
Pertemuan yang tak pernah terduga, juga tak pernah diinginkan. Seira yang hendak duduk, menautkan alisnya berpikir saat mata indahnya itu menangkap satu sosok yang tak asing di hidupnya.
Ia meneguk ludah ketika teringat siapa pemilik mata tajam itu. Garis wajahnya yang keras dan selalu terlihat marah saat bertemu, menghadirkan rasa cemas yang perlahan mengisi hati. Sebuah kenangan masa lalu menyeruak ke permukaan, kenangan tentang bagaimana jalinan hubungan mereka pada waktu itu.
"Sayang, ada apa?" tegur Fatih sembari memegang tangan Seira yang dingin dan lembab.
Ia menoleh seraya tersenyum sebelum menggeleng dan duduk.
"Nggak ada apa-apa, kok." Seira berusaha setenang mungkin agar rasa panik tak merundung di hati.
"Papah, aku mau itu." Suara Rayan menyita perhatian semua orang, termasuk anak-anak yang berada di dalam kelompok tersebut.
"Yang mana, sayang?" tanya Fatih.
Rayan menunjuk sebuah masakan yang diinginkannya. Gadis yang bermasalah di sana mengernyit saat memperhatikan wajah anak itu. Sekilas memang mirip dengan Fatih, tapi jika ditelisik dengan lebih teliti, garis wajahnya milik Seira.
Perasaan anak itu agak mirip sama dia, ya? Kayaknya sih, iya. Apa jangan-jangan itu anaknya lagi.
Mata sibuk memandang, hati sibuk bergumam. Pikirkan terisi penuh oleh praduga yang terus berdatangan menjejalinya.
"Hei, makan! Kenapa melamun?" tegur teman Fatih yang menyadarkan wanita itu dari alam pikirannya.
"Ah, iya. Maaf," katanya seraya melanjutkan makan sambil sesekali melirik Seira dan Rayan.
Sekali lagi tatapan mereka bertemu, dia tersenyum sinis sambil mengerlingkan mata.
"Nggak disangka, gelar jomblo abadi sekarang nggak lagi disandangnya. Dia bahkan sudah punya anak dan nikah nggak bilang-bilang. Parah emang!" Kalimat itu terlontar begitu saja tak menyangka jika Fatih telah menikah dan memiliki anak.
"Maaf, Bro. Saya nikah di kampung waktu itu dan belum sempet bikin resepsi di sini. Udahlah, sekarang kalian di sini, sama aja, 'kan?" sahut Fatih yang dibenarkan oleh mereka.
"Jangan sampai lupa ngundang kami," sela yang lain.
"Iya, tenang aja. Udah habiskan semua makanan ini," ucap Fatih lagi menunjuk pada makanan di meja.
Seira lebih banyak diam, menikmati makanannya tanpa selera karena merasakan hawa dingin yang tak enak dan membuatnya merinding.
Tenang, Sei. Dia nggak akan berani macem-macem sama kamu.
Seira menyemangati hatinya, menenangkannya dan terus mencoba untuk menghilangkan rasa cemas yang sedari tadi menggelayut di sana.
__ADS_1
"Eh?" Seira tersentak dan langsung berdiri ketika seseorang tak sengaja menumpahkan air ke bajunya.
"Sayang!"
Ia bingung sambil menatapi tubuhnya sendiri, sebagian baju basah dan menimbulkan rasa tak nyaman.
"Ma-maaf, anak saya nggak sengaja. Maaf, ya, Kak," ucap seorang wanita seusia Seira dengan panik.
Ia buru-buru menarik tissue dan mengeringkan pakaian Seira dengan itu, tapi tidak membantu sama sekali.
"Nggak apa-apa, Kak. Nggak apa-apa, jangan cemas," ucap Seira menahan tangan wanita yang mengeringkan pakaiannya.
Dia menyuruh anaknya meminta maaf karena tak enak pada Fatih yang terlihat tak senang.
"Maaf, Kakak. Saya benar-benar nggak sengaja, maaf." Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu meminta maaf dengan sopan pada Seira.
Wanita hamil itu tersenyum, mengusap kepalanya dengan lembut dan menenangkan. Rasa takut yang dirasakan hatinya perlahan menghilang mendapat sentuhan lembut dari wanita itu.
"Nggak apa-apa, sayang. Nggak usah merasa bersalah kayak gitu, ya. Semua orang juga pernah melakukannya," ucapnya dengan lemah lembut.
Tak hanya anak itu, tapi semua yang ada terpesona dengan sikap Seira yang tak terlihat kesal apalagi marah. Dia tetap tenang dan tersenyum, padahal Fatih tengah menahan rasa jengkel.
"Nggak apa-apa, Mas. Cuma basah dikit aja," jawabnya sambil membenarkan pakaian yang menempel pada kulit perut.
