zafran terlihat frustasi, wajahnya kusut tak bersemangat.

__ADS_1


"Nggak, Lita. Aku nggak punya hutang sama siapa-siapa," tegas Zafran meyakinkan istrinya.


"Kamu lupa sama aku, Zafran!"


__ADS_2