"Syukurlah, untung bukan minuman panas." Fatih melirik anak itu, Seira mendesah karenanya.
"Mas, aku ke belakang dulu, ya. Nggak nyaman basah begini." Seira membungkuk seraya membisikan sesuatu di telinga suaminya yang berhasil menghilangkan amarah di hati.
Ia mengangguk dan kembali tersenyum. Memanggil satu pelayan untuk mengantar Seira.
"Silahkan dilanjut!" ucap Fatih bersemangat membuat semua temannya terheran-heran.
"Aku penasaran apa yang dibisikkan istri kamu itu? Kenapa bisa bikin kamu terus sumringah kayak gini?" tanya salah seorang teman yang diangguki oleh yang lain.
"Nggak perlu tahu, ini urusan dalem." Fatih tak acuh, tertawa mendengar ******* berat dari semua temannya.
Bagus, dia pergi.
Mereka melanjutkan makan, kembali berbincang soal bisnis yang sedang mereka geluti. Tanpa ada yang menyadari salah satu di antara mereka telah menghilang.
__ADS_1
Sementara di belakang, Seira ditemani seorang pelayan suruhan Fatih. Mereka bukan pergi ke toilet, tapi ke kamar yang ditempati Seira selama di sana.
"Tunggu!" Sebuah suara menghentikan langkah keduanya.
Seira berbalik dan mengernyit melihat wanita itu ada di hadapannya sekarang.
"Ada apa? Apa kita punya masalah?" tanya Seira dengan tenang.
"Bisa tinggalkan kami?" tanya wanita tersebut melirik pelayan yang bersama Seira.
"Maaf, Bu, tapi saya nggak bisa. Bapak minta saya buat temenin Ibu," tegas gadis pelayan tadi menatap berani padanya.
Dia tersenyum, berjalan mengikis jarak di antara mereka.
"Nggak perlu cemas begitu, saya cuma mau ngomong sama majikan kamu. Dan ini rahasia, jadi tolong tinggalin dulu sebentar. Bisa?" pintanya.
Dia yang hendak berbicara lagi ditahan Seira, dan melalui isyarat memintanya untuk pergi sebentar.
"Baik, Bu." Dia memang pergi, tapi tak sepenuhnya. Tak akan dia mengabaikan perintah Fatih untuk menjaga nyonya majikan. Dia bersembunyi di balik dinding dan mendengarkan apa yang ingin dibicarakan wanita itu.
Seira tersenyum, mereka juga pernah berhadapan seperti itu di waktu dulu. Dalam kondisi dan situasi yang tak baik tentu saja. Pembawaannya tetap tenang sama seperti dulu, dan wanita itu pula masih sama. Tetap sinis pada Seira. Dendam berkilat-kilat di matanya, entah kali ini apa yang membuatnya begitu marah.
"Gimana kabar kamu, Mala? Apa kamu mau tanya soal Mas Zafran? Aku udah lama cerai sama dia," ucap Seira mendahului.
Dia tersenyum sinis, melipat kedua tangan di perut, menatap Seira dengan jijik.
"Hebat kamu, ya. Lepas dari Zafran terus pindah sama laki-laki kaya lainnya. Apa karena Zafran udah miskin, terus kamu tinggalin gitu aja?" Mala tersenyum mencibir.
"Ternyata dugaan aku benar, ya. Kamu itu bukan perempuan baik-baik dan cuma mau harta Zafran aja. Hmm ... aku yakin kalo laki-laki ini bangkrut bakal kamu tinggalin juga," cibirnya merasa menang.
Seira tertawa, sama sekali tidak terprovokasi oleh kalimat yang terlontar pedas dari mulutnya.
"Kalo kamu nggak tahu apa-apa, jangan memberikan penilaian terhadap orang lain karena kalo salah, kamu sendiri nanti yang akan malu. Jadi, berhenti menebak-nebak, lebih baik kamu fokus aja sama hidup kamu, jangan terlalu mencampuri urusan orang lain," sahut Seira tetap tenang seperti dulu.
Mala tidak terima, hatinya memanas. Dia ingin Seira marah dan memakinya, tapi tak pernah berhasil sejak perseteruan mereka dimulai dulu.
"Apanya? Hidup aku baik-baik aja, kok. Aku cuma kasihan sama kamu aja, nggak capek apa ngejar-ngejar laki-laki kaya terus? Supaya apa, sih? Supaya hidup kamu enak, gitu? Hmm ... emang dasar perempuan murahan dan miskin, cuma bisa ngandelin harta suami aja. Kamu itu kayak benalu, ya. Dari dulu cuma mau enak aja," ejek Mala semakin berani dan semakin tak tahu malu.
Seira mendesah, ia menggelengkan kepalanya heran pada wanita itu.
__ADS_1
"Berhenti menghinanya!"